UNTUK INDONESIA
Kisah Profesor Idrus Paturusi Sembuh dari Covid-19
Profesor Idrus Paturusi mantan Rektor Universitas Hasanuddin mengumumkan dirinya positif virus corona Covid-19. Ia telah sembuh. Ini ceritanya.
Profesor Idrus Paturusi bersama istri. (Foto: Dok Pribadi)

Makassar Profesor Idrus Paturusi, mantan Rektor Universitas Hasanuddin yang juga dokter spesialis bedah tulang, mengumumkan dirinya positif terjangkit virus corona Covid-19. Kabar tersebut dibagikan putri Idrus Paturusi di akun Instagram @dr.eche_idrus, Rabu, 25 Maret 2020, 

Sepekan kemudian, Rabu, 1 April 2020, kondisi Idrus membaik setelah satu dari tiga hasil swab yang dilakukan menunjukkan negatif. Artinya pada hari itu tinggal menunggu sekali lagi status negatif, Idrus dinyatakan sembuh dari virus corona dan boleh pulang ke rumah. Betul saja. Pada malam harinya tes swab keempat diterima dan ia dinyatakan sembuh.

Setelah dua hari kembali ke rumah untuk tetap menjalani isolasi mandiri, Jumat, 3 April 2020, Idrus menceritakan dirinya mulai dari proses terinfeksi virus corona, perasaan ketika mendengar vonis dokter serta perjuangan hingga akhirnya dinyatakan sembuh. Idrus menyampaika cerita itu semua dalam video diunggah di kanal YouTube milik dr. Helmiyadi Kuswardhana, M.Kes, Sp.OT .

Dalam video berdurasi 24 menit itu, Rektor Universitas Hasanuddin periode 2006-2014 itu mengatakan bahwa inisiatif memeriksakan diri usai menerima hasil tracing yang dilakukannya setelah berjabat tangan dengan seorang kolega.

"Setelah memeriksakan diri, Prof. Nasrun Massi (Wakil Rektor III Unhas) menyampaikan bahwa saya positif. Terus terang saya goyah. Saya sampaikan itu ke istri dan anak-anak. Saya juga meminta kepada dua anak saya agar status positif itu diberitahu secara luas, agar semua orang yang pernah melakukan kontak dengan saya untuk segera melakukan pemeriksaan," tutur Idrus.

Terus terang oleh karena banyaknya pemberitaan tentang virus ini, sehingga di benak saya mungkin ini adalah akhir.

Idrus PaturusiProfesor Idrus Paturusi dalam video, berbagi pengalaman sembuh dari virus corona. (Foto: Screenshot Video YouTube)

Idrus mengatakan dirinya mengumumkan perihal positif virus corona adalah sebagai upaya menahan penyebaran corona lebih luas. Orang-orang yang telah melakukan kontak dengannya bisa segera melakukan social distancing serta pemeriksaan lebih jauh, dampaknya sangat besar dan tentu sangat membantu.

Meski berani mengumumkan status positifnya, Idrus diliputi rasa takut pada hari pertama memasuki ruang isolasi.

"Terus terang oleh karena banyaknya pemberitaan tentang virus ini, sehingga di benak saya mungkin ini adalah akhir. Alhamdulillah, istri saya menemani di kamar isolasi, membuat saya lebih percaya diri. Malam pertama, saya bahkan tak bisa tidur," ujar ayah dua anak itu.

Memasuki hari kesepuluh, Idrus merasakan gejala muncul. Mulai dari suhu tubuh naik ditambah rasa sakit ketika menelan. Meski dirundung rasa takut, ia berpikir penyakit Covid-19 bisa sembuh dengan kunci meningkatkan imunitas. Seperti yang ia baca di sejumlah jurnal ilmiah, virus ini adalah self-limiting disease, dan itu menjadi pegangannya untuk tidak kehilangan harapan.

Idrus PaturusiProfesor Idrus Paturusi dan istri, Shanty Andi Beso. (Foto: Dok Pribadi)

Sembuh Berkat Hasil Pemeriksaan

Idrus mengatakan beberapa hal mendorong keyakinannya bisa sembuh dari wabah Covid-19. Satu di antaranya hasil pemeriksaan dokter. Pada hari pertama, ia diperiksa CT Scan untuk melihat paru-paru, serta uji laboratorium untuk melihat sistem kekebalan.

“Ada bercak di paru-paru, namun itu tidak signifikan. Ini memberi saya tambahan lebih banyak kepercayaan diri," kata pria kelahiran 1950 tersebut.

Selama berada di ruang isolasi, ia berusaha meningkatkan sistem imunitas tubuhnya dengan mengonsumi obat-obatan, vitamin C serta asupan gizi-protein yang datang dari makanan, kendati tak ada nafsu makan. Berkat kedisiplinan itu, hasil pemeriksaan sampel swab untuk kali ketiga berujung pada negatif.

“Selain itu, dukungan yang datang dari berbagai kalangan turut menumbuhkan semangat. Pesan mereka membuat kepercayaan diri saya kian bertambah," kata Idrus dengan suara bergetar.

Idrus PaturusiProfesor Idrus Paturusi bersama Rektor Universitas Hasanuddin Profesor Dwia Ariestina Pulubuhu dan Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah. (Foto: Dok Pribadi)

Terharu Melihat Petugas Medis

Selama menjalani isolasi sepekan lebih dengan status positid corona, Idrus melihat sendiri perjuangan tenaga medis dan paramedis sebagai garda terdepan melawan wabah Covid-19. Salah satunya saat mereka tak bisa masuk ke ruang isolasi tempatnya dirawat dan terpaksa berjaga dari luar.

"Saya sangat terharu melihat paramedis bekerja. Mereka bertanggung jawab penuh atas tugas yang mereka laksanakan," kata Idrus dalam video yang sudah ditonton sebanyak 25 ribu kali itu.

Dokter yang dikenal selalu hadir untuk memberi pertolongan saat ada bencana itu menyebut bahwa upaya yang dilakukan oleh pemerintah dari level pusat hingga daerah sudah sangat baik. Namun, tetap ada kewaspadaan yang harus ditingkatkan.

"Andaikan epidemi ini meledak dan terjadi break yang luar biasa, semua harus diantisipasi. Rumah sakit dan tenaga yang melayani harus mengantisipasi. Semua kita harus jaga, tidak bisa karena hanya baru sekian kasus dibanding puluhan ribu di negara lain. Kita harus memutus mata rantai penyebarannya,” tuturnya.

Idrus PaturusiProfesor Idrus Paturusi bersama mahasiswa Universitas Hasanuddin. (Foto: Dok Pribadi)

Ditemani Istri Selama Isolasi

Shanty Andi Beso, istri Idrus Paturusi, setia menemani suami selama menjalani isolasi di rumah sakit. Hal ini membesarkan hati Idrus. Bukan hal mudah bagi Shanty, apalagi anaknya yang juga seorang dokter, tidak memberikan izin, karena sang ibu memiliki riwayat penyakit auto imun.

Akan tetapi, bagi Shanty, meski syok saat pertama kali mendengar kabar suaminya positif virus corona, ia tetap berharap bisa menemani suaminya meskipun ketakutan selalu menghantuinya. Alasannya untuk tetap ikut menemani Idrus ke ruang isolasi adalah ia takut hal buruk akan terjadi pada ayah dari anak-anaknya.

“Tapi kemudian saya tersadar kalau saya, suami saya, seluruh penduduk di dunia ini adalah milik Allah Subhanahu wa Taala. Saya lalu menyendiri beberapa saat, memohon kepada pemilik alam jagat raya, memohon izinnya untuk menemani suami dan memohon dilindungi dari wabah ini,” kata Shanty ditulis di akun Facebook Profesor Idrus Paturusi, Kamis, 2 April 2020.

Setelah melakukan negosiasi dengan petugas dan dokter yang bertugas, Shanty mendapat izin menemani Idrus selama berada di ruang isolasi dengan catatan selalu mengenakan alat pelindung diri (APD), seperti yang digunakan para tenaga medis.

Beruntunglah, seorang anak Shanty yang berada di Jakarta saat peristiwa itu membelikannya APD untuk ia gunakan. Anaknya tak ingin ibunya memakai APD dari rumah sakit, karena sekarang ini mencari APD sangat sulit, langka. 

Selama berada di ruang isolasi, Shanty merasakan penat, agak flu, dan batuk. “Tapi saya selalu berzikir, Ya, Allah Insya Allah saya sehat, saya kuat, saya kuat, saya kuat,” tulis Shanty.

Terima Kasih untuk Petugas Medis

Shanty memberikan apresiasi dan terima kasih kepada para dokter dan perawat yang bertugas di kamar isolasi pasien positif corona. Ia melihat semua petugas medis bertugas dengan penuh kasih sayang dalam merawat suaminya. Tidak hanya itu, hal yang sama juga diberikan kepasa pasien lain yang sedang diisolasi.

Ia juga mengatakan, petugas medis betapa lelah dan panasnya serta dehidrasi karena harus memakai APD sepanjang waktu. Hal itu ia bisa rasakan karena saat mendampingi suaminya, mengenakan APD serupa yang digunakan petugas medis.

“Kami mengajak kepada semua orang untuk mengirimkan doa kepada para medis, perawat, tenaga kebersihan dan semua yang ikut berjuang melawan corona, agar mendapatkan kekuatan, kesabaran dan terhindar dari virus ini,” tutur Shanty.

Ia juga meminta kepada masyarakat untuk tidak terlalu khawatir dengan corona, akan tetapi yang wajib dilaksanakan adalah waspada serta menjaga diri, jasmani, dan batin serta tidak lupa untuk selalu berdoa kepada Sang Pencipta. []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Saat Batuk dan Bersin Bikin Paranoid Covid-19
Orang-orang berada dalam situasi saling curiga di tengah pandemi corona Covid-19 hingga kejadian sekampung gempar saat mendengar ada anak batuk.
Setelah Badai Corona Berlalu
Dian Putri Mustafa, Tedi Hendratno dan Andi Wardha. Mereka tinggal di Makassar. Setelah badai virus corona berlalu, ini yang akan mereka lakukan.
Bilik Anti Corona di Zona Merah Malang Jawa Timur
Seorang pegawai negeri memasuki bilik bernama sico atau sikat corona di lingkungan Pemerintah Kota Malang, Jawa Timur, zona merah corona Covid-19.
0
Warga Bantaeng Derita Luka Bakar di Sekujur Tubuh
Remaja berusia 20 tahun di Bantaeng menderita luka bakar hampir 80 persen akibat kebakaran menimpa kamar tidurnya.