UNTUK INDONESIA
Kata Polisi Aksi Klitih di Yogyakarta Ada Sejak Dulu
Polisi menganalisa aksi klitih bukan hal baru di Yogyakarta. Sejak dulu klitih sudah ada. Bedanya dulu kurang terekspose, berbeda dengan sekarang.
Kabid Humas Polda DIY Kombes Pol Yuliyanto saat memberikan keterangan kepada wartawan (Foto: Tagar/Evi Nur Afiah)

Yogyakarta - Aksi klitih semakin marak terjadi di Yogyakarta. Fenomena sosial yang melibatkan anak usia remaja itu disebut bukan hal yang baru. Mengapa demikian?

Dari analisis kepolisian, orang tua saat ini pernah ada yang terlibat tindak kenakalan saat mereka remaja dulu. Namun yang membedakan adalah perkembangan teknologi informasi yang sudah demikian pesatnya.

Saat itu, kenakalan remaja dinilai kurang begitu menjadi perhatian publik. Salah satunya karena tidak viral di media sosial maupun di pemberitaan media massa. Berbeda dengan saat ini, era teknologi informasi yang telah berkembang pesat membuat hal tersebut terekspose.

Kapala Bidang Hubungan Masyarakat Polda DIY Komisaris Besar Polisi Yuliyanto mengayakan di era saat ini, informasi apapun sudah tidak bisa dihindari lagi. Netizen orang menyebutnya menjadi lebih aktif menekan ponsel pintarnya lalu share ke publik.

"Aksi klitih adalah fenomena dari dulu saya kira sudah ada. Dari zaman yang sekarang sudah mulai menua juga mungkin mengalami masa remajanya nakal, bukan fenomena baru," kata Kombes Pol Yuliyanto di Yogyakarta, Selasa 14 Januari 2020.

Pengaruh media sosial yang membuat hal kecil menjadi viral. Itu pada akhirnya juga berdampak kepada masyarakat yang membaca atau menyaksikan tayangan yang mereka peroleh dari media konvensional atau media sosial. "Karena orang-orang kita sekarang apa-apa viral. Jadi yang membedakan dulu dan sekarang itu ada pada kecanggihan teknologi," ucapnya.

Dari zaman yang sekarang sudah mulai menua juga mungkin mengalami masa remajanya nakal, bukan fenomena baru.

Mereka yang mendapat informasi itu menjadi resah karena banyaknya pelaku aksi kenakalan remaja yang ditangkap kepolisian. Keresahan juga karena ada korban klitih yang sampai meninggal dunia. Akibatnya menjadi kekhawatiran banyak orang untuk beraktivitas khususnya pada malam hari.

Sekilas informasi, aksi yang biasa disebut Klitih atau Nglitih ini bukanlah fenomena baru. Namun jika melihat dari arti kata sebenarnya, klitih sangat jauh dari aksi kekerasan maupun tawuran yang saat ini digunakan untuk sebutan remaja yang nakal.

Klitih merupakan istilah yang merujuk kepada Pasar Klitikan Yogya. Dulu, artinya adalah melakukan aktivitas yang tidak jelas dan bersifat santai sambil mencari barang bekas dan klitikan. Sementara istilah Nglitih digunakan untuk menggambarkan kegiatan jalan-jalan santai.

Namun kata itu berubah fungsi menjadi sesuatu yang negatif karena pelaku klitih didominasi oleh remaja yang notabene adalah anak-anak sekolah di bawah umur. Mereka berkeliaran di jalan pada malam hari dan membuat kegaduhan di jalan. []

Baca Juga:


Berita terkait
Pria Seret Senjata Tajam Mau Bacok Orang di Jogja
Warga Jogja diamankan polisi setelah membuat kegaduhan dengan membawa senjata tajam yang diseret di jalan. Dia berencana membacok orang.
Begini Cara Polisi Menangani Klitih di Yogyakarta
Aksi klitih atau kejahatan anak muda di Yogyakarta sudah meresahkan. Warga kawatir dan tidak nyaman keluar malam. Polisi punya cara mengatasinya.
Saran Sri Sultan HB X Mengatasi Klitih di Yogyakarta
Klitih semakin meresahkan warga Yogyakarta. Sultan memberi saran agar dialog dengan keluarga diutamakan dalam mengantisipasi klitih.
0
Perumahan Pondok Maharta di Tangsel Kembai Banjir
Banjir melanda Perumahan Pondok Maharta, Pondok Aren, Kota Tangsel, Banten, 500 KK terdampak banjir