UNTUK INDONESIA
Hujan Mulai Turun Oktober di Semarang
Musim penghujan di wilayah Jawa Tengah diperkirakan bakal mulai awal Oktober. Ditandai dengan turunnya hujan di beberapa wilayah dataran tinggi.
Ilustrasi seseorang di tengah hujan. (Foto: Pixabay)

Semarang – Musim penghujan di wilayah Jawa Tengah diperkirakan bakal mulai  awal Oktober. Ditandai dengan turunnya hujan di beberapa wilayah dataran tinggi seperti di kawasan lereng dan kaki Gunung Slamet.

“Pada tahun ini musim penghujan mundur sekitar satu bulan dikarenakan suhu muka laut yang mendingin akibat meningkatnya perbedaan tekanan udara,” kata Prakirawan Stasiun Klimatologi kelas 1 Semarang, Rosyidah, Sabtu 24 Agustus 2019.

Rosydah menyatakan kondisi tersebut berbeda dengan tahun lalu, dimana kemarau dan panasnya cuaca saat itu juga dipengaruhi dengan munculnya aktivitas El Nino. “Tahun ini tidak ada aktivitas El Nino,” ujar dia.

Sementara untuk perkiraan alam saat ini, Rosyidah memperkirakan kemarau di sebagian besar Jawa Tengah masih akan terjadi hingga September mendatang. Dimana pada Agustus ini, kemarau mengalami masa puncaknya.

Berdasarkan data Klimatologi, daerah di Jawa Tengah yang masih terjadi musim kemarau adalah Pantura bagian barat seperti Tegal, Pemalang, Pekalongan dan sebagian Batang.

“Sementara untuk wilayah di Banjarnegara, Purbalingga dan beberapa daerah di Pantura bagian timur diprediksi juga masih akan mengalami puncak kemarau pada September,” tuturnya.

Khusus Pantura timur seperti pesisir Jepara dan Demak, musim kemarau diperkirakan lebih panjang. “Di wilayah itu awal musim penghujan bisa mundur mulai pertengahan Desember. Ini karena curah hujan di wilayah itu lebih rendah dibanding tempat lain,” kata dia.

Terkait dengan perkiraan cuaca ini, Rosyidah mengimbau kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan saat memasuki peralihan musim dari kemarau menuju hujan. Sebab cuaca ektrim bisa terjadi saat masa transisi musim, seperti hujan lebat yang disertai petir serta angin.

Sementara itu, teriknya kemarau juga masih terasa di dataran tinggi di Pegunungan Menoreh. Bahkan kemarau juga menimbulkan krisis air hingga menyebabkan sebagian besar sawah di Desa Ngargoretno, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang mengalami puso atau gagal panen.

“Kami ada rencana untuk membuat embung agar ada ketersediaan air khususnya di musim kemarau. Tinggal dukungan dari pemerintah provinsi maupun pusat untuk merealisasikan rencana ini,” beber Pjs Kepala Desa Ngargoretno Supomo.

Sementara ketersediaan air bersih untuk kebutuhan harian, warga desa mengandalkan sumber air yang ada di puncak Menoreh. Air alami dari mata air dialirkan menggunakan pipa paralon, masuk ke bak penampungan. Dari tandon, air selanjutnya disalurkan ke rumah warga pakai selang.

“Selain dengan mengalirkan air dari mata air yang ada di atas, ada juga bantuan pemerintah berupa satu sumur bor. Dan tahun ini dibuat satu sumur bor lagi. Alhamdulillah cukup membantu mengatasi kesulitan air bersih,” beber Heri, 37, tokoh pemuda Dusun Karangsari, Ngargoretno. []

Baca juga:

Berita terkait
Mundur, Penutupan Lokalisasi Pelacuran di Semarang
Rencana penutupan tempat pelacuran di Lokalisasi Sunan Kuning (SK) dan Gambilangu (GBL), Kota Semarang, Jateng, mundur dari rencana semula.
Pemenang Tender Stadion Citarum di Semarang Dibatalkan
Pemkot Semarang membatalkan pemenang tender penataan kawasan Stadion Citarum tahap I tahun 2019
Semarang Bakal Dipasang 10 Ribu CCTV, untuk Apa?
Sejumlah titik di Kota Semarang bakal dipasang 10 ribu kamera pengawas atau CCTV. Untuk apa upaya itu?
0
Revisi UU KPK, Jokowi Minta Masyarakat Bersuara ke DPR
Presiden RI Joko Widodo menyampaikan tanggapannya terkait keputusan Revisi Undang-Undang KPK. Ia mengaku, ide awal revisi tersebut dibawa oleh DPR.