UNTUK INDONESIA
Dewi Fortuna Berawal dari Sambal Sunti Aceh
Sambal asam sunti sudah ada sejak leluhur dan biasanya digunakan hampir di semua masakan khas tradisional Aceh.
Jembatan cincin peninggalan Belanda berada di daerah Cisaladah, Cikuda, Jatinangor Kabupaten Sumedang. (Foto: Tagar/Erian Sandri).

Aceh Barat Daya - Berbagai jenis bahan dapur memenuhi sebuah meja bundar di bawah pohon cemara Pantai Bali, Desa Padang, Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh, Senin 4 November 2019.

Di meja bernomor 49, dua orang gadis manis berdiri tegak. Matanya menerawang ke atas meja. Sesekali, melihat ke kiri dan kanan. Tangannya terus bergerak mengatur bahan masakan dibawa untuk mengolah sambal sunti khas Aceh Barat Daya. Kedua gadis itu bernama Melda Sartika dan Irma. Mereka berasal dari Kecamatan Kuala Batee, kabupaten Aceh Barat Daya.

Tampak puluhan meja di sekelilingnya yang juga sudah diisisi dengan berbagai bahan untuk memasak sambai (sambal) dalam Festival Sambai Sunti Aceh. Kegiatan itu digelar khusus untuk warga Aceh Barat Daya.

Berpakaian sopan semua peserta pagi itu tampak ceria dengan pakaian ala koki profesional. Mereka terlihat sibuk menata lokasi bahan masakan yang dibawa untuk mengolah sambal sunti khas Aceh Barat Daya seraya menunggu lomba dimulai.

Dapat dipastikan tidak ada peserta yang luput dari bahan utama bernama Boh Sunti (buah sunti). Boh Sunti atau asam sunti adalah bumbu dapur dari Aceh. Bahan ini dibuat dari belimbing wuluh yang telah diolah dengan diberi garam, lalu dijemur di terik matahari hingga kering.

Mengenakan baju merah, rompi koki hitam dan menutup kepala dengan topi merah ala koki. Keduanya terlihat sangat sibuk dan serius mengolah seluruh bahan untuk dijadikan sambal.

Berkat kerja sama yang baik, serta menguasai resep warisan orang tua. Sambal sunti keumamah dan asam sunti lado teri ciptaan mereka diberi nilai tinggi oleh dewan juri dan keluar sebagai juara satu.

Panitia festival mengambil juara satu hingga empat, begitu juga dengan juara harapan, disediakan bonus sampai harapan empat. Rinciannya, Rp 5 juta untuk juara satu beserta tropi dan sertifikat, Rp3,5 juta juara dua, Rp2,5 juta juara tiga dan Rp1,5 untuk juara empat. Juara harapan satu sampai empat masing-masing menerima bonus sebesar Rp500 ribu, tanpa tropi dan sertifikat.

Sambal Asam SuntiSambal asam sunti yang telah dimasak seperti Sambal Sunti Teri dan Sambal Sunti Keumamah. (Foto: Tagar/Syamsurizal)

Saat Tagar menemuinya usai menerima bonus dan tropi juara satu, wajah Melda Sartika seakan tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan. Dia mengaku tidak percaya bisa menjuarai festival yang begitu menantang itu.

“Pertama alhamdulillah atas juara ini. Sungguh tidak menyangka. Terimakasih mama dan semua orang yang telah memberi semangat,” kata Melda, yang terus tertawa bahagia.

Lewat festival itu, Melda mengaku sadar bahwa membuat sambal tidak bisa dipandang enteng. Butuh ketelitian dalam memilih bahan. Belajar dari orang tua dulu ternyata harus dilakukan, untuk menciptakan rasa sambal yang khas dan enak dilidah.

“Belajar masak sama bunda. Yang saya tampilkan ini adalah resep keluarga. Usaha dan doa mengiringi jalan kami membuat sambal ini,” tutur Melda, yang tidak ingin jauh-jauh dari tropi juara satu miliknya.

Melda berharap lewat event ini dapat mengembang bisnis sambal khas kabupaten setempat. 

Kemudian, Melda yang peramah ini, tidak sungkan berbagi tips dan trik cara membuat sambal sunti lezat. Dia berkata membuat sambal tentu gampang, bedanya hanya di rasa dan tekstur penyajian saja. Untuk membuat sambal sunti, bahan yang diperlukan terbilang mudah didapat.

Sekitar tahun 60-an saat umur saya remaja, almarhum ibu sudah mengajari memasak sambal asam sunti ini.

Bahan pertama tentu sediakan sunti secukupnya. lalu bawang merah, cabai merah secukupnya, cabai rawit secukupnya dan bahan tambahan, seperti udang sabu, teri dan bahan tambahan lainnya sesuai sambal yang ingin diracik.

Kemudian, cuci semua bahan dengan air bersih. Diulek hingga halus. Setelah itu masak dengan minyak makan. Masukkan bahan tambahan seraya mengaduk agar menyatu. Maka jadilah sambal sunti. 

Lomba Masak AbdyaMelda dan Irma berrswafoto usai menerima juara pada lomba masak di Pantai Bali, Desa Padang, Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). (Foto: Tagar/Syamsurizal)

Sambal Sunti memang mempunyai rasa yang unik dan mengunggah selera. Bahan dapur satu ini dapat di campur dengan berbagai jenis ikan dan udang untuk menciptakan berbagai sambal lezat.

Sambal yang sudah ada sejak leluhur ini biasanya hampir digunakan semua masakan khas tradisional Aceh. Bahkan sebagian orang Aceh, tidaklah lengkap jika masakannya tidak disuguhi dengan asam sunti.

Saya nanti akan menjadi investornya. Saya ingin mematenkan sambal sunti khas daerah kita.

Ditemui Tagar secara terpisah seorang ibu rumah tangga bernama Khairani warga Kecamatan Blangpidie mengatakan sambal tersebut merupakan warisan dari orang tua Aceh jaman dulu sebab sejak dia lahir sambal asam sunti sudah ada, namun dirinya tidak tahu pasti tahun berapa pertama sekali ada sambal asam khas tanah rencong itu.

“Sekitar tahun 60an saat umur saya remaja, almarhum ibu sudah mengajari memasak sambal asam sunti ini. Tidak ada yang tau asal-usulnya. Yang pasti ini masakan kita Aceh,” ucapnya.

Menurut Khairani, dari beberapa orang tua jaman dulu di daerahnya. Bercocok tanam di gunung merupakan pekerjaan mayoritas masyarakat setempat. Berminggu-minggu bertahan di gunung, makanan yang dibawa adalah bahan yang tahan lama, seperti sunti, udang kering dan teri.

“Bisa saja asalnya karena bahan untuk membuat sambal ini tahan lama. Dulu masyarakat kita disini kerjanya berkebun di gunung. Satu minggu sekali baru pulang,” katanya.

Bangun Bisnis Sambal Sunti 

Mengenakan baju abu-abu bercorak merah, seorang pria berusia sekitar 56 tahun tampak mesra mengandeng perempuan jilbab merah dengan baju sama pagi itu. Keduanya adalah Akmal Ibrahim bersama sang istri Ida Agustina, selaku yang punya acara.

Akmal Ibrahim sengaja tidak ingin melibatkan pemerintah dalam kegiatan festival ini walau dirinya menjabat sebagai bupati kabupaten setempat. Ia dan istri sengaja mengelar kegiatan itu tanpa embel-embel pemerintah. Akmal ingin menemukan peracik sambal khas Aceh Barat Daya untuk berbisnis memproduksi sambal khas daerah.

Bupati AbdyaBupati Aceh Barat Daya, Akmal Ibrahim. (Foto: Tagar/Syamsurizal)

“Ini acara saya dan istri, tidak ada embel-embel pemerintah,” kata Akmal.

Akmal mengatakan, orang Aceh mustahil tidak tahu sambal. Di Aceh Barat Daya punya sambal khas tersendiri, Tapi jika ingin membawa keluar daerah ketika mengunjungi anak yang kuliah, mesti dimasak terlebih dahulu. Maka dia berniat untuk membangun sebuah bisnis sambal sunti khas Aceh Barat Daya yang lahir lewat festival ini.

“Saya nanti akan menjadi investornya. Saya ingin mematenkan sambal sunti khas daerah kita,” ucap Akmal dengan wajah serius.

Menurut Akmal, sambal sunti yang nantinya akan diproduksi, harus melewati beberapa prosedur, seperti tes kadar lemak kadar garam dan beberapa uji coba lainnya sehingga lahir sambal dengan rasa khas, tahan lama serta layak untuk diproduksi dan dipromosikan ke seluruh nusantara.

“Tentu nanti sambal yang akan diproduksi mesti melewati beberapa tahap, termasuk melihat kadar kolesterol,” tutur Akmal. []

Baca cerita lain: 

Berita terkait
Benteng Inong Balee Jejak Perjuangan Wanita Aceh
Iring-iringan sepeda motor membelah perbukitan Lamreh, melintasi jalan penuh batu di antara hutan belantara menuju Benteng Inong Balee di Aceh.
CPNS 2019, Banda Aceh Sediakan 195 Formasi
Pemerintah Kota Banda Aceh membuka 195 formasi bagi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2019.
Ketika Kabut Asap Memburamkan Langit Aceh
Perjalanan kisah pria paruh baya bersama cucunya serta ibu dan anak berjuang melawan kabut asap di Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh.
0
Menteri PPPA Minta Emak-emak Melek Teknologi
Menteri PPPA I Gusti Ayu Bintang Darmawati mengapresiasi program Pemkot Surabaya yang memberdayakan perempuan menjadi pengusaha.