UNTUK INDONESIA
Cara Kreatif TNI Purbalingga Bikin Warga Kaya
Pelda Margiyono, Babinsa Purbalingga, Jawa Tengah, punya pembuatan stik es krim. Usaha itu mampu menambah penghasilan 300 KK.
Pelda Margiono, Babinsa Purbalingga menunjukkan hasil produksi stik es krim.(Foto: Tagar/Abdul Wahid)

Purbalingga - Seorang anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah punya cara kreatif memanfaatkan limbah kayu tripleks. Lewat pembuatan stik atau gagang pegangan es krim, ia mampu memberi harapan bagi ratusan warga untuk kumpulkan pundi kekayaan. 

Adalah Margiyono, seorang tentara aktif dengan pangkat pembantu letnan dua atau disingkat Pelda. Ia bertugas di lingkungan Komando Rayon Militer (Koramil) Kemangkon, di bawah kendali Komando Distrik Militer (Kodim) 0702 Purbalingga. Tugas utamanya sebagai bintara pembina desa (Babinsa) di Desa Toyareka, salah satu desa di Kecamatan Kemangkon.

Rabu, 6 November 2019, sekira pukul 11.00 WIB, Tagar berkesempatan diajak Margiyono melihat aktivitas usaha binaannya di Desa Pegandekan, Kemangkon. Tentu setelah ia melakukan tugas utama sebagai Babinsa, keliling dan memantau kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat di Desa Toyareka, wilayah yang juga menjadi tempat tinggalnya.

Siang itu, sejumlah orang tengah duduk di teras depan rumah salah satu warga Pegandekan. Mereka nampak sibuk memotong dan menyerut lembaran-lembaran kayu tipis. Tangannya cekatan dan terampil, terlihat mudah memotong lembar demi lembar potongan kayu sisa limbah tripleks.

Rupanya, para ibu dan bapak tersebut tengah membuat stik es krim. Dengan alat yang terbilang sederhana, dalam hitungan menit lembaran tripleks sudah berubah wujud jadi puluhan stik es krim.

Rata-rata, warga desa yang terlibat di usaha rumahan ini sudah melakoni pembuatan stik es krim empat hingga lima tahun. Bahkan banyak di antara mereka yang lebih dari lima tahun. Sehingga tidak heran jika tumpukan tripleks cepat ludes berganti kayu-kayu kecil sepanjang sekitar 12 sentimeter.

Eko Purwanto, 55 tahun, pria yang berprofesi utama sebagai guru mengaku sudah empat tahun ikut membuat stik es krim. Alasan ekonomi adalah hal utama ia tertarik untuk ikut berkecimpung. Bisa dilakukan di kala longgar dan tidak terlalu rumit proses pengerjaannya.

Dari pekerjaan sampingan tersebut Eko bisa memperoleh penghasilan tambahan untuk keluarganya. "Pekerjaan membuat stik ini hanya sambilan di saat waktu luang. Dalam sebulan bisa dapat tambahan Rp satu juta dari pekerjaan ini. Jadi sangat membantu sekali menambah pendapatan keluarga," ungkapnya.

Hal sama diutarakan Wardoyo 45 tahun, warga Desa Pegadekan lain. Pria yang sehari-hari sebagai tukang bangunan ini mampu memperoleh pendapatan tambahan dari aktivitas membuat stik es krim minimal Rp 500 ribu dalam sebulan.

"Saya biasanya mengerjakan pada sore hingga malam hari setelah kerja nukang," ujarnya dalam bahasa Jawa Ngapak khas Purbalingga.

Sementara, sembari menjelaskan seputar usaha kecilnya kepada Tagar, Margiyono juga mengecek hasil pekerjaan para warga. Sejumlah stik kayu ia ambil, dilihat dari dekat, kemudian mengangguk-angguk tanda puas. "Sudah bagus hasilnya, sesuai pesanan pembeli," ucapnya bergumam.

Dalam sebulan bisa dapat tambahan Rp satu juta dari pekerjaan ini. Jadi sangat membantu sekali menambah pendapatan keluarga.

Stik Es KrimWarga sedang membuat stik es krim dengan memanfaatkan limbah triplek. (Foto: Tagar/Abdul Wahid)

Bukan perkara mudah Margiyono merintis usaha kerajinan stik es krim. Berangkat dari kegelisahan yang muncul saat melihat limbah industri tripleks yang berserakan di sejumlah desa di Kecamatan Kemangkon. Kebetulan di wilayah tersebut banyak industri pengolahan kayu. Juga di kecamatan sekitar, seperti Kecamatan Padamara.

Selain mengotori lingkungan, jika tidak dimanfaatkan limbah tersebut juga akan mengganggu pemandangan. Lantas ia pun berpikir untuk memanfaatkan limbah tersebut. Hanya saja, belum ada ide mau diapakan lembaran-lembaran tripleks yang tak terpakai itu.

Hingga akhirnya muncul gagasan ketika menjalankan tugas pantauan wilayah di area publik di Kemangkon. "Awalnya ketika jalan-jalan di pasar saya melihat ada stik es krim. Lalu saya berpikir kenapa tidak membuatnya, apalagi di sekitar rumah banyak limbah tripleks," ujar dia.

Dengan memperhatikan secara seksama bentuk dan ukuran stik es krim di pasar maka Margiyono sudah punya bayangan model stik yang akan dibuatnya. Maka mulai lah ia merintis usaha pembuatan stik es krim 10 tahun lalu.

Dan biasa memegang senjata api bukan berarti Margiyono gagap dengan alat pertukangan. Hanya dengan pisau pemotong atau cutter ia mulai memotong satu demi satu lembaran tripleks untuk dijadikan stik. Butuh keuletan dan kesabaran untuk membuat stik mengingat pengerjaannya masih dilakukan secara manual.

Tapi dengan jiwa pantang menyerah yang sudah tertanam sejak awal jadi prajurit TNI, Margiyono terus berusaha. Hingga akhirnya terkumpul dalam jumlah cukup untuk ditawarkan ke pembeli. Ternyata respon pasar cukup positif. Ia pun semangat untuk membuat alat potong yang lebih efektif untuk mendongkrak jumlah produksi.

Dibantu kawannya, tukang kayu di Kecamatan Kaligondang, dibuatlah alat potong yang bentuknya sekilas mirip serutan es batu. Dengan alat itu, sekali gerak dari atas ke bawah bisa dihasilkan empat sampai enam batang stik.

Proses pembuatan stik terbilang sederhana. Lembaran tripleks dipotong-potong jadi kayu kecil ukuran 12 sentimeter. Selanjutnya, ujung potongan kayu itu diasah hingga berbentuk lonjong dan diamplas agar lebih halus. Kayu stik yang sudah jadi kemudian dikemas dalam jumlah tertentu dan di-packing dalam plastik kemudian dimasukkan ke dalam kardus.

"Saya tawarkan ke toko-toko dan pedagang. Rupanya disambut baik karena stik buatan kami lebih kuat dan lebih bagus," ujarnya.

Lambat laun, dari usaha yang diawalinya sendiri, sejumlah tetangga di RT 1 RW 6 Toyareka mulai tertarik ikut membuat stik. Sampai kemudian menyebar ke berbagai kelompok warga yang ada di wilayah lain di Kemangkon. Bahkan sampai ke warga yang tinggal di kecamatan sekitar, seperti Kaligondang, Padamara, dan Bukateja.

"Jadi saya kerjasama dengan pengurus rukun tetangga (RT). Selanjutnya pengurus RT yang mengkoordinir setiap keluarga yang ingin memproduksi stik es krim. Kini total 300 kepala keluarga yang ikut membuat stik es krim," jelas dia.

Model kemitraan dengan warga juga terbilang sederhana. Setiap perajin yang membuat stik es krim akan diberi Rp 100 per stik. Pembayaran ke warga tidak pernah terlambat mengingat aliran uang dari pembeli juga lancar.

Apa yang dilakukan Margiyono adalah bagian dari pengembangan sumber daya manusia dan pengembangan ekonomi.

Stik Es Krim1Usaha kreatif pembuatan stik es krim mampu memberi tambahan penghasilan ke warga. (Foto: Tagar/Abdul Wahid)

Perkembangan teknologi informasi juga dimanfaatkan Margiyono untuk mendukung pemasaran kayu stik es krim. Sejak lima tahun lalu, ia menggunakan media sosial sebagai sarana memperkenalkan sekaligus menawarkan produknya. Ikhtiar itu dalam rangka menjaring pembeli dari luar Purbalingga.

Kini dalam sebulan Margiyono bisa menjual stik sebanyak empat hingga lima truk. Satu truk berisi 40 sampai 60 dus. Satu dua berisi 20 pack, dimana satu pack terdiri dari 500 batang stik. Jadi bisa dibayangkan berapa jumlah perputaran uang yang dihasilkan dari usaha tersebut.

"Omzet per bulan ya sekitar Rp 30 juta. Rata-rata saya kirim ke pengepul di Surabaya. Selan itu ada pesanan dari Lombok dan Kalimantan. Ada juga kirim ke Cirebon, untuk bahan baku pembuatan mainan anak," terang dia.

Sementara, usaha yang dilakukan Margiyono juga bukan berarti tanpa tantangan. Di saat pesanan semakin banyak seperti saat ini, justru ia kesulitan memperoleh bahan baku. Pasalnya bahan baku tersebut tergantung dari pabrik.

Selama ini ia mengandalkan limbah tripleks dari kayu alba dan kayu pinus dari pabrik triplek yang ada di Kecamatan Padamara. Sebab bahan dua jenis kayu itu dikenal lebih kuat dan bagus ketimbang kayu jenis lain.

"Kalau pabrik tidak produksi, kami tak punya bahan baku, ini yang belum teratasi. Dalam sehari kadang hanya ada satu truk limbah. Padahal lima truk limbah pun kami masih sanggup mengolah dalam sehari," tuturnya.

Berkat kegigihan dan kerja kerasnya, Margiono mendapat penghargaan dari komandannya di Komando Resor Militer (Korem) 071 Wijaya Kusuma Kolonel Kavaleri Dhani Wardana. Sekaligus diapresiasi oleh Komandan Kodim 0702 Purbalingga Letkol Infanteri Yudhi Novrizal.

Yudhi mengungkapkan bahwa seorang Babinsa memiliki lima tugas teritorial. Yakni penguasaan wilayah yang mencakup aspek geografis, ideologi, ekonomi, demografi, termasuk pengembangan sumber daya manusia. Selain itu Babinsa juga harus mengajak masyarakat untuk taat pada aturan negara.

"Apa yang dilakukan Margiyono adalah bagian dari pengembangan sumber daya manusia dan pengembangan ekonomi. Jelas kegiatan tersebut sangat berdampak bagi masyarakat. Kini masyarakat juga diajari agar memanfaatkan waktu untuk produktif," kata dia.

Melalui kegiatan tersebut, tidak ada lagi warga yang berkumpul hanya untuk membicarakan keburukan tetangganya. "Saya berharap Babinsa-Babinsa lain bisa mengambil peluang di setiap wilayah tugas, sesuai dengan karakter dan kebutuhan wilayah tersebut. []

Baca juga:

Berita terkait
17 Putra Pedalaman Papua Lulus Seleksi TNI AD
Mayjen Asaribab menuturkan, seleksi ini juga untuk mempermudah akses generasi muda yang berasal dari pulau terluar, perbatasan dan pedalaman.
TNI-Polri dan Masyarakat Tanam Mangrove di Banyuasin
Pangdam II Sriwijaya bersama pasukan gabungan TNI dan berbagai unsur masyarakat melaksanakan penanaman Mangrove di wilayah Kebupaten Banyuasin.
Kodam Hasanuddin Gelar Pasar Murah
Menyambut hari jadi Kodam Hasanuddin yang ke 62, Kodam gelar Bazar murah.
0
Ridwan Kamil Buka Suara Penertiban Tamansari Bandung
Bentrok yang terjadi antara warga Tamansari Bandung dengan petugas gabungan keamanan membuat Gubenur Jawa Barat Ridwan Kamil buka suara.