UNTUK INDONESIA
Lima Tokoh Sunda Berpengaruh
Suku Sunda salah satu berpengaruh, baik secara jumlah maupun budaya. Berikut ini beberapa tokoh Sunda yang menonjol.
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, salah satu orang Sunda yang berpengaruh. (Foto: Tagar/Fitri Rahmawati)

Jakarta - Suku Sunda adalah salah satu suku bangsa yang berpengaruh di Nusantara, baik secara jumlah maupun budaya. Mayoritas suku ini tinggal di Jawa Barat.

Dengan jumlah dan budaya yang cukup mendominasi itu, banyak tokoh Sunda yang memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Indonesia. Peran serta dan pemikiran mereka ikut memperkaya dan membangun bangsa kita menjadi seperti sekarang ini.

Berikut ini lima tokoh berpengaruh yang berasal dari Suku Bangsa Sunda

1. Agum Gumelar

Siapa yang tidak mengenal Agum Gumelar? Agum adalah seorang Jenderal Kehormatan TNI yang tidak hanya berprestasi di dunia militer saja, tapi juga dalam politik dan pemerintahan.

Dalam biografi, Agum Gumelar: Jenderal Bersenjata Nurani (2004), Agum disebut sebagai perwira baret merah yang persuasif. Ia kerap menjalankan tugas penting yang diperintahkan, mulanya, melawan Pasukan Gerilyawan Revolusioner Serawak (PGRS) atau Pasukan Rakyat Kalimantan (Paraku) di Kalimantan Barat, kemudian ke Timor Timur untuk melawan Fretilin, melawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh, dan melawan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Papua.

Setelah lulus dari Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang tahun 1968, karier pria kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat ini, perlahan naik jabatan, hingga menjadi Komandan Korem 043 berpangkat Kolonel di Lampung. Usai menjabat di Lampung, Agum dipindahkan ke Jakarta.

Saat naik pangkat menjadi brigadir jenderal ia ditugaskan menjadi Direktur A Badan Intelijen Strategis (BAIS). Kariernya pun menanjak menjadi Komandan Jenderal Kopassus. Posisi itu hanya bertahan satu tahun, yaitu periode 1993-1994. Saat itu Agum tidak disukai oleh rezim yang berkuasa karena dianggap terlalu bersimpati pada Megawati Sukarnoputri.

Selepas dari Kopassus, Agum berpangkat Mayor Jenderal dan mendapat jabatan sebagai Kepala Staf Kodam Bukit Barisan, Staf Ahli Panglima ABRI, Panglima Kodam Wirabuana di Makassar.

Pada era Reformasi, Agum kembali ke Jakarta untuk dipercaya menjadi Gubernur Lemhanas sejak 7 Mei 1998. Saat dilakukan sidang terkait peristiwa penculikan aktivis 1997-1998 Agum menjadi salah satu anggota Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti).

Dia menjadi salah satu jenderal yang melalukan sidang terhadap Komandan Jenderal Kopassus Prabowo Subianto, yang saat ini merupakan calon presiden nomor urut dua (02).

Gubernur Lemhanas bukan jabatan akhir yang diemban pria kelahiran 17 Desember 1945 itu. Dia sempat duduk di bangku pemerintahan, mulai dari Menteri Perhubungan Kabinet Persatuan Nasional periode 1999-2000, Menteri Perhubungan dan Telekomunikasi Kabinet Persatuan Nasional periode 2000-2001, Menteri Koordinator Politik, Sosial dan Keamanan Kabinet Persatuan Nasional periode 2001, dan Menteri Perhubungan Kabinet Gotong Royong periode 2001-2004.

Agum juga pernah menjadi pimpinan dari organisasi olahraga diantaranya Ketua Umum PSSI periode 1999-2003, Ketua Umum KONI Pusat periode 2003-2007, dan Ketua Komite Normalisasi PSSI pada 2011.

Hingga akhirnya, dipercaya oleh Presiden Joko Widodo menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Kabinet Kerja sejak 18 Januari 2018.

2. Aa Gym

Tokoh agama asal Bandung bernama asli Abdullah Gymnastiar ini dinilai menjadi salah satu tokoh Islam versi The Muslim 500, buku yang diterbitkan Pusat Pembelajaran Strategis Kerajaan Islam di Amman, Yordania.

Aa Gym adalah pendiri Pondok Pesantren Daarut Tauhiid di Jalan Gegerkalong Girang, Bandung. Dia menjadi populer setelah berdakwah dengan cara yang unik, yaitu berdakwah dengan gaya teatrikal dan menyampaikan pesan-pesan yang praktis dan umum diterapkan pada kehidupan sehari-hari.

Pria kelahiran Bandung ini digemari oleh ibu-ibu rumah tangga karena dakwahnya yang berbeda dengan kebanyakan pendakwah lain yang biasanya mengambil tema tentang keutamaan salat, puasa, dan kemegahan surga. Aa Gym malah bercerita tentang pentingnya hati yang tulus, keluarga yang sakinah dan tema kehidupan dengan tutur bahasa sehari-hari yang ringan dan menyenangkan.

Di tengah popularitasnya, dia didapuk menjadi ustaz keluarga bahagia, sampai peristiwa kontroversial terjadi. Aa Gym berpoligami dari Hajjah Ninih Muthmainnah (Teh Ninih), yang telah menjadi istrinya dan ibu dari tujuh anaknya sejak tahun 1988. Dia menikah lagi dengan Alfarini Eridani pada bulan Desember 2006.

Teh Ninih yang memilih bercerai pada Maret 2008 resmi berpisah dengan Aa Gym pada Juni 2011. Namun pada Maret 2012 dia memilih kembali ke pangkuan Aa Gym lagi.

Bukan hanya dalam agama, pengaruh Aa Gym juga sampai ke dunia politik. Hasil penelitian Lingkar Survei Indonesia (LSI) Denny JA pada November 2018 soal ulama dan efek elektoral menilai adanya pengaruh kuat ulama terhadap pemilih.

Penelitian LSI tersebut sedikit banyak menyinggung pengaruh Aa Gym. Bahkan nama pria kelahiran 29 Januari 1962 itu pernah muncul dalam rekomendasi Ijtima Ulama 2, untuk mendampingi Prabowo. Namun saat itu, pimpinan Yayasan Daarut Tauhid, Bandung, Jawa Barat memilih untuk tidak menyampaikan dukungan pada satupun kandidat.

3. Ridwan Kamil

Mendengar tokoh berpengaruh Sunda, saat ini masyarakat tak akan lupa menyebutkan nama dari Gubernur Jawa Barat yang menjabat sejak 5 September 2018, Ridwan Kamil. Pria yang akrab dipanggil Kang Emil itu dianggap sebagai salah seorang yang telah membuat perubahan terhadap Kota Bandung.

Gayanya yang kekinian, membuat pria kelahiran Bandung ini dijuluki sebagai Wali Kota Gaul.

Sebelum menjadi pejabat, Kang Emil adalah seorang arsitek merangkap dosen tidak tetap di Institut Teknologi Bandung. Pada 2013, putra dari pasangan Atje Misbach Muhjiddin dan Tjutju Sukaesih ini memutuskan untuk maju dalam pemilihan walikota Bandung.

Pria kelahiran 4 Oktober 1971 ini dicalonkan oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Gerindra sebagai calon wali kota dari kalangan profesional. Hasilnya, Komisi Pemilihan Umum Kota Bandung mengumumkan pada 28 Juni 2013, Emil menang telak dari tujuh pasangan lainnya dengan perolehan suara sebesar 45,2 persen.

Ketika menjabat sebagai wali kota Bandung, sarjana Teknik Arsitektur ITB ini mulai menarik perhatian. Kang Emil dinilai sebagai satu dari berbagai pemimpin daerah yang mampu memanfaatkan media sosial untuk menyampaikan program-program pembangunan di Kota Bandung.

Dia patut berbangga diri karena dibawah kepemimpinannya, Bandung meraih ratusan penghargaan sejak tahun 2013 hingga tahun 2017. Dalam kurun waktu empat tahun, tercatat 299 penghargaan diterima Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung yang terdiri dari 86 penghargaan provinsi, 200 penghargaan nasional, dan 13 penghargaan internasional.

Beberapa diantaranya adalah Penghargaan Kota Peduli Hak Asasi Manusia 2017, Kota Cerdas Indonesia 2017, dan Kota Terbaik dalam Kepatuhan dan Kualitas Tata Kelola Seleksi Terbuka Pengisian Jabatan Pimpinan Tertinggi 2017.

Kang Emil yang mendapat penghargaan sebagai '10 Kepala Daerah Teladan' versi Tempo pada 3 Maret 2017 ini juga tercatat membuat gebrakan wisata di daerah Bandung. Langkah tersebut diantaranya adalah

1. Revitalisasi Alun-alun Bandung pada 2014 dengan desain yang benar-benar baru. Salah satunya dengan menyulap taman seluas 1,2 hektare dengan hamparan rumput sintetis dan aneka macam taman bunga.

2. Membangun 15 titik Zona Wisata Kuliner dengan tempat yang lebih nyaman, rapi, dan bersih.

3. Membangun taman tematik yang indah dengan beragam fungsi, misalnya Taman Film dibawah kolong jembatan yang semula kumuh, Pet Park, Taman Superhero yang dilengkapi replika kostum superhero, Taman Jomblo, Taman Lansia, Taman Vanda, dan taman lain yang menjadi alternatif baru bagi warga Bandung untuk bersantai.

4. Meresmikan Boseh dan Bandros dua program unik mengatasi kemacetan yaitu, Bike On The Street Everyday Happy (Boseh) dan Bandung Tour On Bus (Bandros). Boseh adalah sharing bike yang bisa disewa dengan harga Rp 4.000 per jam. Sedangkan, Bandros merupakan bus wisata dengan desain unik untuk melewati titik-titik wisata di Bandung.

5. Revitalisasi balai kota Bandung dengan mengubah ruang terbuka hijau yang dulunya bernama Taman Merpati, menjadi Taman Labirin.

6. Forest Walk Babakan Siliwangi (Baksil) berada di hutan kota Baksil yang luasnya 7 hektare. Forest walk membelah hutan dengan trek sepanjang 2,5 kilometer dan ketinggian sekitar 2-5 meter dari permukaan tanah menjadi yang terpanjang di Asia Tenggara.

Usai melakukan gebrakan di Bandung, Kang Emil pun melanjutkan kepiawaiaannya dalam memimpin di Jawa Barat. Pada pemilihan Gubernur Jawa Barat 2018, Ridwan Kamil diusung sebagai calon gubernur yang berpasangan dengan Uu Ruzhanul Ulum oleh PPP, PKB, Partai NasDem, dan Partai Hanura.

Dan hasilnya, Kang Emil menjadi Gubernur Jawa Barat ke-15 mulai 5 September 2018. Setelah resmi menjadi Gubernur Jawa Barat, Kang Emil mulai melakukan gebrakan kembali, salah satunya rencana revitalisasi Kalimalang, Kota Bekasi. Ridwan ingin sungai itu mirip dengan Sungai Cheonggyecheon, Seoul, Korea Selatan.

4. Ajip Rosidi

Ajip Rosidi adalah sastrawan, penulis, budayawan, dosen, pendiri, dan redaktur beberapa penerbitan. Dia juga pendiri serta ketua Yayasan Kebudayaan Rancage yang membawa pengaruh terhadap dunia sastra Indonesia.

Pria kelahiran Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat itu menjadi satu dari sekian banyak tokoh yang menjadi tonggak alur sejarah sastra Indonesia dan Sunda. Karya sastra yang dihasilkannya, baik artikel, majalah, makalah, maupun buku tidak hanya diterjemahkan dari bahasa Indonesia dan bahasa Sunda, tetapi juga diterjemahkan ke bahasa asing.

Kepiawaian sastra Ajip mulai terlihat sejak tulisannya dimuat dalam ruang anak-anak pada harian Indonesia Raya saat ia berusia 12 tahun. Kemudian, saat SMP, dia juga semakin menekuni dunia penulisan dengan menerbitkan dan menjadi editor serta pemimpin majalah Suluh Pelajar (1953-1955).

Meski tak menyelesaikan sekolahnya ke bangku SMA, pria kelahiran 31 Januari 1938 ini mendapat kepercayaan menjadi pemimpin redaksi sejumlah majalah, diantaranya pemimpin redaksi Mingguan Sunda pada 1965-1967 dan pemimpin redaksi majalah kebudayaan Budaya Jaya 1968-1979.

Ajip pun tercatat aktif di dunia penerbitan di Bandung dan Jakarta. Bersama rekan-rekannya ia mendirikan beberapa penerbit, diantaranya Kiwari di Bandung pada 1962, Cupumanik (Tjupumanik) di Jatiwangi pada 1964, Duta Rakyat di Bandung pada 1965, Pustaka Jaya yang berganti nama menjadi Dunia Pustaka Jaya di Jakarta pada 1971, Girimukti Pasaka di Jakarta pada 1980, dan Kiblat Buku Utama di Bandung pada 2000.

Pendiri dan pemimpin Proyek Penelitian Pantun dan Folklor Sunda (PPP-FS) yang merekam Carita Pantun pada 1970-1973 ini juga dipercaya menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta pada 1972-1981. Kemudian menjadi Ketua IKAPI dalam dua kali kongres (1973-1976 dan 1976-1979), anggota BMKN 1954, dan menjadi anggota pengurus pleno (terpilih dalam Kongres 1960). Ajip juga menjadi salah seorang pendiri Yayasan PDS H.B.Jassin pada 1977.

Sejak diangkat menjadi guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka) pada 1981, Ajip aktif mengajar di sejumlah universitas di Jepang. Ia menjadi pengajar di Kyoto Sangyo Daigaku periode 1982-1996 dan Tenri Daiganku periode 1982-1994, tapi tak lupa menulis karya sastra sembari memperhatikan kehidupan sastra-budaya dan sosial-politik di tanah air.

Pada 2008, Ajip yang telah pensiun dan mengelola beberapa lembaga nonprofit seperti Yayasan Kebudayaan Rancagé dan Pusat Studi Sunda mendapat apresiasi dari sastrawan. Karya sastra yang dihasilkannya dituangkan dalam buku berjudul Jejak Langkah Urang Sunda 70 Tahun Ajip Rosidi.

Sederet penghargaan yang diterima Ajip, antara lain Hadiah Seni dari Pemerintah RI 1993, Kun Santo Zui Ho Sho (Bintang Jasa Khazanah Suci, Sinar Emas dengan Selempang Leher) dari pemerintah Jepang sebagai penghargaan atas jasa-jasanya yang dinilai sangat bermanfaat bagi hubungan Indonesia-Jepang 1999, Anugerah Hamengku Buwono IX 2008 untuk berbagai sumbangan positifnya bagi masyarakat Indonesia di bidang sastra dan budaya, dan gelar Doktor Honoris Causa (HC) untuk program studi Budaya Fakultas Sastra dari Universitas Padjadjaran.

5. Indra Thohir

Sebagai sebuah klub sepakbola papan atas, nama Persib tak akan lepas dari tokoh yang telah membawa pengaruh besar, yaitu Indra Thohir. Dia sukses mengantarkan Persib menjadi satu-satunya klub sepak bola Indonesia yang berlaga sampai ke perempat final Liga Champions Asia.

Sebelum menjadi pelatih Persib, pria yang lahir di Kota Bandung itu adalah pengajar di almamaternya, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Fakutas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK).

Menurut pengakuannya, saat menjadi dosen UPI, ia berhasil membawa tim sepakbola kampus itu menjadi finalis kejuaraan mahasiswa.

Kemudian dua kali berhasil membawa tim sepakbola UPI mewakili Piala ASEAN Mahasiswa di Bangkok dan Jakarta.

Pelatih bertangan dingin itu mulai melatih fisik Persib pada 1984. Saat itu pelatih kepala Persib dipegang Nandar Iskandar.

Meski bukan pelatih kepala, Indra merasakan kemenangan tim Maung Bandung menjadi juara Perserikatan pada 1986. Saat itu anak asuhannya adalah Adjat Sudrajat, Yusuf Bachtiar, Djajang Nurdjaman, hingga Robby Darwis.

Empat tahun kemudian, Persib menjadi juara Perserikatan 1990 saat Indra dan Dede Rusli menjadi asisten pelatih Ade Dana. Gagal di Perserikatan 1992, Persib melakukan perombakan.

Dalam perombakan itu, Indra Thohir ditunjuk sebagai pelatih kepala dibantu mantan pemain Persib Djajang Nurdjaman sebagai asisten pelatih. Saat menjadi pelatih kepala, ia merombak skema permain Persib dari 4-3-3 menjadi 3-5-2. Skema itu yang pertama kali diperkenalkan di dunia sepakbola Indonesia.

"Pada awalnya memang menjadi kendala. Tapi, itu hanya masalah kebiasaan saja," kata Indra Thohir, dikutip dari buku Persib Juara karangan Endan Suhendra.

Strategi Indra berhasil membawa Persib menjadi juara Perserikatan pada 1994. Pelatih kelahiran 7 Juli 1941 ini dikenal memiliki wibawa besar dikalangan pemain dan tidak mengistimewakan pemain bintang dan tidak pilih kasih kembali meraih keberhasilan.

Persib menjadi juara Liga Indonesia pertama tahun 1995 setelah berhasil melatih pemain-pemain lokal tanpa punggawa asing. Padahal, menurut dia, lawan Persib adalah kesebelasan dengan beberapa pemain asing hebat, salah satunya Pelita Jaya yang punya Roger Milla dan Dejan Bozovic.

Puncaknya, Indra berhasil membawa Persib melaju ke babak perempat final Piala Champions Asia pada 1995. Hingga saat ini menjadi satu-satunya klub di Indonesia yang berhasil menembus Liga Champions. Pencapaian Indra mengantarkannya menjadi pelatih terbaik Asia pada 1995 dan Pelatih terbaik versi Majalah Bola.

"Saya akhirnya mendapatkan penghargaan pelatih terbaik Asia tahun 1995. Itu kenangan manis juga buat saya," ujarnya.

Menurut pengakuannya, ketika menjadi pelatih kepala ia hanya menargetkan tim Maung Bandung bisa bersaing di level atas Perserikatan tahun 1994 dan Liga Indonesia 1995.

Tapi setelah mencapai target lebih, ia merasakan kebanggaan sendiri jadi pelatih Persib.

Indra mengaku pernah merasa tertekan oleh para pendukung tim Maung Bandung, Bobotoh. Pasalnya, jika Persib bermain jelek, Bobotoh yang melewati rumahnya akan berkata Persib jelek.

Usai membawa Persib menjadi juara Liga Indonesia tahun 1995, Indra mengundurkan diri menjadi pelatih Persib. Lantas kembali melatih klub sepakbola UPI dan melatih tim Diklat Ragunan pada 1996.

Indra sempat kembali ke Persib dan mengisi posisi penasihat teknik tim Maung Bandung yang dinaungi PT Persib Bandung Bermartabat (PBB). Hanya saja pada 2012 ia kembali mengundurkan diri dan memilih meneruskan hobinya bermain golf dan menjadi pengajar di UPI. []

Baca juga:

Berita terkait
0
Pasien Suspek Corona asal Sibolga Meninggal di Medan
Satu orang pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19 asal Kota Sibolga meninggal dunia di Rumah Sakit Martha Friska Medan.