UNTUK INDONESIA
Menjadi Guru Tanpa Gaji di Pamekasan
Ustaz Achmad Zaini tidak lagi muda, namun semangatnya tetap menggelora dalam mendidik murid. Dia melakukannya dengan penuh pengabdian, tanpa gaji.
Achmad Zaini pendiri RA Kholid Bin Walid. (Foto: Tagar/Nurus Solehen)

Pamekasan - Namannya Achmad Zaini, usianya sudah lebih setengah abad. Banyak orang memanggilnya ustaz. Dia pengasuh Raudhatul Athfal (RA) Kholid Bin Walid di Dusun Korong Daja, Desa Sana Tengah, Kecamatan Pasean, Kabupaten Pamekasan.

Dia berperan sebagai pendidik di lembaga yang berdiri sejak 1990-an ini. Ia berperan menjadi seorang guru, layaknya guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Usia sudah tidak lagi muda, namun semangatnya dalam mendidik tetap penuh semangat.

Ustaz Zaini dibilang cukup tekun dan telaten dalam mendidik semua murid. Siapa pun yang dididiknya, bisa memahami dan mudah menangkap pelajaran.

Sampai saat ini Lembaga RA Kholid Bin Walid masih bertahan. Sejak berdiri, murid di lembaga pendidikan ini hanya diasuh satu pendidik. Tak lain dia adalah pengasuhnya sendiri yakni ustaz Zaini. Hanya jumlah muridnya mulai berkurang karena lembaga yang sama disekitarnya mulai banyak didirikan.

Ustaz yang menginjak usia 55 tahun ini, mungkin secara kompetensi belum memenuhi untuk ukuran standar pendidikan nasional. Secara kapasitas, ia bukan sarjana pendidikan, melainkan hanya lulusan pendidikan Madrasah Aliyah tahun 80-an. 

Namun kemampuan mendidiknya tidak diragukan. Materi pelajaran, satu per satu dipelajari. Terutama materi agama. "Saya tidak mengikuti kurikulum yang ditentukan pemerintah," kata Ustaz Zaini saat ditemui Tagar, Sabtu, 19 Oktober 2019.

Dia menyebut masyarakat menilai kurikulum standar pemerintah kurang membentuk karakter. "Kurikulum pemerintah justru banyak dikomplain masyarakat. Kurikulum yang ditentukan pemerintah cenderung kurang memperhatikan basis kultur masyarakat pedesaan," kata Ustaz.

Saya tidak mengikuti kurikulum yang ditentukan pemerintah.

Achmad Zaini mengajarAktivitas belajar mengajar RA Kholid Bin Walid di Dusun Korong Daja, Desa Sana Tengah, Kecamatan Pasean. (Foto: Tagar/Nurus Solehen)

Sampai saat ini lembaga yang dipimpinnya tidak mengikuti kurikulum pemerintah. Hal ini berkaitan dengan asal-usul sejarah berdirinya lembaga. Masyarakat sekitar ingin anak didiknya peka terhadap pengetahuan agama dibanding pengetahuan umum.

Dia bercerita pada era 1990-an, banyak murid Sekolah Dasar Negeri (SDN) putus sekolah di daerahnya. Orang tua sengaja memberhentikan atau mengeluarkan anaknya dari SDN karena dianggap lebih mementingkan pengetahuan umum. Sementara wawasan keagamaan dan pendidikan karakter lebih banyak diabaikan.

"Baru masuk kelas dua dan tiga, orang tuanya minta berhenti. Orang tuanya mengeluh karena anaknya tidak diberi pelajaran ilmu agama," tutur dia.

Suami Khozaimah ini mengatakan ilmu pengetahuan umum dan agama merupakan satu kesatuan yang harus dimiliki manusia. Alasan banyak putus sekolah ini yang melatarbelakanginya mendirikan lembaga RA Kholid Bin Walid. Tujuannya tidak lain agar mampu menampung siswa sebelum masuk SD. "Masyarakat menginginkan lembaga ini lebih fokus pada pelajaran agama," jelasnya.

Bangun Sekolah dari Hasil Swadaya

Ustaz membangun gedung RA Kholid Bin Walid dengan dua kelas. Seiring berjalannya waktu, dua kelas yang difungsikan hanya satu kelas. Alasannya murid yang masih aktif tersisa 16 orang.

Bangunan RA Kholid Bin Walid ini dibangun dari hasil swadaya masyarakat. Ada yang menyumbang uang, ada yang membantu material bangunan, dan sebagian pula ada yang membantu tenaga sebagai tukangnya. "Tidak sendirian, ini lembaga hasil swadaya. Saya hanya menyedia lahannya," kata ustaz.

Ada semangat kebersamaan dalam mendirikan bangunan ini. Setidaknya sebelumnnya masuk SD, si anak sudah mendapat bekal ilmu keagamaan. "Sebagai bekal masuk SD," ujarnya.

Bangunan ini sudah berusia 19 tahun. Kondisinya sudah mulai jelek. Sejak berdiri sampai saat ini belum pernah direnovasi atau direhabilitasi. Setelah 19 tahun pula, sudah ratusan murid yang sudah menjadi alumninya. Mereka tidak hanya berasal dari lingkungannya, namun juga dari luar.

Menurut ustaz sampai saat ini mendidik 16 murid. Aktivitas belajar mengajar mulai mulai 07.30 - 09.30 WIB. Peserta anak didik tidak dipungut biaya. Tidak ada anggaran atau kewajiban untuk pembelian seragam. Sehingga tidak heran siswa pada hari aktif tidak berseragam sekolah.

Usia muridnya bermacam-macam, ada yang berusia tiga tahun, empat tahun, dan enam tahun. Mereka dilebur dalam satu kelas. Akan tetapi metode belajar disesuaikan dengan kemampuan anak.

Di lembaga yang dikelolanya tidak ada pendaftaran dan penerimaan siswa baru. Dia mempersilakan masyarakat yang menginginkan anaknya mengenyam pendidikan di lembaga ini. "Silakan. Saya akan mendidiknya dengan penuh tanggung jawab," tuturnya.

Tangggung jawab yang dimaksud ustaz selayaknya tanggung jawab seorang guru kepada muridnya. Tanggung jawab itu berupa membina mental dan karakter, lalu kemampuan dan kecerdasan.

Ustaz mengatakan, di lembaga pendidikannya cara penyampaian kurikulum tidak seperti yang diterapkan pemerintah. Metode belajar yang diajarkan secara otodidak. "Saya kuasai metode dan caranya, baru disampaikan ke murid," tuturnya.

Meski tidak menerapkan sistem pendidikan seperti yang diterapkan pemerintah, lembaga yang didirikan mengantongi tetap keabsahan. Lembaganya tetap berbadan hukum. Jika tidak otomatis tidak diakui pemerintah. RA Kholid Bin Walid bukan lembaga yang mengabaikan aturan pemerintah.

Bahkan lembaga ini berbadan hukum lengkap. "Alhamdulillah lengkap. Akta notaris pendirian lembaga, dan SK Kemenkum HAM, lengkap," kata ustaz.

Saya kuasai metode dan caranya, baru disampaikan ke murid

RA Kholid Bin WalidBangunan lembaga RA Kholid Bin Walid tampak dari pinggir. Lembaga tersebut memiliki dua ruang kelas. (Foto: Tagar/Nurus Solehen)

Badan hukum dikantonginya setelah dua tahun berdiri, tepatnya pada 1993. Legalitas pengurusan lembaga saat itu tidak begitu sulit. Cukup menunjukkan sertifikat tanah lembaga dan jumlah murid. Saat itu tanpa disurview ke bawah terlebih dahulu.

Selain legalitas badan hukum, pendiri RA Kholid Bin Walid juga sudah memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Pendidik (NUPTK). Nomor itu baru didapat kisaran tahun 2005. "Pernah didesak untuk diajukan ke pemerintah, tapi tidak saya layani. Biarlah saya mendidik murid dengan hati nurani," ungkapnya.

Tak Terima Gaji Demi Jalan Dakwah

Motivasi ustaz Zaini terhadap pengabdiannya agama dan bangsa sangat tinggi. Dia ingin setengah hidupnya untuk berjuang di jalan dakwah menjadi seorang pendidik.

Boleh saja guru lain gajinya bergelimangan, bisa membangun rumah dan menyejahterakan keluarganya. Namun tidak bagi ustaz Zaini. "Jika yang saya beri bisa menjadi amal, semoga ini menjadi bekal di akhirat nanti," ungkapnya.

Dia mengatakan persoalan gaji dari pemerintah, bukan karena tidak tergiur. Namun ditahan demi hati nurani. Ia berpandangan, seorang guru digaji pemerintah, tanggung jawabnya lebih berat. Selain bertanggung jawab pada negara juga harus bertanggung jawab kepada agama.

Menurut dia, beban itu yang membuatnya memilih tidak mengurus gaji. Dia sendiri juga sudah memiliki NUPTK yang secara prosedur sudah cukup syarat. Ada wasiat gurunya yang membuat ustaz Zaini mengabdi tanpa mempertimbangkan gaji. Wasiat itu yang saat ini menjadi prinsip hidupnya.

Berikut bunyi wasiat itu: "guru jangan hanya memberi pengetahuan yang perlu dan baik saja tetapi harus juga mendidik si murid akan dapat mencari sendiri pengetahuan itu dan memakainya guna amal keperluan umum".

Menurut dia, ada tiga doa yang selalu dipanjatkan kepada Tuhan untuk para murid. Baik yang alumni atau sedang dididik. "Pertama barokah ilmunya, barokah umurnya, dan barokah dunianya," ujarnya.

Ustaz mengakui sampai saat ini perngorbanan guru dalam ikut mencerdaskan bangsa tak sebanding dengan hak dan kesejahteraan yang didapatkan. Berbagai macam program pemerintah nampaknya sulit berjalan maksimal karena perhatian kepada guru agama sangat kurang.

Anggota DPRD Pamekasan Munaji mengaku banyak aspirasi dari masyarakat yang menyebut nasib guru kurang diperhatikan. Saat ini tidak ada perhatian kesejahteraan guru agama. Padahal pemerintah sudah menggalakkan banyak program, namun faktanya pendidikan mental dan karakter tidak pernah disentuh.

"Pemerintah ingin revolusi mental, kenyataan justru pendidikan di mental dan karakter kurang perhatikan. Kita merasa prihatin betul. Hal ini harus menjadi perhatian pemerintah," ujarnya.

Politikus Gerindra ini mengatakan seharusnya pemerintah dapat menyisihkan sebagian anggarannya untuk membantu guru madrasah diniyah dan sekolah-sekolah berbasis keagamaan. "Jika ingin pembangunan karakter berjalan, kesejahteraan guru harus diperhatikan. [] 

Baca Cerita Lain:


Berita terkait
Cerita Mahalnya Harga Kuburan di Siantar
Mengubur orang mati di Siantar sampai saat ini masih jadi persoalan. Tak jelas kepada siapa harus berhubungan. Harga pun mencekik.
Kenken, Burung Seharga Lebih Mahal dari Mobil Avanza
Belasan ekor burung beraneka warna itu terbang menuju langit biru. Satu di antaranya bernama Kenken, burung seharga lebih mahal dari mobil Avanza.
Sedotan Bambu Yogyakarta Tembus 4 Negara
Lembaran daun bambu berserak di halaman sebuah rumah di Dusun Gesik, Kasongan Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
0
Orang Batak Sudah Mulai Malu Berbahasa Batak
Trisna Pardede menggelar diskusi soal bahasa Batak bersama Saut Poltak Tambunan, penulis novel berbahasa Batak Si Tumoing Manapu Nipi.