Pemerintah Antisipasi Second Wave Pandemi Covid-19

Wiku Adisasmito mengingatkan masyarakat Indonesia untuk waspada terhadap second wave atau lonjakan kedua pandemi Covid-19.
Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito, di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa, 25 Agustus 2020. (Foto: Kris - Biro Pers Sekretariat Presiden).

Jakarta - Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengingatkan masyarakat Indonesia untuk waspada terhadap second wave pandemi Covid-19. Karena saat ini, masyarakat di berbagai belahan dunia sedang mengalami fenomena second wave corona.

Second wave atau lonjakan kedua adalah tren kenaikan kasus kembali memuncak setelah mengalami kurva penambahan corona yang melandai.

Hal ini fenomenanya juga terjadi di Indonesia. Berdasarkan hasil riset itu, apabila seseorang terlihat sehat, bukan berarti mereka terbebas atau tidak berada dalam kondisi sakit

"Bahwa lonjakan kasus, merefleksikan kenaikan kasus aktif atau orang yang sakit, baik yang tengah menjalani isolasi atau dirawat akibat Covid-19," kata Wiku saat memberikan keterangan pers yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Kamis, 12 November 2020.

Ia mengingatkan, menurut World Health Organization (WHO), gejala Covid-19 akan muncul atau dapat dirasakan setelah 5 atau 6 hari dari terpapar virus corona. Lebih lanjut, ia menyebut paling lama dapat dirasakan setelah 14 hari, bahkan terkadang tidak tampak sakit.

Ia menjelaskan, terdapat dua istilah untuk membedakan pasien Covid-19. Di antaranya asimtomatik yang berarti dapat menularkan tanpa menunjukkan gejala apapun dan presimptomatik yang berarti orang yang masih dalam tahap pengembangan gejala atau berada dalam masa inkubasi.

Wiku merujuk pada 3 penelitian yaitu dari Kronbichler et al pada 506 pasien dari 36 studi (2020), He et al pada 50 pasien dari 114 studi (2020), dan Yu et al pada 79 pasien dari 3 Rumah Sakit di Wuhan China tahun 2020.

Lalu, lanjut dia, ketiga penelitian itu menyatakan bahwa, kebanyakan penderita Covid-19 yang tidak bergejala adalah populasi berusia muda dan berpotensi menularkan orang-orang sekitarnya.

"Hal ini fenomenanya juga terjadi di Indonesia. Berdasarkan hasil riset itu, apabila seseorang terlihat sehat, bukan berarti mereka terbebas atau tidak berada dalam kondisi sakit," ucap dia.

Untuk itu, ia meminta masyarakat terus menjaga jarak dan menerapkan protokol kesehatan. Karena, baginya, efektivitas penekanan risiko penularan akan lebih maksimal dengan menerapkan 3M yaitu memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.

"Saya imbau masyarakat jangan lengah, karena pandemi masih berlangsung. Dan saya apresiasi seluruh elemen, baik tenaga kesehatan, komunitas, pemerintah dan masyarakat karena kerjasamanya bisa bertahan di masa pandemi Covid-19 sampai sekarang," ujar Wiku. []

Berita terkait
Efek Pandemi, Pesta Ekstasi Beralih dari Bar ke Apartemen
Polisi menyebut, ekstasi yang biasanya beredar di tempat-tempat hiburan malam seperti bar beralih ke apartemen dan hotel, karena efek pandemi.
NasDem Lebak Buka Suara Terkait Penanganan Pandemi
Sekertaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai NasDem Kabupaten Lebak, Medi Juanda menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) mampu mengatasi pandemi
Hari Pahlawan, Masyarakat Diminta Berjuang di Masa Pandemi
Di Hari Pahlawan ini, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito meminta masyarakat berjuang di tengah pandemi Covid-19.
0
Penjelasan Kementerian ATR/BPN Soal Reforma Agraria
Reforma Agraria adalah program Pemerintah untuk mengurangi ketimpangan dalam kepemilikan, penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah.