UNTUK INDONESIA
Jurnalis dan Pegiat Medsos Jember Dilatih Tangkal Hoax
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jember dan Pegiat Media Sosial menggelar pelatihan untuk menangkal hoaks.
Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

Jember - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jember, Internews, dan Google News Initiative menggelar pelatihan pengecekan fakta 'Google News Initiative Training Network' di Jember, Jawa Timur. Hal ini sebagai upaya menangkal  hoaks.

Kegiatan tersebut diikuti oleh pekerja dari berbagai platform media dari wilayah Tapal Kuda . Mereka dilatih untuk bisa mengecek informasi tidak benar, dan sekaligus turut menangkal penyebaran hoaks.

Agenda itu berlangsung selama dua hari penuh di Hotel Meotel Jember, pada Sabtu hingga Minggu, 21-22 September 2019.

"Kami menghadirkan dua narasumber dalam kegiatan tersebut. Anang Zakariya dan Bina Karos, keduanya merupakan trainer dari AJI yang bersertifikat Google," kata Plt Ketua AJI Jember Mahrus Sholih di Jember, Sabtu, 21 September 2019.

Dia mengungkapkan para pelatih itu akan menyampaikan berbagai problem dan tantangan media kekinian, khususnya media daring, yang rentan terkontaminasi oleh informasi hoaks. 

Trainer Mahrus juga menjelaskan mengenai peranti yang bisa digunakan mendeteksi informasi bohong. Sehingga jurnalis bisa menjadi agen yang dapat menangkal hal tersebut.

Bukan hanya publik yang mempercayai dan menyebarluaskan informasi palsu tersebut. Terkadang media pun turut mendistribusikannya.

"Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh fenomena banyak dan cepatnya penyebaran informasi di era digital, terutama melalui media sosial. Muatan informasi itu juga beragam. Mulai dari informasi yang bermanfaat dan dibutuhkan publik, hingga informasi palsu (hoaks), disinformasi, atau kabar bohong," ucapnya.

Kata dia, penyebaran informasi palsu berupa teks, foto hingga video itu memiliki tujuan beragam. Ada yang sekedar untuk lelucon, atau yang mengandung kepentingan politik atau ekonomi. 

Namun, yang merisaukan sekarang ini, hoaks menyebar sangat cepat di sosial media. Bahkan, tak sedikit publik yang mempercayainya.

"Bukan hanya publik yang mempercayai dan menyebarluaskan informasi palsu tersebut. Terkadang media pun turut mendistribusikannya," tuturnya.

Menurut Mahrus, selama ini keterlibatan media dalam menyebarkan informasi hoaks sulit diketahui. Entah karena ketidaktahuan, sekadar ingin menyampaikan 'informasi' secara cepat, atau memang sengaja untuk tujuan-tujuan tertentu.

Dia mengatakan mudahnya penyebaran informasi palsu itu dipicu oleh banyak penyebab, termasuk kurangnya pemahaman dan pengetahuan tentang apa itu informasi palsu dan bagaimana cara menangkalnya.

“Untuk itu, pelatihan ini bertujuan agar para jurnalis menjadi agen penangkal hoaks. Sehingga mereka menjadi bagian dari pekerja media yang terlibat mengedukasi publik,” ujarnya.

Situasi semacam itulah yang kemudian mendorong AJI, dengan dukungan Internews dan Google News Initiative untuk mengadakan training jurnalis.

Selain khusus untuk jurnalis, pengelola media dan aktivis pers mahasiswa, pelatihan ini juga diperuntukkan bagi pengelola media daring berbasis komunitas. Sehari sebelumnya, juga mengadakan seminar setengah hari soal isu yang sama di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi.

Salah satu tujuan praktis dari kegiatan ini adalah agar jurnalis dapat melakukan verifikasi sendiri terhadap informasi yang beredar di dunia digital, khususnya media sosial. Secara nasional, kegiatan ini adalah yang kali ketiga. Pertama digelar pada 2017 lalu.

Pengurus AJI Indonesia ini menyebutkan para junalis juga diajak untuk mengenali kategori informasi yang berpotensi menyesatkan, yakni misinformasi dan disinformasi. 

Namun, jurnalis juga dilatih tentang bagaimana memverifikasi informasi di media daring apakah itu masuk kategori informasi mis atau disinformasi.

"Sejak pelatihan ini digelar, sudah ada tiga ribuan jurnalis yang terlibat. Harapannya, para alumni training tersebut dapat mengangkat tingkat literasi masyarakat Indonesia yang hingga kini masih rendah," tuturnya. []

Baca juga:

Berita terkait
BMKG: Broadcast WhatsApp Cara Bikin Hujan Buatan, Hoaks
BMKG memastikan informasi mengenai cara membikin hujan buatan yang menyebar melalui oesan singkat WhatsApp, merupakan informasi palsu alias hoaks.
Tujuh Kali Hoaks BJ Habibie Meninggal
Setidaknya, sudah tujuh kali hoaks mengenai kabar Habibie meninggal, kabar yang meresahkan masyarakat.
20 Negara Penyebar Hoaks Papua
Sebanyak 20 negara penyebar hoaks tentang Papua diungkap Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara.
0
Universitas Cenderawasih Usul Opsi Judicial Review
Universitas Cenderawasih polemik Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU KPK).