UNTUK INDONESIA
Ritual Madura Mendatangkan Hujan dengan Bergulat
Ritual dan tradisi okol atau gulat tradisional Madura dilakukan oleh dua orang yang berusaha saling membanting. Hal ini dilakukan agar turun hujan.
Peserta Okol di Madura berusaha saling membanting di Pamekasan, Minggu 4 November 2018. Okol yang dilaksanakan hanya saat musim kemarau panjang dimaksudkan untuk meminta hujan kepada Yang Maha Kuasa. (Foto: Antara/Saiful Bahri).

Pamekasan - Hampir tiap daerah di Indonesia memiliki tradisi turun temurun yang dipercayai bisa mendatangkan suatu hal untuk kebaikan masyarakat. Seperti tradisi okol, masih terpelihara dengah baik di Kabupaten Pamekasan, Madura, untuk mendatangkan hujan.

Okol atau keket merupakan istilah yang berarti berkelahi. Pegiat tradisi ini diperagai bebas dari beragam kalangan. Mulai dari usia muda hingga orang dewasa, tampil bergulat satu lawan satu tanpa mengenakan pakaian di tengah tanah lapang dan dikerumuni banyak orang. 

Mencari celah untuk dapat menaklukkan lawan dengan adu kekuatan tanpa harus memukul kepala.

Gulat tradisional ala Pulau Garam menjadi salah satu kepercayaan mereka. Dengan menggelar okol, hujan diharapkan akan turun membasahi bumi. Tradisi ini digelar dalam momen tertentu. Misalnya saat musim kemarau panjang.

Tradisi tersebut sekaligus menjadi wahana bertatap muka para warga untuk bersama-sama menyaksikan kondisi alam pada musim kemarau yang berakibat lumpuhnya kehidupan pertanian mereka.

Di tengah terik matahari, riuh gemuruh suara kerumunan orang menggema keasyikan menonton pergumulan dua orang. Panasnya mentari, tidak lantas membuat penonton dan pegulat berpencar mencari tempat berteduh. Mereka malahan solid bertahan di tengah situasi gersang, menahan dahaga haus dan lapar.

Okol sebagai bentuk perkelahian atau pertarungan dilakukan secara utuh, dengan ketentuan permainan yang telah disepakati bersama, mencari celah untuk dapat menaklukkan lawan dengan adu kekuatan tanpa harus memukul kepala.

Okol MaduraPeserta Okol di Madura berusaha saling membanting di Pamekasan, Minggu 4 November 2018. Okol yang dilaksanakan hanya saat musim kemarau panjang dimaksudkan untuk meminta hujan kepada Yang Maha Kuasa. (Foto: Antara/Saiful Bahri).

Sebelum dimulai, pelaku okol biasanya melaksanakan ritual tahlilan atau istigasah terlebih dahulu. Sebelum musim hujan datang, tradisi ini digelar secara bergiliran di suatu desa

Di Pamekasan, sedikitnya ada lima daerah yang mempertahankan tradisi ini. Di antaranya Kecamatan Palengaan, Pegantenan, Larangan, Proppo, dan Kota Pamekasan. Kali ini tanding okol digelar di Dusun Bunut, Desa Plakpak, Kecamatan Pegantenan, Sabtu, 26 Oktober 2019 lalu. 

Pegiat tradisi Okol Muhammad Sholeh menyampaikan, tujuan Okol pertama-tama ialah meminta turunnya hujan, sekaligus menjadi tanda persahabatan antar kecamatan, agar terus terjalin keakraban antar sesama masyarakat.

Pagelaran gulat ini sudah pasti menyedot pengunjung. Bahkan, warga dari sejumlah desa di berbagai daerah di Kabupaten Pamekasan dan warga kecamatan lain datang bejibun menyaksikan tanding okol.

Harus membuka baju, tidak boleh memukul, menjotos, dan menggigit lawan.

Untuk menangkal sengatan matahari, penonton hanya memakai peci hitam khas Madura, yang kerap dipakai juga ketika melaksanakan budaya kerapan sapi dan sapi sonok.

Aturannya, penonton menyaksikan dari luar garis. Mereka bebas mengekspresikan teriakan kegembiraan. Sorak-sorai disuarakan semata untuk guyon melihat pertunjukan okol. 

Serunya, ketika salah satu di antara pelaku okol terjatuh, maka suara penonton kian bergemuruh tak terbendung. 

Di benak Sholeh, tradisi okol dinilai sebagai ritual leluhur yang bisa mendatangkan hujan. Layaknya bertawasul, sebelum dimulai, okol juga dipanjatkan bacaan-bacaan doa, sehingga acara ini mendapat perlindungan Tuhan.

Sholeh berujar, sistem penilaian pemenang tidak seperti gulat pada umumnya. Dalam adu okol, kata dia, peserta dinyatakan kalah apabila sudah jatuh terpelanting ke tanah. Meskipun harus melakukan pertarungan, dua orang yang berkelahi harus menaati sejumlah peraturan.

“Para peserta Okol ini harus mematuhi sejumlah aturan yang sudah ditetapkan panitia. Di antaranya harus membuka baju, tidak boleh memukul, menjotos, dan menggigit lawan. Peserta juga dilarang menggunakan aksesoris jam tangan, cincin dan lainnya,” kata Sholeh kepada Tagar, Sabtu, 26 Oktober 2019.

Peserta yang dinyatakan menang dalam pertandingan, tentu sudah disiapkan sejumlah hadiah menarik. “Hadiah yang disediakan kecil-kecilan, yaitu kaos, rokok, air meneral, dan lainnya,” ucapnya.

Sholeh menuturkan, tradisi ini sudah menjadi ritual untuk mendatangkan hujan yang dilakukan masyarakat Madura secara turun temurun. Dia berharap betul budaya ini tidak tergerus zaman.

"Tradisi okol ini ada sudah sejak dulu dari nenek moyang kita. Sekarang para generasi muda ini yang seharusnya sudah bisa meneruskan tradisi ini," ujarnya.

Diwawancarai di lokasi yang sama, pelaku okol, Muhtadi mengatakan, dia sangat antusias dengan tradisi ini yang mulai ditekuninya sejak masih muda. Muhtadi rela bergulat bukan semata tergiur dengan hadiah, melainkan untuk mengenyangkan kepuasan diri.

Pelaku okol, rata-rata memiliki badan kekar dan sehat fisik. Sebab, dia akan melawan pelaku okol dari berbagai daerah. Sehingga kesiapan mental dan fisik perlu menjadi perhatian utama.

Okol MaduraPeserta okol di Madura berusaha saling membanting di Pamekasan, Jawa Timur, Minggu, 4 November 2018. Gulat yang dilaksanakan hanya saat musim kemarau panjang itu dimaksudkan untuk meminta hujan kepada Yang Maha Kuasa. (Foto: Tagar/Nurus Solehen).

Yang bertindak sebagai wasit, merupakan seorang tokoh pegiat okol yang sudah mahir menguasi teknik olahraga ini. Dia akan menentukan menang kalahnya seseorang.

Setelah diadu dengan durasi waktu yang tidak menentu. Diakatakan Muhtadi, bergantung kekuatan otot dalam bertahan. Apabila dua orang sama-sama kuat, gulat okol bisa bertahan sampai lima menit. Namun jika tidak, gulat ini tidak sampai satu menit sudah selesai.

Sebelum bertanding, lanjutnya, pelaku okol sengaja dipijat dan diberi minuman jamu untuk pemulihan fisik. Tujuannya, agar saat bertanding tubuhnya sehat dan mudah melumpuhkan lawan.

Guyonan lucu dan celetukan penonton, terkadang membuat penonton lainnya tambah tertawa kencang. Misalnya, tatkala ada yang berpura-pura menyepelekan lawan karena kurangnya minum jamu, maka tubuhnya menjadi letoy.

Muhtadi menjelaskan, arena okol dibatasi dengan tali. Pasukan keamanan lain, selain dari panitia acara okol hingga dari pihak polisi juga dilibatkan. Sehingga acara ini dapat berjalan aman dan tertib.

Tapi bagi pelaku okol, kata dia, terpenting bukan soal kalah atau menang. Hal terbaik adalah memperkuat hubungan silaturahmi. Di sisi yang bersamaan dapat melestarikan budaya leluhur.

Pelaku okol tidak gengsi dengan tradisi yang digelutinya. Sebab, mereka sudah diberi pemahaman dan penyelarasan mental sejak awal. Baik batin dan fisik. 

"Saya bertarung didasari kesenangan bukan karena hadiah. Kalau dilihat dari hadiah tidak seberapa. Tapi yang dijaga adalah nilai tradisinya. Tanding okol bukan ajang mencari musuh tapi menjungjung tinggi silaturahmi antar petarung," kata Muhtadi. 

Apabila selama setahun tidak juga turun hujan, pegiat tradisi ritual ini mengadakan musyawarah untuk menggelar tradisi. Sebelum hujan turun, mereka berpindah-pindah menggelar tradisi okol, hingga hujan turun membasahi tanah Madura. []

Berita terkait
Hari-hari Penjahit Sepatu di Madura
Seorang penjahit sepatu dan sandal di Pamekasan, Madura, sudah 20 tahun hidup berwirausaha, mengandalkan keterampilan dan bakat dari orang tua.
Penjual Poteng Bantaeng Rindu Nurdin Abdullah yang Dulu
Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah dirindukan penjual poteng di Bantaeng. Dahulu suka bersedekah kepada pedagang, kini mengacuhkan.
Riani, Anak Buruh Sawit Makassar Lulus dengan IPK 3,99
Riani, mahasiswi yang berhasil lulus kuliah menggapai predikat cum laude dengan IPK 3,99. Putri buruh sawit di Makassar ini akan kuliah di Jepang.
0
Ahok Masuk BUMN di Mata Dosen UGM Yogyakarta
Ahok dikabarkan mengisi jabatan tinggi di BUMN. Statusnya mantan napi tidak masalah, yang menjadi masalah statusnya sebagai kader partai politik.