UNTUK INDONESIA
Kuntilanak Penculik dari Bantaeng Sulawesi Bernama Anja
Menjadi cerita turun-temurun Anja sosok kuntilanak menakutkan di Banteang, Sulawesi Selatan, karena kerap menculik anak kecil selepas magrib.
Ilustrasi - kuntilanak (foto:sportourism.id).

Bantaeng - Pantai Seruni atau saat ini lebih sering disebut anjungan pantai Seruni, terletak di Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng, Provinsi Sulawesi Selatan. Di kawasan ini memiliki cerita mistis secara turun temurun mengenai keberadaan Anja, kuntilanak di pantai. 

Pada Minggu sore, 8 September 2019, saya duduk di kafe yang terletak paling ujung di antara deretan kafe lainnya di sekitar anjungan, sambil menikmati segelas sarabba seharga Rp 8000 dan seporsi bakwan sayur Rp 12.000. Sarabba merupakan minuman khas Sulawesi. Kalau di Pulau Jawa mirip dengan wedang jahe, minuman sehat yang menghangatkan tubuh.

Kawasan ini benar-benar menjadi kian nyaman disinggahi setelah disulap pemerintah setempat. Bisa menikmati embusan angin pantai dengan terduduk manis sembari melihat cakrawal yang mulai memerah di batas garis lautan, menjadi pemandangan elok pantai Seruni kala sore hari.

Seketika saya terkenang masa kecil. Waktu itu umurku kurang lebih delapan atau sembilan tahun. Langkah-langkah kaki kecil telanjang dulu pernah berpijak di bibir pantai ini. Kaki kecil itu lari dengan nafas terengah-engah. Terlalu asyik bermain pasir pantai sampai senja tiba.

Hanya saja, waktu itu belum ada bangunan tribun seperti sekarang ini, belum terbangun lapangan, belum ditimbun, bahkan belum disebut anjungan. Hanya Pantai Seruni namanya, yang khas dengan berjejernya pohon kelapa berdiri tinggi menjulang di pinggir jalan.

Memang terkadang membuat lupa waktu ketika menghabiskan waktu dengan teman sejawat ketika bermain di sini. Tetapi, semua bubar seiring bunyi adzan magrib berkumandang, menyadari garis pantai sekitar mulai gelap, tanda malam datang. Lari, yang hanya bisa dilakukan hanya berlari sekencang mungkin, hingga masuk pekarangan rumah.

Di sepanjang perjalanan pulang menuju rumah, perasaan gelisah, takut, siapapun yang memanggil harus dihiraukan, bahkan menoleh ke belakang saja tidak boleh dilakukan. 

Siapapun yang menyapa saat malam datang cukup hiraukan saja. Pokoknya jangan menengok, sekalipun jangan. Takut apabila yang menyapa adalah Anja.

Hingga memasuki pintu rumah, rasa takut tak kunjung mereda. Detak jantung masih berdebar kuat, membuat dada sesak, keringat pun membasahi sekujur tubuh. Kemudian sebuah suara yang sangat dikenali itu malahan muncul dari balik sehelai kain gorden penyekat ruang.

"Yaah mainko terus sampai maghrib, nanti diambilko Anja dende," saya sadar itu suara Ibu, yang hanya menambah panjang desah nafas yang masih tidak beraturan ini. Ibu pasti berkata demikian setiap kali saya main sampai lupa waktu, mengucap kalimat dalam dialek Butta Toa Bantaeng. 

Kurang lebih artinya adalah seruan yang mengingatkan, khususnya kepada anak-anak untuk tidak bermain hingga malam tiba. Terlebih di pesisir pantai, karena kepercayaan orang sini ada Anja yang suka menculik manusia dan menyembunyikannya hingga berhari-hari.

Tidak ada yang tahu persis bagaimana wujud Anja. Menurut cerita Pamanku, sewaktu dia masih kecil, pernah menjadi korban penculikan Anja.

Pantai SeruniTribun pantai Seruni yang dulunya adalah tepi pantai dengan banyak pohon kelapa. (Foto: amrimu.blogspot.com).

Waktu itu paman masih berusia 10 tahun. Padahal, dia bermain tak jauh dari rumah hingga maghrib tiba. Ketika dia berjalan untuk pulang ke rumah, ada sosok orang tua mengenakan sorban di kepalanya dan memanggil dia. Salahnya, Paman justru menyahuti dan menuruti permintaannya. 

Kemudian, orang asing itu mengajaknya jalan beberapa meter, lalu mendudukkannya di suatu tempat yang tidak dia ketahui. Sebelum pergi, Pak Tua itu berpesan, agar Paman tetap duduk di sana dan tidak boleh beranjak kemana pun. Paman, dengan polosnya, mematuhi permintaan itu.

Hingga beberapa saat kemudian dia tersadar dengan suara-suara yang ramai memanggil namanya. Dia coba menyahut dan berjalan, perlahan mendekat ke kerumunan orang. Ketika telah bertemu dengan rombongan warga, Paman dirangkul dan dibawa kembali ke rumah. 

Ternyata, sudah dua hari Paman menghilang. Oleh sebab itu orang-orang sekampung panik mencarinya. Setelah ditemukan, paman bercerita sekadarnya saja. Dia bahkan tidak menyadari kalau telah menghilang selama dua hari. 

Seingatnya, baru sekitar satu jam dia terduduk di tempat tersebut. Dia juga sadar saat melihat orang-orang sibuk mencarinya, namun dia tidak langsung menyahut. 

Dia mengaku heran, mengapa orang-orang itu tidak melihatnya. Padahal, dia hanya duduk, sementara orang berlalu lalang di sekitarnya, tidak ada yang menyaksikan Paman sedang duduk sendiri.

Paman juga menceritakan dengan polosnya, orang tua bersorban yang membawanya ke tempat itu, kemudian pergi dan tidak kunjung kembali. Seingatnya, orang tua itu memang berpesan supaya paman tidak beranjak kemana pun.

Ya, itu salah satu cerita tentang Anja yang nyata dan diceritakan turun temurun oleh keluargaku dan dialami sendiri oleh Pamanku, dan kisah itu menjadi pelajaran bagi setiap orang tua di sana untuk mengingatkan anak-anak yang bermain tanpa mengenal waktu. 

Kenangan itu membuat saya dan saudara sepupu takut dan cemas, setiap kali berjalan sendiri di waktu magrib.

Ada cerita lain tentang Anja. Adalah seorang remaja berumur 17 tahun yang hilang sehari semalaman, sekitar tahun 2000-an. Kemudian, dia ditemukan berada di atas pohon, di pinggir jalan yang sangat sepi. Saat ditemukan, pemuda itu jauh dari perkampungan penduduk. Nama tempatnya adalah Kampung Beru.

Menurut pengakuannya, dia berjalan karena dipanggil seorang perempuan berambut panjang yang wajahnya tidak ia kenali. 

Dia diajak berjalan entah ke arah mana, tahu-tahu, setelah tersadar, pria itu sudah berada di atas pohon dan mendengar orang-orang memanggil namanya.

Memang wujud Anja ini disebut dapat berubah-ubah. Kadang seperti orang tua, paling banyak muncul dalam wujud perempuan berambut panjang, dan korbannya selalu disimpan dan ditemukan di tempat-tempat yang sunyi. 

Pantai SeruniTribun pantai Seruni yang dulunya adalah tepi pantai dengan banyak pohon kelapa. (Foto: Tagar/fitriani aulia rizka).

Semisal korbannya ditemukan di atas pohon, tengah kebun, sudut-sudut rumah, atau pun lorong-lorong kampung yang sepi. Di tempat lain mungkin saja Anja disebut Kuntilanak atau Wewegombel.

"Kalau di sini itu, ada sepasang penjaganya pakai baju bodo," kata Ibu pemilik kafe tempat saya duduk sore itu.

Iseng-iseng saya bertanya tentang cerita Anja kepadanya. Dia bergidik merinding dan mengatakan, saat ini cerita itu mulai jarang didengar, seiring dengan perubahan Kabupaten Bantaeng yang juga semakin berkembang dengan masifnya pembangunan, juga jalanan yang terang, lengkap dengan lampu-lampu penerangnya.

"Dulu kita tidak ada yang berkeliaran kalau masuk waktu malam begini, dilarang sama orang tua," tuturnya.

Sepasang penjaga Pantai Seruni, diketahui adalah suami istri. Dahulu sekali, sebelum bibir pantai ditimbun, orang-orang tua sering ditampakkan sosok Anja yang tengah berdiri menyeramkan di bawah pohon kelapa. Dia menghadap ke laut, dengan sarung yang tidak terikat, tetapi justru berkibar tertiup angin.

Ibu itu melanjutkan, selain sepasang penjaga yang menggunakan baju adat, sesekali juga terdengar suara bayi menangis di sekitar tribun pantai Seruni. 

Tidak ada yang mengetahui persis, bagaimana cerita masa lalu pasangan itu. Tidak ada satupun yang ingin berkisah. Seolah cerita tentang penjaga pantai Seruni ini sengaja ditutup rapat-rapat.

Orang-orang saat ini bisa menikmati embusan angin Pantai Seruni tanpa rasa takut dan khawatir diculik Anja. Hampir di semua tempat terdapat penerangan dengan kerlap-kerlip lampu berwarna-warni. Pantai yang dulunya suram, sepi, dan memiliki banyak cerita seram, kini telah menjadi tempat bersantai yang bisa jadi pilihan berlibur keluarga. []

Berita terkait
Cerita Ojek Online Berpenumpang Hantu di Yogyakarta
Banyak ojek online di Yogyakarta yang tertipu dengan orderan fiktif yang ternyata pemesannya adalah hantu. Simak cerita driver ojol berikut.
Selain KKN Desa Penari, Ini 3 Tempat Mistis Lainnya
Selain cerita KKN di Desa Penari, ternyata masih banyak tempat mistis di Indonesia yang belum dapat terungkap hingga saat ini.
Pengalaman Mistis di Alas Lali Jiwo Gunung Arjuno
Kisah horor pendakian Gunung Arjuno di Jawa Timur yang berbeda dengan pengalaman mistik mahasiswa KKN di Desa Penari yang diduga dari Banyuwangi.
0
Arief Poyuono: Modal Saya Tenaga Cuma Angkat Karung
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono mengungkapkan beberapa alasan mengapa dia tidak terpilih menjadi juru bicara khusus partai.