UNTUK INDONESIA
Latifah Zulfa Siswi SMPN 1 Turi Sleman Kandas di Sungai Maut
Latifah Zulfa, siswi SMPN 1 Turi Sleman, cita-citanya kandas di sungai maut, terkubur selamanya bersama tragedi pramuka susur sungai.
Latifah Zulfa, 15 tahun, siswi kelas VIII SMPN 1 Turi, meninggal hanyut saat kegiatan pramuka susur sungai, Jumat, 21 Februari 2020. (Foto: Dok Keluarga/Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Sleman - Puluhan pohon salak berjejer tidak jauh dari jembatan Sungai Sempor, Kembangarum, Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa YogyakartaDi bawah jembatan, arus air sungai yang tidak terlalu deras, menampar bebatuan. Gemericiknya berpadu dengan suara gesekan batang bambu, menimbulkan nada alam yang menyejukkan. Sesekali ditimpali deru knalpot sepeda motor yang melintas.

Rimbun dedaunan di sekitar, membuat cahaya matahari harus mencari celah untuk bisa menyapa air dan bebatuan, memantulkan kilau yang berjoged senada dengan riak-riak. Di kejauhan, tepat di tengah-tengah sungai, beberapa personel tim gabungan Basarnas berompi oranye memasang tali, melintang dari sisi sungai satu ke sisi lainnya.

Di atas jembatan, beberapa warga menonton, beberapa dari mereka memotret sungai dengan kamera ponsel. Sebagian yang lain berswafoto di lokasi awal kegiatan susur sungai yang berujung kematian 8 pelajar SMPN 1 Turi sehari sebelumnya, Jumat, 21 Februari 2020.

Beberapa ratus meter dari lokasi tersebut, belasan warga duduk di bawah tenda terpal. Wajah-wajahnya menyiratkan duka. Mereka melayat seorang korban susur sungai maut, Latifah Zulfa, 15 tahun, siswi kelas VIII SMPN 1 Turi.

Di dalam rumah, dengan balutan gamis dan hijab berwarna cokelat, ibu kandung Zulfa berbicara dengan beberapa pelayat. Wajahnya menunjukkan duka yang dalam. Matanya sembab karena kebanyakan menangis.

Cita-citanya jadi dokter, selain itu enggak mau. Setiap ditanya ibunya, selalu mau jadi dokter.

MulyadiMulyadi (kiri), ayah Latifah Zulfa, siswi SMPN 1 Turi Sleman yang meninggal akibat terseret arus Sungai Sempor, Sabtu, 22 Februari 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Di samping rumah utama, puluhan perkakas bengkel dan peralatan tambal ban tergantung di dinding. Sebagian perkakas lain tersimpan dalam etalase kaca di bagian belakang ruangan.

Sekitar tiga meter dari rumah itu, terdapat deretan pohon salak milik keluarga Latifah. Tempat ayahnya, Mulyadi, 57 tahun, memeras keringat untuk menghidupi keluarga.

Hari itu, Sabtu, 22 Februari 2020, Mulyadi mengenakan peci putih dipadu kemeja koko warna senada. Sebagian jenggotnya sudah berwarna putih, menunjukkan usia yang tak lagi muda.

Tatap mata Mulyadi terlihat nanar dan kosong. Ia tampak sangat terpukul atas meninggalnya Latifah, anak perempuan satu-satunya. Latifah adalah anak kedua Mulyadi. Jarak kelahirannya dengan sang kakak cukup jauh, yakni sembilan tahun.

"Anak kulo kalih, niki sing ageng (anak saya dua, ini yang besar). Jarake (jaraknya) jauh, sembilan tahun. Latifah anak kedua," ucapnya sambil menunjuk ke arah seorang pemuda.

Kandasnya Cita-cita Keluarga

Mulyadi mengisahkan, dulu ia hanya berniat memiliki seorang anak. Sebab beberapa tahun lalu lalu ia mengkhawatirkan kondisi perekonomiannya. Tapi, beberapa kerabat memberi masukan agar Mulyadi memberikan adik untuk anaknya. Akhirnya, setelah sembilan tahun hanya memiliki anak tunggal, istri Mulyadi pun hamil.

"Tadinya itu karena ekonomi, jadi berpikir satu saja cukup. Tapi teman-teman yang sudah pengalaman bilang kasihan kalau cuma satu, jadi ditambahi. Kebetulan Allah memberi kesehatan dan beri anak satu itu," tuturnya dengan suara nyaris tak terdengar.

Saat istri hamil, Mulyadi sudah mencari nama untuk anak keduanya. Ia ingin nama yang baik untuk anaknya itu. Hingga akhirnya Latifah lahir dan Mulyadi memberinya nama Latifah Zulfa. "Latifah Zulfa. Ada artinya tapi saya lupa. Sebelum ia lahir, saya cari artinya apa. Kan nama-nama yang baik ada."

Dari beberapa sumber, disebutkan bahwa dalam bahasa Arab, Latifah berarti lembut atau ramah, sedangkan Zulfa artinya kedudukan atau derajat.

Ibunda LatifahIbu kandung Latifah Zulfa (kedua dari kanan) bersama Ketua Kwarda Pramuka DIY, GKR Mangkubumi dan istri Wakil Gubernur DIY, di rumah duka, Sabtu, 22 Februari 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Seiring waktu berlalu, Latifah tumbuh menjadi gadis pendiam, namun cerdas. Kecerdasannya ditunjukkan dengan berhasilnya Latifah meraih juara dalam beberapa kegiatan. "Ini anaknya pendiam tapi cerdas. Di kampung mewakili TPA dapat juara, di SD mewakili juga dapat juara, SMP juga rangking."

Sejak kecil Latifah bercita-cita menjadi seorang dokter. Cita-citanya tidak pernah berubah hingga akhir hayat. Pihak keluarga, kata Mulyadi, mendukung penuh cita-cita anaknya itu. Mulyadi menyarankan pada Latifah untuk rajin belajar, agar cita-cita gadis kecilnya itu dapat terwujud. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Gadis manis itu meninggal terseret arus air sungai.

"Cita-citanya jadi dokter, selain itu enggak mau. Setiap ditanya ibunya, selalu mau jadi dokter. Saya sarannya juga, kalau kamu bisa pandai ya Insya Allah bisa jadi dokter tanpa biaya. Dia termasuk di sekolah lumayan pandai," kata Mulyadi.

Sebagai orang tua, Mulyadi juga sudah memikirkan kelanjutan sekolah anaknya. Ia berencana menyekolahkan anak perempuannya itu di SMAN Medari, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah.

BasarnasAnggota tim gabungan Basarnas memasang tali di Sungai Sempor, Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Sabtu, 22 Februari 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Tempuh Jalur Hukum

Pria yang berprofesi sebagai tukang tambal ban dan petani salak, ini mengatakan keluarganya sangat terpukul dengan meninggalnya Latifah, terutama istri dan anak pertamanya. Bukan hanya istri dan anaknya, Mulyadi mengaku meski dirinya laki-laki terlihat tegar, tapi dalam hatinya belum tentu seperti itu.

"Sebetulnya yang terpukul bukan cuma ibu, saya dan anak saya juga. Cuma saya kelihatannya kuat. Meskipun lelaki tapi kan dalamnya belum tentu kuat. Tapi saya berusaha kuat," tutur Mulyadi.

Terlebih, Mulyadi dan istri yang selama ini selalu mengantar Latifah ke sekolah. Biasanya Mulyadi mengantar Latifah sepulang dia dari kebun salak. Jika Mulyadi lambat pulang, istrinya yang mengantar.

Meninggalnya Latifah menurut pendapatnya, disebabkan kelalaian pembina pramuka. Kelalaian itu harus dibayar dengan harga yang sangat mahal, yang tidak bisa dinilai dengan uang, yakni nyawa anaknya. Karena itu, ia bertekad menempuh jalur hukum, meminta pertanggungjawaban pembina pramuka. Sebagai langkah awal, Mulyadi akan mencari dan meminta tolong pihak yang paham hukum.

SMPN 1 Turi SlemanOrang-orang berdiri di jembatan Sungai Sempor, titik awal susur sungai yang mengakibatkan 9 pelajar SMPN 1 Turi Sleman, meninggal akibat terbawa arus. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

"Tentu akan menuntut lewat jalur hukum. Itu kan gegabah to itu. Harganya mahal, tidak bisa dihitung dengan uang itu. Nanti saya harus ada yang dampingi, saya cari yang tahu tentang hal itu. Nek kulo, jelas mboten saged, kulo mesti kalah, dienggak-enggokke (kalau saya sendiri, jelas tidak bisa, saya pasti kalah, dibelok-belokkan)," tuturnya.

Jenazah Latifah sudah dikebumikan pada Sabtu, 22 Februari 2020, meski jenazahnya sempat tertukar dengan jenazah temannya yang juga meninggal akibat terbawa arus sungai.

Mulyadi mengatakan awalnya pihak keluarga tidak mengetahui jenazah tertukar. Saat itu setelah tiba di rumah, jenazah yang ada dimandikan, dikafani, disalatkan kemudian dimakamkan.

"Habis itu saya duduk di teras ini, wali kelas datang, bilang kok di puskesmas ada korban yang mirip Zulfa, terus saya ke sana. Ternyata iya. Padahal di sini sudah diidentifikasi. Karena saya kasihan kalau terlalu lama, lebih utama kalau segera dimakamkan," tuturnya.

Jenazah itu tertukar karena seluruh anggota keluarga sedang bingung dan dilanda duka mendalam. Terlebih, memang ada kemiripan antara Latifah dan temannya tersebut. "Sedoyo bingung (semua dalam kondisi bingung), kondisi bingung dan hampir mirip. Ternyata anak saya lebih tinggi dan rambutnya dikelabang (dikepang) panjang."

Latifah ZulfaMulyadi menunjukkan foto Latifah Zulfa, putrinya usia 15 tahun, siswi kelas VIII SMPN 1 Turi. Foto diambil Minggu, 23 Februari 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Ketua Kwartir Daerah Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta, GKR Mangkubumi, hadir melayat di rumah Latifah. Ia mengatakan saat ini pihaknya masih menunggu hasil penyidikan kepolisian.

Setelah data penyidikan dan keterangan pihak sekolah diperoleh, pihaknya baru bisa mengambil langkah selanjutnya. "Tentunya kita akan buat SOP (standar operasional prosedur) agar sinkron dengan kegiatan sekolah. Mungkin satu dua hari kita dapatkan data."

Teriakan Minta Tolong Saat Kejadian

Seorang warga yang tinggal di sekitar Sungai Sempor, Sukarsih, mengatakan saat kejadian ia mendengar teriakan minta tolong. "Lare niku saking ngandap, saking lepen (anak-anak itu dari bawah, dari sungai). Njur langsung minggah, sekitar jam 2 (kemudian langsung naik, sekitar jam 14.00)," ucapnya saat ditemui di rumahnya.

Waktu itu, kata Sukarsih, mendung sudah tampak di bagian barat, dan tiba-tiba datang banjir. Ia melihat para siswa sempat saling bergandengan tangan agar tidak hanyut. "Wontene banjir niku, lare sami tuntun-tuntunan saking ngandap (adanya banjir itu, anak-anak saling bergandengan tangan). Njuk lare ne niku mbengok tulung-tulung (kemudian ada anak yang berteriak minta tolong)."

Latifah ZulfaMulyadi menunjukkan foto Latifah Zulfa, putrinya usia 15 tahun, siswi kelas VIII SMPN 1 Turi. Foto diambil Minggu, 23 Februari 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Sukarsih melihat beberapa anak mencoba menyelamatkan temannya dengan mengulurkan batang bambu, tapi bambu itu patah. Beruntung anak yang coba diselamatkan tersebut tidak hanyut.

"Kumpulipun nggih wonten mriki (kumpulnya ya di sini). Begitu ngertos wonten kejadian meniko, rencange sing dereng mandap, mboten sios. Mulai nyemplunge mboten ngertos (begitu mereka tahu ada kejadian tersebut, temannya yang belum turun, batal untuk turun, tapi jam awal mereka turun saya tidak tahu)," tuturnya.

Kejadian itu juga menarik perhatian Euis Rosmalina, guru SD Srumbung 2, di Magelang, Jawa Tengah. Euis bersama dua rekan guru sengaja mendatangi lokasi tersebut, sebagai pelajaran agar tidak terjadi pada anak-anak didiknya.

"Jadi ini merupakan pukulan bagi kami para pengajar dari pelaku pendidikan, bahwa kegiatan ekstrakurikuler memang harus ada, bahkan pramuka itu wajib. Tapi kita juga harus melihat situasi dan kondisi yang akan dihadapi," kata dia.

Sebagai upaya antisipasi, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, jika akan melakukan kegiatan outbound. Termasuk dengan warga setempat, yang dinilai lebih memahami kondisi. "Kta harus koordinasi dengan tim meteorologi misalnya, atau ke tim yang ada di lokasi tersebut, yang sudah hapal dengan kondisi setempat. Jadi kalau misalnya tidak boleh sebaiknya kita tidak lakukan." []

Baca juga:

Berita terkait
Dua Pelajar SMPN 1 Turi Sleman Belum Ditemukan
Basarnas DIY menyebut masih dua korban SMPN 1 Turi susur sungai Sempor belum ditemukan. Pencarian diperluas hingga 25-27 Km dari lokasi kejadian.
Kepsek SMPN 1 Turi Sleman: Susur Sungai Hal Biasa
Kepsek SMPN 1 Turi Sleman menyebut kegiatan susur sungai hal biasa dilakukan Pramuka anak didiknya. Sehingga pembina tidak melaporkan padanya.
Sudah Dikubur, Jenazah Pelajar SMPN 1 Turi Tertukar
Jasad korban SMPN 1 Turi, Faneza sempat dikubur. Ternyata tertukar. Jasad digali lagi lalu diberikan kepada pihak keluarga.
0
Demi Liga Champions, Aguero Bertahan di Man City
Striker Sergio Aguero bakal mengakhiri kontrak di Manchester City dan kembali ke Argentina. Namun dia berubah pikiran dan bertahan di Man City.