UNTUK INDONESIA
Berita Hoaks, Keresahan Baru di Era Informasi Masif
Sebelum mempercayai informasi yang beredar, baik di media sosial maupun media, seharusnya lakukan pengecekan fakta.
Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan Liston Damanik dan Direktur Operasional PT Bank Sumut Rahmat Fadilah Pohan saat acara pembukaan Training Jurnalis Cek Fakta bersama Bank Sumut, di Kantor Pusat Bank Sumut, Jalan Imam Bonjol, Medan, Jumat 20 September 2019. (Foto: Tagar/Tonggo Simangunsong)

Medan - Penyebaran berita bohong, palsu atau yang lebih populer disebut berita hoaks menjadi menjadi sebuah keresahan di era arus informasi yang begitu masif, khususnya berbasis internet saat ini.

Karena itu, sebelum mempercayai informasi yang beredar, baik di media sosial maupun media, seharusnya lakukan pengecekan fakta.

Demikian salah satu kesimpulan yang mengemuka saat digelarnya Training Cek Fakta yang diikuti dua puluhan jurnalis dari berbagai media massa di Sumatera Utara, yang diselenggarakan AJI Medan dan Bank Sumut di Debang Resort pada 20-22 September 2019.

Hadir sebagai pembicara Google News Initiative Training Network Project Coordinator di Internews Network Arfi Bambani Amri yang juga mantan Sekjen AJI Indonesia dan Pls Pemimpin Unit Layanan Pengaduan Nasabah dan Pusat Informasi Bank Sumut, Erwinsyah yang sebelumnya berprofesi sebagai jurnalis.

Ketua AJI Medan Liston Damanik menjelaskan alasannya menggagas acara ini. Menurutnya, pada era digital, informasi hoaks kerap bermunculan di media sosial, sehingga jurnalis harus dibekali dengan pengetahuan cek fakta.

Jangan mengkritisi dengan rasa-rasa tapi kritisi dengan data-data

"Orang terpelajar yang memiliki posisi penting saja bisa menjadi korban hoaks. Ini kompetensi penting bagi wartawan. Saya berharap teman-teman di sini punya semangat untuk belajar," ucapnya.

Sebagai pemateri pertama, Erwinsyah, memaparkan contoh pemberitaan yang mengandung hoaks, yaitu warga negara Swedia, Michael Olsson terkait transfer uang ke rekeningnya, melalui Bank Mandiri senilai Rp 800 triliun.

Menurut Erwing, Bank Sumut sudah beberapa kali diterpa isu hoaks. Di antaranya berita berjudul "Tunggakan Pajak Rp 1,7 miliar".

"Ini data lama yang digunakan wartawan. Ini tidak benar. Selain hoaks ada juga framing (pembingkaian) negatif. Opini wartawan kerap dicaplok di isi berita dan sangat minim konfirmasi," kata Erwinsyah.

"Tantangan untuk Humas Bank Sumut agar bisa menekan laju hoaks. Wartawan coba melakukan verifikasi data sebelum dipublikasikan," sambungnya lagi.

Erwin lantas mengutip ucapan Eep Saefullah. "Jangan mengkritisi dengan rasa-rasa tapi kritisi dengan data-data. Karena kontrol sosial itu berbasis akal budi bukan emosi," pungkasnya.

Sebelumnnya, peserta pelatihan dilepas dari Kantor Pusat Bank Sumut, di Jalan Imam Bonjol, Medan. Hadir pada kesempatan itu Direktur Operasional PT Bank Sumut Rahmat Fadilah Pohan. []

Baca juga: 

Berita terkait
BMKG: Broadcast WhatsApp Cara Bikin Hujan Buatan, Hoaks
BMKG memastikan informasi mengenai cara membikin hujan buatan yang menyebar melalui oesan singkat WhatsApp, merupakan informasi palsu alias hoaks.
Tujuh Kali Hoaks BJ Habibie Meninggal
Setidaknya, sudah tujuh kali hoaks mengenai kabar Habibie meninggal, kabar yang meresahkan masyarakat.
20 Negara Penyebar Hoaks Papua
Sebanyak 20 negara penyebar hoaks tentang Papua diungkap Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara.
0
Rusuh di Penajam Pasir Utara Berawal dari Penganiayaan
Kerusuhan yang terjadi karena dipicu kejadian penikaman pada Rabu, 9 Oktober 2019 lalu. Namun kemudian dikaitkan dengan konflik suku.