UNTUK INDONESIA
Bisu Butir Pasir dan Deru Ombak, Saksi Tsunami di Serang
Mendung seperti bersahabat dengan butiran embun, pagi itu di lokasi terjadinya tsunami di Desa Cikoneng, Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang.
Warga di Pulau Sangiang, Desa Cikoneng, Kecamatan Anyer, Serang, meemperingati satu tahun terjadinya tsunami, Kamis, 26 Desember 2019. (Foto: Tagar/Moh Jumri)

Serang - Mendung seperti bersahabat dengan butiran embun, pagi itu, Minggu, 22 Desember 2019. Gumpalan-gumpalannya menghalangi matahari menguapkan butir-butirnya. Membiarkan dia bermain di atas rerumputan hijau di pesisir Pantai Panjang Pulau Sangiang di Selat Sunda. Hawa dingin seperti mencoba merambah sekujur tubuh. Menjelajah sentimeter demi sentimeter kulit. Seolah tak mau kalah, sunyi bersembunyi tanpa bunyi menyelimuti bumi.

Beberapa perahu nelayan melintas, membuat buih ombak terpecah oleh lunas, memercikkan bulir-bulir bening menyapa hening. Bebatuan pemecah ombak di sekitarnya tak menyapa, seperti sedang bertapa. Di bibir pantai, pasir putih sesekali dibasahi ombak yang menepi, menjadi saksi ganasnya tsunami yang terjadi ratusan hari lalu di sini, di Pantai Panjang, Pulau Sangiang.

Pasir yang terhampar luas itu tidak sendiri. Ratusan pengunjung yang menginjak-injak butiran pasir itu, juga turut memperingati setahun kejadian tsunami di pulau seluas 720 hektare tersebut, yang masuk dalam wilayah Desa Cikoneng, Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang.

Setahun sebelumnya, saat ratusan pengunjung menikmati keindahan pantai itu, ombak besar tsunami tiba-tiba datang bergulung. Gelombang itu seperti murka atas longsornya sebagian tubuh Anak Gunung Krakatau dan menimpa mereka.

Saat kejadian tersebut, tiga warga setempat meninggal dunia dan dua wisatawan mengalami hal yang sama. Tak hanya nyawa manusia yang hilang. Warung-warung di sepanjang pantai yang dulu berjejer, turut lenyap sejak kejadian itu, termasuk musala di sekitar warung.

“Sudah tak ada lagi warung milik warga Pulau Sangiang yang berada di sepanjang pinggir Pantai Panjang. Dulu musala, warung dan penginapan milik warga banyak berjejer di sini. Semoga kita diberikan kesehatan dan pantai ini dikunjungi banyak wisatawan lagi," tutur seorang warga setempat, Holil, 65 tahun.

Sebatang rokok kretek terselip di sela telunjuk dan jari tengah Holil, bibirnya mengepulkan asap putih tipis. Matanya menatap tajam ke arah laut biru, seperti mengingat kejadian setahun lalu.

“Kami lagi memperingati satu tahun tsunami yang terjadi di Pulau Sangiang, Desa Cikoneng. Tujuannya meminta keselamatan sama Tuhan Sang Pencipta agar diberikan keselamatan bagi seluruh masyarakat Pulau Sangiang," tuturnya.

Seorang warga lain, yang merupakan Ketua RT 04 RW 05 Kampung Sangiang, Desa Cikoneng, Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang, Achmad Kosasih, 60 tahun, menambahkan kisah yang diceritakan Holil.

Kata Achmad, beberapa warganya sempat menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi, di Bukit Arjuna, saat tsunami terjadi, termasuk dirinya.

“Alhamdulilah banyak warga yang selamat, sementara untuk korban yang meninggal ada lima," kata Achmad.

Sudah tak ada lagi warung milik warga Pulau Sangiang yang berada di sepanjang pinggir Pantai Panjang.

Tsunami SerangMahasiswa dan LBH Rakyat Banten di Pulau Sangiang, memberikan dukungan kepada warga agar bangkit dari trauma tsunami yang terjadi pada 2018. (Foto: Tagar/Moh Jumri)

Pria yang menggunakan peci hitam tersebut meminta kepada seluruh warga untuk terus berdoa kepada Allah, agar mereka semua terhindar dari bencana. Ia pun berpesan kepada seluruh warga agar bersama-sama menjaga alam yang ada di Pulau Sangiang.

“Banyak warisan budaya dari leluhur kita yang harus dilestarikan, mulai dari kearifan lokal, kesenian, dan keindahan hutan yang ada di sini," tuturnya.

Achmad mengisahkan sejarah warga Pulau Sangiang yang disebutnya berasal dari Lampung dan Banten. Nama Sangiang berasal dari bahasa Lampung, "Ngiang", yang berarti buyut.

"Jadi pulau ini bisa dibilang tanah buyut atau tanah ulayat," ujarnya.

Peringatan setahun tsunami Selat Sunda bukan hanya dilaksanakan warga setempat. Rombongan mahasiswa dan relawan dari Lembaga Bantuan Hukum Rakyat Banten (LBHR Banten), sengaja datang ke pulau ini untuk turut memperingati. Mereka datang ke tempat ini sekaligus untuk membangkitkan semangat warga, menggelar doa bersama di pesisir Pantai Panjang bersama para warga serta wisatawan, disaksikan Gua Kelalawar dan Bukit Arjuna.

Peringatan setahun tsunami Selat Sunda di Pantai Panjang tersebut, berlangsung dua hari, 21 dan 22 Januari 2020, dirangkaikan beberapa pertunjukan, di antaranya pemutaran film, pentas tarian adat, penanaman mangrove, jelajah pulau, dan terakhir ditutup dengan doa.

Koordinator Lembaga Bantuan Hukum Rakyat Banten, Mad Haer Effendi, mengatakan, kegiatan ini sebagai wujud empati dari generasi muda khususnya terhadap musibah yang melanda masyarakat  Pulau  Sangiang, yang warganya berprofesi sebagai nelayan, petani, dan pedagang.

Pria yang biasa dipanggil Aeng itu mengaku sudah beberapa tahun terakhir fokus melakukan advokasi terkait isu lingkungan, terutama terhadap masalah yang terjadi di Pulau Sangiang.

Masyarakat Pulau Sangiang, kata dia, sedang memperjuangkan lahan mereka di pulau itu, yang diklaim sebagai tanah milik Perhutani dan perusahaan. Padahal menurut warga yang berada di sana, mereka sudah tinggal turun temurun menempati Pulau Sangiang. Bahkan sebelum Indonesia merdeka, nenek moyang mereka sudah ada di sana.

“Jadi ini bentuk kepedulian kami untuk bisa merasakan dan membantu masyarakat Pulau Sangiang. Semoga dengan adanya acara ini, masyarakat Sangiang bisa bangkit kembali sesuai tema yang kami angkat," kata Aeng.

Tsunami SerangWarga tiba di Pelabuhan Dermaga milik warga di Pulau Sangiang, Desa Cikoneng, Kecamatan Anyer. (Foto: Tagar/Moh Jumri)

Aktivitas Gunung Anak Krakatau

Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau (GAK) Lampung, Andi Suandi, mengatakan status Gunung Anak Krakatau (GAK) hingga Kamis, 26 Desember 2019, masih dalam kondisi tenang. Menurutnya, selama bulan Desember 2019, tidak ada aktivitas letusan dari gunung yang longsoran tanahnya menyebabkan tsunami di wilayah Banten dan Lampung serta beberapa pesisir Selat Sunda pada 2018 lalu.

"Agak tenang, soalnya satu bulan ini tidak ada letusan. Saat ini memang aktivitasnya sedikit menurun, kegempaannya didominasi embusan dan low frekuensi saja," kata Andi Suandi kepada Tagar saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis, 26 Desember 2019.

Meski demikian, kata Andi, status gunung masih dalam level dua atau waspada, karena gempa tremor di Gunung Anak Krakatau masih terjadi. Oleh karena itu, Andi mengimbau para nelayan atau masyarakat untuk tidak mendekati gunung ini terlebih dahulu.

"Karena metro tremornya masih ada, jadi kemungkinan atau potensi letusannya masih ada. Jadi untuk nelayan imbauannya supaya tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius dua kilometer," tuturnya.

Mengenai longsoran Gunung Anak Krakatau yang menimbulkan tsunami pada 2018, kata Andi, ini mempengaruhi ketinggian Gunung Anak Krakatau. Ketinggian gunung berapi ini sebelum longsor mencapai 338 meter dari permukaan laut (mdpl), tapi setelah longsor, menurun menjadi 110 mdpl. Namun ketinggian Gunung Anak Krakatau sudah kembali bertambah menjadi 157 mdpl sejak tahun lalu.

Terkait kemungkinan adanya tsunami dengan penyebab sama, yakni longsoran Gunung Anak Krakatau, Andi mengatakan kemungkinan itu sangat kecil. Bahkan jika Gunung Anak Krakatau longsor, dampaknya tidak akan sehebat tsunami 2018.

"Kalau sekarang kan gunungnya sudah rendah, kekuatan longsorannya enggak akan sedahsyat kemarin. Belum tahu kalau puluhan atau ratusan tahun lagi, nanti gunungnya makin tinggi mungkin bisa saja." []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Bersepeda Menebar Ke-bike-an di Bantaeng
Sore itu cuaca cerah, dua jam jelang matahari terbenam di sebelah barat Pantai Seruni, Kabupaten Bantaeng. Sekelompok orang muda siap bersepeda.
Qudratullah, Dosen Muda Berprestasi, Lajang Ganteng dari Bantaeng
Di bawah pucuk-pucuk pinus dan kabut tipis bumi perkemahan Trans Muntea, Desa Bonto Lojong, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng.
Sejarah Makam Raja Pehobi Sabung Ayam di Jeneponto
Ratusan batu nisan yang disebut pajjerakkang berjejer di area kompleks pemakaman Raja Binamu, di Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto.
0
3 Aplikasi Populer di App Store Selama Puasa
Tiga aplikasi yang paling tren di Indonesia saat pandemi virus corona Covid-19, yaitu 30 Day Fitness, HBO GO dan YouTube.