UNTUK INDONESIA
Keselamatan Warga Subulussalam Terancam dari Harimau
Harimau kembali mencoba memangsa ternak warga Desa Singgersing, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Aceh.
Warga membandingkan tangannya dengan jejak Harimau Sumatra di Desa Kualu Nenas, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, Jumat, 6 Desember 2019. Setelah melakukan pengecekan ke lokasi, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau memastikan jejak tersebut merupakan jejak dari Harimau Sumatra yang diperkirakan lebih dari satu ekor yang melintas dikawasan tersebut. (Foto: Antara/Rony Muharrman)

Subulussalam - Penanganan konflik harimau di wilayah Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Aceh hingga kini belum dapat teratasi.

Dilaporkan harimau baru saja kembali mencoba memangsa ternak warga Desa Singgersing, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam sehingga seekor sapi milik warga menderita luka pada bagian paha kaki depan akibat terkena gigitan harimau.

Jangan sampai harimau menyerang manusia baru harimaunya kita evakuasi. Nanti masyarakat bisa marah.

Menanggapi teror harimau yang kian meresahkan warga itu, Kepala Kepolisian Resor Subulussalam, Ajun Komisaris Besar Polisi Qori Wicaksono telah memanggil pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh serta meminta agar harimau yang tengah berkeliaran di sekitar permukiman penduduk untuk segera di evakuasi dengan cara tembak bius.

Dikatakan Qori, walau harimau tersebut merupakan jenis satwa yang amat dilindungi, akan tetapi, keselamatan warga jauh lebih diutamakan.

Qori mengatakan telah mengitruksikan Kepala Polisi Sektor Sultan Daulat untuk mensiagakan personilnya di Desa Singgersing guna mengamankan warga dari ancaman serangan harimau.

"Jangan sampai ada jatuh korban. Jangan sampai harimau menyerang manusia baru harimaunya kita evakuasi. Nanti masyarakat bisa marah," kata Qori kepada wartawan, Rabu, 26 Februari 2020.

Qori menegaskan bila harimau menyerang manusia maka pihaknya terpaksa akan melakukan penembakan terhadap harimau tersebut, sebab melindungi jiwa raga manusia merupakan kewajiban kepolisian.

Oleh karena itu, Qori mendesak agar BKSDA segera melakukan tindakan dengan cara tembak bius sebelum harimau tersebut menyerang manusia atau memangsa ternak warga lebih banyak lagi.

"Kami minta BKSDA untuk segera mendatangkan alat khusus untuk menembak bius harimau itu, sebab masyarakat sudah tak nyaman lagi untuk beraktivitas," ujar Qori.

Sementara, Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Aceh, Hadi Sofyan ketika dihubungi melalui sambungan telepon mengatakan akan segera menurunkan tim dari Banda Aceh untuk melakukan evakuasi dengan cara menjerat harimau dan memasangkan perangkap.

"Saya sudah lapor, insyaallah besok tim sudah sampai ke Subulussalam. Caranya bukan dengan tembak bius. Tetapi kita pasang perangkap untuk menjerat harimau tersebut dan kemudian harimau itu nantinya akan langsung dievakuasi. Nanti juga turut dibantu pawang," ucap Hadi, Rabu, 26 Februari 2020, malam.[]

Baca juga: 

Berita terkait
Pukul Wartawan, Pengusaha di Aceh Ditangkap Polisi
Petugas kepolisian resor (Polres) Aceh Barat akhirnya menahan Akrim Nurdin seorang pengusaha yang melakukan penganiayaan terhadap seorang wartawan.
Jawaban Manajer Soal Mogok Kerja di Aceh Singkil
General Manajer Pabrik Minyak Kelapa Sawit PT Runding Putra Persada Zulkarnen mengaku sudah melakukan mediasi kepada karyawannya.
Misteri di Balik Perampokan Emas Subulussalam Aceh
Kasus perampokan toko emas Permata Bunda di Subulussalam, Aceh masih dalam penyelidikan.
0
Program Sejuta Rumah di Sidempuan Sarat Kejanggalan
Yayasan Kompak melaporkan dugaan penyimpangan program sejuta rumah di Kota Padangsidempuan.