UNTUK INDONESIA
Firli Bahuri, Jejak Masa Lalu Hingga ke Kursi Ketua KPK
Inspektur Jenderal Polisi Firli Bahuri terpilih sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 2019-2023. Ini jejak masa lalunya.
Firli Bahuri, Ketua KPK 2019-2023. (Foto: indopolitika.com)

Jakarta - Inspektur Jenderal Polisi Firli Bahuri terpilih sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 2019-2023. Pria yang masih menjabat sebagai Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumatera Selatan ini akan dilantik Presiden Jokowi pada 21 Desember 2019.

Firli akan menjadi pemimpin baru KPK bersama 4 orang wakilnya, yaitu Alexander Marwata, Nawawi Pamolango, Nurul Ghufron, dan Lili Pintauli Siregar. 

Berikut ini Tagar paparkan profil Firli Bahuri.

Latar Belakang dan Pendidikan

Firli Bahuri lahir di Lontar, Muara Jaya, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan pada 8 November 1963. Ia memulai pendidikan kepolisian di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) pada 1990. Usai menamatkan sekolah kedinasan di AKABRI, ia melanjutkan pendidikannya di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) dan selesai pada 1997. 

Firli kemudian beberapa kali melanjutkan pendidikan kedinasan di kepolisian. Ia mengikuti pelatihan di Sekolah Staf dan Pimpinan (SESPIM) Polri pada 2004. Terakhir, Firli mengikuti Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) pada 2017.

Firli BahuriFirli Bahuri dan istri, Ardina Safitri. (Foto: Facebook/Ardina Safitri)

Karier Kepolisian

Firli mengawali karier di kepolisian dengan menjadi Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Persiapan Lampung Timur pada 2001. Ia juga sempat menduduki jabatan Wakapolres Lampung Tengah sebelum akhirnya menjabat sebagai Kepala Satuan III/Umum Direktorat Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Metro Jaya pada 2005.

Setahun di Polda Metro Jaya, Firli kemudian diangkat menjadi Kepala Kepolisian Resor Kebumen pada 2007 dan Kepala Kepolisian Resor Brebes pada 2008. Ia kembali ke Jakarta pada 2009 sebagai Wakil Kepala Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat.

Karier Firli semakin menanjak saat dipercaya sebagai Asisten Sekretaris Pribadi Presiden pada tahun 2010. Kemudian Firli melanjutkan karier kepolisian sebagai Kepala Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jawa Timur pada 2011. Ia kemudian diangkat sebagai Ajudan Wakil Presiden Boediono pada 2012 hingga 2014.

Selepas menjadi Ajudan Wakil Presiden, Firli kemudian diposisikan sebagai Wakil Kepala Kepolisian Daerah Banten pada 2014. Dua tahun kemudian ia ditugaskan sebagai Karodalops Sops Polri pada 2016. Tidak lama di Mabes Polri, Firli ditugaskan sebagai Wakil Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah pada 2016, Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat pada 2017, dan sempat bertugas di KPK sebagai Deputi Penindakan. Tidak sampai setahun di KPK, Jenderal Polisi Bintang 2 ini dipercaya menduduki posisi Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Selatan pada 25 Juni 2019 hingga ia kemudian terpilih sebagai Ketua KPK pada Jumat, 13 September 2019.

Kasus Besar yang Pernah Ditangani

Sepak terjang Firli di dunia kepolisian sarat dengan prestasi. Pada 2010 ia menjadi seorang di antara anggota tim independen dari kepolisian dalam upaya membongkar kasus mafia pajak yang menyeret nama mantan pegawai Direktorat Jenderal Pajak, Gayus Halomoan Tambunan. 

Saat menjabat sebagai Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat, Firli mengusut kasus dugaan korupsi dalam perekrutan calon pegawai negeri sipil di Kabupaten Dompu yang menyeret Bupati Dompu saat itu, H. Bambang Yasin.

Firli BahuriFirli Bahuri. (Foto: Antara/Nova Wahyudi)

Kontroversi

Sepak terjang Firli tidak terlepas dari kontroversi. Ia sempat menjadi buah bibir kala diangkat sebagai Deputi Penindakan KPK. Pengangkatan tersebut menimbulkan tanda tanya karena Firli sebelumnya sempat menjadi Ajudan Mantan Wapres Boediono yang saat itu sedang diperiksa dalam kasus Bank Century.

Aktivitas Firli di 'Gedung Merah Putih' kembali menuai sorotan ketika diketahui bermain tenis dengan mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat, Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang atau TGB). Saat itu TGB sedang menjadi terperiksa atas kasus dugaan gratifikasi. 

Firli juga menuai kontroversi saat menjumpai pejabat Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Baharullah Akbar di Gedung KPK. Padahal, saat itu Baharullah mendatangi KPK dalam kapasitas sebagai terperiksa dalam kasus suap dana perimbangan dengan tersangka Yaya Purnomo.

Hal tersebut kemudian dianggap melanggar kode etik KPK. Pelanggaran kode etik itu dikemukakan pimpinan KPK, Saut Situmorang pada Januari 2019.

Menjawab Kontroversi

Firli telah menjawab kontroversi yang dialamatkan pada dirinya. Ia terakhir kali memberikan klarifikasi saat menjalani uji kepatutan dan kelayakan oleh Komisi III DPR RI di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, 

Firli mengaku pertemuannya dengan TGB saat bermain tenis merupakan suatu ketidaksengajaan. Menurutnya pada saat itu, tidak ada TGB di tempat ia bermain golf. Ia kemudian bertemu TGB saat hendak pulang dari tempat olahraga golf tersebut.

Firli juga mengatakan dirinya menjemput pejabat BPK, Baharullah Akbar dari lobi Gedung KPK bukan suatu bentuk pelanggaran kode etik. Menurutnya, penjemputan yang ia lakukan karena dirinya menganggap BPK merupakan mitra kerja lembaga antirasuah tersebut. []

Berita terkait
Firli Bahuri Diminta Segera Realisasi Janjinya
Gubernur Kalimantan Utara Irianto Lambrie meminta Ketua KPK Firli Bahuri merealisasikan janji membentuk perwakilan KPK ke daerah.
Firli Bahuri Sebelum Dilantik Jadi Ketua KPK
Irjen Firli Bahuri saat ini masih menjabat Kapolda Sumatera Selatan. Dia akan dimutasi sebelum Desember 2019 sebelum pelantikan komisioner KPK.
Catatan Hitam Ketua KPK Terpilih Irjen Firli Bahuri
Irjen Firli Bahuri terpilih sebagai Ketua KPK periode 2019-2023. Berikut sederet catatan hitamnya di masa lalu.
0
Akhyar Nasution Persilakan KPK Geledah Kantor Wali Kota
Terkait OTT KPK Wali Kota Medan Dzulmi Eldin, Akhyar mengaku sampai saat ini belum bisa berkomunikasi dengan wali kota.