UNTUK INDONESIA
Untuk Indonesia
Kembalikan Pelajaran Sejarah
Sekolah, begitulah tuntunan sekaligus tuntutan kurikulum, sudah sangat minim memberikan waktu (les) khusus bagi pelajaran sejarah.
Foto: Istimewa

Oleh: *Ingot Simangunsong

Sejarah, ini mata pelajaran yang sudah semakin tidak diminati lagi.

Sekolah pun, begitulah tuntunan sekaligus tuntutan kurikulum, sudah sangat minim (bahkan boleh dikatakan tidak) memberikan waktu (les) khusus bagi pelajaran sejarah.

Padahal ada ribuan atau puluhan ribu guru sejarah yang "lahir" dari IKIP (sekarang jadi universitas) dan sekarang untuk proses belajar mengajarnya, seperti diceritakan seorang guru wanita, hanya dua kali seminggu, dengan durasi 1 les saja.

Peranan guru sejarah untuk menyampaikan pesan kesejarahan negeri maupun mancanegara, sudah semakin diperkecil. Anak didik pun, semakin minim memahami sejarah bangsanya, apalagi sejarah negara lain.

Padahal, sejarah, disukai atau sengaja tidak disukai atau tidak disukai, merupakan pembungkus keberadaban, etika, dan adat budaya.

Pejuang Muda, Tentara Pelajar

Melalui sejarah, kita dapat mengetahui bagaimana para anak bangsa, termasuk yang masih usia muda anak remaja berjuang untuk kemerdekaan. Bagaimana anak bangsa tampil di kanca politik dunia.

Bagaimana mantan Wapres Try Sutrisno berperan sebagai penyidik dalam (PD) yang menyusup ke wilayah musuh.

Bagaimana Willem Sriyono yang masih berusia 14 tahun ikut dalam penyerbuan markas Kempeitai di Solo

Kemudian Leonardus Benjamin Moerdani (1932-2004) alias Benny Moerdani. Pada 1945, ia yang usianya lebih tua tiga tahun dari Try Sutrisno, seperti dicatat Julius Pour dalam Ignatius Slamet Rijadi: dari mengusir Kempeitai sampai menumpas RMS (2009: 28), ikut dalam penyerbuan markas Kempeitai di Solo. 

Dari sejarah juga, kita ketahui daftar remaja Indonesia yang terjun dalam pusaran revolusi, seperti Ferry Sie King Lien, remaja keturunan Tionghoa yang menjadi anggota Tentara Pelajar, yang gugur dalam sebuah palagan melawan Belanda di Solo pada 1949.

Menurut Yunus Yahya dalam Peranakan Idealis: Dari Lie Eng Hok sampai Teguh Karya (2002), King Lien yang saat itu berusia 16 tahun adalah keponakan pemilik pabrik gelas di kampung Kartopuran. Jasadnya dikebumikan di Makam Pahlawan Jurug, Solo. 

Hilang Identitas

Jadi, jika pelajaran sejarah pun, sudah tidak mendapatkan ruang yang lebih luas dalam dunia pendidikan kita, itu pertanda generasi ke depan, akan semakin kehilangan jatidiri. Bahkan, akan kehilangan identitas.

Tidak hanya itu, para pemelintir sejarah pun, akan semakin bebas memutar-balikkan, mengaburkan, maupun menghilangkan penggalan sejarah.

Bukankah, "Cara paling mudah untuk menjajah sebuah bangsa, bikin kaum mudanya melupakan sejarah bangsanya sendiri. Malu akan budayanya sendiri."

Dengan kondisi tersebut, betapa akan semakin gampangnya, para politisi busuk, para provokator maupun pelacur-pelacur politik, menanamkan ajaran-ajaran sesat ke dalam pikiran anak-anak negeri.

Sekolah dan perguruan tinggi, adalah fasilitas yang rerukur dalam penguatan pengenalan dan pemahaman tentang sejarah bangsa dan negara ini, maupun mancanegara.

Sejarah harus diberi ruang lebih luas, agar anak-anak kita, dapat menyerap kesejaraan. Sehingga, mereka dapat mempertahankan kualitas keberagamaannya, maupun memperjelas identitas sebagai anak bangsa yang beradab.

Dengan memahami sejarah bangsanya, maka anak-anak kita, akan tumbuh menjadi generasi berkemajuan. Mereka akan lebih jelas menetukan arah pertumbuhan dan perkembangan negeri ini.

Mari para ahli pendidikan, untuk lebih memberi ruang yang luas bagi mata pelajaran bidang sejarah. Agar anak-anak kita tidak kehilangan identitas dan jati dirinya. Bung Karno bolak balik mengingatkan, JAS MERAH, Jangan Sekalipun Melupakan Sejarah.

Kita bangkitkan semangat kesejarahan, sebagai kain pelindung bangsa dari rongrongan para politisi busuk, para provokator dan para pelacur politik.

Bangkit dan kembalikan pelajaran sejarah, dengan durasi lebih besar dan kualitas sajian yang kekinian. Agar anak-anak kita, tidak menjadi buta di teriknya matahari. Karena akibat buta data dan buta sejarah maka kelak mereka menjadi buta politik. Kelak mudah ditipu dan tertipu oleh berbagai hoaks dan fitnah politik dari dan oleh para politisi busuk.

*Ingot simangunsong

Penulis senior GDD Sumut, Gerakan Daulat Desa

Berita terkait
Lima Tempat Bersejarah Saksi Kekejaman G30S/PKI
Setiap tanggal 30 September pasti menyimpan memori rakyat Indonesia atas salah satu peristiwa mengenaskan yang tercatat dalam sejarah bangsa.
29 September dalam Pusaran Sejarah Dunia
Sepuluh peristiwa besar di dunia ini terjadi pada 29 September. Pada tanggal tersebut Indonesia juga mencatat sejarah. Kejadian apakah itu?
Sejarah Kota Kendari, Wilayah Kerajaan Konawe
Pada masa Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda, status Kota Kendari ditetapkan sebagai Ibu kota Onder Afdeling Laiwoi.
0
Saya Bingung Sama Anda Nadiem Makarim
Mungkin Nadiem Makarim orang genius di tempat yang salah hingga sibuk berwacana kontroversial. Opini akademisi UGM Bagas Pujilaksono.