Cara BNPT Perangi Hoaks dan Konten Radikal di Medsos
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius punya cara jitu memerangi penyebaran hoaks dan konten radikal.
Ilustrasi

Jakarta - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius punya cara jitu memerangi penyebaran hoaks dan konten radikal di media sosial. Cara paling mudah dengan tidak menyebarkannya ke orang lain.

Menurut Suhardi, informasi yang diterima di media sosial harus disaring terlebih dahulu sebelum dibagikan ke orang lain. Bila kebenaran suatu info dipertanyakan, sebaiknya diindahkan saja. 

"Sikap seperti ini tentunya dapat mengurangi tersebar luasnya berita bohong dan konten propaganda radikal terorisme," kata Suhardi saat memberikan kuliah umum di dua universitas di Padang, Kamis, 22 Agustus 2019, seperti diberitakan Antara.

Suhardi mengungkapkan kelompok radikal selalu memanfaatkan dunia maya untuk mempengaruhi masyarakat, terutama generasi muda. Dimana tujuannya hanya untuk meraih simpati dan menanamkan doktrin kepada mereka (anak muda).

"Penyebaran propaganda kelompok teroris itu mempengaruhi generasi muda, supaya ikut ke dalam kelompok tersebut untuk melakukan teror merupakan hal yang sangat buruk," ucapnya.

Dalam kesempatan itu Kepala BNPT juga menyinggung penyebaran paham radikal teroris di lingkungan perguruan tinggi yang dinilainya sudah sangat memprihatinkan. Sehingga dia berpesan agar mahasiswa tidak takut untuk melaporkan kepada rektor atau ke BNPT, jika ada indikasi organisasi atau pengajar yang tidak moderat di dalam lingkungan kampus.

"Karena tidak ada satu orang pun yang kebal terhadap infiltrasi paham radikalisme. Semua bisa terjadi pada siapa pun dan di mana pun," ujarnya.[] 

Berita terkait
PBNU: Radikalisme dan Intoleransi Bencana Besar NKRI
PBNU menyampaikan bahwa radikalisme dan intoleransi menjadi bencana besar bagi bangsa Indonesia dan mengancam keutuhan bangsa dan negara.
74 Tahun Indonesia Merdeka, Awas Ancaman Radikalisme
Fraksi PKB Jawa barat menilai bahaya radikalisme yang ingin menganti ideologi Pancasila, menjadi tantangan besar di usia 74 tahun Indonesia.
Setelah PTN, Radikalisme Juga Ancam BUMN
Komisaris Utama Adhi Karya Fadjroel Rachman mengaku saat ini hampir seluruh lapisan masyarakat termasuk BUMN telah terpapar radikalisme.
0
Mengenal Sukanto Tanoto, Tuan Tanah di Ibu Kota Baru
Sukanto Tanoto disebut tuan tanah di wilayah yang akan dijadikan sebagai ibu kota baru di Kalimantan Timur.