Apa Kabar Bisnis Rongsokan Aceh di Masa Pagebluk

Jika sudah berkeliling, mata Rudi akan awas, mencari barang rongsokan di setiap sudut yang ada di Aceh Barat.
Aris, 22 tahun, anak laki-laki tertua pasangan Rudi-Anis, sedang memperbaiki sepeda, Sabtu, 08 Agustus 2020. (Foto: Tagar/Rino Abonita)

Aceh Barat – Ketika suami mengutarakan sebuah ide kepadanya, kening Anis, 46 tahun, langsung berkerut. Ia sangsi. Siapa yang mau membeli barang rongsokan. Ide itu tidak lebih dari sekadar bualan belaka baginya. Mending tetap bekerja seperti biasa timbang membuang-buang waktu dan tenaga untuk hal-hal yang tidak tentu hasilnya. Namun, suaminya, Rudi Purwanto, 46 tahun, kala itu yakin. Siapa sangka, kini mereka bisa mendulang rupiah berkat ide suaminya tempo hari.

Rudi sebenarnya merupakan seorang pencari besi bekas pengepul barang rongsokan. Sudah sangat lama pekerjaan ini dia geluti. Sehari-hari dia berkeliling dari satu pelosok ke satu pelosok gampong dengan mobil pikap atau becakan. Terkadang, dirinya membawa anak-anak bersamanya. Bukan untuk membantu ayah mereka, ketiga anak Rudi hanya senang berpelesiran saja.

Jika sudah berkeliling, mata Rudi akan awas, mencari barang rongsokan di setiap sudut yang ada. Tidak jarang para pemiliknya yang malah menyamperi dirinya untuk melego limbah barang-barang rongsokan milik mereka. Rudi akan membelinya secara kiloan.

Semakin berat dacinnya, semakin besar pula uang yang harus dia keluarkan. Tapi, modal dan laba tentu sebanding. Barang-barang rongsokan, terutama barang besi, tersebut akan dia jual kembali ke penadah. Dari para penadah, besi-besi ini akan sampai kepada perusahaan peleburan limbah besi.

Sepeda Bekas di AcehSuasana di tempat penjualan sepeda bekas Gampong Gunong Kleng, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Sabtu, 8 Agustus 2020. (Foto: Tagar/Rino Abonita)

Rudi dan keluarga kecilnya saat ini tinggal di Aceh Barat. Dia suka pindah randah sebelum menetap lama dengan menyewa sebuah rumah di kompleks perumahan bantuan untuk korban bencana gempa dan semong yang terletak di Gampong Persiapan Peunaga Baro, Kecamatan Meureubo.

Sudah dua kali dirinya menyewa rumah di kompleks yang masih masuk ke dalam administrasi Gampong Peunaga Paya itu. Jika hujan, air dengan mudah meresap bahkan merembes ke balik dinding rumah-rumah tersebut. Maklum, terbuat dari asbes, namun, ada sebagian pemilik yang telah menggantinya dengan dinding beton.

Sudah tiga sepeda terjual, hari ini.

Dari depan, rumah Rudi tampak penuh oleh gunungan limbah rongsok yang tidak berguna. Di samping rumah juga terlihat sempuras, semak, dan amat berantakan sekali. Istrinya bukannya malas atau tidak punya waktu untuk bersih-bersih. Buat apa? Nanti juga bakal semak lagi. Toh, suaminya selalu pulang dengan membawa limbah barang rongsokan setiap harinya.

Di antara barang-barang rongsokan tersebut tidak jarang tersisip bangkai sepeda. Bentuknya tentu tidak utuh. Terkadang memiliki kerangka tapi tidak memiliki ban. Ada juga yang tinggal pelek. Banyak juga komponen-komponen sepeda lain yang dia kutip secara terpisah-pisah, seperti pedal, jok, gir, dan sebagainya.

Rudi kemudian berpikir, jika dirinya cukup teliti, ia mungkin dapat menyatukan komponen-komponen yang terpisah tersebut jadi sebuah sepeda utuh kendati bentuknya tidak akan sempurna seperti semula karena terdiri dari material kombinasi antara satu sepeda dengan sepeda lainnya.

Walhasil, apa yang Rudi pikirkan pada hari itu kiranya mewujud jadi sebuah usaha penjualan sepeda bekas di pinggiran jalan lintasan Meulaboh-Tapak Tuan, Gampong Gunong Kleng, di kecamatan juga kabupaten tempat tinggalnya. Istrinya yang dulu sempat ragu dengan idenya kini malah punya peran kunci dalam bisnis loakan.

Untung Capai Jutaan

Tagar menemui tempat dia membuka usahanya pada Sabtu, 8 Agustus 2020 sore. Kebetulan Rudi tidak berada di situ. Katanya sedang leyeh-leyeh di rumah. Istri dan anak laki-lakinya yang menyambut. Sementara itu, seorang pembeli baru saja berbalik arah, membawa pulang sepasang sepeda bersamanya.

"Sudah tiga sepeda terjual, hari ini," sebut Aris, anak tertua pasangan Rudi-Anis di sela-sela kesibukannya.

Sepeda Bekas di AcehTumpukan bangkai alias kerangka sepeda di tempat penjualan sepeda bekas Gampong Gunong Kleng, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat. (Foto: Tagar/Rino Abonita)

Aris baru saja mempreteli sebuah kerangka sepeda. Kini dia hendak melonggarkan pengikat setang yang tersambung ke garpu sepeda bersuspensi tersebut dengan cara menokoknya menggunakan kunci ring.

"Tuk, tuk, tuk," suaranya terdengar temetu.

Tangan Aris berlepotan gemuk. Dia mengenakan topi baseball bermotif mosaik serta baju kaus hitam berlogo sebuah minuman energi berbentuk serbuk. Jika tertawa, tampak bahwa remaja tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) ini telah mengikat giginya dengan behel.

Sekali tempo, Aris akan berhenti. Entah menghela napas atau berpikir tentang sesuatu. Matanya terkadang melirik tumpukan material di dalam rumah kipas angin yang tertelentang di sampingnya. Berlapis karung goni, fungsi rumah kipas angin tersebut telah berubah jadi wadah atau sejenis ayan yang menampung segala material pendukung sepeda, seperti baut, as, laher, hingga sambungan rantai.

Ada tetangga yang tanya. Kak, ini dijual?.

Sejurus kemudian, remaja tersebut tersenyum. Sesuatu baru saja melintas di dalam kepalanya. Aris pun meminta izin untuk melanjutkan pekerjaannya, dan dia tampak lebih serius kali ini. Anak itu tidak ingin ada yang menganggu konsentrasinya.

Sementara itu, Anis, sedang berada di samping. Entah apa yang perempuan itu kerjakan. Waktu dia nongol ke depan bersamaan dengan datangnya seorang pria bersama anaknya. Pria itu menurunkan sepasang sepeda dari atas becak. Roda depan sepeda tampak patah. Setelah menitipkan sepeda tersebut mereka langsung beranjak pergi.

Anis menjelaskan dengan panjang lebar bagaimana bisnis sepeda bekas ini mereka rintis. Awalnya ia dan suami sempat tertatih, sebelum akhirnya para pembeli mulai datang silih berganti. Meski tempat usaha mereka terlihat remeh cemeh dan tidak terurus dari luar, namun, uang yang mereka dapat dari hasil menjual sepeda beka bisa mencapai ratusan bahkan jutaan rupiah setiap harinya. Mereka bahkan mampu mengupahi seorang pekerja saat ini. "Kemarin ada sejuta," sebut Anis.

Menjual Ragam Jenis Sepeda

Jenis sepeda yang mereka jual bervariasi kendati tidak seperti versi aslinya. Rata-rata adalah jenis yang umumnya banyak orang pakai. Seperti sepeda dames, mini, dan anak. Ada juga jenis Bicycle Moto Cross (BMX) dan Mountain Terrain Bike (MTB).

Sepeda Bekas di AcehContoh pedal sepeda yang akan Rudi atau anaknya manfaatkan untuk melengkapi sepeda bekas yang akan mereka jual. (Foto: Tagar/Rino Abonita)

Jenis terakhir merupakan sepeda dengan harga jual yang cukup tinggi dan paling sering pembeli tanyakan. Harganya mencapai sejuta lebih. Untuk jenis-jenis sebelumnya, mereka jual dengas kisaran harga Rp 200-300 ribu per pasang.

Rudi sebelumnya masih harus menelusuri setiap tempat untuk mencari bangkai sepeda yang telah pemiliknya buang. Namun, pekerjaan cari mencari ini sudah tidak sesulit dulu. Sudah ada orang yang mengantarnya langsung ke tempat. Tinggal membeli saja. Lagi-lagi secara kiloan.

"Per kilo kami beli Rp 4 ribu," sebut Anis.

Berat rongsokan sepeda yang mereka beli paling banter hanya 15-17 kilogram. Uang yang mesti mereka keluarkan untuk satu bangkai sepeda berkisar antara Rp 60-68 ribu. Namun, dengan modal segitu, keuntungan yang mereka dapat bisa berkali-kali lipat.

Sepeda yang ada di situ tentu sudah tidak terlihat apek lagi, malah terkesan mendekati baru lagi kinclong atau berkilap. Adapun tugas poles-memoles sepeda-sepeda tersebut, Rudi serahkan kepada Anis, sang istri.

Sepeda Bekas di AcehAnis, 46 tahun, istri pemilik usaha penjualan sepeda bekas yang ikut membantu suami dalam usaha tersebut. (Foto: Tagar/Rino Abonita)

Bermodal Cat Minyak

Tagar bisa melihat cipratan cat yang masih basah di atas kerikil serta sebuah kuas yang tergeletak di atas bibir kaleng berisi tumpukan kaleng cat berukuran lebih kecil, yang baru saja Anis tinggalkan. Ibu tiga anak itu mengecat sepeda seharian ini. Pekerjaannya tersebut dia lakukan di bawah naungan pepohonan yang rindang.

Di depan tempat penjualan sepeda bekas ini juga terdapat dua batang pohon besar yang sudah sangat tua umurnya. Dahannya yang besar dan rimbun memanjang ke atas jalan raya. Ini membuat suasana di sisi kiri di mana terdapat onggokan bangkai sepeda terasa lebih teduh. Pohon ini pun bisa menjadi penanda lokasi tempat penjualan sepeda tersebut, selain sebuah menasah yang ada di seberang jalan.

Adapun alasan mengapa Rudi memercayakan pekerjaan cat-mengecat tadi kepada istrinya karena menurut Anis dirinya lebih telaten ketimbang suami dan anaknya. Tapi, Anis lebih suka mengatakan kalau perempuan adalah makhluk yang cenderung lebih teliti daripada laki-laki. Dalam pekerjaan yang memerlukan ketelatenan, trah Adam terkadang tidak sabaran, dan asal jadi. "Perempuan, mah, enggak," ucap Anis dengan logat Jawa yang kental sambil cengar-cengir.

Melihat bentuk dan hasilnya, bahan utama yang Anis pergunakan untuk mengecat sepeda-sepeda tersebut adalah cat minyak. Kendati tidak ia beri pernis, sepeda-sepeda tersebut tidak kalah bening dari sepeda yang ada di toko-toko. Anis telah membuktikan kata-katanya barusan. Hasil pekerjaannya tokcer.

Sepeda Bekas di AcehRongsokan roda sepeda di tempat penjualan sepeda bekas Gampong Gunong Kleng, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat. (Foto: Tagar/Rino Abonita)

Bertahan di Tengah Badai Corona

Tempat penjualan sepeda bekas ini merupakan bangunan berukuran kira-kira 4×8 meter yang hanya memiliki satu ruangan. Statusnya pinjam pakai. Pemilik bangunan sebenarnya adalah guru mengaji cum spiritualnya Rudi, yang telah berbaik hati meminjamkannya.

Jangan tanya betapa sumpek dan cerai berainya tempat tersebut. Setiap sudut terdapat gunungan komponen sepeda. Serakannya meluber sampai ke halaman. Bau khas tumpukan besi tua pun cukup kuat. Anis bahkan menggantung beberapa helai daster di tengah-tengah ruangan.

Mulanya, Rudi dan Anis coba memajang tujuh pasang sepeda anak. Nihil. Genap sebulan sepeda-sepeda tersebut tidak ada yang membeli. Lagi-lagi Anis mengingatkan apa yang pernah dia katakan soal ide menjual sepeda bekas dulu.

Sepeda Bekas di AcehPenampakan di halaman tempat penjualan sepeda bekas di Gampong Gunong Kleng, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat. (Foto: Tagar/Rino Abonita)

Waktu itu Rudi belum berpikir untuk memoles sepeda-sepeda tersebut dengan cat. Hasilnya, yang mereka pampang itu hanyalah tujuh pasang sepeda yang tampak karatan sana-sini.

Orang yang datang memang ada, tapi, itu karena Rudi turut menjadikan tempat tersebut sebagai bengkel. Namun, tidak pernah ada yang melirik atau bertanya mengapa Rudi dan istri saban hari rajin menaruh sepeda-sepeda tersebut di depan bengkel mereka. Sampai pada suatu hari.

"Ada tetangga yang tanya. Kak, ini dijual? Oh, ya, jual, kata saya," ulang Anis.

Kini, tempat penjualan sepeda bekas tersebut bukan hanya orang setempat saja yang kenal. Orang-orang seantero Kota Meulaboh juga tahu harus ke mana jika ingin mencari sepasang sepeda bekas laik pakai dengan varian yang beragam. Terlebih di masa pagebluk ini, ketika gowes-menggowes mulai menjadi tren.

Anis tidak menampik, bisnis sepeda loakan yang belum genap sembilan bulan berdiri ini cukup moncer di tengah gempuran badai virus korona. Terkadang, Tuhan memang menaruh sesuatu di balik musibah. []

Baca cerita menarik lainnya: 

Berita terkait
Harga Murah, Sepeda Bekas Laku Keras di Aceh
Meningkatnya minat warga yang bersepeda ternyata ikut mempengaruhi penjualan sepeda bekas di Aceh.
Polisi Syariat Amankan Pesepeda Seksi di Banda Aceh
Satpol PP dan WH Kota Banda Aceh menangkap sekelompok perempuan bersepeda yang menggunakan pakaian seksi di Banda Aceh.
Pesepeda Berbaju Seksi Heboh di Banda Aceh
Sebuah video yang menampilkan sekelompok perempuan yang tengah bersepeda dan berpakaian seksi viral di sejumlah jejaring media sosial di Aceh.
0
China Tuduh Amerika Politisasi Asal Muasal Virus Corona
China mengecam langkah Amerika Serikat melacak asal muasal virus corona yang disebut China sebagai “mempolitisasi” pelacakan