UNTUK INDONESIA
Perjalanan Hidup dan Sederet Kontroversi Syekh Puji
Mulai dari jualan buku hingga akhirnya jadi pengusaha dan punya pondok pesantren. Sejumlah kontroversi pernah dilakukan Syekh Puji.
Pujiono Cahyo Widianto alias Syekh Puji. Pria 55 tahun ini punya sederet kontroversi sejak jadi pengusaha kuningan. (Foto: Istimewa)

Semarang - Pujiono Cahyo Widianto atau lebih dikenal sebagai Syekh Puji kembali menjadi pembicaraan publik Tanah Air. Kali ini kasusnya lebih kontroversial dibanding sederet kontroversi yang pernah dibuatnya. Ia diduga menikahi D, bocah tujuh tahun asal Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Atas dugaan itu banyak pihak mengecam kelakuan pengusaha kuningan tersebut sebagai pedofilia dan menyalahi hukum. Malah Komnas Perlindungan Anak menganggap pria hampir 55 tahun itu pantas mendapat hukuman 20 tahun penjara dan dikebiri. Sebab dia merupakan residivis kasus serupa. 

Tapi bukan Syekh Puji jika tidak memiliki alasan atas perbuatan yang dituduhkan kepadanya. Dia berkelit dengan menuduh balik orang yang melaporkannya ke Polda Jawa Tengah tersebut.

Dalam hak jawabnya, pengasuh sekaligus pemilik Pondok Pesantren Miftahul Jannah, Desa Bedono, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang itu menyatakan tuduhan tersebut muncul karena tidak bersedia memberi uang Rp 35 miliar. Ia juga membantah menikahi D, yang juga santrinya.  

Dia itu kalau suka sama orang (perempuan) tinggal tunjuk saja dan orang sungkan untuk menolak.

Apapun alasannya, nyatanya rentang waktu kehidupan pria yang bukan keturunan ulama ini mulai penuh dengan kontroversi sejak tahun 1995. Atau lebih tepatnya, saat keadaan ekonominya merangkak naik.

Berikut ringkasan perjalanan hidup Syekh Puji dan sejumlah ulah kontroversinya yang dirangkum Tagar dari berbagai sumber:

1. Kisaran tahun 1980, anak kelima dari tujuh bersaudara ini merantau ke Jakarta setelah lulus Sekolah Pendidikan Guru Don Bosco Semarang. Di sana, Syekh Puji sempat bekerja sebagai kernet Metromini.

2. Dari kernet, dia mulai wirausaha dengan jualan buku dan kemudian membuka usaha percetakan di Jakarta.

3. Awal tahun 1990, Pujiono pulang kampung di Bedono dan mulai usaha kaligrafi kuningan. Usaha tersebut meningkat drastis, dan bahkan dipercaya menjadi Lurah Bedono.

4. Sekitar tahun 1996, ia mengundang Rhoma Irama untuk pentas di desanya dengan biaya yang tergolong fantastis pada saat itu, yaitu Rp 500 juta. Bandingkan dengan harga seporsi nasi goreng yang pada saat itu masih Rp 1.000.

5. Kasus hukum pertama Puji mulai terjadi saat dia terjerat kasus penggundulan karyawannya pada tahun 1998. Dia harus mendekam di penjara selama empat hari.

6. Pada 2003, Pujiono mendirikan Pondok Pesantren Miftahul Jannah. Sejak itu banyak orang memanggilnya dengan gelar syekh. Gelar itu pernah dipersoalkan oleh Nahdlatul Ulama Kabupaten Semarang pada 2009 karena dianggap dapat merusak citra Islam. Apalagi dia bukan ahli agama dan bukan keturunan kiai.

7. Tidak puas menjadi pengusaha, Syekh Puji masuk dunia politik sebagai calon Bupati Semarang tahun 2005. Saat itu, dia adalah calon kepala daerah dengan kekayaan paling besar. Namun pada ajang demokrasi tersebut, dia mendapat perolehan suara paling buncit.

Syekh Puji tidak terima. Dia menggalang massa untuk demo mendesak Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah memproses pesaingnya dalam pilkada, Bupati Semarang terpilih Bambang Guritno sebagai tersangka kasus korupsi anggaran.

Bahkan dalam demontrasi tersebut, seseorang telah membacoknya. Kasus itu selesai setelah dia berdamai dan bertemu dengan Bambang di kantornya pada Mei 2007.

8. Pada tahun 2008, dia kembali menjadi sorotan karena dua peristiwa menggegerkan. Yang pertama adalah aksi pamernya membagikan zakat kepada sekitar 6 ribu orang dengan total Rp 1,3 miliar. Dan pernikahannya dengan bocah berusia 12 tahun bernama Lutfiana Ulfa. 

Saat itu banyak pihak telah mengecam pernikahan di bawah umur tersebut sehingga Puji mengaku membatalkannya. Namun selepas menjalani tahanan, dia melanjutkan pernikahan itu. Kini Puji dan istri keempatnya itu telah memiliki dua anak.

Tinggal Tunjuk

Banyak pihak yang heran dengan sepak terjang pria dengan ciri rambut nyaris gundul dan berjenggot lebat tersebut. Khususnya di sejumlah pernikahan sirinya. 

Nama Syekh Puji pun tidak asing lagi bagi warga Jambu, bahkan di kecamatan sekitar. Bagi kalangan penduduk di Kecamatan Ambarawa misalnya, kegemaran Pujiono menikah bukan hal asing. Seperti yang disampaikan Gito, 55 tahun, warga Ambarawa yang berprofesi sebagai pedagang.

“Dia itu kalau suka sama orang (perempuan) tinggal tunjuk saja dan orang sungkan untuk menolak,” ujarnya sembari menyebut Syekh Puji sudah menikah paling tidak sebanyak lima kali.

Entah karisma apa yang dia miliki, kata Gito, yang jelas dia tidak ganteng dan juga tidak gagah. Tapi memang punya harta yang berlimpah. Hal itu yang dianggapnya menjadikan orang desa sungkan untuk menolak tawaran menikah. 

“Tapi menikahi anak kecil, apalagi masih umur tujuh tahun kan sudah kelainan namanya,” katanya dengan mengatupkan gigi pertanda geram. []

Baca juga: 

Berita terkait
Siapa Pujiono Cahyo Widianto atau Syekh Puji
Nama Pujiono Cahyo Widianto atau Syekh Puji mencuat ke permukaan karena diduga menikahi anak perempuan berusia 7 tahun. Siapa dia?
Syekh Puji: Saya Tidak Nikahi D, Dimintai Rp 35 M
Syekh Puji buka suara atas kasus pernikahan dengan anak bawah umur yang ditudingkan kepadanya.
Syekh Puji Nikahi Anak 7 Tahun, 6 Saksi Diperiksa
Dulu menikahi anak 12 tahun, sekarang menikahi anak 7 tahun. Syekh Puji dipolisikan.
0
Data Bansos Dampak Covid-19 Kemensos di Bantul Kacau
Lurah di Bantul, Yogyakarta, dipusingkan data penerima bansos dampak Covid-19 dari Kemensos.