UNTUK INDONESIA
Kisah Inspiratif 2 Jurnalis Yogyakarta
Dua jurnalis inspiratif di Yogyakarta, Hendy Kurniawan dan Boy T Harjanto. Apa yang mereka lakukan untuk kehidupan mengundang rasa haru.
Jurnalis foto, Boy T Harjanto, membuat photobook tentang erupsi Gunung Merapi, dan mendonasikan hasil penjualan pada warga terdampak erupsi. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta - Jurnalis bukan hanya bisa menyampaikan berita pada pembaca, tetapi juga menginspirasi dan mengedukasi masyarakat. Dua jurnalis di Yogyakarta telah membuktikan hal itu, yakni Hendy Kurniawan dan Boy T Harjanto.

Sore itu, Sabtu, 8 Februari 2020, rintik gerimis membasahi tanah dan dedaunan di sebagian wilayah Yogyakarta. Mendung seperti kapas-kapas raksasa berwarna kelabu, menutupi langit di atas Dusun Pajangan, Pandowoharjo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman.

Di halaman salah satu rumah, dua unit mobil Volks Wagon (VW) Combi, terparkir. Sementara di teras, pemilik rumah itu, Hendy, duduk sambil memainkan ponsel. Rambutnya yang gondrong hingga ke punggung, diikat ke belakang.

Kesan sangar dari kumis dan cambangnya yang cukup tebal, langsung hilang saat dia menyapa. Jabatan tangannya erat bersahabat. Bibirnya menyunggingkan senyum.

Sore itu Hendy tampil santai dengan kaus oblong berwarna hitam dan celana pendek. Seplastik tembakau rasa mint dan dua bungkus papir (kertas rokok), tergeletak di meja.

Sambil mengisahkan awal mula pembuatan perpustakaan Aksara Bergerak miliknya, jemari Hendy lincah menata tembakau pada papir. Sesekali telunjuknya mengatur tembakau agar mudah dilinting. Lalu, dengan telunjuk dan jempol kedua tangannya, ia menggulung tembakau itu menjadi rokok berbentuk seperti terompet.

Biasanya yang datang meminjam buku, anak-anak sekolah. Mereka datang sepulang sekolah.

Hendy KurniawanHendy Kurniawan menata buku-buku perpustakaan kolesksinya, di rumahnya di Dusun Pajangan, Pandowoharjo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, Sabtu, 8 Februari 2010. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Ia menyulut rokok buatannya, mengisapnya dalam dan mengembuskan asapnya perlahan, sambil menjelaskan ide awal pembentukan perpustakaan itu.

Kata Hendy, awalnya ia cuma merasa sayang jika buku-buku miliknya hanya tersimpan di rumah setelah selesai dibaca. Buku-buku itu akan lebih bermanfaat jika bisa dibaca juga oleh orang lain.

Saat itu, sekitar tahun 2016, Hendy dan istrinya Rahmiani Gumelar, kemudian membuat perpustakaan kecil di rumahnya, dan setiap akhir pekan buku-buku koleksi mereka diboyong ke Lapangan Denggung, Sleman, untuk dipinjamkan, termasuk buku bacaan milik anak mereka, Aksara Adisti.

Hendy tidak memungut bayaran sepeser pun pada para peminjam buku. Ia juga mengaku tidak khawatir bukunya akan hilang atau tidak dikembalikan oleh para peminjamnya.

"Enggak khawatir sih, dan alhamdulillah tidak pernah ada buku yang tidak dikembalikan oleh peminjam," kata Hendy.

Para peminjam buku itu biasanya mengembalikan pada pekan selanjutnya, saat Hendy kembali membuka perpustakaannya di sana. Tapi, saat ini perpustakaan kelilingnya di Lapangan Denggung tidak lagi ada, karena pohon beringin tempat ia biasa membuka perpustakaan, sudah roboh sejak beberapa waktu lalu.

"Sekarang tinggal yang di rumah. Biasanya yang datang meminjam buku, anak-anak sekolah. Mereka datang sepulang sekolah," tutur Hendy.

Koleksi buku perpustakaan Hendy mencapai lebih dari 500 buku, terdiri dari novel, buku sejarah, cerita anak, dan beberapa jenis buku lain, yang 95 persen merupakan milik pribadi. Lima persen lainnya merupakan sumbangan dari rekan-rekan Hendy dan donatur.

Tak jarang Hendy menyarankan pada rekan-rekannya yang ingin menyumbangkan buku untuk membuka sendiri perpustakaan serupa, agar titik perpustakaan di Yogyakarta semakin banyak. Tapi, sebagian mereka mengaku tidak punya waktu untuk itu.

Tujuan membuat perpustakaan itu, menurut Hendy, tidak muluk-muluk. Bukan untuk meningkatkan minat baca atau menjadi pegiat literasi, tapi hanya ingin agar bukunya menjadi lebih bermanfaat.

Bukan hanya mendirikan perpustakaan, istri Hendy juga turut mengedukasi anak-anak dengan memberikan kursus bahasa Inggris gratis.

Boy T Harjanto

Boy T HarjantoJurnalis foto, Boy T Harjanto, membuat photobook tentang erupsi Gunung Merapi, dan mendonasikan hasil penjualan pada warga terdampak erupsi. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Seorang jurnalis lain di Yogyakarta, Boy T Harjanto, juga menginspirasi dengan kegiatan yang dilakukan. Boy membuat buku foto atau photobook berisi foto-foto erupsi Gunung Merapi, kemudian disumbangkan pada warga terdampak erupsi.

Boy sedang bersantai di ruang media kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Daerah Istimewa Yogyakarta, Jalan Malioboro, saat ditemui, Jumat, 7 Februari 2020.

Boy mengisahkan, sebagai jurnalis foto, dirinya sering meliput saat Gunung Merapi erupsi pada 2010. Ia juga mengambil foto sebelum erupsi, termasuk foto tentang kegiatan ritual Labuhan Gunung Merapi yang dipimpin Mbah Marijan, juru kunci di sana.

"Waktu erupsi kan aku banyak liputan di sana. Dari sebelum erupsi, saat erupsi dan pascaerupsi," kenangnya.

Setelah itu, Boy berpikir untuk membuat photo book berisi foto-foto yang telah ia hasilkan dan sudah dipublikasikan di media tempatnya bekerja.

Dia mulai mengumpulkan foto-foto yang pernah dipublikasikan, tepatnya sekitar bulan Juli 2011. Setelah terkumpul, ia memberanikan diri untuk menyusun sendiri, layout dan tata letaknya sendiri.

"Bulan Desember 2011 buku itu sudah jadi dan ter-publish. Publish pertama di desa sekitar lereng Merapi yang terkena dampak. Saya bagikan gratis. Pertama kali itu 500 eksemplar saya cetak, judulnya Merapi 120 Fps. Itu buku terbit 2011, isinya sekitar 120 frame," ujar pria berambut sedikit gondrong ini.

Boy membagikan ke sana, dengan harapan buku itu bisa membantu masyarakat, untuk membuka lapangan kerja di sekitar lokasi objek wisata yang terkena dampak erupsi Merapi.

Desa yang pertama kali ditembusnya adalah Desa Kopeng. Jaraknya sekitar 7,5 kilometer dari puncak. Waktu itu Boy membawa buku foto sekitar 80 eksemplar. "Saya bilang ke mereka, silakan dijual, nanti uangnya dipakai untuk tambah usaha. Mereka kan jualannya warung, souvenir, ojek, tukang parkir, pemandu wisata, dan lain-lain. Saya kasih buku itu."

Ternyata buku itu 'meledak', banyak orang yang berminat membeli. Selanjutnya pada awal 2012, Boy masuk ke desa lain, yakni Desa Kinahrejo, kampung Mbah Marijan.

Untuk tembus ke desa itu, Boy diantar seorang wanita yang berprofesi sebagai tukang ojek melalui jalur tikus, karena jalur normal menuju Kinahrejo masih terputus pascaerupsi.

"Kami lewat jalan tikus, akhirnya sampai di desanya Mbah Marijan, saya ngasih buku untuk dijual, harganya berapa saja. Nanti kalau cepat habis, saya tambah lagi. Di photobook itu di halaman paling belakang saya kasih nomor telepon saya. Saya bilang kalau bukunya habis silakan sms nomor ini," tutur Boy.

Sekitar tiga atau empat bulan kemudian, buku itu habis. Boy kembali mencetak buku dengan judul yang sama. Ia mencetak seribu eksemplar dengan isi yang sama dan format foto yang sama. Lalu, ia kembali memberikannya ke beberapa desa. "Sampai sekarang kayaknya tujuh desa di situ."

Photobook sebanyak seribu eksemplar itu habis dalam waktu beberapa bulan. Sehingga Boy kembali mencetaknya. Pada Juli 2012, Boy mencetak photobook dengan judul baru, yakni Merapi Volcano. Isinya sama dengan photobook sebelumnya , tentang erupsi Gunung Merapi 2010, hanya saja angle atau sudut pengambilan gambar berbeda.

"Misalnya di sini long shot, di satunya medium shot. Saya publish lagi di sana, jadi mereka pegang dua buku. Akhirnya mereka tanya, 'Mas, saya harus setor berapa?' Saya bilang terserah," tuturnya.

Pada terbitan ketiga, warga mulai memberikan setoran atas photobook yang dijual, tapi Boy tidak mematok harga, karena ia ikhlas membantu para warga di sana. Selain itu, dengan photobook tersebut ia bisa mengedukasi orang-orang meski mereka tidak paham fotografi.

"Mereka sudah mau ngasih setoran ke aku, tapi aku bilang terserah karena aku ikhlas saja, enggak keberatan. Nanti uangnya akan saya pakai untuk cetak ulang lagi. Pertama kali saya dapat duit dari warga itu sekitar Rp 7.500 sampai Rp 10.000 per eksemplar. Meskipun belum nutup produksi tapi enggak apa-apalah," tuturnya.

Hingga saat ini sudah ada lima judul photobook yang dipublikasikan dan dijual warga sekitar Merapi, yakni Merapi 120 Fps, Merapi Volcano, Erupsi Merapi, MT Merapi, yang terakhir Java Volcano Eruption.

Total photobook yang sudah dicetaknya sebanyak lebih dari 29.500 eksemplar, dan yang sudah terjual lebih dari 25 ribu eksemplar.

Waktu Pengambilan Foto

Foto-foto yang dimasukkan dalam photobook adalah foto yang diambil pada periode Juni 2010, mulai dari persiapan pengungsian, persiapan evakuasi dan kejadian lain sebelum erupsi.

"Terus bulan Oktober itu klimaksnya sekitar tanggal 26 Oktober petang itu kan, itu erupsi pertama saya memotret di situ, banyak. Banyak kejadian malam kan karena erupsinya malam," tuturnya.

Pada 29 Oktober 2010, saat erupsi Merapi semakin besar, Boy pun semakin intens ke sana. Puncaknya pada 5 November 2010, saat erupsi terbesar.

Untuk foto-foto pascaerupsi, Boy memotret banjir lahar hujan. Itu terjadi pada November hingga Desember 2010.

Segmentasi pemasaran photobook itu adalah wisatawan, karena setelah lokasi di sana kembali dibuka untuk umum, wisatawan yang datang semakin banyak. "Di sana banyak wisatawan bahkan dari luar negeri. Di Indonesia itu selalu gitu, sesudah ada bencana akan banyak dikunjungi orang. Di situ saya berpikir bikin buku, itu menarik karena ketika yang menjual warga, mereka lebih bisa menjelaskan lokasi dan orang-orang dalam foto. Dia kan saksi hidup yang bisa menjelaskan. Yang menarik itu."

Baca cerita lain:

Berita terkait
Tradisi Warga Magelang Rayakan Hari Pers Nasional
Warga Kampung Potrosaran, Kota Magelang mengapresiasi profesi jurnalis dengan merayakan Hari Pers Nasional. Peringatan itu atas inisiatif sendiri.
Jurnalis Aceh Dilatih Liputan Investigasi
Puluhan jurnalis dari berbagai media dan lembaga pers mahasiswa di Provinsi Aceh dilatih liputan investigasi.
Infografis Hari Pers Nasional 2020
Hari Pers Nasional (HPN), 9 Februari 2020, digelar di Banjarmasin. Inilah sejumlah peristiwa pers Indonesia.
0
Hoaks Jogya Yess soal Marak Kriminal di Yogyakarta
Polda DIY memastikan pesan berantai yang mengatasnamakan Jogya Yess adalah hoaks.