UNTUK INDONESIA
Keanekaragaman Hayati Subulussalam Menunggu Punah
Hutan Subulussalam, Aceh yang kaya akan keanekaragaman hayati yang khas sejauh ini dinilai masih belum terkelola dengan baik.
Pemandangan udara kawasan Hutan Lindung yang dijadikan sebagai kawasan Stasiun Penelitian Keanekaragaman Hayati di Desa Pasir Belo, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Senin 10 Februari 2020 (Foto: Tagar/Nukman)

Subulussalam - Ketua Komunitas Pemuda Pecinta Alam Subulussalam (Komppas), Amri Purnama Hutabarat menilai hutan Subulussalam, Aceh masih belum terkelola dengan baik.

Sebagai pegiat lingkungan di daerah itu, pria berusia 30 tahun tersebut melihat kebijakan pemerintah daerah yang mengarah kepada pengelolaan hutan dinilai belum ada keseriusan.

Amri mengatakan, bahwa keanekaragaman hayati yang tergolong langka luput dari perhatian stakeholder yang ada. Sehingga akibat daripada keluputan tersebut sumber daya alam (SDA) yang ada tak ubahnya hanya sebagai sebuah pusaka yang terpendam.

Lihat buktinya lembaga-lembaga luar itu bisa berdaya dengan memanfaatkan isu-isu lingkungan daerah kita. Pemerintah juga bisa mainkan ini.

"Padahal, di antara kandungan keanekaragaman hayati yang khas atau bahkan spesies langka di dunia dapat di temui di sekitar kawasan hutan kita," kata Amri kepada Tagar, Senin 10 Februari 2020.

Contoh, seperti, keberadaan satwa Orangutan Sumatera (Pongo abelii), Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Burung Rangkong (Bucerotidae), Beruang Madu (Helarctos Malaya US) dan beragam spesies burung lainnya.

Kesemuanya itu dapat ditemui di dalam kawasan hutan yang terdapat di dalam wilayah Kota Subulussalam.

Potensi jenis tumbuhan langka juga bisa didapati. Seperti, pohon Kayu Kapur (Dryobalanops aromatica), Kayu Damar (Agathis dammara), Kayu Meranti (Shorea), Bunga Bangkai (Amorpopalus titanum) merupakan tumbuhan yang endemik di dalam kawasan hutan Subulussalam.

Terkhusus di dalam kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil yang merupakan sebuah hutan gambut yang menjadi struktur Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) dengan luas mencapai 102.500 hektar yang terhampar dalam tiga wilayah kabupaten/kota, Kabupaten Aceh Singkil, Aceh Selatan dan Kota Subulussalam.

Sedangkan luas areal kawasan konservasi Rawa Singkil Suaka Margasatwa yang masuk ke dalam wilayah Kota Subulussalam berkisar 3.177 hektar.

Sebagaimana berdasarkan data yang dihimpun Tagar dari berbagai sumber bahwa Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, mencatat sedikitnya terdapat 157 jenis burung yang dapat ditemui di dalam kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil.

Hutan AcehPemandangan kawasan Hutan Lindung yang berada di Desa Pasir Belo, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Senin 10 Februari 2020 (Foto: Tagar/Nukman)

Dan tercatat beberapa spesies yang lain seperti, 20 jenis mamalia, 15 jenis reftelia/amfibia dan 17 jenis biota air.

Sementara itu juga teridentifikasi beberapa spesies flora, seperti 40 jenis tumbuhan air, 134 jenis tumbuhan bawah dan 130 jenis tumbuhan berkayu.

Oleh karena itu, Amri mengharapkan pemerintah daerah kiranya dapat memberdayakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal yang bergerak di bidang lingkungan untuk bersenergi dengan instansi terkait guna merumuskan program-program berbasis lingkungan yang teruji serta terukur.

"Ayo, kita punya potensi alam yang begitu kaya. Mari kita kelola keanekaragaman hayati yang tersisa ini," katanya.

Menurut Amri jangan hanya isu-isu lingkungan di daerah Subulussalam dimanfaatkan oleh segelintir lembaga-lembaga luar, baik itu nasional maupun internasional.

"Maaf, lihat buktinya lembaga-lembaga luar itu bisa berdaya dengan memanfaatkan isu-isu lingkungan daerah kita. Pemerintah juga bisa mainkan ini," tuturnya.

Pinta Amri, pemerintah daerah kiranya dapat memikirkan program pemberdayaan ekonomi masyarakat yang berbasis konservasi melalui manfaat keanekaragaman hayati yang ada. Misal dengan membuat pusat penelitian konservasi bertaraf internasional (hutan pendidikan) dan ekowisata.

Selain keanekaragaman hayati yang berada di dalam kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil, sejumlah keanekaragaman hayati yang lain juga dapat ditemui di kawasan Hutan Lindung di wilayah Kecamatan Sultan Daulat dan kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) sebagai habitat Kayu Kapur di wilayah Kecamatan Penanggalan.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kota Subulussalam, Abdul Rahman Ali mengatakan berdasarkan Undang-undang (UU) Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah Dalam Pengelolaan Kawasan Hutan (Hutan Lindung dan Hutan Produksi) menyebutkan pengelolaannya langsung di bawah kendali Pemerintah Provinsi.

Sementara untuk kawasan hutan konservasi seperti Suaka Margasatwa Rawa Singkil menjadi domainnya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.

Ketika ditanyakan mengenai peran pemerintah daerah terhadap pengelolaan kawasan Hutan Lindung, Hutan Produksi dan kawasan hutan konservasi yang terdapat di dalam wilayah Pemko Subulussalam, Ali menyebutkan bahwa pihaknya hanya sebatas koordinasi saja.

"Namun, kendati demikian nanti kami akan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi dan Kementerian. Saya rasa kita bisa melakukan koordinasi seputar program-program pengelolaan kawasan hutan," kata Ali.

Lebih lanjut dikatakannya, sebagaimana beralaskan pada peraturan Kementerian bahwa Pemerintah Kota diberikan wewenang penuh untuk mengurusi kawasan Tahura.

"Saat ini kami tengah fokus mengkelola kawasan Tahura kita. Kita optimalkan dulu di sini. Sebab Tahura ini juga adalah bagian yang penting juga, dimana Tahura Lae Kombih yang kita miliki merupakan benteng terakhir konservasi Kayu Kapur Kamper Singkil (Drybalanops Aromatica)," katanya.[]

Berita terkait
Peserta CPNS di Banda Aceh Banyak yang Terlambat
Sebanyak 1000 peserta mengikuti ujian tes CPNS hari pertama untuk wilayah Banda Aceh, Aceh.
Ratusan Balita di Aceh Terkena Gizi Buruk
543 kasus anak berusia di bawa lima tahun yang mengalami gizi buruk di Aceh Utara, Aceh
Cuaca Panas di Aceh Warga Diimbau Konsumsi Air Putih
Selama dua pekan terakhir, cuaca di Provinsi Aceh terasa begitu panas dan menyengat.
0
Data Bansos Dampak Covid-19 Kemensos di Bantul Kacau
Lurah di Bantul, Yogyakarta, dipusingkan data penerima bansos dampak Covid-19 dari Kemensos.