Rajah Seumapa, Mantra Pengobatan Anak di Aceh

Warga Aceh Barat Daya memiliki mantra pengobatan yang disebut rajah seumapa. Rajah ini biasanya digunakan untuk mengobati anak kecil
Anak-anak di Aceh mandi di saluran irigasi terkadang tidak ingat waktu. Saking asiknya mereka main hingga waktu Magrib. Hal ini rentan membuat mereka jatuh sakit atau panas tiba-tiba saat malam karena seumapa. (Foto: Tagar/Syamsu Rizal)

Aceh Barat Daya – Beberapa bocah mendekatkan daun telinganya pada dinding rumah keluarga kecil di Blangpidie Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Mereka ingin menguping apa yang terjadi di dalam rumah keluarga itu.

Suara pertengkaran yang sedikit ribut terdengar dari dalam rumah, senja itu, sesaat setelah waktu Magrib, Minggu 28 Juni 2020. Suara jangkrik sesekali menimpali pembicaraan sepasang suami istri di dalam rumah itu.

Bocah-bocah yang masih mencoba menguping di luar rumah semakin ingin tahu pembicaraan ibu dan ayah dari temannya.

Tiba-tiba pintu rumah itu dibuka. Seorang pria dewasa keluar dari dalam rumah, membuat para bocah terkaget dan sedikit menjauh sambil menanyakan keberadaan Sarah, teman main mereka.

Sarah adalah anak perempuan dari pria muda itu. Dia tampak digendong oleh ibunya, Sri Rahayuni, menyusul Wahyu keluar dari rumah.

“Sarah lagi sakit, dia mau kerumah neneknya dulu untuk Rajah Seumapa,” kata Wahyu, pria itu.

Sesaat kemudian suara knalpot sepeda motor matik terdengar, seiring perginya Wahyu bersama Sarah dan Sri Rahayuni.

Mereka pergi menuju kediaman Rumiah, seorang perempuan tua yang dikenal memiliki ilmu rajah Seumapa di kampung itu.

Rajah Seumapa Obati Sakit Anak

Rajah Seumapa adalah semacam ilmu pengobatan tradisional Aceh. Ilmu ini diajarkan oleh orang orang tua zaman dahulu untuk mengobati anak-anak yang dipercaya terkena gangguan makhluk tak kasat mata.

Biasanya setelah diobati dengan rajah seumapa, anak yang rewel atau terkena gangguan langsung sembuh.

Untuk mempraktekkan pengobatan dengan rajah seumapa, dibutuhkan bahan-bahan alami, yakni kunyit. Tetapi kunyit yang digunakan bukan sembarang kunyit, melainkan kunyit lurus atau tidak bercabang.

Tangan kanan Rumiah terlihat menggenggam sebilah pisau, sementara tangan kirinya merenggam dua potong kunyit. Tulang jemari yang diselimuti kulit keriput itu mulai memotong kunyit menjadi ukuran kecil, sekitar satu sentimeter, kemudian dia memotongnya berbentuk dadu.

Cerita Rajah Seumapa 2Kunyit yang digunakan untuk prosesi pengobatan dengan rajah seumapa tidak boleh bercabang. Foto: (Tagar/Syamsu Rizal)

Wajah Wahyu dan Sri yang duduk tepat didepan Rumiah tampak panik. Keduanya fokus melihat yang dilakukan oleh wanita tua ini. Sementara si bocah imut, terlihat begitu nyaman tidur di pelukan sang ibu. Dia bahkan tidak sadar sudah berada di rumah lain malam itu.

Rumiah mengambil beberapa kunyit yang sudah dipotong-potong, kemudian meremasnya hingga cairan sari pati kunyit yang berwarna jingga meleleh keluar. Bibir Rumiah komat-kamit seperti melafalkan mantra, tapi tidak terdengar apa yang dia baca.

Kunyit yang dipegangnya kemudian dijatuhkan ke atas sapu tangan yang sudah dibentangkan di lantai. Dia melakukannya hingga beberapa kali.

Sesudah itu Rumiah memilih beberapa potong kunyit dan mengolesnya dengan sedikit kapur.

Selanjutnya dia mengoleskan potongan kunyit bercampur kapur itu ke kening, tangan, tubuh, jemari, dan ujung kaki si bocah.

Kajeut jak keudeh, kepeu ta marib-marib ngon aneuk mit, kalon-kalon mantong (Sudah pergi sana, buat apa ngomong-ngomong sama anak kecil, lihat-lihat saja),” kata Rumiah saat tangannya menggores kunyit di bagian tubuh si anak.

Pengolesan kunyit ke beberapa bagian tubuh pasien merupakan tahap akhir dari proses pengobatan dengan rajah seumapa.

Kepada Tagar, Rumiah mengaku bahwa rajah seumapa merupakan pengobatan yang sudah turun-temurun di Aceh.

Pengobatan ini dilakukan dengan membaca mantra tertentu baik berupa Ayat Al-quran (Ruqyah) maupun bacaan-bacaan seperti bunyi orang membaca Syair. Kunyit menjadi media yang digunakan untuk Rajah Seumapa, meski terkadang ada juga benda lain yang digunakan, seperti air.

Tujuannya untuk mengobati orang yang diganggu mahluk gaib atau orang yang dihantui ketakutan.

Rumiah menjelaskan, kunyit yang digunakan untuk rajah seumapa harus kunyit yang tidak bercabang. Tapi dia mengaku tidak mengetahui alasan pastinya, sebab dia hanya meneruskan ajaran yang diberikan oleh pendahulunya.

“Saya lupa menanyakan hal itu, yang dia ajarkan begini dan ini saya praktekkan sekarang,” terangnya.

Waktu-waktu Rawan Anak Diganggu

Rumiah menambahkan, anak-anak sangat mudah terkena seumapa jika masih berada ditempat-tempat tertentu pada waktu menjelang Magrib, misalnya masih mandi di sungai atau irigasi.

Mereka juga rawan terkena seumapa jika masih asyik bermain saat hujan rintik-rintik dan ketawa riang saat berada di tempat-tempat seperti laut, saluran irigasi, rawa dan beberapa tempat lainnya.

"Bisa saja itu karena keluarga si anak yang sudah tiada berkomunikasi dengannya atau menegur untuk pulang," ujar Rumiah berwajah serius.

Alasan itu juga yang disebutnya menjadi alasan kenapa orang tua di Aceh melarang anak-anaknya bermain di luar saat menjelang Magrib. Biasanya seorang ibu akan mencari anaknya saat menjelang Magrib. Mereka disuruh pulang dan mengaji.

"Contohnya itu, Magrib anak harus pulang untuk pergi ngaji, ada juga yang menakuti anak yang masih bandel dengan hantu Geunteut," kata Rumiah.

Tiba-tiba suara azan Isya terdengar saat Rumiah masih menjelaskan tentang rajah seumapa. Rumiah terdiam saat mendengar suara azan, kemudian meminta izin untuk melaksanakan salat Isya berjamaah di musala yang terletak tidak jauh dari kediamannya.

Tagar meninggalkan kediaman Rumiah, dan kembali ke rumah Wahyu. Beberapa bocah yang tadi bermain di sekitar rumah Wahyu masih terlihat berkumpul di situ. Mereka masih asyik bermain di halaman rumah, berlari-lari sambil tertawa di jalan desa yang keras.

Sepasang suami istri tetangga Wahyu duduk di bangku depan rumah sambil memerhatikan gerak-gerik anak mereka. Kalimat-kalimat melarang sesekali terlontar dari keduanya kala permainan membahayakan mulai dilakukan, seperti melempar mendorong dan beberapa hal lain yang dinilai dapat mencederai kawan main.

Di sisi lain, Wahyu terlihat sudah duduk santai ditemamni segelas kopi. Sebungkus rokok beserta korek api tergeletak di atas meja kecil depan rumahnya. Wajahnya tidak tegang seperti sebelumnya.

”Alhamdulilah sudah lumanyan turun panasnya,” kata Wahyu seraya mempersilahkan duduk dan menawarkan segelas kopi.

Wahyu mengaku panik saat anaknya tiba-tiba panas tinggi. Sebab sebelumnya mereka baru saja jalan-jalan di pantai laut di Kecamatan Susoh. Tetapi setibanya di rumah, saat masuk waktu Magrib sang anak terlihat sakit dan badannya panas tinggi.

"Istri dan saya panik, kami ada sedikit cek-cok sebab saya mengusul untuk di Rajah Seumapa dulu jangan sedikit-sedikit kasih obat. Istri akhirnya ikut dan kami bawa ke rumah nek Rumiah," kata Wahyu mulai bercerita.

Menurut Wahyu, Rajah Seumapa adalah salah satu cara yang sangat dikenal warga Aceh. Pengobatan ini berbentuk spiritual dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu saja. Begitu juga dengan kesembuhan, tidak juga semua anak dapat sembuh meski sudah di Rajah Seumapa.

"Rajah Seumapa ini sudah sejak zaman dulu ada di Aceh, saya waktu kecil juga pernah dibawa untuk begini. Kalau sembuh tentu tidak semua sembuh, tapi warga Aceh percaya akan pengobatan seperti ini," ujar Wahyu seraya meneguk kopi hitam.

Beberapa menit kemudian, Sri keluar bersama Sarah yang sudah bangun. Suhu badan Sarah sudah tidak sepanas tadi. Bocah ini mulai tersenyum dan bergerak sambil malu-malu keluar rumah untuk bergabung dengan kawan-kawannya di halaman rumah. Dia sudah sembuh dari panas tinggi, badannya sudah segar dan lincah kembali.

Sri mengaku Rumiah sempat memberitahukannya tentang arwah leluhurnya yang mengganggu Sarah. Arwah itu berkomunikasi dengan anaknya untuk menasehati agar bergegas pulang sebab waktu itu sudah masuk Magrib.

"Dibilang Nek Rumiah, nenek Sarah bicara padanya," kata Sri, mengulang apa yang disampaikan Rumiah padanya tadi. []


Baca juga: 

Kisah Badut Jalanan Berhati Mulia di Yogyakarta

Cerita di Ponpes Disabilitas Pertama di Banyuwangi

Berita terkait
Cerita Seram Penghuni Gaib Asrama Kalokko Bantaeng
Kesaksian orang-orang yang tinggal di sekitar bekas asrama tentara zaman Belanda, Asrama Kalokko di Bantaeng, Sulawesi Selatan.
Pernikahan di Tepi Sawah dengan Protokol New Normal
Dua mempelai itu menjalani prosesi pernikahan di tepi sawah di Sleman, Yogyakarta. Acara digelar dengan menerapkan protokol new normal.
Kisah Perakit Bom Bali Kelahiran Kulon Progo
Berbagi kisah tentang sosok peracik Bom Bali I. Dia adalah Jack Harun, pria kelahiran Kulon Progo, Yogyakarta. Bagaimana kisahnya?
0
Mengenal Efek Samping Kebanyakan Minuman Berenergi
Mengenal efek samping minuman berenergi yang di dalamnya terdapat kafein dan lebih banyak gula serta bahan lainnya jika dikonsumsi terlalu banyak.