UNTUK INDONESIA
Hantu Pocong Penunggu Lubang Buaya
Monumen Lubang Buaya jadi saksi kekejaman PKI saat tragedi G30S-PKI. Ditempat ini jasad tujuh jenderal dimasukkan dalam sumur.
Museum Lubang buaya yang berada di area Monumen Pancasila Sakti. (Foto: Tagar/Putra Abdul Fatah Hakim)

Jakarta - Cerita mistis Lubang Buaya yang satu kompleks Monumen Pancasila Sakti di Pondok Gede, Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur membuat bulu kuduk pengunjung bergidik. Aura mistis sudah dirasakan sejak masuk ke area Lubang Buaya meski telah direvitalisasi.

Saat mendekati Lubang Buaya, terdapat papan bicara menjelasan sumur tua sedalam 12 meter dan berdiameter 15 cm yang digunakan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk mengubur tujuh jenderal pahlawan revolusi.

Tujuh pahlawan revolusi tersebut yakni Jendral TNI Anumerta Ahmad Yani, Letnan Jendral (Letjen) Anumerta Suprapto, Letjen Haryono, Letjen Siswono Parman, Mayor Jendral (Mayjen) Pandjaitan, Mayjen Sutoyo Siswomiharjo, dan Brigadir Jendral Katamso Darmokusumo.

Meski Lubang Buaya sudah dipasangi tehel keramik, tetapi kekejaman PKI terhadap para jenderal terbayang jelas. Apalagi di area juga terdapat 34 diorama yang menyajikan peristiwa-peristiwa kekejaman PKI dalam bentuk 3 dimensi.

Selain terbayang kekejaman PKI pada saat itu, suasana mistis sangat kuat dirasakan. Hal itu, dirasakan oleh penjaga museum Bobby (nama samaran) dan juga rekannya Ahmad (nama samaran). 

Mereka mengaku telah menjadi penjaga di monumen ini hampir sepuluh tahun. Tak hanya itu, mereka menjaga bangunan ini dari pagi hingga bertemu pagi kembali. Sangat banyak kejadian-kejadian aneh yang mereka jumpai, sehingga sudah mengganggap hal biasa.

Ahmad pernah melihat sosok pocong yang tali kain kafannya sudah terlepas. Ia mengaku melihat sosok pocong saat berada di samping gedung Museum Pengkhianatan PKI. Ahmad mengaku pocong tersebut terbang menuju sumur Lubang Buaya dari Museum Pengkhianatan PKI.

"Saya lihat di samping gedung pengkhianatan PKI dan tiba-tiba terbang menuju sumur. Ini terjadi ketika sedang berjaga malam hari," ungkapnya saat ditemui Tagar, 1 November 2019.

Tak hanya itu, ketika Ahmad berpatroli mengelilingi tiap ruangan, dirinya sering mendengar percikan air seperti orang sedang bermain air di kamar mandi.

"Tapi saat dicek ke kamar mandi, tak ada seorang pun di sana dan tiba-tiba suara menghilang," sebutnya.

Ahmad mengakui museum Lubang Buaya sangat angker. Itu dikarenakan penyiksaan yang dilakukan PKI berada persis di samping museum. Sehingga ia beberapa kali melihat arwah korban kekejian PKI di tempat tersebut.  

"Tapi itu bukan arwah para jenderal, melainkan oleh arwah-arwah tempat pemakaman yang berada persis di samping museum. Arwah para jendral telah pindah bersama dengan pindahnya jasad mereka ke TMP (Taman Makam Pahlawan) Kalibata," kata Ahmad.

Ini terjadi ketika sedang berjaga malam hari.

Sementara Bobby mengaku dirinya pernah melihat sesosok hitam berbadan besar di dekat Lubang Buaya saat berjaga di ring 1. Ia mengaku melihat sosok besar hitam tepat pukul 00.00 Wib.

"Saat itu sedang patroli di sekitar ring 1 dan melihat sosok hitam besar hampir melebihi pohon itu (pohon palem) dan tiba-tiba hilang begitu saja," ungkapnya.

Karena melihat sosok besar itu, Bobby yang ditemui mengenakan baju berwarna merah dan mengenakan celana Jeans langsung lari ketakutan kembali tempat jaganya.

"Saya langsung lari sekencang-kencangnya ke tempat teman lainnya yang saat itu juga sedang berjaga,"ujarnya.

Bobby pun berpesan kepada pengunjung, untuk menjaga etika dan sopan santun agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

"Jaga sopan santun, jangan membuat kegaduhan, jangan bercanda, dan yang intinya jangan melakukan hal-hal yang aneh nantinya malah merugikan diri sendiri," pesannya.

Salah satu pengunjung, Usman 30 tahun, mengaku baru pertama kali mengunjungi Monumen Pancasila Sakti, termasuk Lubang Buaya. Usman yang mengenakan jaket berwarna hijau dan celana jeans berwarna biru mengaku dirinya melihat rumah penyiksaan tak menyangka dirinya langsung merinding.

Ia mengaku beberapa kali terkejut melihat isi rumah penyiksaan. Bahkan ia tak berhenti beristigfar saat melihat, khususnya saat berada di dapur umum. Kondisi dapur umum terlihat lebih gelap dan pengap.

Di ruangan ini pengunjung akan melihat rumah yang masih beralaskan tanah dan terdapat beberapa peralatan masak di dalamnya, seperti kompor, koali, wajan, dan sebuah rak. Dibangunan ini terdapat beberapa genteng yang diyakini merupakan barang asli dari rumah kejadian

"Saya tidak berhenti beristigfar dan membaca Selawat. Mungkin karena mebayangkan seramnya kejadian pada saat itu," ujarnya, 1 November 2019.

Baginya bisa melihat dan mengelilingi museum Lubang Buaya adalah pengalaman berharga. Ia dapat belajar langsung tentang sejarah sekaligus mendapatkan sensasi betapa seramnya kejadian tersebut.

Lubang BuayaSumur Lubang Buaya. (Foto:Tagar/Putra Abdul Fatah Hakim)

***

Museum Lubang buaya menjadi saksi bisu sejarah tentang kekejaman PKI terhadap tujuh jendral Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) kini berubah nama menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Tujuh orang tersebut yakni Jendral TNI Anumerta Ahmad Yani, Letnan Jendral (Letjen) Anumerta Suprapto, Letjen Haryono, Letjen Siswono Parman, Mayor Jendral (Mayjen) Pandjaitan, Mayjen Sutoyo Siswomiharjo, dan Brigadir Jendral Katamso Darmokusumo.

Pada tanggal 30 September 1965, PKI bersama dengan pasukan Pasopati menculik dan membunuh para jenderal. Jasad tujuh jendral itu pun dimasukkan ke dalam sumur di lubang buaya. Gerakan dikenal dengan nama G30S-PKI.

Nama lubang buaya berasal dari sebuah legenda masyarakat sekitar yang mengatakan bahwa terdapat buaya-buaya putih di sungai yang terletak dekat dengan kawasan Pondok Gede. Kini kawasan tersebut telah direvitalisasi dan diubah menjadi monumen sejarah dengan nama Monumen Pancasila Sakti.

Lubang BuayaSumur Lubang Buaya, tempat tujuh jenderal korban G30S-PKI. (Foto: Tagar/Putra Abdul Fatah Hakim)

***

Untuk masuk ke Monumen Pancasila Sakti, pengunjung hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 4.000 untuk dewasa dan Rp 3.000 untuk pelajar. Jam operasional Monumen Pancasila Sakti beroperasi setiap hari mulai pukul 08.00-16.00 Wib.

Sebelum memasuki pintu museum, pengunjung akan diperlihatkan sebuah Road Map. Di situ dijelaskan alur untuk mengitari seluruh tempat-tempat yang ada di monumen. Pada bagian pertama kalian akan melihat hamparan rerumputan hijau yang berada di lapangan upacara lubang buaya ini.

Setelah melewati lapangan, pengunjung akan melihat sumur yang dulunya menjadi tempat pembuangan ketujuh jendral TNI. Sumur tersebut berwana putih dengan lampu merah didalamnya dan terdapat cairan seperti darah yang mengelilingi sumur tersebut. 

Sumur ini juga dibatasi dengan rantai guna untuk menjaga agar pengunjung tidak terlalu dekat dan tidak merusaknya. Dibelakang sumur terlihat tujuh patung dan 1 burung garuda yang besar. 

Tujuh patung tersebut ialah para pahlawan revolusi yang gugur saat terjadi pemberontakan G30S-PKI. Tak jauh dari sumur, di sisi samping kiri terdapat sebuah rumah yang berisi replika empat jendral dan sejumlah anggota PKI.

Isi rumah menggambarkan bagaimana pasukan Pasopati dan Gerwani yang merupakan organisasi wanita PKI melakukan penyiksaan dan membunuh empat jendral. Terlihat patung para jendral terdapat tetesan berwarna merah menyerupai darah di sekujur tubuh dan kepala mereka.

Monumen Lubang BuayaPatung korban G30S-PKI yang ada Monumen Pancasila Sakti. (Foto: Tagar/Putra Abdul Fatah Hakim)

Tepat di belakang rumah penyiksaan terdapat dua rumah yang gelap, yakni rumah pos komando, dan dapur umum. Kedua rumah inilah yang menjadi tempat PKI untuk memikirkan dan menyiapkan strategi serta senjata untuk menumbangkan para jendral.

Di dalam bangunan pos komando terlihat terdapat beberapa perabotan rumah tangga seperti meja, kursi, lemari, lampu petromak, mesin jahit, dan tempat tidur. Beberapa barang tersebut diyakini merupakan barang asli dari rumah kejadian, seperti lampu petromak, lemari, dan mesin jahit.

Keluar dari dapur umum sebelah kanan pengunjung akan melihat sebuah mobil tua berwarna biru muda. Mobil tersebut merupakan kendaraan yang digunakan PKI untuk mengangkut para jendral menuju ke lubang buaya. 

Mobil pickup ditambah dengan bangku di sisi kanan dan kirinya dan ditambah atap diatasnya. Mobil ini biasanya digunakan oleh polisi untuk mengangkut jumlah personel yang lebih banyak.

Berpindah ke bagian tengah monumen terlihat berjejer kendaraan tempo dulu yang digunakan para jendral semasa mereka menjabat. Pajangan mobil ini terlihat mulus di bagian luar dan ban-bannya yang kempes.

Setelah selesai di sisi bagian tengah, selanjutnya perjalan ke sisi kanan, yang terdapat sebuah bangunan yang bertuliskan Museum Pengkhianatan PKI.

Pertama masuk ke bangunan ini, pengunjung akan disajikan dengan foto-foto yang menggambarkan betapa kebengisan PKI. Foto yang dipajang adalah foto asli saat penyiksaan dan dibuangnya para jendral ke dalam sumur Lubang Buaya.

Tak hanya itu, di dalam bangunan ini kalian akan melihat 34 diorama yang menceritakan tentang sejarah G30S-PKI, ditambah lagi dengan koran-koran masa lalu yang juga dipamerkan.

Di bangunan ini juga terdapat senjata yang digunakan oleh para jendral semasa mereka menjabat. Di balik itu, bangunan ini juga menyediakan media audio visual bagi para pengunjung yang mempunyai kekurangan ataupun lebih tertarik mempelajari sejarah menggunakan media tersebut.

Dibangunan selanjutnya, pengunjung akan melihat 9 diorama yang menggambarkan bagaimana PKI merencanakan penculikan para jenderal. 

Pada bagian akhir, bangunan ditempatkannya barang asli milik para jendral, diantaranya baju dengan bercak darah, barang-barang yang dibawa ketika mereka dibuang ke sungai, dan beberapa foto mereka bersama keluarga.

Masih dibangunan yang sama, kita dapat memutar film G30S-PKI secara gratis. Di ujung bangunan sebelum pintu keluar pengunjung akan melihat jejeran foto proses pengangkatan jasad para jendral hingga dipindahkan ke Taman Makan Pahlawan di Kalibata. []

(Putra Abdul Fatah Hakim)

Baca cerita lain:

Berita terkait
Menjadi Guru Tanpa Gaji di Pamekasan
Ustaz Achmad Zaini tidak lagi muda, namun semangatnya tetap menggelora dalam mendidik murid. Dia melakukannya dengan penuh pengabdian, tanpa gaji.
Ritual Madura Mendatangkan Hujan dengan Bergulat
Ritual dan tradisi okol atau gulat tradisional Madura dilakukan oleh dua orang yang berusaha saling membanting. Hal ini dilakukan agar turun hujan.
Melihat Ritual Kebo-keboan di Banyuwangi
Ritual kebo-keboan Alasmalang di Banyuwangi telah berlangsung selama 300 tahun yang dimaksudkan untuk menghasilkan hasil panen yang berlimpah.
0
Bappenas: Indonesia Memerlukan Tata Kelola Perikanan yang Terintegrasi
Bappenas menggelar Workshop Perikanan Berkelanjutan dalam Mendukung Percepatan Pembangunan Ekonomi Nasional, di Bali, 11-12 Desember 2019.