UNTUK INDONESIA
Proyek Jalan Ini Hapus Jejak Kerajaan Demak
Pembangunan jalan Daendels oleh Belanda pada abad 18 menghapus jejak bangunan keraton Kerajaan Demak. Kenapa Belanda melakukan itu?
Masjid Agung Demak, bukti dan sisa peninggalan Kerajaan Demak yang masih utuh sampai saat ini. (Foto: Kemdikbud.go.id)

Semarang - Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, penjajah Belanda membangun jalan poros penghubung wilayah pantai utara di Jawa. Jalan sepanjang sekitar 1.000 Km tersebut rampung dalam kurun waktu setahun pada 1808 dengan memakan banyak korban penduduk pribumi.

Jalan poros yang kemudian dikenal dengan sebutan jalan Daendels ini juga melintasi wilayah pesisir Semarang dan sekitarnya, termasuk Demak yang berada di timur Semarang. Dan pembangunan jalan melibas situs peninggalan Kerajaan Demak di sekitar Masjid Agung Demak. Imbasnya, jejak sejarah berupa sisa bangunan keraton sulit lagi ditemukan di masa sekarang.

"Jadi memang itu sengaja ditumpuki jalan, Belanda memang sengaja menutup jejak peninggalan Kerajaan Demak," ungkap ahli sejarah dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Dr Eko Punto kepada Tagar, Jumat, 7 Februari 2020.

Eko menganalisa, kesengajaan Belanda bukan tanpa alasan. Sebab Kerajaan Demak menjadi simbol kebanggaan masyarakat Demak yang pemeluk agama Islam. Kerajaan tersebut merupakan kerajaan Islam pertama dan menjadi pusat penyebaran agama Islam di Nusantara. Memutus kekuatan dan ikatan psikologis ini, proyek jalan Daendels kemudian diarahkan di atas puing kawasan keraton.

"Di depan masjid itu terjadi konflik dengan masyarakat. Dan akhirnya disengaja untuk menghilangkan sisa keraton. Karena mungkin orang-orang Belanda ini terganggu dengan orang-orang Islam, akhirnya puing-puing kerajaan itu dilewati oleh proyek jalan itu. Dan pada kenyataannya, Jalan Daendels itu tetap jadi kan," tutur dia.

Dijelaskan, selain sejumlah naskah sejarah seperti Babad Tanah Jawi, keberadaan Kerajaan Demak juga disebut beberapa sejarawan dan penulis asing. Salah satunya catatan dari Tome Pires, seorang penulis asal Portugis. 

Jadi memang itu sengaja ditumpuki jalan, Belanda memang sengaja menutup jejak peninggalan Kerajaan Demak.

Eko PuntoSejarawan dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Dr Eko Punto. (Foto: Eko Punto)

Pada abad ke 15, ia datang ke Demak dan menuangkan dalam catatannya, Suma Oriental. Disebutkan di karyanya itu, Kerajaan Demak dipimpin oleh orang yang disebutnya Pate Rodim, oleh sejarawan Tanah Air diyakini adalah Raden Patah. Dalam bukunya itu disinggung juga sedikit soal kerajaannya.

Seorang Belanda, LWC van den Berg pada awal abad 18 melakukan napak tilas kunjungan Tome Pires. Dalam catatannya ia menyebut jika Kerajaan Demak yang ditulis Tome Pires masih ada. "Tinggal puing-puing di dekat masjid," ujar dia.

Runtuhnya Kerajaan Demak terjadi sepeninggal Sultan Trenggono, raja ketiga Demak, yang meninggal dalam perjalanan saat terjadi terlibat konflik dengan penguasa Pasuruan, Jawa Timur. Penggantinya, Sunan Prawoto, takut menghadapi perlawanan dari Adipati Jipang Arya Penangsang, menyingkir dan meninggal di Sukolilo, Pati. 

Menantu Sultan Trenggono yang juga Adipati Pajang, Hadiwojoyo kemudian berhasil menewaskan Arya Penangsang. Akhirnya Kerajaan Demak resmi pindah ke Pajang beserta sejumlah barangnya.

"Karena kondisi di Demak sudah tidak kondusif lagi maka dipindah ke Pajang. Jadi sebelum proyek Jalan Daendels memang bangunan keraton itu sudah hancur, sudah tidak ada. Karena memang kerajaannya pindah ke Pajang," jelas doktor arkeologi lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

Jejak Kerajaan Demak hanya menyisakan puing bangunan setelah Demak tersapu banjir. Diketahui wilayah yang dulu jadi pusat kekuasaan Kerajaan Demak berada di pesisir pantai. "Di Demak situ dulu terjadi banjir. Zaman Kerajaan Demak, saat dulu itu kan dekat selat, Muria masih pisah dengan Jawa. Jadi faktor alam juga turut mempengaruhi hancurnya bangunan keraton," sebut dia.

Lantas dimanakah sebenarnya letak kawasan Keraton Demak?. Mengenai hal ini, Eko berkeyakinan berada di sekitar Masjid Agung atau Alun-alun Demak. Sebab sejumlah nama kampung di sekitar itu merujuk nama-nama yang biasa ada di kawasan keraton. 

"Seperti nama sitinggil, balekambang, itu ada di sekitar masjid. Memang saat ini untuk mencari jejak bangunan keraton sudah sulit. Setelah dipindah ke Pajang, kena banjir, kemudian proyek jalan Daendels dan sekarang ada banyak bangunan baru permukiman," imbuh dia. []

Baca juga: 

Berita terkait
Tommy Soeharto dan Kerajaan Abal-abal
Tommy Soehartp diangkat sebagai sultan sepuh Kerajaan Demak oleh orang yang mengklaim sebagai Raja Demak. Bagaimana kebenarannya?
Kerajaan Fiktif dan Krisis Kepercayaan NKRI
Akademisi Universitas Malikussaleh menilai mereka yang mengikuti organisasi karena belum tuntasnya kesadaran tentang konsep nasionalisme.
Sumbu Imajiner Keraton Bisa Gagalkan Tol Jogja-Solo
Sultan HB X minta desain tol Yogyakarta-Solo diubah karena ada sumbu imajiner Keraton Yogyakarta. Konsekuensinya lahan yang dibebaskan lebih luas.
0
Jokowi Saksikan Ketua MA Syarifuddin Mengucap Sumpah
Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyaksikan pengucapan sumpah M. Syarifuddin sebagai Ketua Mahkamah Agung (MA) periode 2020-2025.