UNTUK INDONESIA
Perjalanan Hidup Wiranto Hingga Diserang Teroris
Wiranto tokoh politik dari zaman Presiden Soeharto hingga Presiden Jokowi. Perjalanan hidupnya tak lepas dari kontroversi dan tragedi.
Wiranto. (Foto: Instagram/Wiranto Official)

Jakarta - Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto mengalami peristiwa buruk usai meresmikan gedung kuliah bersama Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA) di Pandeglang, Banten, Kamis, 10 Oktober 2019. Wiranto ditusuk seseorang diduga bagian dari jaringan teroris ISIS.

Wiranto adalah Panglima ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) terakhir. TNI dipisahkan dari polisi pada 1999, sehingga yang ada adalah nomenklatur Panglima TNI.

Ia lahir di Yogyakarta pada 4 April 1947 dari pasangan RS Wirowijoto dan Suwarsijah. Ayahnya seorang guru sekolah dasar, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga. Ia anak keenam dari sembilan bersaudara.

Ketika berumur satu bulan, Wiranto dibawa keluarganya pindah ke Surakarta karena agresi militer Belanda menyerang Yogyakarta. Di Surakarta, Wiranto menyelesaikan pendidikan hingga lulus SMA Negeri 4 Surakarta. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Akademi Militer Nasional, lulus pada 1968.

Pada 1975 Wiranto menikahi Rugiya Usman. Hasil pernikahannya ini dikaruniai tiga orang anak, yaitu Amalia Santi, Ika Mayasari, dan Zainal Nur Rizky. Namun kesedihan mendalam menimpa Wiranto dan keluarga ketika putranya meninggal dunia karena sakit saat sedang menuntut ilmu di Afrika Selatan.

Wiranto dipercaya menjadi ajudan Presiden Soeharto, saat itulah namanya menjadi perhatian publik. Selama 4 tahun (1989- 1993) menjadi Ajudan Presiden yang cukup lama dilalui Wiranto.

Ia dipromosikan menjadi Kasdam Jaya, Pangdam Jaya, Pangkostrad, hingga KSAD setelah menjadi ajudan presiden. Pada 6 Oktober 1997 Wiranto menjadi Panglima ABRI (sekarang Panglima TNI) atas perintah Presiden Soeharto.

Kontroversinya adalah ia diduga terlibat dalam kejahatan perang di Timor Timur (saat ini bernama Republik Demokratik Timor Leste) bersama lima perwira militer lain pada 1999. 

Pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, Wiranto dipercaya menjadi Menteri Koordinator Politik dan Keamanan. Namun tidak lama kemudian Wiranto mengundurkan diri dengan surat resmi. 

Pada 2003 Wiranto meluncurkan buku otobiografi berjudul Beraksi di Tengah Badai. Berisi fakta yang mendukung bahwa Indonesia dan TNI sebagai “Unity” tidak pernah sekalipun melakukan atau merencanakan pelanggaran HAM.

Wiranto mencalonkan diri sebagai kandidat presiden pada 2004, tapi gagal. Pada 2006 ia menjadi Ketua Umum Partai Hanura (Hati Nurani Rakyat). Pada 2009 mencalonkan diri sebagai wakil presiden mendampingi Jusuf Kalla. Gagal juga.

Pada 2014 ia mencalonkan diri menjadi calon presiden berpasangan dengan konglomerat Harry Tanoesoedibjo. Tapi rencananya itu gagal juga karena terlalu kecil suara Partai Hanura.

Pada 2014 Wiranto mendapat kepercayaan sebagai Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan dalam kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Jangan jual agama untuk kepentingan politik dan jangan jual agama untuk mencari keuntungan finansial.

Wiranto dan Keluarga Saat Pemakaman CucuFoto ini viral di media sosial, foto Menkopolhukam Wiranto bersama keluarga saat pemakaman cucu bernama Ahmad Daniyal Al Fatih. Ibu, ayah dan kakak-kakak Ahmad Daniyal mengenakan busana muslim bercadar, bersorban. Banyak orang terkejut, media sosial ramai membincangkan mereka. (Foto: Istimewa)

Wiranto dalam keluarganya ternyata ada yang memakai cadar. Hal ini menimbulkan beragam interpretasi di benak publik. Foto keluarganya yang bercadar viral di penghujung 2018.

Kala itu Wiranto menanggapi foto viral tersebut dengan membuat catatan khusus. 

Berikut petikan lengkap catatan Wiranto tersebut.

"Beberapa tahun yang lalu, di saat anak saya Zainal Nurizky (alm) meninggal dunia pada saat belajar Alquran di Afrika Selatan, ada sebagian orang mengatakan bahwa anak Wiranto menganut Islam radikal, masuk Islam garis keras, kader terorisme dan seterusnya.

Padahal dengan kesadarannya sendiri dia minta izin untuk keluar dari Universitas Gadjah Mada yang sangat bergengsi itu karena keprihatinan dan kesadarannya melihat perilaku sebagian generasi muda yang tidak lagi memiliki kepribadian yang tepuji.

Dia mendalami Al Quran untuk memantapkan akhlaq dan moralnya sebagai basis pengabdiannya ke depan nanti sebagai generasi penerus.

Lewat internet, dia memilih tempat belajar Alquran yang bebas politik, Ponpes Internasional di wilayah Land Asia Afrika Selatan yang khusus untuk memantapkan pemahaman Alquran yang mengedepankan persaudaraan dan kedamaian, bukan sekolah teroris.

Sayang sekali baru satu tahun belajar dari 7 tahun yang harus dijalaninya, dia meninggal di sana karena sakit, saat membaca ayat-ayat suci. Maka saat ada orang yang mencibir dan memfitnah, saya pun hanya tertawa, karena memang tidak perlu saya layani.

Sekarang ini pada saat cucu saya Ahmad Daniyal Al Fatih meninggal dunia, ibu, ayah dan kakak-kakaknya mengenakan busana muslim yang bercadar, bersorban, banyak masyarakat terkejut, media sosial ramai membincangkan tentang mereka.

Ada yang senang dan ada pula yang mencerca dengan prasangka dan cara mereka. Bahkan mencoba menghubung-hubungkan dengan tugas dan jabatan saya sebagai Menko Polhukam.

Agar anak dan cucu saya dapat menghadap Allah yang Maha Kasih dengan tenang maka tidak ada salahnya kalau saya menjelaskan tentang keluarga saya dan prinsip-prinsip kehidupan yang saya berikan kepada mereka.

Saat ini di tahun 2018 sudah genap setengah abad (50 tahun) saya mengabdikan diri saya kepada Ibu Pertiwi, 32 tahun dalam penugasan sebagai militer aktif dan sisanya 18 tahun dalam politik dan pemerintahan. Banyak yang telah saya lakukan untuk menjaga keutuhan, kedaulatan dan kehormatan negeri ini.

Prestasi, pujian juga fitnah dan cercaan sudah tak terbilang banyaknya, namun tidak menggoyahkan kecintaan saya kepada negeri ini dan keyakinan saya tentang ideologi negara Pancasila, Saptamarga yang telah merasuk dalam jiwa raga saya.

Wiranto dan IstriWiranto dan istri, Uga. (Foto: popbela.com)

Dengan modal itu saya ajari mereka untuk merasa memiliki, mencintai, membela negeri ini di mana pun posisi mereka, apa pun pekerjaan mereka karena di sinilah kita dilahirkan, dibesarkan, dididik, mendapatkan kehidupan bahkan tempat peristirahatan yang terakhir.

Jangan campur adukkan agama dengan ideologi negara, jangan jual agama untuk kepentingan politik dan jangan jual agama untuk mencari keuntungan finansial. Dalami agama untuk bekal di akherat dan memberikan kebaikan bagi sesama, bangsa dan negara.

Kamu boleh kenakan baju apa saja, selama kamu merasa nyaman, tetapi yang penting janganlah penampilanmu hanya untuk pamer tentang ke-Islamanmu, karena kedalaman agamamu bukan diukur dari pakaianmu atau penampilanmu, tetapi akhlak dan perilakumulah yang lebih utama.

Saya memberikan kebebasan kepada keluarga saya untuk menjadi apa saja dan melakukan apa saja sepanjang tidak keluar dari rambu-rambu kehidupan yang telah saya pesankan kepada mereka itu. Saya selalu menekankan kepada mereka untuk berusaha memberikan kebaikan kepada negeri ini dan bukan malah merepotkan negeri ini.

Saya beruntung pernah dipercaya menjadi Panglima ABRI/TNI, tetapi tak seorang pun anak atau menantu saya mengikuti jejak saya sebagai militer, atau menjadi rekanan untuk pengadaan Alutsista.

Saya mendirikan partai Hanura, namun tak seorang pun dari keluarga saya menjadi pengurus partai. Saya memang meminta dengan sungguh-sungguh kepada mereka untuk jangan sekali-kali memanfaatkan jabatan saya untuk kepentingan pribadi.

Saya bersyukur sampai detik ini kami sekeluarga masih dapat mempertahankan komitmen itu.

Terima kasih kepada siapa saja di saat cucu saya Ahmad Daniyal Al Fatih meninggal dunia, telah memberikan atensi dan doanya. Semoga semua itu akan menjadi bekal yang menerangi jalan baginya untuk menghadap Tuhan Yang Maha Kasih, Aamiin. []

(Muhammad Nefki Hasbiansyah)

Berita terkait
Bagaimana Pengamanan Jokowi Setelah Wiranto Ditusuk?
Komandan Paspampres Mayor Jenderal Maruli Simanjuntak mengungkapkan pengamanan Presiden Jokowi setelah Menkopolhukam Wiranto ditusuk di Banten.
Penampilan Penusuk Wiranto Berubah Sejak Lebaran 2019
Penampilannya jadi berubah. Pakai pakaian tertutup, kaus kaki, dan cadar. Sebelumnya pakaiannya biasa saja.
Polisi Geledah Rumah Pelaku Penusukan Wiranto di Brebes
‎Garis polisi juga sempat terpasang untuk mencegah warga mendekat ke rumah bercat putih itu.
0
Ma'ruf Amin: Pesantren Harus Jadi Pusat Pemberdayaan Ekonomi
Wakil Presiden, Maruf Amin ingin mengembangkan pesantren di Tanah Air menjadi pusat pemberdayaan ekonomi.