UNTUK INDONESIA
Cerita Pilu Anak Yatim Bergizi Buruk di Jeneponto
Bocah berumur satu tahun tujuh bulan itu diam di pangkuan ibunya. Tubuhnya lebih kecil dari bocah-bocah seumurannya. Cerita pilu dari Jeneponto.
Ani bersama dua anaknya, Supriadi dan Mantang di Desa Tanammawang, Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Jumat, 24 Januari 2020. (Foto: Tagar/Ardiansyah)

Jeneponto - Bocah berumur satu tahun tujuh bulan itu diam di pangkuan ibunya. Tubuhnya lebih kecil dari bocah-bocah seumurannya. Beberapa tulang menonjol di sekitar persendian, menunjukkan tipisnya daging di bawah kulit. Anak itu, sebut saja Supriadi, merupakan penderita gizi buruk di Kabupaten Jeneponto, Provinsi Sulawesi Selatan. Gizi buruk yang dideritanya membuat Supriadi tidak bisa beraktivitas seperti anak seusianya. Dia lebih banyak diam dengan tubuhnya yang lemas.

Saat ini Supriadi tinggal bersama ibunya, Ani, dan kakak perempuannya yang bernama Mantang, di Desa Tanammawang, Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto. Ayah kandung Supriadi, Daeng Sane, meninggal dunia saat Supriadi berusia satu tahun tiga bulan. Sementara, Mantang harus putus sekolah sejak kelas empat SD karena ketidakadaan biaya.

Di dalam rumah panggung berdinding anyaman bambu, yang sebagian sudah berlubang di makan usia tersebut, mereka berteduh dari teriknya matahari siang dan dinginnya malam serta tetesan air hujan. Hanya beberapa meter dari rumah beralas papan itu, terdapat sepetak kebun jagung milik tetangga mereka. Sementara di kolong rumah yang beralas papan, tersimpan beberapa barang milik keluarga Ani.

Cuaca cukup terik saat Tagar mengunjungi rumah Supriadi siang itu, Jumat, 24 Januari 2020. Sinar matahari yang menerpa bangunan dan pepohonan menimbulkan bayangan hitam di tanah. Sementara, di dalam rumah, sinarnya masuk melalui celah anyaman bambu.

Selama sembilan bulan Supriadi dikandung badan, saya tidak mengkonsumsi makanan bergizi karena keterbatasan biaya.

Gizi Buruk JenepontoSupriadi dalam pangkuan ibunya di Desa Tanammawang, Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Jumat, 24 Januari 2020. (Foto: Tagar/Ardiansyah)

Ani mengenakan gaun berwarna biru, sedang menggendong Supriadi saat Tagar tiba. Sementara, kakaknya yang bernama Mantang, duduk di hadapan ibunya. Jemari tangan gadis kecil itu memegang jemari kaki Supriadi. Ia mengelusnya sambil menemani Supriadi bermain. Kulit wajahnya gelap seperti terbakar matahari. Mereka duduk tepat di depan pintu masuk rumah.

Ani mengatakan kekurangan gizi yang diderita anaknya dimulai sejak Supriadi masih berada dalam kandungan. Waktu itu, makanan yang dikonsumsi Ani, jauh dari jumlah gizi yang dibutuhkan ibu hamil. Bahkan, tak jarang seharian penuh Ani tidak makan, karena tidak ada makanan untuk dimakan, sementara uang untuk membeli bahan makanan pun tidak ada.

"Selama sembilan bulan Supriadi dikandung badan, saya tidak mengkonsumsi makanan bergizi karena keterbatasan biaya," katanya pada Tagar.

Waktu itu suaminya, Daeng Sane, sedang tidak memiliki pekerjaan tetap, penghasilannya jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan mereka hidup berkekurangan. Keadaan itu tidak menyurutkan tekad mereka untuk tetap mempertahankan kehamilan anak kedua.

Saat Supriadi dilahirkan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lanto Daeng Pasewang, Jeneponto, kondisinya jauh dari sehat. Kata Ani, waktu itu Supriadi sudah mengalami gizi buruk. Tapi ia tidak menjelaskan berat badan Supriadi saat lahir.

Sebagai orang tua dari bayi itu, kala itu Ani dan suami bersyukur atas kelahiran anak kedua, meski kondisinya tidak sempurna, tidak seperti anak-anak lain pada umumnya.

Sane Meninggal, Perekonomian Memburuk

Kemudian hari Daeng Sane, suami Ani, meninggal dan dimakamkan di pemakaman kampung setempat. Sejak itu perekonomian Ani dan keluarga semakin terpuruk. Tidak ada lagi pria sebagai tulang punggung keluarga. Kondisi ini memaksa Ani menggantikan peran Daeng Sane, bekerja membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga.

Gizi Buruk JenepontoRumah Ani bersama dua anaknya, Supriadi dan Mantang di Desa Tanammawang, Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Jumat, 24 Januari 2020. (Foto: Tagar/Ardiansyah)

Ani tidak memiliki banyak keterampilan yang bisa menghasilkan uang. Ia hanya bekerja sebagai buruh tani, membantu tetangga yang membutuhkan bantuan tenaga untuk menanam atau memanen jagung atau padi. Upah yang diterima Ani sebagai buruh tani hanya Rp 50 ribu per hari. Jumlah yang sangat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan harian, mulai dari membeli sembako, hingga membeli susu untuk Supriadi.

Apalagi, tidak setiap hari ia bekerja sebagai buruh tani, tergantung kebutuhan tenaga dari pemilik lahan. "Saya diberi upah dari bercocok tanam sebanyak 50 ribu rupiah, dan uang itu digunakan untuk keperluan dapur," kata Ani dengan mata berkaca-kaca.

Saat Ani pergi bekerja, otomatis dua anaknya tinggal di rumah. Mantang, anak sulungnya, tidak bisa membantunya bekerja, karena ia harus berada di rumah untuk menjaga Supriadi.

Dengan pekerjaan tidak menentu, tak jarang Ani benar-benar kehabisan uang. Yang paling menyedihkan, kata dia, saat susu untuk Supriadi habis, sementara ia tidak memiliki uang untuk membeli susu. "Saat itu, saya sebagai seorang ibu sangat sedih, tidak bisa membelikan susu untuk Supriadi."

Pernah suatu waktu, Supriadi terus menangis karena kelaparan. Sedangkan Ani sama sekali tidak memiliki uang untuk membeli susu. Akhirnya, Ani memberikan air putih yang dimasukkan ke dalam botol pada Supriadi.

Dalam kondisi seperti saat ini, kata Ani, ia dan keluarga memang membutuhkan uluran tangan dari pihak terkait. Namun, bantuan baru datang setelah kondisi keluarganya viral di media sosial. "Selama ini (sebelum viral), saya tidak pernah diberikan atau mendapat bantuan sosial dari pihak terkait."

Gizi Buruk JenepontoRumah Ani bersama dua anaknya, Supriadi dan Mantang di Desa Tanammawang, Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Jumat, 24 Januari 2020. (Foto: Tagar/Ardiansyah)

Satu di antara pejabat di lingkup Pemerintah Kabupaten Jeneponto yang kemudian berkunjung ke rumahnya dan memberikan bantuan adalah Wakil Bupati Jeneponto Paris Yasir.

"Saya diberi uang tunai 200 ribu rupiah," kata Ani. Uang itu ia gunakan untuk membeli susu Supriadi.

Setelah kunjungan Paris Yasir, keesokan harinya Camat Bontoramba bersama pihak Puskemas Bulusibatang juga datang berkunjung. Mereka membawa makanan dan susu untuk Supriadi.

Penjelasan Dokter Puskesmas

Gizi buruk yang diderita Supriadi, kata Ani, sudah diketahui pihak puskesmas. Hal itu dibenarkan dokter Puskemas Bulusibatang, Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto, Ika Novi Astuti.

Pihak puskesmas mengetahui adanya bayi penderita gizi buruk saat Ani memeriksakan kondisi kesehatan Supriadi. Saat itu tubuh Supriadi lemas. Dokter mengatakan bayi itu tidak sakit, hanya kurang gizi. Karena, saat diperiksa tidak ditemukan gejala penyakit, seperti demam atau keluhan lain.

Dokter mengakui kondisi bayi itu cukup memprihatinkan. Salah satu penyebabnya adalah faktor ekonomi yang tidak mendukung. Menyebabkan bayi kurang terawat sehingga kurang gizi. "Mungkin Ibunya pada saat mengandung tidak mengkonsumsi makan bergizi, sehingga berdampak terhadap anaknya yang dikandung," kata dokter saat itu.

Ika mengatakan pihak Puskesmas Bulusibatang tetap melakukan kontrol terhadap kesehatan Supriadi. Paling tidak, pihak puskesmas membantu dengan memberi obat dan tambahan makanan bergizi. "Apalagi kita juga punya program bulanan untuk melakukan pendataan bayi di setiap dusun." []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Latifah Zulfa Siswi SMPN 1 Turi Sleman Kandas di Sungai Maut
Latifah Zulfa, siswi SMPN 1 Turi Sleman, cita-citanya kandas di sungai maut, terkubur selamanya bersama tragedi pramuka susur sungai.
Surat untuk Kepala Sekolah SMPN 1 Turi Sleman
Mana mungkin Kepala Sekolah tidak mengetahui acara di sekolahnya? Surat untuk Kepsek SMPN 1 Turi Sleman usai tragedi pramuka susur sungai.
2 Mitos Kontras Perjodohan di Gua Sunyaragi Cirebon
Bangunan kuno dari bebatuan karang tersusun rapi, berdiri kokoh di sudut Kota Cirebon, Jawa Barat. Ini tentang Gua Sunyaragi dan mitosnya.
0
Achmad Yurianto: Gejala Corona Tak Terdeteksi Alat
Juru bicara penanganan virus corona Achmad Yurianto mengatakan seseorang yang positif Corona belum tentu menunjukkan gejala seperti batuk dan flu.