UNTUK INDONESIA
Kisah Suwardi Sunat Kedua Kali di Usia 17 Tahun
Suwandi mengaku sunat ke dua kalinya karena dirinya ingin menjadi anggota TNI AD.
Suwardi, remaja dengan usia 17 tahun mengikuti kegiatan sunatan massal di halaman Rumah Sakit Pelamonia, Makassar, Jalan Sudirman, Sabtu, 7 Desember 2019. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah)

Makassar - Halaman Rumah Sakit (RS) Pelamonia, Makassar dipenuhi pelajar sekolah dasar (SD) sejak pukul 06.00 Wita. Rumah sakit milik TNI AD ini, menggelar khitanan atau sunatan massal dalam rangka memeringati Hari Juang TNI AD.

Dari 150 peserta sunatan massal dari daerah Makassar, Maros, Pangkep, Gowa, dan Takalar itu, ada satu peserta yang sunatan massal yang menjadi perhatian. Pasalnya, tubuhnya tidak kecil, dan juga umurnya tidak lagi usia seperti anak-anak lainnya. 

Dia adalah Suwardi seorang remaja usia 17 juga ikut hadir untuk mengikuti kegiatan sunatan massal ini.

“Ini bukan pertama kalinya saya disunat, dulu waktu masih usia delapan tahun pernah disunat dengan cara orang kampung tapi karena hanya sedikit yang dipotong makanya kembali lagi ke bentuk awalnya,” ujar pria bercukur cepak itu kepada Tagar usai dikhitan, Sabtu 7 Desember 2019 lalu.

Siswa di Sekolah Menegah Atas (SMA) 2 Takalar itu menyebut, dirinya nekat untuk melakukan sunat ulang karena ingin mendaftar menjadi seorang prajurit TNI seperti dengan kerabatnya yang saat ini sudah menjadi anggota TNI.

“Teman-teman bilang, kalau tidak bagus sunatnya tidak bisa ikut mendaftar menjadi anggota TNI, makanya karena saya sangat ingin menjadi seorang tentara saya makanya saya meminta untuk dikhitan,” tambahnya.

Dengan memegang ujung sarung agar kainnya tidak terkena bekas sunat Suwardi menyebutkan, keinginan untuk melakukan khitan sudah ada sejak dua tahun terakhir tapi karena tidak memiliki biaya akhirnya dia urungkan.

“Dulu pernah saya cari-cari untuk bisa sunatan gratis, tapi tidak dapat di mana lokasinya untuk bisa daftar. Karena orangtua yang bekerja sebagai petani dan keuangan yang pas-pasan saya tidak bisa sunat sendiri, harus menunggu sunatan gratis,” tambahnya.

Dorongan untuk Suwardi melakukan sunat ulang juga didukung oleh anggota Bintara Pembina Desa (Babinsa), Samad yang bertugas di Kelurahan Rajaya, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Takalar.

“Dari infonya pak Samad, saya akhirnya bisa ikut sunatan gratis ini. Saya merasa sangat senang karena akhirnya bisa sunat dengan sebagaimana mestinya, kalau dikampung dulu waktu mau disunat harus dipegang oleh empat orang besar karena sangat sakit dan tidak disuntik dulu,” ujarnya.

Suwardi juga merasa setelah disunat untuk ke dua kalinya, rasanya sangat berbeda dari sebelumnya, dan juga cara sunat yang dilakukan oleh tim dokter bahkan tidak dirasakan sakit sedikitpun olehnya.

“Waktu sunat di kampung dulu saya masih ingat rasanya sakit sekali, sementara yang disunat lewat dokter ini tidak ada rasanya sama sekali,” ujarnya.

Sunatan MassalPeserta sunatan massal menangis saat menjalani kegiatan khitanan massal di halaman Rumah Sakit Pelamonia, Makassar, Jalan Sudirman, Sabtu, 7 Desember 2019. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah)

Alami Kelainan di Kelamin

Suwardi yang datang bersama dengan beberapa anak di daerahnya mengaku bahwa ia tidak malu sedikit pun karena baru bisa disunat lagi saat usianya sudah 17 tahun, sementara anak-anak lainnya umunya di sunat di usia delapan atau sepuluh tahun.

“Kalau dibilang malu, saya tidak malu untuk sunat ulang. Saya beranikan diri dan buang rasa malu saya sama peserta sunat lain yang umurnya lumayan beda jauh,” ujar siswa jurusan Ilmu Pengatuan Alam (IPA) itu.

Anak dari seorang petani itu bercerita bahwa selama beberapa tahun terakhir utamanya saat hasil sunatan yang berubah ke bentuk semula, saat dirinya membuang air kecil akan terasa perih, dan tidak hanya sebentar tapi berlangsung beberapa lama.

“Kalau saya sudah kencing, rasanya itu ngilu dan berlangsung cukup lama sehingga saya juga merasa tidak nyaman dalam beraktifitas, utamanya saat berada di sekolah itu sangat menggangu bagi saya,” jelas Suwardi yang kini sudah duduk dibangku kelas tiga itu.

Ia menambahkan, dirinya baru menyadari bentuk bekas khitannya tidak lagi normal pada saat kelas tiga sekolah menengah pertama (SMP). Tapi saat itu dirinya hanya bersabar dan tidak tahu bagaimana cara untuk memperbaikinya.

“Baru tahu kalau biasa ada yang selenggarakan sunatan gratis saat itu juga, tapi saat itu tidak tahu mau cari di mana orang yang bisa memfasilitasi untuk sunat gratis,” katanya.

Suwardi berharap setelah dirinya mendapatkan sunat gratis dari acara peringatan hari juang Kodam XIV Hasanuddin, tidak ada lagi hal- hal yang dapat menggangunya, utamanya saat dirinya biasa setelah melakukan buang air kecil.

“Semoga sunat yang ini tidak seperti yang waktu disunat di kampung. Dan semoga ini saya bisa beraktifitas dengan baik dan bisa menjadi seorang tentara di masa yang akan datang dan membanggakan keluarga,” lanjutanya.

Keinginannya untuk menjadi tentara karena melihat selama ini menjadi seorang tentara bisa terlihat gagah dan juga menjadi tentara bisa dihormati oleh masyarakat.

“Dikampung saya menjadi seorang tentara sangat dihargai oleh masyarakat, karena memang sangat dekat dengan masyarakat,” jelasnya.

Sunatan MassalMuhammad Arif dan orangtuanya usai mengikuti kegiatan sunatan massal di halaman Rumah Sakit Pelamonia, Makassar, Jalan Sudirman, Sabtu, 7 Desember 2019. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah)

Ingin Disunat Lebih Awal

Berbeda dengan Suwardi, peserta sunat lainnya yang ditemui Tagar Muhammad Alif, kini usianya 10 tahun dan telah mengecap pendidikan di kelas empat SD 56 Takala, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkep.

Menurutnya, dirinya sudah lama ingin disunat akan tetapi kesempatan dirinya akan disunat baru bisa terwujud ditahun 2019 ini. Pada tahun-tahun sebelumnya Alif tidak kebagian kuota yang telah disiapkan oleh Babinsa setempat.

“Alhamdulillah sekarang sudah bisa disunat dan rasanya dikhitan juga tidak sakit meski kata teman- teman saya sakit kalau dikhitan,” ujar anak yang berasal 55 kilometer dari pusat Kota Makassar itu.

Anak yang bercita-cita ingin menjadi guru itu menambahkan, keinginannya untuk sunat sudah sejak lama karena teman seumurannya sudah semua dan sisa dirinya saja yang belum.

“Kadang kalau main teman-teman biasa meledek saya kalau saya itu belum disunat. Makanya setelah ini tidak akan diledek lagi,” tambahnya.

Sementara itu, orangtua Arif, Mahmud mengatakan senang rasanya anaknya sudah bisa dikhitan. “Alhamdulillah akhirnya bisa tersampaikan juga keinginan Arif untuk bisa dikhitan, apalagi sudah sejak lama ingin dkhitan,” ujarnya.

Mahmud menambahkan, dirinya memang menunggu momen sunatan gratis seperti ini, apalagi dirinya dari keluarga yang kurang mampu tidak sanggup untuk membayara biaya sunat yang biasanya harganya lumayan mahal.

“Arif akhirnya bisa dikhitan setelah ada pemberitahuan dari Babinsa kalau ada sunatan gratis yang akan beralangsung di Makassar, saat dapat kabar itu Arif sangat semangat untuk daftar agar bisa dikhitan,” tambahnya.

Arif dan kedua orangtuanya sendiri mengaku tiba di acara khitanan ini sejak pagi hari dan datang bersamaan dengan rombogan lain menggunakan kendaraan tentara setempat di Pangkep.

“Bersyukur ada kegiatan begini karena meringankan juga bagi keluarga yang kurang mampu. Apalagi setelah dikhitan anak- anak diberikan bingkisan dan juga uang jajan dari panita khitanan massal,” jelas Mahmud yang berusia 40 tahu itu.

Ia juga berharap kegiatan ini akan berulang disetiap tahunnya, agar semua anak- anak kurang mampu bisa juga dikhitan sesuai dengan ketentuan orang Islam.

Sunatan MassalBeberapa anak dan orangtua yang mengikuti kegiatan sunatan massal di halaman Rumah Sakit Pelamonia, Makassar, Jalan Sudirman, Sabtu, 7 Desember 2019. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah)

Didukung Puluhan Dokter Berpengalaman

Kepala Kesehatan Kodam (Kakesdam) XIV/Hasanuddin Kolonel Ckm dr. Soni Endro Cahyo W dalam kesempatan terpisah mengatakan, kegiatan bakti sosial ini sudah berlangsung dari tahun ke tahun khususnya dalam memperingati hari juang kartika.

“Ini merupakan rangkaian kegiatan dalam hari juang kartika. DImana dalam kegiatan bakti sosial ini dilakukan banyak kegiatan seperti donor darah, pemeriksaan kesehatan dan khitanan massal. Selain itu juga akan dilangsungkan kegiatan operasi bibir sumbing,” kata Soni.

Untuk menyukseskan kegaiatan bakti sosial ini sendiri, Soni menyebutkan pihaknya dibantu oleh puluhan dokter yang telah memiliki pengalaman sesuai dengan bidangnya masing- masing.

“Jadi kita dibantu oleh puluhan dokter dan tenaga yang sudah ahli dibidangnya masing- masing. Khusus pengambilan darah, pihak kita langsung bekerja sama dengan unit darah Palang Merah Indonesia (PMI) Makassar,” jelasnya.

Perlu diketahui, Hari Juang Kartika TNI Angkatan Darat adalah hari yang khusus Korps Infantri TNI AD dan diperingati setiap 15 Desember yaitu untuk mengenang Pertempuran Ambarawa yang sebelumnya bernama Hari Infantri. []

Berita terkait
Mengunjungi Rumah DP Nol Rupiah Anies Baswedan
Apa kabar rumah DP 0 rupiah gagasan Anies Baswedan pada zaman kampanye pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017?
Kisah Cinta Terlarang Tiga Perempuan Semarang
Tiga perempuan Semarang menjalani kisah terlarang demi sebuah alasan yang hanya mereka mengerti.
Banjir Makassar Menyisakan Trauma
Di antara suara hujan deras, Imran dan Rahayu menceritakan trauma banjir Makassar 2019. Sangat mengerikan. Hal buruk terjadi pada anaknya.
0
669 Guru Honorer Dairi Terancam Tidak Terima Gaji
Ratusan guru honorer di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, terancam tidak terima gaji.