UNTUK INDONESIA
Pesan Ayah Sebelum Ditelan Tsunami Aceh
Kisah pilu Tsunami Aceh terus menghiasi perjalanan karib kerabatnya yang selamat dari terjangan bencana dahsyat yang terjadi 26 Desember 2004.
Febi Taufikul Hadi bersama kedua anak dan istrinya. (Foto: Tagar/Istimewa)

Subulussalam - Lima belas tahun sudah tragedi tsunami Aceh berlalu. Namun ribuan cerita pilu tak pernah habis dari bumi Tanah Rencong pasca porak-poranda akhir Desember 2004 silam.

Seperti kisah Febi Taufikul Hadi, satu dari ribuan warga Aceh yang kehilangan orang-orang tercinta ketika tsunami merenggut puluhan ribu nyawa di 24 Desember 2004 pagi.

Di hari nahas itu, warga Gampong Punge Blang Cut ini, terpaksa memutar laju kendaraan setelah melihat ratusan warga berlarian dari arah Ule Lhue menuju tempat tinggalnya. Pagi sayup betul-betul berubah gempar.

Saya dan adik lari ke arah Ketapang, terus ke Lambaro, sampai ke daerah Seulawah. Dengan keadaan sudah terpisah dengan ayah dan kakak.

Febi tidak pernah berfirasat kiamat kecil di Minggu itu bakal terjadi. Baginya yang saat itu duduk di bangku kelas 2 Madrasah Tsanawiyah di Pesantren Ishafuddin Banda Aceh, hari libur adalah energi untuk bermain. Apalagi, petaka itu sampai merenggut nyawa ayah dan seorang kakak perempuannya.

Ayahnya bernama Mawardi dan berprofesi sebagai dosen di Universitas Syiah Kuala dan Universitas Jabal Ghafur. Kala itu, dia meminta Febi dan adiknya Ilham Syafawi yang masih di bangku kelas 3 SD Negeri 11 Banda Aceh, pergi membeli pakan ternak ayam ke toko langganan ayah.

Keduanya pun pergi setelah gempa reda mengendarai sepeda motor keluarga.

"Pagi itu ayah menyuruh kami beli pakan ternak ayam. Saya sama adik pergi ke arah Ule Lhue, sebuah pantai di kawasan Kota Banda Aceh. Belum sampai setengah jalan. Semua orang berlari sambil berteriak air laut naik," cerita Febi yang kini sudah menjadi ayah muda itu kepada Tagar.

Korban selamatIlham Syafawi, adik lelaki Febi yang kala itu turut bersamanya luput dari bencana Tsunami. (Foto: Tagar/Istimewa)

Menyaksikan kebingaran, lelaki yang kini berusia 29 tahun itu pun memutuskan berbalik arah dan batal membeli pakan ayam. Mereka kembali pulang ke rumah menemui ayah dan memberitahukan air laut naik.

Hanya saja, ayahnya tak merasa dengan cerita air laut naik yang dibawa Febi bersama sang adik. Seketika itu, ayah menyuruhnya bersama adik untuk pergi menyelamatkan diri terlebih dahulu.

Sementara kakak perempuannya bernama Suci Andialita yang saat itu duduk di kelas 3 SMP Negeri 1 Banda Aceh, tinggal dulu membantu ayah menyelamatkan berkas penting keluarga.

Tanpa berfikir panjang, Febi dan adiknya tergesa-gesa menancap gas sepeda motor. Di bawah langit cerah, Febi dan Ilham melaju kencang di antara hiruk pikuk manusia yang berhamburan mencari penyelamatan diri dari kejaran air laut yang sudah tampak seperti kemulan hitam.

"Situasi tak terbayangka lagi waktu itu melihat air laut sudah semakin besar. Saya tancap kereta (sepeda motor) menuju Lambaro yang kupiling (duga) kalau tempat yang aman," kenangnya.

Laju sepeda motor Astrea Grand yang dikendarai Febi bersama Ilham berhasil menghantarkan mereka ke Lambaro. Sejenak mereka menepikan sepeda motornya menengok ribuan manusia yang juga berlarian ke arah itu. Seksama Febi mencari rupa sang ayah yang dirasa-rasa segera datang.

Sedang serius mencari, air laut kian menggila. Febi dan adiknya pun tak bisa berlama-lama di sana dan mereka harus kembali beranjak ke kawasan Seulawah, sebuah perbukitan paling dianggap aman sembari berharap ayah dan kakaknya datang ke sana.

Febi dan Ilham adalah dua dari ribuan manusia yang kala itu berburu menyelamatkan diri ke tempat lebih tinggi. Gemuruh ombak buas terus menghantui dan memaksa warga Serambi Makkah lari dan berlari.

"Saya dan adik lari ke arah Ketapang, terus ke Lambaro, sampai ke daerah Seulawah. Dengan keadaan sudah terpisah dengan ayah dan kakak," tuturnya.

Sekitar pukul 15.00 WIB, Febi yang kini sudah beranak dua memutuskan mencari keberadaan ayah dan kakaknya. Malangnya, akses menuju kota Banda Aceh hanya sampai di persimpangan Lambaro.

Gelisah bergemuruh di batin Febi. Kepanikan mulai merasuki jiwanya hingga tak terkendali. Apalagi raungan tangis, mayat-mayat mulai tampak bergelimpangan sesaat setelah air mulai surut.

Uang rencana pembeli pakan ayam dari ayah terpaksa digunakan untuk membeli mi instan pengganjal perut yang sudah kelaparan bersama adik.

Ayah bilang suatu saat nanti kalau kalian sudah nggak punya orang tua lagi, kalian harus selalu kompak dan saling membantu.

Febi ingat betul kala itu, satu persatu pengungsi tiba dengan tatapan kosong. Sesekali lantang terdengar teriakan menyebut nama Tuhan. Sepanjang hari itu pula Febi hidup dari uang celengan hasil pencarian yang ia dapat dari puing-puing sisa tsunami.

Tak sedikit pengungsi datang dengan luka diberbagai tubuh. Banyak juga yang tiba sembari menggendong balita. Febi belum tahu seperti apa besarnya bencana kala itu. Namun tak ada pilihan lain baginya, selain ikut bersama-sama pengungsi lain menuju Blang Bintang yang saat itu dijadikan pusat posko bencana.

Melewati malam dengan suasana paling suram, Febi terus mencari keberadaan ayah dan kakaknya. Dia pun terpaksa meninggalkan adik laki-lakinya di camp pengungsian, agar bisa bebas bergerak kembali ke rumahnya yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari bangkai Kapal PLTD Apung sekarang.

korban tsunamiDrs Mawardy, sosok ayah Febi Taufikul Hadi yang meninggal diterjang tsunami. (Foto: Tagar/Istimewa)

Lewat celah-celah sisa bencana, Febi menyusuri jalan mencari ayah. Laut yang menggerus pemukiman penduduk, kini menyisakan puing-puing berserakan yang rata dengan bumi. Melawan rasa takut, tekadnya hanya sampai di rumah sejuta cerita dan cinta yang ditinggalkan saat menyelamatkan diri.

"Nggak tau bilang rasanya bagaimana, semua rata. Mayat gak terhitung banyaknya," katanya.

Matanya terbelalak menyaksikan rumah yang rata tersapu air laut dan tersisa hanya lantai. Hari pun berlalu, Febi terus menyinggahi tempat-tempat pengungsian, namun tak kunjung menjumpai dua orang yang dicintainya.

Hampir sebulan Febi menyusuri lorong hitam pasca bencana dahsyat. Ayah dan kakaknya tak kunjung bersua. Sebaliknya, adik laki lakinya yang kerap ditinggalkan di camp pengungsian juga hilang di tengah isu penculikan anak yang marak saat itu.

"Dua orang tadi belum ketemu, yang selamat ini pula hilang," kenangnya.

TsunamiSuci Andialita (kedua dari kiri), kakak perempuan Febi yang hingga kini belum ditemukan. (Foto: Tagar/Istimewa)

Beban yang ditanggungnya jelas semakin runyam. Kalut hatinya yang belum hilang akhirnya sedikit terobati. Sebab Febi menemukan sang adik sedang bersama ibunya setelah sebulan tsunami berlalu.

Ibunya Saridah, luput dari terjangan tsunami karena saat itu sedang berada di Kota Subulussalam mengurus pengangkatan tugas menjadi PNS di sana. Haru menyelimuti pertemuan anak, adik dan ibunya itu.

Febi pun memiliki kekuatan baru mencari kedua keluarganya yang hilang. Keberadaan sang ayah yang kala itu entah di mana pun terjawab dengan ditemukannya dua kartu identitas berupa KTP dan SIM oleh relawan penyisir korban bencana tsunami. Kartu itu ditemukan di dalam kantong celana sesosok jasad. Kuat dugaan, jasad itu adalah ayah Febi.

Singkat kisah, Febi mendapati pusara ayahnya di pemakaman massal Ule Lhue yang telah dikubur dalam satu liang bersama 14 ribu lebih korban jiwa. 

Dengan ikhlas Febi harus menerima kenyataan ayahnya syahid setelah bertarung dengan gulungan air laut. Sedangkan tanda-tanda kakaknya hingga kini belum juga ditemukan.

Setelah semua berlalu, Febi dan keluarga memutuskan hijrah ke Kota Subulussalam, tempat ibunya bertugas. Mereka hidup bersama tanpa sosok sang ayah dan kakak perempuannya yang entah di mana.

Hanya satu nasihat ayah yang pada malam sesaat sebelum tsunami menerjang, dipegang teguh oleh anak kedua dari tiga bersaudara itu. Kerap setiap mengingat pesan ayah, Febi tak kuasa membendung air mata.

"Mungkin itu isyarat dari ayah. Malam minggu itu ayah kumpulkan kami semua. Ayah bilang suatu saat nanti kalau kalian sudah nggak punya orang tua lagi, kalian harus selalu kompak dan saling membantu," isak Febi menirukan pesan almarhum ayahnya.

Lima belas tahun berlalu, tragedi kelam itu masih tergiang dibenaknya. Namun hidup harus terus bangkit, kini Febi pun sudah menjadi ayah dari dua orang anaknya setelah menuntas pendidikan diplomanya. Sementara Ilham saat ini sudah di semester akhir pendidikan sarjana di Universitas Islam Negeri Arraniry, Banda Aceh.

Sedangkan ibunya Saridah, tetap setia menjaga cintanya kepada sang almarhum suami. Dia memilih untuk tidak menikah lagi dan sendiri membesarkan anak. []

Berita terkait
Getir Nelayan Aceh, Anak Istri Hilang Disapu Tsunami
Tepat 15 tahun lalu, Provinsi Banda Aceh luluh lantak akibat gempa dan menyebabkan Tsunami. Ratusan ribu warga Aceh meninggal dunia.
Kerangka Manusia di Septic Tank Bantul Bernama Ayu
Terjawab sudah kerangka manusia yang ditemukan di septic tank rumah milik Waluyo di Bantul. Dia tidak lain adalah menantunya, Ayu Shelisha.
Belajar Cinta pada Riyanto, Banser Korban Bom Natal
Riyanto seorang Banser NU mengajarkan cinta yang sesungguhnya. 19 tahun berlalu sejak gugur memeluk bom saat menjaga gereja, namanya terus abadi.
0
Data Bansos Dampak Covid-19 Kemensos di Bantul Kacau
Lurah di Bantul, Yogyakarta, dipusingkan data penerima bansos dampak Covid-19 dari Kemensos.