UNTUK INDONESIA
Tambang Emas, Banjir di Lebak dan Perintah Jokowi
Kabut tipis berwarna putih melayang di sela tebing menjulang jelang sore itu, di Desa Muara, Kecamatan Lebak Gedong, Kabupaten Lebak, Jawa Barat.
Seorang pengendara di Desa Lebak Gedong, Kecamatan Lebak Gedong, menuju Pasar Gajrug. Mereka harus berputar melewati Sobang, Muncang dan Cimiyak, Selasa, 7 Januari 2020. (Foto: Tagar/Moh Jumri)

Lebak - Kabut tipis berwarna putih melayang di sela tebing menjulang jelang sore itu, di Desa Muara, Kecamatan Lebak Gedong, Kabupaten Lebak, Jawa Barat. Bebatuan dan tanah sisa longsor menutupi ruas jalan yang menjadi akses warga.

Jalan yang tertutup lumpur dan bebatuan tersebut, bukan satu-satunya jalur menuju Kampung Cigobang, Desa Lebaksitu, yang terletak di seberang sungai Kampung Muara, Desa Muara. Masih ada akses jalur lain yang bisa ditempuh warga, tapi jarak tempuh jalur itu beberapa kali lebih jauh. Untuk ke sana harus memutar sejauh 85 kilometer.

Namun, kondisi itu justru menjadi ladang penghasilan dadakan untuk warga sekitar. Seperti hari itu, Selasa, 7 Januari 2020, mereka menjual tenaga pada beberapa warga lainnya, dengan mengangkat dan menyeberangkan sepeda motor. Tarif yang dipatok untuk mengangkat dan menyeberangkan sebesar Rp 200 ribu per sepeda motor.

Tidak jauh dari lokasi, masih di wilayah Desa Muara, Kecamatan Lebak Gedong, satu alat yang biasa digunakan untuk mengelola emas hasil tambang tradisional, tergeletak di tepi sungai Muara, akibat terseret banjir.

Alat itu, yang disebut glundung, kondisinya masih utuh, beberapa warga yang ditemui tak mau angkat bicara tentang emas itu. Sebagian membisu, seperti diamnya longsoran-longsoran bebatuan.

Berbeda dengan sebagian warga Desa Muara yang enggan menceritakan tentang tambang-tambang emas tradisional di sekitar daerah itu, Fidal Fikri, 31 tahun, warga Muara, Desa Muara, Kecamatan Lebak Gedong, dengan gamblang berkisah tentang lubang-lubang bekas tambang emas.

Banjir LebakAlat pengelola emas milik warga di pinggir sungai, kondisinya sudah tak dirawat setelah peristiwa banjir bandang yang meluluhlantahkan Jembatan Muara, Selasa, 7 Januari 2020. (Foto: Tagar/Moh Jumri)

Fidal menduga banjir dan longsor yang terjadi disebabkan banyaknya lubang bekas tambang tersebut, juga banyaknya pohon yang ditebang di bawah Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH), yang merupakan anak dan hulu Sungai Ciberang.

Sungai Ciberang melintasi beberapa kecamatan di Lebak, di antaranya Kecamatan Lebak Gedong, Cipanas, Sajira, dan Curugbitung.

“Kampung Muara sendiri tempat pengaduan sungai antara Ciberang dan Ciladeun di deket Jembatan Muara. Sudah lama hulu sungai itu dipenuhi aktivitas penambang. Sebelum saya lahir tambang di sana sudah ada, intinya tambang sama gundulnya hutan," ucapnya saat itu.

Aktivitas tambang emas tradisional di sekitar tempat itu, menurut dia, sudah sejak lama menjadi mata pencaharian sebagian warga, khususnya yang tinggal di lima desa di Kecamatan Lebak Gedong.

Tentang alat pengolahan emas yang terseret banjir, kata dia ada empat dari lima alat. Sementara satu alat glundung lainnya masih ada di tepi Sungai Kampung Muara, Desa Muara.

“Sisa satu alat, nanti bisa dicek di Kampung Muara, kalau kondisi sekarang enggak tahu masih berfungsi atau tidak. Bisa kamu cek ke lokasi saja," pria yang berprofesi sebagai perawat itu menyarankan.

Fidal terdiam. Tatap matanya nanar menyaksikan ratusan rumah warga yang rata akibat banjir bandang dan tanah longsor. Kemudian, ia meminta para jurnalis yang ada saat itu memberitakan kondisi salah satu warga yang sedang hamil dan akan melahirkan.

Fidal kembali berkisah. Kata dia, dua pekan sebelumnya, kondisi di kampung tersebut masih normal. Kendaraan roda dua dan roda empat masih melintas di situ.

“Sedih melihat kondisi seperti ini, saya berada di posko sudah hampir sepekan, kebetulan saya yang menjaga posko bagian kesehatan. Selama ini tak pernah ada banjir bandang sebesar dan separah ini,"’ tuturnya sambil menujuk ke arah sungai yang arusnya masih cukup deras.

Fidal FikriFidal Fikri, 31 tahun (kiri), warga Sajira menolong perempuan yang hendak melahirkan, Selasa, 7 Januari 2020. (Foto: Tagar/Moh Jumri)

Senada dengan Fidal, seorang warga lain, Juki, 55 tahun, juga menjelaskan tentang adanya aktivitas penambangan emas secara tradisional di daerah itu. Tapi, Juki tak menyebut secara spesifik banjir dan longsor itu disebabkan aktivitas penambangan.

“Kalau tambang emas sudah lama ada, jauh sebelum Indonesia merdeka, tapi dulu enggak pernah ada bencana. Ini bencana paling besar dan paling dahsyat yang terjadi di Lebak," ucap Juki.

Penjelasan Pemerintah

Berbeda dengan dugaan Fidal bahwa salah satu penyebab banjir adalah tambang emas, Kepala Desa Lebak Gedong, Sukatma, mengatakan banjir bandang yang terjadi bukan karena penambang emas.

Menurut Sukatma, lokasi yang terkena dampak banjir dan tanah longsor, justru bukan terletak di daerah tambang.

“Daerah lain juga yang banyak tambangnya tak terjadi banjir dan longsor, seperti di Cisoka, kan ada tambang tapi tak terjadi apa-apa, di sini kan banjir bandang bukan di daerah tambang," ujarnya.

Ia menambahkan, aktivitas penambangan emas tradisional di area Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) sudah lama dilakukan warga. Ia meyakini banjir dan longsor tersebut merupakan musibah yang diberikan oleh Sang Maha Kuasa, melalui curah hujan yang tinggi dan kondisi tanah longsor.

“Sudah musibah Yang Maha Kuasa. Tak ada hubunganya dengan tambang," katanya.

Terkait dampak banjir, Sukatma mengatakan jembatan Muara yang biasa dilalui warga terputus. Hal itu berpengaruh pada aktivitas dan perekonomian warga desa di seberang sungai. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka harus berputar arah ke Sobang, Muncang, Cipanas.

Efek karambol dari semakin jauhnya jarak tempuh, adalah harga barang-barang dagangan yang meningkat drastis. Bahkan di sana harga bensin eceran meningkat hingga Rp 15 ribu hingga Rp 18 ribu per liter.

“Jaraknya hampir lima kali lipat dari yang biasanya. Sudah mah kondisi jalannya masih hancur dan sulit dilalui kalau lewat sana, terus jauh. Kalau saya disuruh memilih ke Jakarta, mending ke Jakarta bolak balik. Dulu paling 30 menit, sekarang bisa butuh waktu enam atau tujuh jam kalau belanja ke pasar," tuturnya.

Banjir LebakWarga menyeberangkan motor untuk dipindahkan ke Desa Lebak Gedong agar bisa digunakan kembali, Selasa, 7 Januari 2020. (Foto: Tagar/Moh Jumri)

Sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Munardo, saat meninjau lokasi banjir bandang di Lebak Gedong, Kabupaten Lebak, Sabtu, 4 Januari 2020, menyatakan, selain faktor hujan, penyebab banjir dan longsor diduga disebabkan maraknya penambangan liar di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH),

Penjelasan itu, kata Doni disampaikan pihak Kepolisian Daerah (Polda) Banten. Doni juga menjelaskan, dampak kerugian materiil yang diakibatkan  banjir dan tanah longsor itu cukup masif dan merusak puluhan bangunan.

“Sejumlah tanah yang longsor membawa bebatuan dan juga lumpur, ini yang menyapu rumah warga yang berada di bantaran sungai sehingga menyebabkan kerugian yang masif," ujarnya.

Pernyataan Doni dibenarkan Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Markas Besar Kepolisian RI (Mabes Polri), Komisaris Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Pihaknya juga berencana mendalami penyebab terjadinya banjir bandang tersebut.

“Nanti akan kita dalami apa karena masalah adanya hutan yang gundul atau kondisi tanahnya yang labil, dan di situ juga pernah ada tambang-tambang. Nanti semuanya akan kita cek," katanya.

Melihat kondisi di daerah terdampak bencana tersebut, Presiden Jokowi meminta Gubernur Banten Wahidin Halim dan Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya untuk segera menghentikan aktivitas tambang di TNGHS, terutama di wilayah Kabupaten Lebak.

Menurut Jokowi tidak ada toleransi lagi terhadap aktivitas tambang emas liar di TNGHS, karena merugikan masyarakat. Hal itu ia ungkapkan saat berkunjung ke lokasi bencana di Pondok Pesantren La Tansa, Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak, Selasa, 7 Januari 2020.

"Enggak bisa lagi, karena keuntungan satu dua tiga orang, kemudian ribuan lainnya dirugikan dengan adanya banjir bandang ini," kata Jokowi. []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Latifah Zulfa Siswi SMPN 1 Turi Sleman Kandas di Sungai Maut
Latifah Zulfa, siswi SMPN 1 Turi Sleman, cita-citanya kandas di sungai maut, terkubur selamanya bersama tragedi pramuka susur sungai.
Jalan Terjal Jusmadi Melestarikan Budaya di Sinjai
Tangan kanan Jusmadi menggenggam mikrofon. Ia berbicara tentang kebudayaan kepada anak didiknya di Sanggar Malebbi, SMAN 12 Kabupaten Sinjai.
Suara Tembakan Sebelum Korban Pelanggaran HAM Pingsan
Dalam hati Murtala bertanya-tanya, ada kejadian apa di tempat itu. Jantungnya berdegup kencang. Kisah korban pelanggaran HAM di Aceh.
0
Truk Hantam Kedai dan Rusak 8 Kendaraan di Padang
Truk bermuatan sarang walet menghantam kedai martabak mesir hingga menabrak delapan kendaraan di Kota Padang, Sumatera Barat.