UNTUK INDONESIA
Kulon Progo Penyumbang Utama Kebutuhan Cabai DIY
Kabupaten Kulon Progo merupakan penyumbang utama cabai untuk provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Proses memanen cabai di Trisik Banaran Galur Kulon Progo. (Foto: Tagar/Harun Susanto)

Kulon Progo - Produksi pertanian untuk komoditas cabai di Kabupaten Kulon Progo menjadi unggulan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Bagaimana tidak, produksi cabai di wilayah ini mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan cabai di wilayah DIY.

Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kasubdit bawang merah dan sayuran umbi Mardiyah Hayati mengatakan, bukan hanya mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan cabai DIY, Kulon Progo juga menjadi salah satu daerah penghasil cabai yang mampu menyumbang kebutuhan cabai tingkat nasional.

"Jika di persentase, Produksi cabai dari Kulon Progo mampu menyumbang 2,1 % kebutuhan cabai nasional," ucap Mardiyah Hayati dalam sambutanny di Panen Cabai di Kawasan Trisik Banaran Galur Kulon Progo jumat 6 Desember 2019.

Bahkan, lanjut Mardiyah, cabai produksi dari Kulon Progo mampu menyumbang 75 % kebutuhan cabai di DIY. Berkat sumbangsih tersebut, DIY mampu menjadi daerah yang mandiri dalam pemenuhan kebutuhan cabai.

Jika di persentase, Produksi cabai dari Kulon Progo mampu menyumbang 2,1 % kebutuhan cabai nasional.

Jika di rata-rata, kebutuhan cabai di DIY setiap tahunnya mencapai 13.000 ton. Sementara itu, produksi cabai di Kulon Progo mencapai 25.000 ton, sehingga untuk produksinya Kabupaten Kulon Progo masih surplus sekitar 12.000 ton.

"Patut dibanggakan, karena Kulon Progo sudah menjadi sentra cabai besar dan diperhitungkan di tingkat nasional. Kulon Progo rangking ke 12, dari seluruh Produksi cabai di Indonesia," tuturnya.

Dia menambahkan, selama kurun waktu tahun 2014-2019 produksi cabai tingkat nasional mengalami peningkatan setiap tahunnya dengan persentase 1,8 % persen pertahun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, produksi cabai nasional mencapai 2,5 juta ton.

"Tren kenaikan produksi cabai ini menjadi bukti bahwa petani Indonesia sudah mampu mandiri dan berswasembada," terangnya.

Namun jika dilihat dari pola panennya, lanjut Mardiyah, masih ada daerah tertentu yang produksiny berkurang sehingga berfluktuasi, dan akibatnya pasokan cabai terhambat, harga naik dan berdampak pada inflasi. Oleh karena itu, perlu diupayakan agar produksi cabai mampu memenuhi kebutuhan sepanjang waktu, dari usaha tani.

Ada dua hal yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah ini. Yang pertama adalah mengatur pola tanam, dan efisiensi biaya usaha.

Sementara itu, agar menghasilkan panen yang maksimal di Dusun Trisik Desa Banaran Galur Kulon Progo, dengan Kelompok Tani (KT) Sido Dadi, dilakukanlah panen cabai dilahan seluas 40 hektar, dari total luas lahan 120 Hektar.

Tren kenaikan produksi cabai ini menjadi bukti bahwa petani Indonesia sudah mampu mandiri dan berswasembada.

Ketua Kelompok Tani Sido Dadi, Ngatimin mengatakan, produksi rata – rata cabai mencapai 20 ton cabai di pasar lelang. Pada satu musim panen, satu hektar lahan di wilayahnya mampu menghasilkan 21 ton cabai. Saat ini, harga cabai di tingkat pasar lelang cukup bagus yaitu mencapai Rp 15.000 per kilogram. Harga ini naik sekitar Rp 3.000 dari sebelumnya seharga Rp 12.000 per kilogram.

“Hasil panenan cabai lahan pantai yang masuk ke pasar lelang dijual ke Semarang, Jakarta, Jambi, hingga Palembang. Kami berharap harga cabai terus naik,” ujar Ngatimin.

Dijelaskannya, meski harga cabai cukup bagus, namun kelompoknya masih menghadapi kendala seperti jalan yang belum memadai, belum mudahnya akses transportasi hasil pertanian, dan perlunya akses pemasangan listrik dipermudah.

Sementara itu, Bupati Kulon Progo Sutedjo mengatakan, pihaknya sudah memberikan fasilitas dalam rangka meningkatkan produksi dan produktifitas cabai pada tahun ini. Fasilitas tersebut antara lain bantuan saprodi benih, pupuk dan mulsa, bagi 50 Ha lahan cabai keriting dan 20 Ha lahan cabai rawit.

Khusus untuk Kelompok Tani Sido Dadi Trisik Banaran Galur, mendapatkan fasilitas pengembangan cabai keriting seluas 10 Ha dari Tugas Pembantuan Hortikultura Tahun Anggaran 2019.

"Tentu,fasilitasi yang diberikan hanya bersifat stimulant, agar kelompok tani bisa berkembang dan semakin bermanfaat untuk anggota kelompok tani. Dan juga bisa menjadi penyemangat dalam berbudidaya cabai, sehingga meningkatkan produksi cabainya," pungkas Sutedjo. []

Baca juga:

Berita terkait
Kejari Kulon Progo Sita Uang Kas Desa Banguncipto
Kejari Kulon Progo menyita uang dugaan korupsi APDes Banguncipto Rp 227 juta. Uang tersebut pernah digunakan kedua tersangka .
Korupsi APBD Desa di Kulon Progo Ada Tersangka Lain?
Dua perangkat desa di Kulon Progo ditahan di Lapas Yogyakarta atas dugaan koupsi. Kejari Kulon Progo terus mengembangkan kasus ini.
Titik Kemacetan Kulon Progo Bertambah, di Mana Itu?
Titik kemacetan pada saat Nataru mendatang di Kulon Progo bertambah setelah Bandara YIA beroperasi sejak Mei lalu.
0
Cerita Pilu Anak Yatim Bergizi Buruk di Jeneponto
Bocah berumur satu tahun tujuh bulan itu diam di pangkuan ibunya. Tubuhnya lebih kecil dari bocah-bocah seumurannya. Cerita pilu dari Jeneponto.