Pandemi Covid-19 Jerat Warga Malaysia Jadi Mangsa Rentenir

Akibat pandemi Covid-19 banyak warga Malaysia jadi korban rentenir yang menawarkan pinjaman dengan bunga sangat tinggi
Halijah Naemat, 74 tahun, mengambil bendera putih yang sempat dia kibarkan setelah menerima bantuan di rumahnya di Petaling Jaya, Malaysia, pada 6 Juli 2021 (Foto: bbc.com/indonesia – Reuters)

Kuala Lumpur – Di seluruh dunia, pandemi Covid-19 menyebabkan bisnis bangkrut dan pengangguran. Di Malaysia, orang yang terdesak kebutuhan uang tunai untuk keluarga dan bisnis, malah menjadi korban rentenir yang menawarkan pinjaman dengan bunga sangat tinggi.

Noradhiah dan Shahirah (bukan nama sebenarnya) sangat cemas menghadapi ancaman penagih utang. Mereka berutang hampir setara dengan 1.000 dolar AS (Rp 14, 4 juta).

Masalah mereka dimulai beberapa bulan lalu setelah meminjam sekitar 4.000 dolar AS (setara dengan Rp 57,6) dari orang yang mereka kira adalah badan yang resmi memberi pinjaman uang. Setelah mengembalikan lebih dari dua kali lipat jumlah utang, mereka terus ditagih. Ketika mereka menolak membayar, kaki tangan rentenir itu mengancam merusak rumah mereka sehingga membuat kedua wanita itu, stress.

“Kurang tidur, tidak nafsu makan, selalu cemas, dan bahkan berat badan saya turun,” kata Shahirah.

Pasutri di Petaling Jaya MalaysiaIlustrasi: Pasutri di Petaling Jaya, Malaysia, di tengah-tengah lonjakan kasus Covid-19 di Malaysia (Foto: voaindonesia.com/Reuters)

Dalam setahun ini, organisasi nonpemerintah, Asosiasi Konsumen Muslim Malaysia, setiap hari menerima sekitar 25 kasus baru korban rentenir, yang meminta bantuan. Jumlah itu naik 30% dari sebelum pandemi.

Ketua Asosiasi Konsumen Muslim Malaysia Nadzim Johan mengatakan, “Ini situasi yang membuat putus asa, membuat frustrasi.”

Orang-orang dengan beragam kelas ekonomi menjadi korban rentenir, setelah meminjam kurang dari 100 dolar AS (setara Rp 14,4 juta) sampai lebih dari 1 juta dolar AS (setara Rp 143,7 miliar). Pada kontrak tertera bunga mulai kurang dari 10% per bulan. Tetapi dalam syarat dan ketentuan, yang ditulis dengan huruf sangat kecil, disebutkan bahwa bunga itu bisa naik hingga lebih dari 10% per minggu ditambah biaya tambahan. Kalau korban tidak mau membayar, rentenir terkadang merusak rumah dan mobil atau bahkan mengerahkan ‘tukang pukul.’

Seorang warga Kuala LumpurSeorang warga Kuala Lumpur melambaikan sehelai kaus putih sebagai tanda meminta pertolongan di tengah lockdown ketat yang diterapkan pemerintah Malaysia (Foto: bbc.com/indonesia – AFP/Getty Images)

“Mereka menggunakan rasa takut untuk menagih utang, menekan sekuat mungkin, supaya bisa mendapat sebanyak mungkin,” tambah Nadzim.

Noradhiah dan Shahirah meminta bantuan Asosiasi Konsumen Muslim Malaysia karena sadar bahwa mereka berada dalam jerat utang dan sangat ingin bebas. “Berapa pun yang kami bayar, tidak akan cukup. Mereka terus menagih, meminta lagi. Mereka akan menghitung, menyebut angka, dan meminta kami membayar,” imbuh Shahirah.

Untuk membantu korban keluar dari jerat itu, Asosiasi Konsumen Muslim Malaysia biasanya membujuk rentenir agar menerima 25 hingga 50% dari jumlah yang mereka minta.

Noradhiah dan Shahirah mampu mengakhiri mimpi buruk mereka dengan membayar sekitar 250 dolar AS (setara Rp 3,6 juta) dari tagihan 1.000 dolar AS (setara Rp 14,4 miliar). Mereka berdua menyadari seharusnya meminjam dari bisnis yang sah. Ini adalah pil pahit yang harus mereka, dan banyak orang lain, telan (ka/jm)/voaindonesia.com. []

Berita terkait
Jumlah Kasus Covid-19 di Malaysia Tembus 1 Juta
Jumlah konfirmasi kasus positif virus corona (Covid-19) di Malaysia mencapai 1.013.438 dengan 7.994 kematian
Malaysia Akan Izinkan Penjualan Vaksin Covid-19 Secara Komersial
Malaysia akan segera mengizinkan penjualan vaksin Covid-19 Sinopharm dan Sinovac secara komersial untuk tingkatkan vaksinasi
Warga Malaysia Kibarkan Bendara Putih di Tengah Lockdown
Malaysia lockdown ketat demi redam penularan Covid-19, sejumlah warga kibarkan bendera putih minta tolong
0
Ibu Negara Nikaragua dan 7 Lain Kena Sanksi Uni Eropa
Uni Eropa jatuhkan sanksi terhadap ibu negara Nikaragua dan tujuh pejabat tinggi lain yang dituduh melakukan pelanggaran HAM