UNTUK INDONESIA
Menengok Gaya Bersepeda di Negeri Syariat Islam
Mengatur formasi sambil berdayung sepeda, mereka tampak semangat hingga berkeringat menyusuri ruas jalan Kota Banda Aceh di tengah pandemi corona.
Pesepeda melewati salah satu ruas jalan di kawasan Gampong Jawa, Kota Banda Aceh, Aceh, Sabtu, 4 Juli 2020 pagi. (Foto: Tagar/Muhammad Fadhil)

Banda Aceh - Hari masih pagi, matahari baru saja menyinari bumi. Jalanan Kota Banda Aceh, Aceh, didominasi muda-mudi yang mengayuh sepeda, ukuranya bervariasi. Mereka mengatur formasi dua deret, lalu beberapa di antaranya mengekor dari belakang.

Mereka tampak menyusuri ruas jalan dengan mengambil jalur sebelah kiri. Sesekali, beberapa di antara mereka mengelap keringatnya yang mengucur dengan tisu yang telah disiapkan di kantong celana.

Begitulah sekilas gambaran suasana sejumlah ruas jalan di Kota Banda Aceh, Aceh pada Sabtu, 4 Juli 2020. Setiap hari, baik pagi maupun sore terutama saat akhir pekan, ruas jalan di pusat kota ibu kota Provinsi Aceh ini selalu ramai dengan warga yang bersepeda.

Kebiasaan warga Kota Banda Aceh berolahraga dengan sepeda setidaknya sudah berlangsung lama, namun selama pandemi virus corona atau Covid-19, animo warga menggunakan sepeda meningkat drastis.

Sudah empat bulan lebih libur kuliah, selain pada waktu untuk kuliah online, saya menghabiskan masa libur ini untuk gowes.

Saat ini, bersepeda bukan saja hanya sekadar olahraga, tetapi telah menjadi gaya hidup terutama di kalangan masyarakat perkotaan. Hal terebut bisa dilihat di sejumlah ruas jalan di Kota Banda Aceh, terutama saat pagi dan sore hari pada akhir pekan.

Mereka yang bersepeda berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua. Ini pun tidak hanya kaum pria saja, tetapi kini wanita pun sudah mulai banyak yang menggemari olahraga yang satu ini.

Pesepeda AcehSekelompok pesepeda tampak bersantai di kawasan Ulee Lheue, Kota Banda Aceh, Aceh, Sabtu, 4 Juli 2020 pagi. (Foto: Tagar/Muhammad Fadhil)

Seperti yang dilakukan Irhamna Utamy. Gadis kelahiran Pidie 24 tahun silam ini sudah menjadikan gowes sebagai gaya hidup. Hobi bersepeda pertama kali dipengaruhi oleh teman-temannya di Kota Banda Aceh.

Selama pandemi Covid-19, seluruh aktivitas di lembaga pendidikan terhenti, terutama di universitas Irhamna menimba ilmu di Yogyakarta. Momentum ini dimanfaatkan Irhamna untuk pulang kampung.

“Sudah empat bulan lebih libur kuliah, selain pada waktu untuk kuliah online, saya menghabiskan masa libur ini untuk gowes, kebetulan ada teman-teman juga yang ajak,” kata Irhamna pada Tagar, Jumat, 10 Juli 2020.

Irhamna tak menjadikan gowes ini sebagai olahraga sesungguhnya, tetapi hanya sekadar mengikuti tren seperti yang telah dilakukan oleh warga lainnya. Apalagi, banyak warga yang mengabadikan momen bersepeda dengan smartphone lalu memposting di media sosial.

Aceh adalah daerah yang menjalankan syariat Islam, bersepeda di Aceh juga harus mengikuti aturan-aturan.

“Ada juga sih kayak gitu (posting di media sosial), biasanya di instagram, hanya untuk story doang,” tutur Irhamna.

Berbeda lagi dengan Ariful Azmi Usman. Pemuda berusia 27 tahun ini mengaku bersepeda murni untuk berolahraga sambil mengisi waktu luang, terlebih saat akhir pekan. Apalagi, kondisi saat ini sedang dihadapkan dengan wabah Covid-19.

Pesepeda AcehDua pesepeda tampak mendayung sepedanya di tanjakan kawasan Ulee Lheue, Kota Banda Aceh, Aceh, Sabtu, 4 Juli 2020 pagi. (Foto: Tagar/Muhammad Fadhil)

“Karena sekarang masa pandemi, salah satu cara menjaga kesehatan adalah dengan olahraga, salah satunya olahraga dengan sepeda,” tutur Ariful.

Baca juga: Pesepeda Berbaju Seksi Heboh di Banda Aceh

Hal sama juga disampaikan pesepeda lainnya Munjir Permana. Ia mengaku bersepeda untuk berolahraga atau melepaskan penat di tengah kesibukan kerja. Menurutnya, bersepeda menjadi olahraga paling simpel jika tinggal di ibu kota.

“Kita di Banda Aceh ini cukup mudah untuk bersepeda, jalannya bagus dan luas. Selain itu, juga memiliki panorama alam indah, terlebih saat kita mengelilingi jalan di dekat pantai,” ujar Munjir.

Munjir tak membantah jika di masa pandemi Covid-19 antusias masyarakat Aceh untuk bersepeda meningkat drastis. Menurutnya, hal ini sangat bagus dalam menjaga kesehatan.

"Sama-sama kita ketahui, olahraga merupakan salah cara meningkatkan imun tubuh, salah satunya paling mudah olahraga sepeda. Makanya, saya mengajak juga teman-teman lainnya untuk bersepeda,” katanya.

Pesepeda AcehSekelompok pesepeda tampak bersantai di kawasan Ulee Lheue, Kota Banda Aceh, Aceh, Sabtu, 4 Juli 2020 pagi. (Foto: Tagar/Muhammad Fadhil)

Bisnis Sepeda di Tengah Pandemi

Meningkatnya minat warga yang bersepeda ternyata juga mempengaruhi industri penjualan sepeda di Kota Banda Aceh. Hal ini seperti diakui oleh sejumlah pemilik usaha toko sepeda di Tanah Kutaraja ini.

Salah satu toko sepeda yang paling diminati warga adalah Istana Sepeda di kawasan Lueng Bata, Kota Banda Aceh. Toko sepeda ini menyediakan berbagai jenis sepeda, baik untuk orang dewasa maupun anak-anak.

Hasan, 31 tahun, karyawan Istana Sepeda menuturkan, lonjakan warga membeli sepeda terjadi sejak April 2020 lalu. Bisa jadi, lonjakan ini karena kondisi daerah sedang dilanda wabah virus corona atau Covid-19.

“Awal tahun sudah mulai terlihat minat warga, namun pada bulan 4 melonjak peminatnya,” ujar Hasan saat ditemui di sela-sela aktivitasnya, pekan lalu.

Baca juga: Polisi Syariat Amankan Pesepeda Seksi di Banda Aceh

Selama pandemi Covid-19, kata Hasan, pembeli sepeda meningkat 70 hingga 80 persen. Setiap hari, sepeda di tokonya laku sebanyak 70 hingga 80 unit. Adapun jenis sepeda yang paling diburu adalah sepeda lipat atau folding, trail, dan united.

Sepeda AcehSejumlah sepeda yang dijual di Istana Sepeda, Lueng Bata, Kota Banda Aceh, Aceh, Rabu, 1 Juni 2020. (Foto: Tagar/Muhammad Fadhil)

“Harganya bermacam-macam, paling rendah Rp 2 juta dan paling mahal Rp 10 juta. Kualitasnya tergantung harga, semakin mahal semakin bagus,” tutur Hasan.

Awal tahun sudah mulai terlihat minat warga, namun pada bulan 4 melonjak peminatnya.

Menurut Hasan, sepeda di toko tersebut dipasok langsung dari Jakarta. Namun, bahan bakunya didatangkan dari luar negeri. Selama Covid-19, bisnis sepeda di Indonesia sempat terganggu bahkan mengalami lonjakan harga dari biasanya.

“Susah sekarang dapat barang, karena bahannya dari luar negeri, dibuat di Jakarta, sehingga kami beli di Jakarta. Bulan ini saja dua kali naik harga sepeda. Mungkin karena Covid-19,” ucap Hasan.

Dia menambahkan, pada Senin-Kamis penjualan sepeda di toko ia bekerja sedikit sepi. Tetapi, pada saat akhir pekan seperti Jumat, Sabtu dan Minggu penjualan meningkat drastis.

“Akhir pekan selalu ramai, dan pembelinya berasal dari berbagai kalangan,” kata Hasan.

Bersepeda Olahraga Paling Aman

Pengurus Provinsi (Pengprov) Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) Aceh mengapresiasi atas meningkatnya minat warga di Tanah Rencong, terutama Kota Banda Aceh yang menggunakan sepeda.

Ketua ISSI Aceh, Darwati A Gani mengatakan, tren bersepeda di era pandemi Covid-19 bukan hanya di Aceh, tetapi di seluruh Indonesia. Menurutnya, peningkatan ini karena bersepeda sudah menjadi olahraga outdoor paling aman.

“Tentu kami melihat ini adalah hal yang sangat baik, ikut membuat salah satu tugas kami sebagai ketua ISSI yaitu memasyarakatkan olahraga sepeda itu berhasil, selain tugas utama kami untuk meningkatkan prestasi olahraga balap sepeda,” ujar Darwati pada Tagar, Jumat, 10 Juli 2020.

Ia berharap kepada seluruh pesepeda di Aceh untuk berhati-hati, terutama saat melintasi jalan raya yang rawan kecelakaan lalu lintas. Karena itu, para pesepeda diminta menggunakan jalur yang benar, yakni sebelah kiri.

“Sangat disaranakan bersepeda di jalur yang benar, tidak bergerombol di jalan raya, mentaati aturan lalu lintas,” tutur Darwati.

Pesepeda AcehPesepeda melewati salah satu ruas jalan di kawasan Ulee Lheue, Kota Banda Aceh, Aceh, Sabtu, 4 Juli 2020 pagi. (Foto: Tagar/Muhammad Fadhil)

Para pesepeda, kata Darwati, juga memakai alat pelindung seperti helm, sepatu, dan lain-lain. Karena kondisi sedang pandemi Covid-19, para sepeda juga diminta menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus.

“Walau saat berolahraga tidak disarankan menggunakan masker, tetapi saat istirahat atau berhenti, selalu gunakan masker, jaga jarak, dan selalu gunakan handsanitizer,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Darwati juga mengingatkan kepada para pesepeda untuk memakai pakaian yang sopan saat mendayung sepeda, baik laki-laki maupun perempuan. Apalagi, Aceh adalah daerah yang menjalankan syariat Islam.

“Aceh adalah daerah yang menjalankan syariat Islam, bersepeda di Aceh juga harus mengikuti aturan-aturan, bersepeda yang benar itu sudah pasti juga dianjurkan syariah, menjaga sopan santun, termasuk santun dalam berpakaian,” ujarnya. []

Baca cerita menarik lainnya: 

Berita terkait
Satu Keluarga Asal Sumut Masuk Islam di Aceh
Satu keluarga di Aceh Selatan, Aceh resmi memeluk agama Islam setelah mengucap dua kalimat syahadat.
Puluhan Pasangan Gay di Aceh Terjangkit HIV/AIDS
YPAP Aceh mencatat terdapat sekitar 300 kalangan gay atau pecinta hubungan sesama jenis dengan laki-laki di Aceh.
ISSI Aceh: Hormati Syariat Islam Saat Bersepeda
Ketua ISSI Aceh, Darwati A Gani menyesalkan penampilan para perempuan saat berolahraga sepeda tidak menghargai pemberlakuan Syariat Islam di Aceh.
0
Menengok Gaya Bersepeda di Negeri Syariat Islam
Mengatur formasi sambil berdayung sepeda, mereka tampak semangat hingga berkeringat menyusuri ruas jalan Kota Banda Aceh di tengah pandemi corona.