UNTUK INDONESIA
Melihat Ritual Kebo-keboan di Banyuwangi
Ritual kebo-keboan Alasmalang di Banyuwangi telah berlangsung selama 300 tahun yang dimaksudkan untuk menghasilkan hasil panen yang berlimpah.
Manusia kerbau yang diarak warga di Banyuwangi. (Tagar/Rizki Restiawan).

Banyuwangi – Suasana Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, Jawa Timur, mendadak ramai. Penyebabnya, ada 30 manusia kerbau yang diarak keliling kampung oleh warga.

Dengan iring-iringan musik khas Suku Using, para manusia kerbau itu mengelilingi empat penjuru desa. Di sepanjang jalan, mereka berkubang, bergumul di lumpur, dan bergulung-gulung.

Kebo-keboan Alasmalang digelar di sebuah areal pertanian di Dusun Krajan, Desa Alasmalang, Singojuruh. Di tengah areal tersebut, terdapat satu petak sawah yang telah digenangi air. Petak sawah inilah yang menjadi "arena pertempuran" para kerbau yang dimainkan oleh petani.

Kebo-keboan adalah satu dari sekian banyak tradisi agraris warga Banyuwangi. Tradisi ini sangat otentik dengan Banyuwangi, tidak ditemukan di daerah lain di Indonesia.

Prosesi arak-arakan ini disebut sebagai ritual Ider Bumi. Ritual tersebut merupakan satu dari rangkaian tradisi adat kebo-keboan yang digelar di desa setempat, Minggu, 15 September 2019.

Tradisi ini mampu menyedot ribuan pengunjung untuk menyaksikan keunikan pertunjukan petani yang beratraksi seperti kerbau.

Puluhan petani berdandan layaknya kerbau. Memakai tanduk buatan lengkap dengan rambut surai, badan dilumuri jelaga hitam. Layaknya seekor kerbau, mereka juga tidak lupa memakai gelang kerincing.

Tradisi ini merupakan bentuk ucapan syukur dari petani atas hasil panen yang melimpah. Kerbau adalah simbolisasi kerja sama antara petani dan hewan bajak yang berperan membantu petani menyuburkan tanah.

Manusia kerbau di BanyuwangiManusia kerbau yang diarak warga di Banyuwangi. (Tagar/Rizki Restiawan).

Selain sebagai ungkapan rasa syukur, tradisi kebo-keboan Alasmalang juga dipercayai sebagai ritual tolak bala peninggalan nenek moyang yang sudah dilakukan kurang lebih sejak 300 tahun lalu.

“Kebo-keboan adalah satu dari sekian banyak tradisi agraris warga Banyuwangi. Tradisi ini sangat otentik dengan Banyuwangi, tidak ditemukan di daerah lain di Indonesia, maka tidak heran banyak wisatawan yang menunggu momen ini untuk bisa hadir menyaksikan,” kata Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas.

Menurut Anas, tradisi ritual kebo-keboan Alasmalang menjadi salah satu kearifan lokal yang menguatkan kebudayaan Banyuwangi. Tentunya, bukan hanya untuk menghidupkan kebudayaan lokal semata, tetapi juga pengungkit perekonomian warga.

Ritual yang dilakukan tiap bula Suro (Muharram) penanggalan Jawa ini diawali dengan syukuran dan makan bersama di persimpangan jalan desa.

Seremonial ini diakhiri dengan prosesi membajak sawah dan menabur benih padi oleh para manusia kerbau di petak sawah yang telah disediakan.

Dalam prosesnya benih padi yang nantinya ditabur oleh Dewi Sri, seorang dewi pertanian dan kesuburan dan nantinya akan banyak diperebutkan warga, karena diyakini bibit yang disebar akan menghasilkan hasil panen yang lebih banyak dan berlimpah. []

Berita terkait
Empat Ritual yang Masih Eksis di Banyuwangi
Banyuwangi bukan hanya terkenal dengan destinasi wisata. Kabupaten ini kaya dengan ritual dan tradisi, salah satunya suku Osing Banyuwangi.
Ritual Suku Adat Paser Sambut Pemindahan Ibu Kota
Masyarakat Dayak Paser menyambut positif pemindahan Ibu Kota NKRI dari Jakarta ke Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.
Sibiangsa, Ritual dan Senjata Mengerikan dari Tanah Batak
Sibiangsa salah satu kemampuan supranatural nenek moyang Batak yang luar biasa, di luar logika.
0
Fachrul Razi Sang Jenderal Jadi Menteri Agama
Presiden Jokowi secara resmi menunjuk Jenderal Purnawirawan TNI Fachrul Razi sebagai Menteri Agama dalam Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024.