UNTUK INDONESIA
Psikolog UGM: Siasat Atasi Paranoid Covid-19
Banyak orang mengalami insecure dengan virus Corona. Pakar UGM Yogyakarta Prof. Koentjoro memberi strategi mengatasinya.
Ilustrasi Covid-19 (Foto: Pixabay/iXimus)

Yogyakarta - Hampir setiap hari media massa baik konvensional maupun media sosial (medsos) mengupdate pemberitaan tentang wabah virus Corona atau Covid-19 di Indonesia. Pada umumnya perkembangan angka korban wabah Corona menjadi hal penting bagi pembaca.

Namun di balik pemberitaan yang menjadi konsumsi masyarakat ini malah menimbulkan efek kekhawatiran. Karena mengikuti update Corona secara tidak langsung merasa tidak aman atau insecure, bahkan mendadak merasa sedikit demam, tenggorokan gatal, atau sesak napas sampai panik ketika terlalu banyak membaca informasi mengenai virus corona.

Pada saat itu yang ada di benak seseorang adalah kepanikan yang berlebih. Kecemasan ini dapat membuat tubuh memicu respons yang dapat memunculkan gejala-gejala virus corona saat sedang membaca terlalu banyak berita mengenai virus ini.

Seorang pegawai swasta, Lailatul Huda, 23 tahun, mengatakan, karena mengikuti update Corona secara tidak langsung sering merasa insecure."Setiap buka time line Instagram, Twitter, WattsApp isinya berita Corona. Aku baca yang sekiranya masuk akal dan dari sumber yang terpercaya," katanya kepada Tagar, Selasa, 24 Maret 2020.

Menurutnya pemberitaan membawa dampak positif dan negatif. Kendati demikian, Lala, sapaan akrbanya, tetap memanfaatkan media massa sebagai referensi informasi untuk dirinya bagaimana menjaga kesehatan ditengah virus yang sedang mewabah.

"Sekarang makannya lebih teratur saja sih, terus sering cuci tangan, minum vitamin entah itu empon-empon atau imbost atau vitamin C, banyak minum air putih, terus enggak main deket sama teman sih walaupun ngobrol gitu. Sama kalau habis pegang apa pun yang di tempat umum atau uang auto pake antiseptik," katanya.

Tiga Sikap Masyarakat tentang Corona

Pakar Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta  Prof Koentjoro mengatakan kondisi insecure merupakan reaksi formasi. Adalah hal yang wajar dilakukan oleh seseorang ketika alam bawah sadarnya merasa terancam dengan lingkungannya, sehingga ia mulai melakukan perlawanan terhadap ancaman tersebut.

"Itu adalah kondisi di mana otak kita sering menerima informasi yang negatif yang buat pikiran jadi stres. Stres full menjadi situasi yang tidak menguntungkan untuk tubuh kita," kata Prof Koentjoro saat dihubungi Tagar pada Selasa, 24 Maret 2020.

Psikolog UGM Prof. KuntjoroPsikolog UGM Prof. Koentjoro (Foto: Dok. Pribadi/Tagar/Evi Nur Afiah)

Ketua Dewan Guru Besar UGM periode 2018-2021 ini menyebut ada tiga kelompok masyarakat dalam menghadapi wabah Corona.

Pertama, mereka adalah kelompok masyarakat yang cuek. "Bisa kita lihat sekarang ini di luar orang-orang masih keluyuran seakan tidak ada masalah. Mereka adalah orang-orang cuek," katanya.

Kedua, orang menganggap pandemi Corona adalah sebagai lelucon. Kreativitas masyarakat Indonesia memang tidak pernah tumpul. Meskipun virus Corona mematikan, kelompok masyarakat seperti ini akan menganggapnya sebagai guyonan belaka.

"Ada yang mengatakan bahwa lebih baik mati sahid dengan Corona dari pada mengonsumsi obat buatan China maupun Amerika yang sama-sama kafir. Ada juga yang bilang mati mah di tangan Tuhan. Itu adalah bagian guyonan yang tidak sehat dan itu bunuh diri," katanya.

Ketiga, menurut Prof Koentjoro yang paling banyak dilakukan. Mereka adalah orang kelas sosial menengah ke atas. Mereka yang bekerja Work From Home (WFH) paling banyak membaca informasi tentang virus Corona melalu media sosial.

Kelompok ini betul-betul melahap semua pemberitaan tentang virus Corona. Berapa jumlah korban yang meninggal, bagaimana virus bisa menular ke orang lain, bagaimana tanda-tanda virus ini ada di tubuh manusia dan hal-hal negatif lainnya.

"Karena mereka ini orang- orang terdidik konsumsinya meneliti, yang kedua membaca media sosial. Hampir setiap saat media sosial menceritakan tentang hal buruk wabah Corona," ucapnya.

Sebagian daerah di Indonesia sudah melakukan lockdown. Hal itu menyusul kebijakan pemerintah Republik Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memutuskan memperpanjang status keadaan tertentu darurat wabah bencana penyakit akibat virus Corona di Indonesia sampai 29 Mei 2020.

Dengan situasi yang tidak pasti, situasi yang darurat, situasi yang mengerikan sehingga yang terjadi adalah stres full. Jika terus dibiarkan dikhawatirkan ke depanya adalah stres massal di mana orang mudah tersinggung.

Prof Koentjoro meminta agar pemerintah mulai membatasi berita-berita negatif dan buruk yang bisa membuat masyarat terbebani. Bisa memperbanyak siaran TV atau media lainnya dengan suguhan yang menyenangkan.

"Masyarakat sudah mengalami gangguan stres khususnya pada orang-orang terdidik. Soalnya orang-orang di desa tidak ada masalah. Ada isu Work From Home mereka enggak tahu masalahnya apa," kata dia.

Selain itu, Prof Koentjoro juga meminta agar pemerintah memberikan tahapan-tahapan yang boleh dan tidak boleh dilakukan masyatakat selama status keadaan darurat.

Situasi seperti ini akan menjadi pertanyaan sampai kapan masyarakat bisa kembali menjalani kehidupan normal. Karena menanti kecemasan yang tidak pasti membuat banyak orang semakin ketakutan.

"Misalnya pengumuman masa inklubasi berapa lama. Pra kondisinya seperti apa. Setelah inkubasi fase sakitnya seperti apa, kalau sudah sakit berapa lama kemudian pemulihan berapa lama, kurang sehat berapa lama. Seharusnya pemerintah itu ada tahapan yang menjelaskan apa yang bisa kita lakukan," ucapnya.

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kalau ada masyarakat tidak tertib. Misalnya pulang ke rumah atau mudik, apakah inklubasi bisa mundur? "Kalau sosialisasi di desa juga perlu. Barang kali ada orang yang dateng ke desanya itu harusnya perlu diisolasi dulu," ujarnya. []

Baca Juga:


Berita terkait
Empat Cara Menjaga Kesehatan Mental Cegah Corona
Akibat wabah virus Corona atau Covid-19 yang semakin merebak membuat kesehatan mental seseorang akan terganggu.
Tips Hidup Sehat Agar Tubuh Tidak Rentan Penyakit
Hidup sehat sangat penting diperhatikan terutama dalam menjaga sistem kekebalan tubuh.
Tips Sehat Jaga Imun di Kantor Mencegah Corona
Merebaknya virus Corona atau Covid-19 di Indonesia, semua masyarakat tak terkecuali para pekerja kantor sudah harus meningkatkan kesehatan.
0
Main Layang-layang, Pemain Brasil Tewas Kesetrum
Pemain lokal Brasil, Kaio Felipe Santos Silva, mengalami nasib tragis. Dia meninggal karena kesetrum listrik saat bermain layang-layang.