UNTUK INDONESIA
Siang di Kampong Kopi Bawakaraeng Gowa
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam dari Kota Makassar dengan kondisi jalan mulus, kami tiba di Kampong Kopi Bawakaraeng di Gowa.
Pengelola Kampong Kopi Bawakaraeng, Awaluddin, di Kampong Kopi Bawakaraeng, Selasa, 11 Desember 2019. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah)

Makassar - Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam dari Kota Makassar dengan kondisi jalan yang mulus, kami tiba di lokasi Kampong Kopi Bawakaraeng di Jalan Dusun Bilayya, Desa Pallantikang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Posisi berada di atas perbukitan yang cukup menanjak, dan jika mengunjungi tempat ini saat kondisi hujan agar lebih berhati-hati.

Sampai di lokasi, Selasa, 11 Desember 2019, disambut rintik hujan yang membuat cuaca di atas perbukitan itu menjadi lebih sejuk. Kesan pertama menginjakkan kaki di tempat ini adalah pohon-pohon hijau baru saja tumbuh, dan beberapa tumbuhan dengan bunga warna-warni.

Kampong Kopi Bawakaraeng sangat pas dijadikan pilihan liburan akhir pekan untuk menghilangkan penat dari rutinitas perkotaan.

Awalnya Kampong Kopi Bawakaraeng ini dibuat untuk mempertemukan pelaku yang bermain di industri kopi, dari petani hingga mereka yang memiliki kedai kopi.

Kampong Kopi Bawakaraeng GowaNikmatnya kopi Bawakaraeng bercitarasa palm sugar di Kampong Kopi Bawakaraeng, Selasa, 11 Desember 2019. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah)

Sesuai namanya, sebagai wisata edukasi, Kampong Kopi Bawakaraeng tidak sekadar dikunjungi untuk menikmati pemandangan alam, melihat Gunung Bawakareang dari kejauhan saja. Di lokasi ini kita juga bisa mendapatkan ilmu tentang bisnis industri kopi.

Di lokasi ini, bagaimana menghasilkan kopi yang nikmat bisa dilihat prosesnya, mulai dari penjemuran hingga roasting menjadi kopi dalam secangkir kopi.

Pengelola Kampong Kopi Bawakaraeng, Awaluddin akrab disapa Awal, mengatakan tempat wisata yang berdiri di atas lahan dua hektare ini dikerjakan selama dua tahun, mulai 2017 dan diresmikan pada pertengahan 2019.

Awal mengenang pada awalnya tempat ini didirikan karena dorongan untuk memperkenalkan varian kopi Bawakaraeng, dan mempertemukan antara petani kopi dan pelaku industri kopi.

Kampong Bawakaraeng GowaSeorang barista di kedai kopi Kampong Bawakaraeng Gowa, mempersiapakan kopi untuk pelanggan, Selasa, 11 Desember 2019. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah)

“Awalnya lokasi Kampong Kopi Bawakaraeng ini dibuat untuk mempertemukan pelaku yang bermain di industri kopi, dari petani hingga mereka yang memiliki kedai kopi. Tapi setelah dikembangkan, Kampong Kopi Bawakaraeng cakupannya lebih luas dan lebih terbuka secara umum,” tutur Awal. Pria ini berlatar pendidikan Sarjana Pertanian dari Universitas Muslim Indonesia, lulus 1998.

Ia yang hobi mengenakan topi ini menambahkan, tempat yang dikelolanya ini berada di tempat terpencil, perkembangannya sungguh menggembirkan, banyak orang datang untuk belajar tentang industri kopi, dan melakukan workshop.

Pengembangan Kopi Lokal

Kampong Kopi Bawakaraeng dikelola dalam naungan Yayasan Pensa Agromandiri bekerja sama dengan Kementerian dalam Negeri dan Ford Foundation. Yayasan ini beberapa tahun terakhir membuat gebrakan dan inovosi pemberdayaan petani kopi di lima Kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan.

Yapensa di-support Ford Foundation memulai program pendampingan mengarah pada pemberdayaan masyarakat sejak 2013.

Kampong Kopi Bawakaraeng GowaPengelola Kampong Kopi Bawakaraeng, Awaluddin, di Kampong Kopi Bawakaraeng, Selasa, 11 Desember 2019. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah)

“Suplai kopi saat ini tengah menurun, sementara konsumsi meningkat, saya sangat berterima kasih atas kehadiran Ford foundation. Saya berharap Ford Foundation bisa men-support dari hulu ke hilir,” kata Awal menirukan ucapan Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah saat meresmikan Kampong Kopi Bawakaraeng pada Juni 2019.

Pada saat itu, kata Awal, dalam sambutan Nurdin Abdullah juga menyebutkan minat generasi muda untuk menjadi petani makin menurun. Ia berharap Kampong Kopi Bawakaraeng bisa memacu minat generasi muda untuk menjadi petani sukses dengan teknologi maju.

“Inisiasi program kopi Bawakaraeng ini lahir karena selama ini potensi kopi perkebunan hanya melirik daerah utara saja, sedangkan daerah selatan jarang dilirik, padahal kualitas kopi di sini juga sangat bagus,” ujar Awal.

Awal menambahkan, Kabupaten Gowa memiliki potensi pengembangan kopi utamanya di Bawakaraeng. Yapensa Global Mandiri sendiri telah mengambangkan budi daya kopi di kawasan Sulawesi Selatan dalam tiga tahun belakangan ini.

Sebagai langkah dalam mengembangkan produk pertanian kopi di wilayah Kabupaten Gowa, pihaknya telah melakukan pembinaan secara intensif kepada para petani.

Kampong Kopi Bawakaraeng GowaKopi Bawakaraeng diseduh dengan teknik single origin di Kampong Kopi Bawakaraeng, Selasa, 11 Desember 2019. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah)

"Edukasi itu berupa bagaimana cara menghasilkan kopi hingga cara mengolah kopi dengan standar pasar. Sehingga produksi kopi yang dihasilkan mampu dilirik konsumen hingga produsen," ujar Awal yang juga master bidang pertanian itu.

Mencicipi Kopi Arabika Bawakareang

Setelah berkeliling melihat proses penjemuran, pengeringan, hingga proses rasting, Awal mengajak untuk mengunjungi spot kedai kopi yang letaknya berada di posisi paling atas, bersebelahan dengan musala. Kedai kopi yang terdapat di Wisata Edukasi ini terbilang cukup unik, karena keseluruhan bangunan dibuat dengan batang pohon.

Lokasi kedai kopi dari arah parkiran kendaraan berjarak sekitar kurang dari 100 meter dan untuk menuju ke tempat ini, dengan cara berjalan kaki dengan medan menanjak dengan kemiringan sekitar 45 derajat.

Begitu sampai di kedai kopi milik Awal, suara mesin grinder kopi langsung menyambut. Meski terdengar berisik, namun suara yang timbul saat mesin grinder itu bersuara menjadi ciri khas tersendiri, penanda kopi masih dalam kondisi bagus.

Kampong Kopi Bawakaraeng GowaTanaman anggrek di Kampong Kopi Bawakaraeng di Jalan Dusun Bilayya, Desa Pallantikang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, Selasa, 11 Desember 2019. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah)

Di kedai ini, ada dua opsi tempat untuk menikmati kopi, pertama jika ingin menikmati suasana dalam ruangan, pemandangannya adalah kayu dengan poster menampilkan berbagai jenis kopi. Sementara jika ingin menikmati area luar, pengunjung dapat pemandangan hijau dan pegunungan.

Saat mesin grinder selesai bekerja, kopi yang sudah halus langsung dikeluarkan dan ditakar sesuai pesanan pengunjung. Begitu kopi keluar dari mesin grinder, aroma khasnya langsung menyeruak hingga keluar kedai.

Awaluddin mengatakan, kopi yang disajikan di kedai ini hanya ada satu macam, yakni kopi arabika Bawakaraeng. Jenis kopi ini dikembangkan petani dekat Gunung Bawakaraeng dengan ciri rasa berbeda dari kopi Toraja yang sudah terkenal itu.

Kampong Kopi Bawakaraeng GowaPatung monyet dari bahan dasar jagung segar di Kampong Kopi Bawakaraeng, Selasa, 11 Desember 2019. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah)

Awal mengatakan kopi Bawakaraeng jenisnya arabika, dominan rasa asam. "Tapi untuk kopi Bawakaraeng ini meski asam tapi tidak terlalu juga, bahkan kopi Bawakaraeng masuk dalam spesialis tea.

“Citarasanya dari kopi Arabika ini juga cukup unik, karena aromanya dominan ke palm sugar karena sebelum kopi ini ditanam di lokasi ini, sebelumnya banyak petani menanam pohon palm sugar di area tempatnya menanam kopi saat ini,” kata Awal.

Burhanuddin, seorang pengunjung di Kampong Kopi Bawakaraeng mengatakan lokasi ini sangat cocok untuk menikmati akhir pekan, suasananya asri, dan kopi yang disajikan enak.

“Cita rasa kopi Bawakaraeng ini baru pertama kali saya nikmati. Kesan pertama saya saat mencoba, enak, rasa pahitnya tidak terasa,” ujar pria penikmat kopi susu itu.

Kampong Kopi BawakaraengSeorang pengunjung berpose dengan latar tulisan kampong anggrek di Kampong Kopi Bawakaraeng, Selasa, 11 Desember 2019. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah)

Anggrek dan Patung Jagung

Setelah puas menikmati kopi di kedai Kampong Kopi Bawakaraeng, pengunjung bisa juga singgah di area pengembangan bunga anggrek yang jenisnya beragam. Di sini pihak pengelola rutin melakukan kawin silang antaranggrek.

Dan sebelum pulang, saat baru datang juga bisa, jangan lupa berswafoto dengan latar patung monyet terbuat dari jagung yang sama sekali tidak diawetkan.

“Tadi saya lihat setelah foto di patung jagung, saya perhatikan beberapa biji jagung sudah dalam bentuk tunas, mungkin tidak lama lagi bisa dikembangkan,” kata Nurfadillah, seorang pengunjung.

Kalau mau menikmati suasana malam di Kampong Kopi Bawakaraeng, pengunjung harus membawa tenda sendiri, karena di sini belum ada penginapan. []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Siapa Orang Jawa Pertama Pakai Blangkon?
Blangkon, tutup kepala dibuat dari batik digunakan kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. Siapa orang Jawa pertama pakai blangkon?
Saat Banjir Hantam Rumahku di Kemang Pratama Bekasi
Rudi Andono menceritakan situasi, detik-detik mencekam saat air banjir menghantam rumahnya di Kemang Pratama Bekasi hingga ia dan keluarga terusir.
Perjalanan Penuh Misteri Sang Pengendara di Bantaeng
Cakir, seorang petualang di Bantaeng. Ia suka melakukan perjalanan jauh dengan motor. Perjalanan yang diliputi pengalaman-pengalaman ganjil.
0
Dzulmi Eldin Segera Diadili di PN Tipikor Medan
Kasus Wali Kota Medan nonaktif Dzulmi Eldin segera disidangkan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.