UNTUK INDONESIA
Cara Baru Jualan di Pasar Saat Pandemi Covid-19
Manusia makhluk berakal selalu temukan cara bertahan hidup di tengah pandemi Covid-19. Termasuk para pedagang di pasar, berjualan dengan cara aman.
Wiyono, 60 tahun, pedagang tomat di Pasar Sayur Bitingan, Kudus, Jawa Tengah, Jumat, 1 Mei 2020. (Foto: Tagar/Nila Niswatul Chusna)

Kudus - Pandemi Covid-19 membuat manusia yang adalah makhluk sosial dipaksa berjauhan satu sama lain untuk menghindari penularan virus. Sementara hidup harus terus berjalan. Orang-orang butuh makan. Maka pasar pun tetap buka dengan cara baru. Pedagang berjualan dengan memperhatikan protokol kesehatan, menjaga jarak fisik antara satu dengan yang lain. Demikian pula pembeli, menjaga jarak dan memakai masker. 

Pemandangan itu terlihat di Pasar Bandung, pasar tradisional di Tegal, Jawa Tengah, Sabtu, 2 April 2020. Pengaturan jarak atau physical distancing minimal dua meter diatur Pemerintah Kabupaten Tegal.  

Di pasar berlokasi di Kelurahan Bandung, Kecamatan Tegal Selatan, tersebut, 40 pedagang dipindahkan dari dalam pasar ke halaman depan pasar. Di lokasi ini, tiap pedagang menempati area yang ditandai cat abu-abu.

Jarak antar lapak dibuat satu hingga dua meter sehingga pedagang tidak lagi berhimpit-himpitan seperti pada situasi normal. Para pedagang yang tidak memiliki kios atau lapak di dalam pasar itu mayoritas berjualan sayuran dan makanan.

Dengan dibuat jarak bisa membuat kita lebih aman. Jadi ya setuju saja jaraknya ditata seperti ini. Kalau pas jualan di dalam pasar, sumpek.


Nurhayati, 37 tahun, satu di antara pedagang tersebut. Ia menjual nasi ponggol.

"Dengan dibuat jarak bisa membuat kita lebih aman. Jadi ya setuju saja jaraknya ditata seperti ini. Kalau pas jualan di dalam pasar, sumpek," kata Nurhayati kepada Tagar, Sabtu.

Selain penerapan physical distancing untuk mengurangi kerumunan,‎ juga disediakan tempat cuci tangan pakai sabun di pintu masuk pasar. Cara ini untuk membunuh virus yang menempel di tangan. 

Pedagang dan pembeli juga wajib menutupi wajah dengan masker untuk melindungi diri dari virus yang gentayangan.

Wakil Wali Kota Tegal Mohamad Jumadi mengatakan protokol jual beli dengan menerapkan physical distancing sudah dilakukan di Pasar Bandung, Pasar Langon, Randugunting, dan Kejambon.

"Hari ini empat pasar sudah menerapkan physical distancing. Besok rencananya Pasar Krandon juga menyusul menerapkan juga," kata Mohamad Jumadi.

Protokol kesehatan di pasar sebelumnya juga sudah diterapkan di Pasar Pagi di Kota Salatiga sesuai arahan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

"Dua hari lalu Pak Gubernur minta, coba pasar-pasar melakukan hal yang sama. Mulai hari ini pasar di Kota Tegal sudah melakukan physical distancing untuk menghindari wabah corona‎," ucap Jumadi.

Pasar Bandung TegalPenerapan protokol physical distancing untuk mencegah penularan Covid-19 di Pasar Bandung, Tegal. (Foto: Dok Tagar/Farid Firdaus)

Situasi Pasar Bitingan Kudus

Jual beli dengan konsep physical distancing juga diterapkan di Pasar Bitingan, Kudus, Jawa Tengah. Jarak lapak diatur sedemikian rupa agar pedagang tidak berdekatan sesuai arahan Pemerintah Kabupaten Kudus.

Namun, praktik tidak semudah yang diinginkan. Keterbatasan lahan tidak imbang dengan banyaknya pedagang, ada 300 pedagang, membuat petugas pasar tidak bisa leluasa membuat jarak antarlapak secara ideal.

"Kami upayakan mereka bisa berjualan di sekitar pasar namun tetap menerapkan physical distancing," ujar Kepala Bidang Pengelolaan Pasar Dinas Pasar Kudus Albertus Harys Yunanto, Kamis, 30 April 2020.

Antarpedagang berjarak 1,5 meter, menempati area di pelataran Matahari Mal, pelataran Pasar Bitingan, dan Jalan Mayor Basuno atau dari depan Pasar Bitingan hingga pertigaan Jalan Wahid Hasyim.

"Kami sediakan marka lapak sesuai jumlah pedagang. Kalau kurang, pedagang bisa menempati marka yang telah kami siapkan di depan TPU Ploso Kudus," tutur Harys.

Ia mengatakan memberikan toleransi jarak setengah meter hingga satu meter. Banyaknya jumlah pedagang dan barang dagangan, membuat jarak pedagang satu dengan yang lain tidak bisa jauh.

"Kalau dibuat jarak seperti di pasar lain, 1,5 meter atau dua meter antarpedagang, bisa saja. Tapi konsekuensinya banyak lapak pedagang yang akan jauh dari pasar, kasihan. Kami upayakan mereka bisa berjualan di sekitar pasar namun tetap menerapkan physical distancing," tuturnya.

Untuk memastikan pedagang menjalankan kebijakan physical distancing, Dinas Perdagangan menerjunkan empat tim untuk mengatur dan mengawasi kegiatan pedagang. 

"Masing-masing tim terdiri dari 7 hingga 15 orang," ujar Harys.

pasar bitingan kudusPedagang Pasar Bitingan Kudus, Jawa Tengah, menggelar dagangan sesuai garis lapak yang ditentukan Dinas Perdagangan, Kamis, 30 April 2020. (Foto: Dok Tagar/Nila Niswatul Chusna)

Noor Saad, 45 tahun, satu di antara pedagang. Ia penjual cabai. Rumahnya di Desa Kosambi, Kecamtan Mejobo. Saad hari itu datang lebih awal dari biasanya supaya mendapat tempat strategis. Juga menghindari rebutan lapak dengan pedagang lain.

"Biasanya saya ke sini pukul 03.00 WIB. Semalam saya sengaja berangkat pukul 24.00 WIB," ujar Saad. 

Ia mengatakan sosialisasi penerapan physical distancing begitu mendadak, mepet dengan waktu pelaksanaan. Sosialisasi dilakukan 28 April 2020. Dinas Perdagangan hanya memberi waktu sehari untuk persiapan. Sehingga banyak pedagang kebingungan menempati lapak baru.

"Kami datang lebih awal, takutnya kebagian lapak yang jauh dari pasar atau lokasi lapak kami sebelumnya. Ternyata yang sebelah sini, depan Halte Bus Pasar Bitingan, pedagangnya masih sama, tidak berubah," ujar Saad.

Ngatini, 53 tahun, pedagang buah. Ia juga datang lebih pagi, mengikuti rekan-rekannya sesama pedagang.

"Teman-teman saya pada berangkat lebih pagi, katanya biar lapaknya tidak digunakan pedagang lain. Saya ikut saja," kata dia.

Ngatini mengatakan penerapan physical distancing tidak membuat banyak perbedaan, karena banyaknya barang dagangan digelar sudah otomatis menjadi pemisah antarpedagang.

"Dan kami tetap mengikuti anjuran pemerintah. Berjualan pakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak," tuturnya.

Pasar Bitingan Kudus dikenal sebagai pusat grosir sayur di wilayah eks Keresidenan Pati. Biasanya para pedagang sayur menggelar lapak di halaman Pasar Bitingan mulai pukul 22.00 WIB hingga pagi hari sekitar pukul 06.00 WIB.

Dalam situasi normal, tidak pandemi, pagi hingga sore hari, Pasar Bitingan digunakan berjualan beraneka kebutuhan pokok. Mulai sembako, sayur, buah, daging, peralatan dapur hingga pakaian. Pedagang berjualan di dalam bangunan pasar, menempati kios dan los. Sementara sore sampai pukul 21.00 WIB, di halaman Pasar Bitingan digunakan berjualan pakaian dan kuliner

Pasar Bitingan KudusSeorang pengunjung (kiri) mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir yang disediakan untuk mencegah penularan Covid-19 di Pasar Sayur Bitingan, Kudus, Jawa Tengah, Jumat, 1 Mei 2020. (Foto: Tagar/Nila Niswatul Chusna)

Jumat Malam yang Dingin

Tagar kembali mengunjungi Pasar Sayur Bitingan, Kudus, Jumat malam, 1 Mei 2020. Sekilas tidak ada yang berbeda, seperti bukan dalam situasi pandemi. Beberapa pedagang berkerumun. Ada yang tidak pakai masker.

Di balik kegelapan malam, ratusan pedagang memilih terjaga, menanti kedatangan para pembeli. Bertahan melawan dinginnya angin malam yang menusuk tulang, hingga pagi menjelang.

Semakin larut, geliat kehidupan kian terasa. Puluhan truk dan pick up datang, membawa macam-macam buah dan sayur segar dari berbagai daerah.

Dari kejauhan, tampak sejumlah pedagang mengerumuni tengkulak yang datang. Di balik balutan masker yang menutup wajah, mereka bernegosiasi. Bersambut riang dengan buruh panggul yang merapatkan barisan menawarkan jasa

Dengan gesit, mereka bekerja sama menurunkan dan memanggul keranjang atau sak berisikan sayuran menuju lapak yang telah disediakan. Di sana, sayuran ditata sedemikan rapi untuk menarik pembeli. Beberapa sayur seperti kubis, tomat, dan labu siam dikemas dalam plastik kapasitas 5 kilogram. Untuk sayuran sejenis sawi, seledri, dan daun bawang dikemas dalam bentuk ikatan-ikatan dengan berat satu kilogram.

Pasar kian ramai, beberapa anggota tim gabungan dari Dinas Perdagangan, TNI/Polri, Dinas Perhubungan, Satpol PP dan Pengelola Pasar Bitingan melakukan pengecekan jarak antar lapak pedagang. 

Waktu terus berjalan menuju dini hari. Sejumlah pembeli dari Kudus dan wilayah sekitarnya, seperti Kabupaten Pati, Demak, Jepara dan Grobogan mulai berdatangan. Aksi tawar-menawar antara penjual dan pembeli tidak terelakkan. Suara hiruk-pikuk yang tercipta sesekali memecah keheningan malam.

Suasana Pasar Sayur Bitingan kian ramai pada fajar hari. Pedagang-pedagang kecil dan pembeli berdatangan. Kendaraan memadati sebagian ruas Jalan Mayor Basuno dan sekitaran Matahari Mall.

“Pasar ini menjadi tempat kulakan pedagang-pedagang sayur dari berbagai daerah. Pedagang sayur dari luar kota biasanya kulakan ke sini pada malam hari. Untuk pedagang sayur dari Kudus bisanya kulakannya fajar,” ujar Untung Hermanto, Ketua Paguyuban Pedagang Sayur Pasar Bitingan, Jumat.

Pasar Bitingan KudusTruk pengangkut sayuran datang di Pasar Bitingan, Kudus, Jawa Tengah, Jumat, 1 Mei 2020. (Foto: Tagar/Nila Niswatul Chusna)

Untung Hermanto, 45 tahun, tinggal di Loram Wetan, Kecamatan Jati. Ia menggelar lapak sayuran di Jalan Mayor Basuno. Dengan ramah, ia mempersilakan Tagar duduk lesehan di hamparan karpet hjau army yang digelar di pedestrian.

Ia mengatakan aktivitas perdagangan di Pasar Sayur Bitingan berjalan seperti biasa di tengah pandemi Covid-19. Beberapa penyesuaian terhadap kebijakan pemerintah tak lupa dilakukan, sebagai langkah pemutusan mata rantai penyebaran Covid-19 di Kabupaten Kudus.

Seperti penerapan physical distancing, imbauan menggunakan masker bagi pedagang maupun pembeli, penyediaan tempat cuci tangan dan penyemprotan desinfektan pada kendaraan dari luar kota yang datang. Lainnya, masih sama seperti sebelum adanya pandemi Covid-19.

“Penyemprotan desinfektan kami swadaya sendiri. Hal itu kami lakukan sebagai upaya antisipasi penyebaran Covid-19 di pasar ini,” katanya.

Secara kasat mata, memang tidak banyak yang berubah dari pasar itu. Namun, jika ditelisik lebih batin para pedagang sayur di sana menjerit. Turunnya omset penjualan hingga menyentuh 75 persen, cukup membuat mereka kelabakan. Rendahnya daya beli dan permintaan konsumen membuat mereka mengurangi jumlah barang kulakan, guna meminimalisir kerugian.

“Pasarnya sepi. Biasanya saya setiap hari bisa kulakan berbagai jenis sayur hingga dua pick up. Sekarang kulakan satu pick up, belum tentu sehari habis. Kadang untuk dua hari hingga tiga,” tutur Untung.

Untung memahami situasi secara menyeluruh. Bukan hanya dirinya atau pedagang Pasar Bitingan saja yang menderita karena pandemi. Semua orang di dunia ini sedang mengalami hal yang sama. Banyak pekerja dirumahkan, kena PHK, pedagang kaki lima dilarang jualan di pusat keramaian, tidak boleh ada keramaian.

“Semuanya ikut terdampak pandemi corona. Mau bagiamana lagi,” ujarnya dengan nada pasrah.

Pasar Bitingan KudusSeorang buruh panggul menurunkan dua kantong plastik berisi sayuran labu siam dari truk di Pasar Sayur Bitingan, Kudus, Jawa Tengah, Jumat, 1 Mei 2020. (Foto: Tagar/Nila Niswatul Chusna)

Wiyono, 60 tahun, tekun menyortir tomat-tomat busuk di lapaknya. Warga Jekulo ini mengatakan pandemi corona memberikan pengaruh besar pada perekonomiannya.

“Saya berjualan di sini sudah 25 tahun. Saya merasakan betul pasang surutnya. Tapi ini selama pandemi Covid-19 paling sepi pembeli,” tuturnya.

Dalam keadaan normal, sehari Wiyono bisa menghabiskan Rp 10 juta untuk kulakan sayur. Pada masa pandemi ini ia kulakan tidak sampai Rp 5 juta per hari.

Di tengah pandemi, kata Wiyono, ketersediaan sayur dan buah bisa dibilang melimpah dan harganya relatif lebih murah. Lagi-lagi, rendahnya daya beli masyarakat membuat dirinya tidak dapat berbuat banyak.

“Sayur dan buah tidak bisa disimpan dalam waktu lama, mudah busuk. Pilihannya ya memang mengurangi jumlah kulakan,” ujarnya.

Agus Riyanto, pedagang telur puyuh, juga merasakan hal serupa. Dalam keadaan normal, biasanya ia bisa menjual 100 kilogram setiap harinya. Di tengah wabah corona, ia hanya bisa menjual sekitar 25 kilogram.

“Pasar ini sepi mulai bulan Maret, waktu awal-awal corona masuk Kudus. Awal Ramadan sempat ramai satu dua hari saja. Setelah itu sepi lagi,” kata Agus sembari merapikan dagangan.

***

Protokol physical distancing belum sepenuhnya berjalan di Pasar Sayur Bitingan. Para pedagang dengan sedikit dagangan, masih banyak yang berjualan dengan jarak berdekatan. Imbauan menggunakan masker dan cuci tangan juga belum dilaksanakan secara disiplin. Pedagang, buruh panggul, pembeli, masih ada yang tidak memakai masker.

***

Ngatini, 52 tahun, warga Desa Prambatan Kidul, Kecamatan Kudus. Ia pedagang sayur keliling, merasakan berkah di tengah pandemi. Anjuran pemerintah untuk work from home, study from home, membuat banyak orang tinggal di rumah. Mereka lebih senang menunggu penjual sayur datang. Otomatis pembelinya meningkat.

“Jumlah dagangan, saya rasa tetap sama. Cuma sekarang makin banyak yang pesan buat dibelikan sayur dan lauk tertentu,” kata Ngatini saat ditemui Tagar di ruas Jalan Mayor Basuno. Ia sedang menata dagangan di keranjang saat itu.

Zumrotun, 39 tahun, ibu rumah tangga, pada masa pandemi ini mengurangi aktivitas belanja di Pasar Sayur Bitingan. Sekali datang ia mencari sayur yang bisa agak tahan lama, juga buah yang harganya murah, membeli dalam jumlah banyak untuk persediaan beberapa hari.

“Kubis, wortel, tomat, labu siam, daun bawang, seledri, dan terong, biasanya saya beli satu kilo untuk beberapa hari. Sekalian beli kebutuhan pokok lain. Kalau sayuran lain seperti bayam, kangkung dan sawi cepat busuk, jadi biasanya beli ke pedagang sayur keliling,” tutur Zumrotun. []

Baca juga cerita:

Berita terkait
Rochmat Rismawan, Setelah Kena PHK di Tengah Pandemi
Rochmat Rismawan, 21 tahun, baru 4 bulan lalu dapat pekerjaan di Tangerang, kini harus menelan pil pahit di tengah pandemi Covid-19. Ia di-PHK.
Menahan Rindu, Karantina Mandiri 14 Hari di Empang
Selama karantina mandiri 14 hari, Dwi dan Tria tinggal di gubuk di tengah empang, tanpa listrik, sunyi, jauh dari rumah warga desa.
Pergolakan Batin Sukarsih Tenaga Medis Positif Covid-19
Sukarsih, seorang perempuan ayu dengan rambut panjang tergerai. Usianya 29 tahun. Ia bekerja sebagai tenaga medis, melayani pasien Covid-19.
0
Pria Botak di Sumut Diancam 15 Tahun Penjara, Ini Kasusnya
Pria botak di Deli Serdang, Sumatera Utara, nodai adik ipar. Penjara 15 tahun menantinya.