Opini: Menghina Suku Baduy, Menghina Indonesia

Tulisan opini Akademisi UGM: Menghina Suku Baduy sama artinya menghina Indonesia. Harus diproses hukum.
Presiden Jokowi mengenakan baju adat Suku Baduy saat menyampaikan pidato dalam sidang tahunan MPR RI, Senin, 16 Agustus 2021. (Foto: Tagar/Facebook Presiden Joko Widodo)

Indonesia adalah negara kepulauan dengan ragam budaya melimpah. Ini keunikan Indonesia. Bagaikan zamrud di Katulistiwa, Bhineka Tunggal Ika.

Busana daerah beraneka ragam, dengan keunikan coraknya, embedded dengan pesan moral yang ingin disampaikan. Dari yang sederhana elegan, hingga penuh pernak-pernik dan sakral.

Baju adat Suku Baduy, di mata saya tampak sederhana dan egaliter. Yang sederhana selalu tampak lugu dan lugas. Dengan ciri khas warna biru, mirip dengan warna baju orang Jawa ketika corak Batik bulum menjadi baju rakyat, yang pada kala itu dikenal dengan istilah biron.

Baju adat Suku Baduy sangat bagus, mengapa harus dihina? Menghina baju adat Suku Baduy berarti melecehkan kebhinekaan Indonesia.

Saya sepakat dan mendukung langkah Presiden Jokowi kembali menggalakkan memakai baju adat. Baju atau ageman (bahasa Jawa) adalah jati diri bangsa.


Sekali lagi, menghina Suku Baduy sama artinya menghina Indonesia. Harus diproses hukum.


Di Jogja, sudah jarang wanita memakai jarik dan kebaya. Padahal wanita Jawa yang memakai jarik dan kebaya, tampak lebih anggun dan menawan. Perlu ada upaya serius kembali memakai jarik dan kebaya, nguri-nguri budaya adiluhung. Corak batik tidak tahu, miru jarik tidak bisa, memakai jarik ngawur, dan sanggulan ora pokro. Sungguh menyedihkan dan memperihatikan. Anehnya, justru bangga memakai baju bangsa entah berantah, yang bukan jati dirinya, krubyak-kubruk seperti baju Ninja, medeni bocah.

Baju bukan lagi dijadikan ageman, sebagai jati diri bangsa, namun dibalut dengan pernak-pernik politisasi agama, sebagai politik identitas untuk mendiskriminasi orang lain. Jahat dan terkutuk.

Bangsa keblinger yang merasa nyaman dengan memakai busana asing. Jika perilaku spiritual tidak koheren dengan perilaku kultural, bisa dipastikan orang itu radikal.

Bung Karno benar, nation character building belum tuntas.

Sekali lagi, menghina suku Baduy sama artinya menghina Indonesia. Harus diproses hukum. 

*Akademisi Universitas Gadjah Mada, Ketua Dewan Pakar Seknas Jokowi


Baca juga

Ritual Adat Baduy Usir Virus Corona Covid-19

DPR Prihatin Orang Baduy Jadi Bahan Eksploitasi




Berita terkait
Soal Ketahanan Pangan, Demul Minta Negara Belajar dari Baduy
"Baduy punya cadangan pangan selama 50 tahun ke depan. Saya kira kita harus belajar tentang kedaulatan pangan kepada mereka," katanya.
Omset Pengusaha Sepatu Cibaduyut Turun 80 Persen
Memasuki bulan ramadhan, 80 persen Omset pengrajin sepatu di Cibaduyut malah anjlok, oandemic corona penyebabnya
Kemenparekraf Dukung Wisatawan ke Baduy Dibatasi
Kemenparekraf mendukung permintaan masyarakat Suku Baduy agar kunjungan wisatawan di perkampungan mereka dibatasi.
0
Opini: Menghina Suku Baduy, Menghina Indonesia
Tulisan opini Akademisi UGM: Menghina Suku Baduy sama artinya menghina Indonesia. Harus diproses hukum.