UNTUK INDONESIA
Remaja Klitih di Yogyakarta Itu Ternyata Anak Manis
Saya percaya ia tidak pernah melakukan klitih. Anak saya jujur, manis. Ujar orang tua dari satu di antara enam anak ditangkap polisi di Yogyakarta.
Enam anak diduga klitih mendapat pembinaan rohani di Kepolisian Resor Kota Yogyakarta. (Foto: Dok Humas Polresta Yogya/Tagar/Evi Nur Afiah)

Yogyakarta - Aksi kekerasan jalanan di Yogyakarta yang marak disebut klitih, bukan hanya menimbulkan keresahan, tetapi juga memunculkan kisah yang menggemaskan sekaligus menyebalkan pada seorang pelajar, Joko (bukan nama sebenarnya), 17 tahun.

Joko sudah dua kali berurusan dengan petugas kepolisian akibat dugaan melakukan klitih. Yang pertama, dia diamankan pada 2018 bersama 20 temannya.

Saat itu Joko dan teman-temannya sedang berkumpul dan iseng mencoret-coret dinding rumah salah satu temannya. Tiba-tiba beberapa personel kepolisian datang dan membawa mereka semua ke Markas Kepolisian Resor Bantul.

Setelah dilakukan pemeriksaan, Joko dan teman-temannya diperbolehkan pulang karena tidak terbukti melakukan aksi klitih maupun aksi kriminal lainnya.

Setelah kejadian itu, Joko beberapa kali terkena razia kepolisian terkait kejahatan jalanan. Kasus terakhir dialaminya pada Sabtu, 2 Februari 2020. Ia dan lima temannya terjaring razia kepolisian pada pukul 03.00 WIB.

Penjelasan dan pembelaan yang disampaikan Joko bahwa dia bukan pelaku klitih, diabaikan polisi. Bahkan orang tuanya pun dipanggil ke Mapolresta Yogyakarta, dan Joko bersama kelima rekannya harus tinggal di Mapolresta Yogyakarta untuk diberi pembinaan rohani.

Joko mengakui, dirinya belum bisa meninggalkan kebiasaan keluyuran tengah malam bersama teman-temannya, meski ia tidak melakukan aksi kriminalitas. Kebiasaan itulah yang kemudian membuat polisi terpaksa menangkapnya.

Saya percaya dia tidak pernah melakukan klitih. Anak saya jujur. Kalau di rumah itu dia manis.

Anak KlitihSeorang anak klitih mendapat hadiah kopiah dari Kapolresta Yogyakarta Komisaris Besar Armaini. Setelah menjalani masa pembinaan, anak-anak dikembalikan kepada orang tua. (Foto: Dok Humas Polresta Yogya/Tagar/Evi Nur Afiah)

Nongkrong di Angkringan

Sebelum ditangkap polisi pada malam itu, Joko bersama lima temannya, Cahyo, Adi, Doyok, dan Dani (semua bukan nama sebenarnya), nongkrong di salah satu warung angkringan milik rekannya, Appi (nama samaran), di daerah Gedongtengen, Yogyakarta.

Karena malam semakin larut, Joko pun memutuskan untuk bermalam di rumah Appi. Demikian pula keempat temannya. Mereka sama-sama akan menginap di situ.

Namun menjelang dini hari, tiba-tiba Doyok menerima telepon, yang menurut Doyok dari orang tuanya. Kata Doyok, orang tuanya menyuruh dia pulang.

Mengetahui hal itu, Joko, Appi dan Dani sepakat mengantarkan Doyok pulang, karena rumahnya tidak jauh dari situ, yakni di daerah Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, yang jaraknya hanya beberapa kilometer.

Mereka berboncengan menggunakan dua sepeda motor. Sementara Cahyo dan Adi menunggu di situ.

Sesampainya mereka di sekitar Pasar Ngasem, keempatnya bertemu petugas patroli dari Kepolisian Resor Kota Yogyakarta yang sedang melintas.

Joko mengaku perasaannya biasa saja saat bertemu para petugas, karena ia merasa tidak berbuat salah atau melakukan aksi kriminal. Tapi, Appi dan Dani yang mengendarai motor lain, justru panik dan ketakutan.

"Mereka sempat bilang petal (pisah) dengan nada keras. Terus akhirnya kami pisah di dekat Pasar Ngasem. Satunya ke kiri, aku sama Doyok ke kanan. Kemudian petugas patroli mengejar dan kami menyerahkan diri," kata Joko saat ditemui Tagar di rumahnya, Selasa, 11 Februari 2020.

Keduanya diinterogasi di lokasi. Polisi menduga mereka akan melakukan aksi klitih, padahal Joko dan teman-temannya sama sekali tidak membawa senjata tajam, yang biasanya dibawa para pelaku klitih.

Seandainya saat itu kedua temannya yang lain tidak mengajak berpisah atau berpencar, Joko menduga polisi justru tidak akan curiga dan mengejar mereka.

"Dikiranya mau ngelitih, terus dibawa ke Polresta Yogyakarta. Sementara Doyok diminta menunjukkan di mana teman-temannya yang lain," kata Joko.

Ternyata saat Joko dan Doyok ditangkap polisi, Appi dan Dani sudah kembali ke angkringan semula. Sehingga dengan mudah kelima remaja itu ditangkap di satu lokasi.

Namun, meskipun mereka bergerombol, Joko membantah bahwa mereka terlibat kejahatan jalanan atau bergabung dalam geng remaja.

"Aku enggak terlibat geng remaja. Aku juga bukan pelaku klitih. Belum ada sejarah berbuat kriminalitas yang belakangan ini disebut-sebut klitih," katanya.

Meski Joko mengaku kesal dan gemas atas kejadian itu, tapi ia mengatakan setelah mendapat pembinaan di Mapolresta Yogyakarta, ia memperoleh pengalaman berharga. Mulai dari kebutuhan jasmani dan rohaninya.

Apalagi, sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, Joko sudah jarang mengaji apalagi melakukan olahraga fisik. Sehingga setelah pembinaan itu, ia merasa kehidupannya yang dulu perlahan kembali.

"Mau belajar berubah jadi lebih baik lagi. Nurut sama ibu juga," katanya.

Anak KlitihSeorang anak diduga klitih, menyalami Kapolresta Yogyakarta Komisaris Besar Armaini. (Foto: Dok Humas Polresta Yogya/Tagar/Evi Nur Afiah)

Joko Anak Manis

Pernyataan Joko yang menyebut ia tidak pernah melakukan aksi klitih, dibenarkan ibu kandungnya, Eni, 48 tahun.

Kata Eni, Joko adalah anak yang manis, jika saja dia pandai dalam bergaul dan memilih teman. Hanya saja, sikap Joko kadang berubah setelah berkumpul dengan teman-temannya.

Ibu rumah tangga yang membuka salon kecantikan di rumahnya itu, membenarkan Joko sudah beberapa kali bersinggungan dengan pihak kepolisian.

Tapi, Eni membantah Joko terlibat aksi kejahatan. Bahkan Joko pernah menjadi korban tabrak lari yang mengakibatkan tulang hidungnya patah.

"Saya percaya dia tidak pernah melakukan klitih. Anak saya jujur. Kalau di rumah itu dia manis," katanya.

Terkait aksi kenakalan yang dilakukan para remaja, Eni meyakini itu merupakan pengaruh lingkungan, bukan pengaruh dari tempat mereka sekolah. Sehingga sebagai orang tua, ia tidak melarang anaknya sekolah di mana saja.

"Semua sekolah itu baik, yang menakutkan itu lingkungannya," katanya.

Selain peran negatif lingkungan, hal yang perlu diperhatikan menurutnya adalah pengawasan orang tua pada anak-anak. 

Eni terkejut saat mengetahui anaknya ditangkap polisi. Pada sore hari sebelum Joko pergi, ia sudah memberi izin dan berpesan agar Joko mengurangi kebiasaan kelayapan.

Anak KlitihAnak diduga klitih, mendapat hadiah Alquran saat menjalani pembinaan di Kapolresta Yogyakarta. (Foto: Dok Humas Polresta Yogya/Tagar/Evi Nur Afiah)

Kenang-kenangan dari Polisi

Kepala Kepolisian Resor Kota Yogyakarta Komisaris Besar Armaini berpesan kepada orang tua anak-anak yang ditangkap, agar selalu peduli pada mereka, terutama dalam pergaulan, karena anak merupakan penerus bangsa.

Saat menyerahkan kembali anak-anak itu kepada orang tuanya, Armaini juga berpesan kepada para remaja itu untuk taat dan patuh terhadap agama dan orang tua, sebagai bekal mewujudkan cita-cita

Ia juga memberikan kenang-kenangan kepada keenam anak tersebut, berupa kopiah dan Alquran. Armaini meminta mereka rajin membaca dan mempergunakan kenang-kenangan yang diberikan.

Kepala Sub Bagian Humas Polresta Yogyakarta Ajun Komisaris Sartono mengatakan anak-anak yang dibina adalah mereka yang ditangkap petugas patroli Kegiatan Rutin yang Ditingkatkan (KRYD).

"Yang cukup bukti pidana akan diproses. Yang tidak, akan dikasih pembinaan fisik dan rohani," kata Sartono

Menurutnya anak yang nongkrong melebihi waktu atau sampai dini hari juga akan diperiksa dan diberi pembinaan. Apalagi jika mereka kedapatan membawa senjata tajam.

Selama pembinaan berlangsung, anak-anak itu belajar cara berwudu yang benar. Pihak Polresta Yogyakarta juga menghadirkan guru mengaji untuk membimbing mereka, termasuk belajar membaca Alquran.

Selain kegiatan rohani, mereka juga mendapat bimbingan kegiatan jasmani, yaitu latihan kebugaran atau latihan fisik bersama-sama petugas kepolisian.

"Mereka dilibatkan bersama komunitas Malioboro untuk peduli terhadap lingkungan. Mereka memunguti sampah-sampah yang berserakan di sepanjang kawasan Malioboro." []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Mantan Preman Jadi Penghapus Tato di Sleman
Prianggono 43 tahun, seorang mantan preman, membuka jasa menghilangkan tato gratis dan mendirikan panti asuhan bernama Daarul Qolbi di Sleman.
Enam Susun Eksotisme Grojokan Watu Purbo di Sleman
Matahari dan awan kelabu seperti berlomba menunjukkan eksistensinya di Desa Bangunrejo, Merdikorejo, Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman siang itu.
Kisah Inspiratif 2 Jurnalis Yogyakarta
Dua jurnalis inspiratif di Yogyakarta, Hendy Kurniawan dan Boy T Harjanto. Apa yang mereka lakukan untuk kehidupan mengundang rasa haru.
0
Paradoks Slogan KPK Tidak Berani Geledah Kantor PDIP
Koordinator MAKI Boyamin Saiman mencela slogan KPK. Firli Bahuri Cs hingga saat ini belum menggeledah kantor PDIP dan Hasto Kristiyanto.