UNTUK INDONESIA
Kronologi Meninggalnya Aktivis Walhi di Medan Sumut
Aktivis Walhi Sumut Golfrid Siregar meninggal dunia. Kematiannya dianggap tidak wajar, ditemukan luka serius pada kepalanya.
Aktivis Walhi Sumut dan AMAN Tano Batak berorasi sebagai bentuk protes terhadap "Indonesia Climate Change Forum & Expo) ke-9 yang berlangsung pada 5-7 September di Medan. (Foto: Tagar/Tonggo Simangunsong)

Jakarta - Aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Utara (Sumut) Golfrid Siregar meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik, Minggu, 6 Oktober 2019. Kematiannya dianggap tak wajar oleh Walhi Sumut. 

Kejanggalan itu disebabkan oleh temuan adanya indikasi penganiayaan meninggal. Kepala Golfrid mengalami luka serius seperti dipukul keras dengan senjata tumpul.

Barang-barang korban seperti tas, laptop, dompet dan cincin raib.

"Selain bagian kepala, bagian tubuhnya tidak mengalami luka yang berarti. Sementara itu barang-barang korban seperti tas, laptop, dompet dan cincin juga raib," kata Direktur Walhi Sumut Dana Prima Tarigan. Senin dini hari, 7 Oktober 2019.

Luka pada Golfrid, kata dia, tidak hanya menjadi korban kecelakaan lalu lintas biasa, melainkan ada indikasi menjadi korban kekerasan oleh oknum dengan motivasi tertentu.

"Berkendara di malam hari menjadi sangat berbahaya. Korban mengalami kekerasan hingga nyawanya terenggut. Hal ini menunjukkan Kota Medan menjadi semakin tidak aman," katanya.

Sebelumnya, diketahui Golfrid ditemukan oleh seorang tukang becak yang melintas jalan layang Simpang Pos Jalan Jamin Ginting, Medan dalam kondisi tak sadarkan diri pada Kamis, 3 Oktober 2019, sekitar pukul 01.00 dini hari.

Penarik becak tersebut langsung membawa Golfrid ke RS Mitra Sejati lalu diarahkan untuk ditangani ke RSUP Haji Adam Malik.

Polisi dalam keterangannya menyebut diduga kematian Golfrid karena kecelakaan tabrakan lalu lintas.

Untuk itu, lanjutnya, Walhi Sumut mendesak pihak kepolisian untuk segera mengusut tuntas penyebab kejadian yang menimpa Golfrid. 

"Jika polisi serius, maka tidak akan sulit untuk mengungkapnya. Hal ini mengingat kejanggalan yang secara kasat mata terlihat, dari luka-luka yang dialami almarhum," demikian Dana Prima Tarigan.

Golfrid Hilang Kontak

Manajer Advokasi dan Kampanye WALHI Sumut, Roy Lumbangaol mengatakan Golfrid tak bisa dikontak sejak Rabu, 2 Oktober 2019. 

Golfrid pamit kepada istrinya untuk pergi mengirimkan barang ke agen ekspedisi dan bertemu orang di kawasan Marendal, Medan. Namun, setelah itu ponsel tidak bisa lagi dihubungi.

Pada Kamis dini hari, 3 Oktober 2019, Golfrid ditemukan terkapar di jembatan layang Simpang Pos, Medan pada Kamis dini hari, 3 Oktober 2019. 

Roy menuturkan tempurung kepala Golfrid remuk dan dilakukan operasi pada Jumat, 4 Oktober 2019. Namun pada Minggu, 6 Oktober 2019 sore, sang aktivis itu menghembuskan nafas terakhir.

Meski pihak kepolisian mengatakan Golfrid merupakan korban kecelakaan lalu lintas, pihak Walhi Sumut mencurigai kematian Golfrid karena pembunuhan. Sebab luka yang didapatkan di kepala cukup parah, sementara tubuh lainnya hanya mengalami luka ringan.

"Barang-barang korban seperti tas, laptop, dompet dan cincin raib. Sementara sepeda motornya hanya mengalami kerusakan kecil saja," kata Roy, Minggu, 6 Oktober 2019.

Ia menduga upaya pembunuhan tersebut masih terkait aktifitas Golfrid mengadvokasi isu HAM dan lingkungan.

"Walhi Sumut mendesak Polda Sumatera Utara untuk segera mengusut tuntas peristiwa yang menimpa Golfrid," ujar Roy. []

Berita terkait
Jenazah Aktivis Walhi akan Dimakamkan di Simalungun
Jenazah aktivis lingkungan hidup Walhi Sumatera Utara, Golfrid Siregar, direncanakan akan dimakamkan di Tigadolok, Kabupaten Simalungun.
Tewasnya Aktivis Walhi Golfrid Siregar
Walhi Sumatera Utara meminta polisi menyelidki tewasnya aktivis HAM dan lingkungan Golfrid Siregar. Opini Lestantya R. Baskoro
Aktivis Walhi Sumut Meninggal Dunia, Diduga Dibunuh?
Advokat lingkungan hidup di Walhi Sumatera Utara itu ditemukan tidak sadarkan diri di fly over Jalan Jamin Ginting, Kecamatan Padang Bulan, Medan.
0
Sistem Aerosol Rusak, Ketiga Kalinya di Gedung DPR
Asap pekat yang keluar dari Gedung DPR dipastikan bukan kebakaran. Penyebabnya adalah kerusakan sistem aerosol.