UNTUK INDONESIA
Ie Bu Peudah, Tradisi Merawat Kuliner Leluhur Aceh
Tradisi memasak ie bu peudah sudah ada sejak masa kesultanan Aceh atau tepatnya pada abat ke-15 masehi.
Warga memasak kuliner ie bu peudah di Desa Bueng Sidom, Kecamatan Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Kamis, 30 April 2020 petang. (Foto: Tagar/Muhammad Fadhil)

Banda Aceh - Azan Asar baru saja berkumandang di Masjid Tua Bueng Sidom, Kecamatan Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, Aceh pada Kamis, 30 April 2020 petang. Beberapa warga bergegas mengambil wudu lalu melaksanakan salat secara berjemaah.

Sekitar 15 menit berselang, para jemaah keluar dari masjid. Beberapa di antara mereka memilih langsung meninggalkan masjid. Sementara sebagian lagi masih bertahan.

Di sana, mereka menuju ke sebuah bangunan tanpa dinding yang berada sekitar 20 meter dari kaki pintu depan masjid itu. Dari jarak 10 meter, kepulan asap tampak meluap di atas kuali berdiameter 1,5 meter.

Di depan kuali, tampak seorang laki-laki tua sedang menggerak-gerakkan tangannya, mengaduk masakan menggunakan centong pengaduk. Kepulan asap di dalam kuali membumbung hingga setengah meter.

Sebelah kanan kuali, puluhan timba ukuran kecil tampak berderetan. Bentuk dan warnanya beragam macam. Namun, warna biru tua mendominasi.

Sekitar 1 meter ke belakang, beberapa warga berdiri tak beraturan, ada yang duduk, ada pula yang berdiri. Mereka sedang menunggu masakan matang untuk dibawa pulang.

Tradisi ie bu peudah ini sudah dimulai sejak masa Kerajaan Aceh Darussalam, jadi sudah sangat lama dan masih bertahan sampai sekarang.

Ie Bu Peudah AcehWarga Gampong Bung Sidom, Kecamatan Blang Bintang, Aceh Besar sedang memasak Ie Bu Peudah untuk dibagikan kepada warga, Aceh Besar, Kamis, 30 April 2020. (Foto: Tagar/Ahmad Mufti)

Itulah gambaran sekilas suasana proses memasak ie bu peudah di Masjid Tua Bueng Sidom, Kecamatan Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Ie bu peudah adalah bahasa Aceh yang artinya bubur nasi pedas.

Saban hari, warga Desa Bueng Sidom memasak ie bu peudah dan membagikan kepada seluruh warga sebagai takjil berbuka puasa. Ie bu peudah adalah salah satu kuliner khas Kabupaten Aceh Besar. Kuliner ini hanya ada saat memasuki bulan Ramadan.

Erwandi, warga Desa Bueng Sidom mengatakan, memasak ie bu peudah pada bulan Ramadan sudah menjadi tradisi di desa tersebut. Kebiasaan ini sudah ada sejak masa nenek moyang dan dilakukan secara turun temurun.

Meski Aceh dan Indonesia secara umum sedang dilanda pandemi virus corona atau Covid-19, tradisi memasak ie bu peudah tetap dilaksanakan. Ini adalah bagian dari warga dalam merawat tradisi.

“Ie bu peudah ini memang kita buat tiap bulan Ramadan, dengan bahannya beras, beras ini memang ada sawah untuk ie bu peudah, sudah diwakafkan dari dulu untuk memasak kuliner ini,” kata Erwandi saat ditemui Tagar pada Kamis, 30 April 2020 sore.

Kuliner ie bu peudah, kata Erwandi, diracik menggunakan berbagai bahan rempah-rempah seperti kunyit, lada hitam, lada putih, oen sitahe (daun tahe) dan lain sebagainya. Oen sitahe adalah tanaman khas Kabupaten Aceh Besar. Tanaman ini dapat ditemukan di pegunungan Aceh Besar.

“Yang khasnya adalah oen sitahe, ada memang kita tanam khusus. Selama ini kita pesan di gunung Blang Bintang,” tutur Erwandi.

Saat akan memasuki bulan Ramadan, soal pembuatan ie bu peudah ada musyawarah desa terlebih dahulu, di sana ditunjuk siapa yang memasak.

Ie Bu Peudah AcehWarga Gampong Bung Sidom, Kecamatan Blang Bintang, Aceh Besar menggunakan kayu sebagai bahan bakar untuk memasak Ie Bu Peudah yang akan dibagikan kepada warga, Aceh Besar, Kamis, 30 April 2020. (Foto: Tagar/Ahmad Mufti)

Ia mengatakan, sebelum dicampur dengan bahan rempah-rempah lainnya, oen sitahe terlebih dahulu ditembuk oleh perempuan desa secara bersama-sama. Proses menumbuk ini memakan waktu satu hari.

“Itu bahan semua, kita tembuk, tembuk bergotong royong, orang kampung seperti ibu-ibu numbuk sehari, karena memang sudah dikeringkan, lalu disatukan semuanya dan disimpan,” ujar Erwandi.

Di tengah pandemi virus corona, kata dia, proses memasak ie bu peudah di Desa Bueng Sidom diserahkan kepada remaja dan anak muda. Hal ini untuk mengisi aktivitas mereka pasca liburnya sekolah dan perkuliahan.

Masih sama seperti tahun-tahun lalu, saat akan memasuki bulan Ramadan. Seluruh warga di Desa Bueng Sidom berkumpul di masjid. Mereka membahas tentang pelaksaan tradisi memasak ie bu peudah tersebut.

“Saat akan memasuki bulan Ramadan, soal pembuatan ie bu peudah ada musyawarah desa terlebih dahulu, di sana ditunjuk siapa yang memasak. Tahun ini kita percaya kepada anak-muda yang memang dalam keadaan begini, orang ini tidak ada sekolah dan bisa mendapatkan sedikit biaya untuk lebaran,” kata dia.

Ie Bu Peudah AcehWarga membagikan kuliner ie bu peudah ke dalam wadah di Desa Bueng Sidom, Kecamatan Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Kamis, 30 April 2020 petang. (Foto: Tagar/Muhammad Fadhil)

Erwandi menuturkan, proses memasak ie bu peudah dimulai usai salat Zuhur hingga menjelang salat Asar atau sekitar pukul 16.00 WIB. Pada pukul 16.20 WIB, warga biasanya sudah mulai datang untuk mengambil kuliner tersebut.

“Ini kita bagikan gratis kepada masyarakat, mereka membawa wadah lalu membawa pulang ie bu peudah,” ujar Erwandi.

Kalau Blang Bintang rata-rata memasak ie bu peudah masih aktif dilakukan, tetapi seperti Kecamatan Kuta Baro ada desa yang sudah tidak melakukan lagi.

Mulai Menghilang

Seiring berjalannya waktu, tradisi memasak ie bu peudah seakan mulai hilang di Kabupaten Aceh Besar. Dulu, dua kecamatan di Aceh Besar yakni Kecamatan Blang Bintang dan Kuta Baro selalu aktif melaksanakan tradisi tersebut.

Namun, beberapa tahun terakhir, beberapa desa tampak sudah mulai meninggalkan kebiasaan tersebut. Erwandi tak tahu pasti mengapa hal ini terjadi.

“Kalau Blang Bintang rata-rata memasak ie bu peudah masih aktif dilakukan, tetapi seperti Kecamatan Kuta Baro ada desa yang sudah tidak melakukan lagi,” tutur Erwandi.

Puluhan tahun lalu, kata Erwandi, momen memasak ie bu peudah dimanfaatkan oleh orang tua untuk melalaikan anaknya di lokasi proses pemasakan. Hal ini dilakukan agar sang anak tak mengganggu ibunya yang sedang memasak bekal penganan berbuka puasa.

“Saat memasak ie bu peudah, anak-anak semua berkumpul di meunasah atau masjid, sehingga ibunya di rumah bisa mengerjakan berbagai persiapan berbuka puasa dengan maksimal,” ujar Erwandi.

Ie Bu Peudah AcehAnak-anak menunggu jatah pembagian kuliner ie bu peudah di Desa Bueng Sidom, Kecamatan Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Kamis, 30 April 2020 petang. (Foto: Tagar/Muhammad Fadhil)

Ia menuturkan, setelah ie bu peudah siap disajikan, sang anak akan membawa pulang ke rumah masing-masing. Saat itu pula, waktu berbuka puasa hampir tiba dan sang ibu sudah selesai melakukan pekerjaannya.

“Dulu anak-anak juga banyak yang belum berpuasa, mereka memanfaatkan momen ini untuk santap ie bu peudah di lokasi proses pemasakan,” kata dia.

Peninggalan Masa Kesultanan Aceh

Bukan hanya di Kecamatan Blang Bintang, tradisi memasak ie bu peudah di bulan Ramadan juga dilakukan di Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar. Hal ini juga sudah berlangsung dari zaman dulu.

Salah satu desa di Kecamatan Kuta Baro yang masih aktif memasak ie bu peudah adalah Gampong Beuk Bak Jok. Kepala Desa Beung Bak Jok, Hafidh Maksum menuturkan, tradisi memasak ie bu peudah sudah ada sejak masa kesultanan Aceh atau tepatnya pada abat ke-15 masehi.

“Dari beberapa sumber yang kita ketahui, tradisi ie bu peudah ini sudah dimulai sejak masa Kerajaan Aceh Darussalam, jadi sudah sangat lama dan masih bertahan sampai sekarang,” ujar Hafidh kepada wartawan, belum lama ini.

Ia bu peudah itu, kata Hafidh, memang dikenal dengan sistem gotong royong, di mana masyarakat secara bersama-sama memasak kuliner tersebut, lalu dibagikan secara gratis kepada seluruh penduduk desa.

Ie Bu Peudah AcehSalah seorang warga baru saja mengambil Ie Bu Peudah yang selesai dimasak, Aceh Besar, Kamis, 30 April 2020. (Foto: Tagar/Ahmad Mufti)

“Beras yang digunakan ie bu peudah ini adalah hasil dari panen sawah wakaf yang ada di desa setempat. Misalnya si A mewakafkan tanah fulan untuk memasak ie bu peudah saat bulan Ramadan,” ujar dia.

Kata Hafidh, kuliner tersebut sengaja dibagikan setelah salat Asar supaya tidak terlalu lama didiamkan saat menunggu waktu berbuka. Dengan pola yang diterapkan sekarang ini, masyarakat bisa menyantap ie bu peudah dengan kondisi masih hangat saat waktu berbuka tiba.

Selain sebagai menu berbuka, kata Hafidh, ie bu peudah juga memiliki khasiat untuk berbagai macam penyakit, seperti obat jantung dan memperkuat daya tahan tubuh selama puasa.

“Salah satu manfaatnya adalah dengan mengonsumsi ie bu peudah ini orang bisa tahan lama dan di siang harinya tidak terasa lelah dan capek meski sedang berpuasa,” demikian Hafidh. []

Baca cerita menarik lainnya: 

Berita terkait
Siapa Cut Meutia, Namanya Jadi RS Covid-19 di Aceh
Rumah Sakit Umum Cut Meutia di Aceh Utara, satu di antara rumah sakit rujukan pasien Covid-19. Siapa Cut Meutia yang menjadi nama RS tersebut?
Kisah Cut Nyak Dhien di Masa Tua, Berakhir Sepi di Negeri Seberang
Kisah Cut Nyak Dhien, wanita perkasa, pahlawan yang sebenarnya dari suatu realita zamannya. Berakhir sepi di negeri seberang.
Pasien Positif Corona di Aceh Bertambah, Total 10
Seorang pasien dalam pengawasan di Aceh kembali dinyatakan positif terpapar virus corona (Covid-19).
0
Ie Bu Peudah, Tradisi Merawat Kuliner Leluhur Aceh
Tradisi memasak ie bu peudah sudah ada sejak masa kesultanan Aceh atau tepatnya pada abat ke-15 masehi.