UNTUK INDONESIA
Pengayuh Becak di Bantaeng Sukses Sarjanakan Anak
Kisah Bakri seorang pengayuh becak di Bantaeng, Sulawesi Selatan, berhasil menguliahkan anaknya hingga lulus. Ini cerita perjuangannya.
Bakri, yang telah mengayuh becak selama kurang lebih 30 tahun untuk menghidupi anak istrinya di Bantaeng, Sulawesi Selatan pada Rabu, 6 Maret 2019. (foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka).

Bantaeng - Sudah hampir 30 tahun Bakri menggeluti profesi sebagai tukang becak di Bantaeng, Sulawesi Selatan. Setidaknya, pekerjaan ini mampu menghidupi keluarga tercinta yang selalu menantinya penuh harap.

Dalam sehari mengayuh becak, pria paruh baya itu dapat mengantongi Rp 35 ribu hingga Rp 50 ribu. Tanpa rasa lelah, dia tak memikirkan seberapa banyak keringatnya sudah bercucuran. 

Dia hanya terpikir untuk menghidupi jantung hatinya, seorang istri bernama Rabia dan anak perempuan semata wayangnya bernama Putri. 

Mereka menetap di sebuah rumah sederhana yang terletak di Jalan Monginsidi 2, Kelurahan Bonto Atu, Kecamatan Bisappu, Kabupaten Bantaeng, Provinsi Sulawesi Selatan.

Meski harus diakui, bayaran bagi para pejuang rupiah itu terkadang kurang memuaskan, tetapi setidaknya cukup untuk membeli sebatang rokok dan tentunya cukup untuk membuat dapurnya sekali lagi mengepulkan asap masakan.

Alhamdulillah apa yang saya dapat hasil setiap harinya, tetap saya syukuri bersama anak dan istri.

Bakri memandang, bersandar penuh mengayuh angkutan tradisional roda tiga ini bukan berarti dia harus angkat tangan menyerah pada nasib. Sebagai imam keluarga, dia terpikir tiada pilihan lain, yang terpenting adalah mengantongi rezeki secara halal.

"Saya cuma tahu kerja ini (narik becak), sudah lama kulakoni, mungkin sekitar 30 tahun. Tapi ini Alhamdulillah apa yang saya dapat hasil setiap harinya, tetap saya syukuri bersama anak dan istri saya," ujarnya dengan senyum sederhana saat ditemui Tagar di anjungan Pantai Seruni, Kabupaten Bantaeng, Rabu, 6 Maret 2019.

Tak banyak pilihan pekerjaan di tengah situasi ekonomi yang sedang "lucu-lucunya". Satu yang pasti, mengayuh becak menjadi pilihan pekerjaan tepat bagi mereka yang kurang beruntung dari berbagai segi kehidupan.

Berhasil Luluskan Anak dari Perguruan Tinggi

Pada dasarnya, semua orang pasti bisa mengoperasikan moda transportasi yang terbilang sudah kuno itu. Disebut kuno, karena sudah ada moda transportasi lain yang lebih kekinian, digerakkan dengan tenaga mesin. Becak perlahan tergerus zaman.

Di Bantaeng, tukang becak memang masih berseliweran di setiap perempatan jalan. Mereka tak merasa takut bersaing di tengah maraknya moda transportasi online.

Lagipula, bekerja mengayuh becak sangat mulia. Setidaknya jerih payahnya itu tidak berakhir sia-sia. Bakrie memang berekspektasi supaya darah dagingnya suatu saat nanti tidak mengalami kepelikan hidup seperti yang ia alami. 

Anakku itu mau kuliah seperti teman-temannya yang lain.

Dia bisa berbangga hati dengan keberhasilan putrinya yang lulus dari Al-Gazali, sebuah perguruan tinggi swasta di Kabupaten Bulukumba.

"Pertamanya saya juga ragu, tapi anakku itu mau sekali kuliah seperti teman-temannya yang lain untuk ikut kuliah juga. Anakku bilang, saya yakin ada rezeki yang penting kuliah," tuturnya sambil mengusap dahi.

Bakrie menceritakan, saat ini putrinya sudah aktif menjadi tenaga pengajar honorer di sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yang tak jauh dari rumahnya. Dengan begitu, tentu bisa mengurangi beban keluarga.

"Iya, anakku ini sudah mengajar sebagai guru honorer, jadi saya sudah bersyukur dan anakku juga senang," ujarnya.

Bakrie hanya berharap ke depannya pemerintah bisa lebih memerhatikan para proletariat. "Apa lagi saya sudah tua," ucapnya dengan logat daerah Bantaeng.

Pengayuh kendaraan roda tiga itu hadir menawarkan jasanya untuk mengantar orang-orang dari satu tempat ke tempat lainnya.

Begitulah suka duka yang dibagikan seorang tukang becak bernama Bakri kepada Tagar. Perihal bagaimana dia berjuang mencari nafkah demi keluarga tercinta. 

Rayakan HUT TNI, Kapolres Bantaeng Ikut Mengayuh Becak

Kapolres Bantaeng Adip RosidiKapolres Bantaeng menyemarakkan HUT TNI ke-74 dengan berkeliling mengayuh becak pada Minggu 6 Oktober 2019. (foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka).

Lain halnya dengan Kapolres Bantaeng Adip Rojikan. Warga di sini tercengang saat melihatnya mengayuh becak. 

Dengan gagahnya mengenakan seragam polisi, lengkap dengan atribut pangkat dua bunga yang terpajang di bahu kiri dan kanannya, perwira menengah itu rela menjadi tukang becak dadakan untuk menyemarakkan HUT TNI ke-74 di daerah yang dijuluki Bumi Butta Toa.

Lebih dari itu, mungkin saja Adip rindu dengan kendaraan yang sama sekali tanpa mengeluarkan emisi, tidak membuat udara kotor di tengah kemarau.

Mereka, pekerjaan tukang becak, harus terus dihidupkan.

Berkeliling dari rumah jabatannya, Adip memberikan inspirasi bagi masyarakat Bantaeng Kota. Dia ingin mengingatkan, jangan pandang sebelah mata para pengayuh becak. 

Bagi dia, becak adalah transportasi darat yang paling merakyat. Adip mengartikan itu sebagai kesederhanaan di tengah perubahan yang begitu pesat.

"Mereka, pekerjaan tukang becak, harus terus dihidupkan," ujarnya Minggu, 6 Oktober 2019.

Dia memandang, tidak menutup kemungkinan becak akan hilang tiga atau empat tahun ke depan, mengingat industri 4.0 yang sedang ditingkatkan dalam skala nasional.

Maka, HUT TNI ke-74 kemarin, menjadi momentum bagi Adip untuk menunjukkan tanggung jawab moralnya sebagai sosok yang mempunyai visi 'tiada hari tanpa berbuat baik.' 

Adip mengingatkan, pengayuh becak harus terus dilirik. Warga harus membantu mereka agar tidak lagi terpuruk dalam kondisi ekonomi yang pincang sebelah.

Kapolres Bantaeng Adip RosidiKapolres Bantaeng menyemarakkan HUT TNI ke-74 dengan berkeliling mengayuh becak pada Minggu 6 Oktober 2019. (foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka).



Di hari nan spesial bagi para prajurit di Komando Distrik Militer atau Kodim 1410 Bantaeng, AKBP Adip Rojikan juga memberikan kejutan berupa kue dan nasi tumpeng ke Markas Kodim 1410 Bantaeng. Para prajurit sempat terkejut saat itu, keharuan tak bisa terbendung lagi. 

Kedekatan TNI dan Polri memang tak bisa dipisahkan. Sinergitas itu, kata Adip, harus terus dijaga demi menjaga keutuhan bangsa dan negara ini.

"Dirgayahu ke-74 TNI, khususnya Kodim 1410 Bantaeng dan jajaran," kata Kapolres AKBP Adip Rojikan.

"Semoga ke depan Kerjasama antara Kodim 1410 Bantaeng dengan Polres Bantaeng dalam memberikan pengabdian kepada NKRI, terutama stabilitas keamanan di Kabupaten Bantaeng tetap terjaga dan semakin berkualitas," ucapnya.

Sekali lagi, Adip memastikan bahwa itu sebuah pertanda kedekatan dan sinergitas yang kuat antara TNI dan Polri, khususnya di daerah yang tepat berbatasan dengan Kabupaten Bulukumba di bagian Utara dan Jeneponto di sebelah Selatan itu.

"Ini menunjukkan betapa kokoh suatu sinergitas TNI dan Polri di sini. Kedekatan ini telah terbangun dan tertanam di masing masing personil, baik itu dari polres maupun dari Kodim 1410 Bantaeng," kata dia. []

Berita terkait
Malam Mencekam Usai 'Mengotori' Penginapan Bantaeng
Perjalanan yang tak terlupakan bagi seorang wanita saat menyusuri Makassar hingga Bantaeng di Sulawesi Selatan. Kisah ini akan menyala abadi.
Mengungkap Legenda Ilmu Hitam Parakang di Bantaeng
Parakang adalah sejenis ilmu hitam yang dimiliki manusia. Hal mistis ini sudah melegenda di Bantaeng, Sulawesi Selatan, hanya segelintir yang tahu.
Kuntilanak Penculik dari Bantaeng Sulawesi Bernama Anja
Menjadi cerita turun-temurun Anja sosok kuntilanak menakutkan di Banteang, Sulawesi Selatan, karena kerap menculik anak kecil selepas magrib.
0
Ulama di Madura Tuntut Sukmawati Dipenjara
Pernyataan kontroversial Sukmawati Soekarnoputri mengetuk amarah ulama dan umat Islam di Madura.