UNTUK INDONESIA
Ka'do Minyak, Bupati Bantaeng dan Maulid Nabi
Kado minyak, kuliner wajib dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Bantaeng, Sulawesi Selatan. Juga ada telur rebus merah disebut telur maulid.
Ibu-ibu berswafoto dengan Bupati Bantaeng Ilham Syah Azikin dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW di rumah Daeng Uncu di Bantaeng, Minggu, 22 Desember 2019. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Bantaeng - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dirayakan dengan meriah di Sulawesi Selatan. Mulai dari masyarakat umum, pihak kerajaan, hingga instansi pemerintah maupun swasta. Biasanya menjelang Maulid Nabi Muhammad, pasar tradisional dipenuhi beragam pernak-pernik dan hiasan untuk perayaan maulid. Para pedagang di pasar tradisional menyediakan telur rebus berwarna merah. Warga menyebutnya telur maulid.

Anak-anak kecil di Sulawesi Selatan sangat gemar menikmati telur maulid, meski sebenarnya rasanya sama dengan telur rebus biasa. Hanya saja, warnanya yang merah menyala dan tak jarang dihiasi kertas atau plastik berwarna-warni.

Sekolah-sekolah di sana juga merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Guru biasanya menugasi siswa untuk membawa telur maulid yang sudah dihias, juga kado. Guru tidak melarang murid yang membeli telur yang sudah dihias, atau sekadar membeli tempat dan hiasan, telur diwarnai sendiri di rumah masing-masing.

Bukan hanya menjual telur maulid, para pedagang pasar juga menyediakan hiasan untuk tempat telur, mulai dari batang-batang bambu yang sudah dihias warna-warni, kantong-kantong kecil yang akan dipasang pada batang bambu, hingga nampan yang telah dihias untuk tempat telur maulid.

Selain pernak-pernik, penjual beras ketan pun dipastikan akan mengalami peningkatan omzet, karena sebagian warga masih memegang tradisi memasak ka'do minyak, kuliner khas Sulawesi Selatan. Ka'do minyak terbuat dari beras ketan yang dimasak dengan santan kental, ditaburi bawang goreng dan ketumbar yang telah disangrai. Sebagian orang memberinya warna kuning dengan bubuk kunyit.

Biasanya ka'do minyak disajikan dengan lauk telur dan ayam goreng. Tapi tak jarang warga mengombinasikan ka'do minyak dengan ayam bakar atau kari ayam, tergantung selera masing-masing.

Ka'do minyak seperti kuliner wajib pada perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di daerah Sulawesi Selatan. Biasanya selain ka'do minyak, pada perayaan maulid juga disajikan kue tradisional, seperti dilakukan seorang warga Kabupaten Bantaeng, Daeng Ancu.

Kita akan bentuk kelompok Tani, Daeng Ancu catat semua nama bapak-bapak yang masuk dalam kelompok.

Ilham Syah AzikinBapak-bapak berswafoto dengan Bupati Bantaeng Ilham Syah Azikin dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW di rumah Daeng Uncu di Bantaeng, Minggu, 22 Desember 2019. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Hari itu, Minggu, 22 Desember 2019, keluarga kecil Daeng Ancu, 49 tahun, melaksanakan acara maulid di rumahnya, di Dusun Pangngai, Desa Lonrong, Kecamatan Eremerasa, Kabupaten Bantaeng.

Meski siang itu gerimis membasahi tanah, acara perayaan maulid dihadiri cukup banyak kerabat dan tetangga.

Tidak terlalu jauh dari halaman rumah Daeng Ancu, satu unit mobil patroli bertuliskan "Polisi" terparkir. Tidak ada suara sirine atau nyala lampu rotator saat mobil itu datang.

Sebagian yang datang memarkir sepeda motornya di kolong rumah panggung milik Daeng Ancu. Seseorang berlari kecil, berusaha agar tubuhnya tidak basah terkena hujan, menuju kursi para tamu undangan.

Tuan rumah ditemani beberapa pria berkemeja batik, menyalami tamunya. Beberapa orang sudah duduk di kursi-kursi yang disiapkan, termasuk seorang pria berkemeja lengan pendek dan mengenakan peci.

Pria itu adalah Bupati Bantaeng, Ilham Syah Azikin, yang menyempatkan diri menghadiri undangan warganya. Ilham Syah ditempani secangkir kopi, terlihat asyik bercengkerama, membangun suasana kebersamaan yang benar-benar terasa.

Sesekali terdengar tawa terkekeh saking serunya pembicaraan yang mengalir antara ia dan warga di sana. Sama sekali tidak tampak ia menonjolkan diri atau memberi sekat di antara dirinya dan warga setempat.

Perbincangan yang mampu menghangatkan suasana di sela gerimis masih berlangsung, saat istri Daeng Ancu selaku tuan rumah sedang sibuk menata makanan di meja. Sepertinya ia dan tim ibu-ibu lain yang jadi seksi konsumsi baru saja menyelesaikan masakannya.

Waktu bergulir, tak terasa sudah 30 menit. Waktu makan siang pun sudah sedikit lewat. Para ibu keluar, mengajak para tamu untuk bersantap. Mereka yang tadinya mengerumuni Ilham Syah, masuk ke dalam rumah dan menikmati makanan yang disajikan.

Santapan yang sebenarnya sederhana jadi begitu mewah karena adanya bupati di tengah warga, duduk assulengka (bersila) di tikar sambil menikmati sajian ayam goreng tumis kecap, perkedel kentang, dan sup hangat.

Sesekali gelak tawa mewarnai ruangan karena ada saja celetuk ibu-ibu dari dapur yang menggoda sang pemimpin saat makan. Tentu saja itu merupakan perwujudan keakraban yang terjalin erat. Suasana makan pun semakin terasa, orang-orang bersuka ria.

Ilham Syah AzikinBupati Bantaeng Ilham Syah Azikin dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW di rumah Daeng Uncu di Bantaeng, Minggu, 22 Desember 2019. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Curahan Hati Para Petani

Pertemuan di serambi rumah Daeng Ancu bukan sekadar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, tapi juga menjadi pertemuan untuk menyatukan rasa antara warga dan pemimpinnya.

Beberapa warga yang berprofesi sebagai petani memanfaatkan kesempatan langka itu. Satu per satu mereka bersuara, menyampaikan unek-unek pikiran yang selama ini tak tersalurkan. Wajah sang pemimpin tampak tenang, menyimak untaian kata yang dituturkan masyarakatnya.

Para petani itu menyampaikan beberapa masalah, mulai dari pupuk, bibit, saluran irigasi, dan masalah lain yang dinilai penting untuk kelangsungan pertanian di situ.

Setelah mendengarkan semua keluhan, Ilham Syah menjawab segala keresahan mereka. Menurutnya solusi tepat untuk saat ini dan bisa dilakukan adalah membentuk kelompok tani. Agar tak ada lagi petani di desa itu yang akan pusing sendirian. Semua masalah akan dipecahkan bersama dalam kelompok tani.

"Kita akan bentuk kelompok Tani, Daeng Ancu catat semua nama bapak-bapak yang masuk dalam kelompok," ujar Ilham setelah mendengar berbagai keluhan.

Azan Asar berkumandang. Tak terasa waktu mereka untuk berdiskusi dengan bupati sudah usai. Ilham Syah bergegas pamit karena masih ada kegiatan lain yang harus dilakukan.

Tapi, baru saja dia berdiri, rombongan emak-emak berdaster datang dan memintanya untuk berswafoto bersama. Permintaan itu dikabulkan Ilhamsyah. Namun tak bisa ia mengulur-ulur waktu lagi. Ia naik ke mobil patroli polisi dan berlalu tanpa bunyi sirine.

Ukuran butir-butir air yang turun dari langit semakin besar, pertanda hujan deras datang menggantikan gerimis. Beberapa warga yang tadi mengantar kepulangan Ilham Syah, kembali duduk.

Daeng Ancu, memperbaiki letak pecinya kemudian menyeruput kopi yang masih ada setengah cangkir di hadapannya. Ia tokoh masyarakat Dusun Pangngai, mengaku senang dan bersyukur Ilham Syah berkenan hadir dalam kegiatan yang ia sebut sederhana itu.

Daeng Ancu mengatakan tujuan mengundang bupati agar warga setempat bisa berhadapan langsung dan berdiskusi dengan pemimpin mereka. "Bapak itu memang baik, merendah terus orangnya dan kita warga jadi nyaman bicara sama Bapak Bupati. Alhamdulillah, semoga beliau senantiasa amanah dalam memimpin. Kami orang kecil sangat bangga dan berdoa kebaikan untuknya." []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Hari Terburuk Benni Kehilangan 5 Anggota Keluarga di Makassar
Lima peti jenazah berjejer rapi di dalam ruangan di rumah duka di Makassar. Kain satin putih melapisi peti-peti tersebut.
Bisu Butir Pasir dan Deru Ombak, Saksi Tsunami di Serang
Mendung seperti bersahabat dengan butiran embun, pagi itu di lokasi terjadinya tsunami di Desa Cikoneng, Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang.
Latifah Zulfa Siswi SMPN 1 Turi Sleman Kandas di Sungai Maut
Latifah Zulfa, siswi SMPN 1 Turi Sleman, cita-citanya kandas di sungai maut, terkubur selamanya bersama tragedi pramuka susur sungai.
0
IndoSterling Forum Ajak BNPB Bahas Mitigasi Bencana
Kepala BNPB menyebut Indonesia merupakan negara dengan tikat potensi kebencanaan tinggi atau kerap disebut para ahli sebagai supermarket bencana.