UNTUK INDONESIA
Geger Penari Bertopeng Kesurupan di UGM Yogyakarta
Tujuh siswi kesurupan saat menggelar acara musik di gedung UGM tadi malam. Awalnya empat penari bertopeng yang kesurupan, disusul tiga panitia.
Ilustrasi Kesurupan. (pixabay)

Sleman - Suasana gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta sempat histeris, Sabtu 25 Januari 2020 malam. Tujuh orang siswi di salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) di Yogyakarta kesurupan massal pada saat menggelar acara musik. 

Dari tujuh siswi pengisi acara kesurupan itu, empat di antaranya berperan sebagai penari. Tiga orang lainnya panitia kegiatan acara gelaran musik itu. Mereka beruntun tidak sadarkan diri saat acara musik sedang berlangsung. Diduga mereka kesurupan. Penari bertopeng adalah yang pertama mengalami hal itu.

Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Bulaksumur Iptu Fendi Timur mengungkapkan peristiwa yang menimpa tujuh siswi tersebut dilaporkan terjadi pada Minggu 25 Januari 2020 sekitar pukul 18:30 WIB. 

"Yang jelas ada tujuh siswi tak sadarkan diri dalam waktu yang bersamaan saat acara berlangsung," kata Iptu Fendi kepada Tagar, Sabtu 25 Januari 2020 malam.

Menurut Fendi, kejadian ini bermula saat sejumlah penari bertopeng dari sekolah tersebut yang membuka acara. Saat pertunjukan berlangsung, tiba-tiba ada salah satu penari yang teriak-teriak histeris. Penari bertopeng sambil membuang topengnya.

Dalam waktu yang berdekatan tiga penari lainnya tertular, ikut berteriak bersamaan. Kemudian mereka tidak sadarkan diri. Mereka diduga kesurupan.

Yang jelas ada tujuh siswi tak sadarkan diri dalam waktu yang bersamaan saat acara berlangsung.

Namun, acara yang dihadiri oleh 1.600 siswa dari 1.800 tiket itu tetap dilanjutkan. Tak dipungkiri, peristiwa itu sempat membuat geger para siswa yang hadir di dalam gedung itu. Suasana mereka merasa tertekan meski acara tetap berlanjut seperti tidak terjadi sesuatu.

Tidak lama berselang, tiga siswi dari panitia acara tersebut ikut berteriak histeris. Saat itu, ketiganya sedang duduk di gedung pojok utara atau sebelah timur gedung. Apa yang dialami sama seperti yang dialami keempat penari, berteriak histeris lalu tidak sadarkan diri hampir bersamaan.

Panitia lain yang mengetahui kejadian tersebut langsung menghubungi petugas kepolisian. Aparat keamanan ikut berjaga selama kegiatan tersebut.

Kanit Reskrim Iptu Fendi Timur memimpin petugas langsung mendatangi lokasi kejadian. Mereka yang tidak sadarkan diri dievakuasi ke ruang terbuka di gedung PKKH itu. Ketujuh sisiwi tersebut langsung ditangani oleh ahlinya dan dibantu panitia acara yang berjaga.

Saat itu juga mereka masih berteriak-teriak histeris dan menangis. Kepada petugas kepolisian, rata-rata mereka mengalami hal tersebut karena faktor kelelahan dan pikiran kosong.

Iptu Fendi mengatakan kejadian kesurupan massal di kalangan pelajar pada saat kegiatan bukan kabar baru. Untuk itu dia mengimbau kepada siswa-siswi untuk selalu menjaga kondisi kesehatannya baik fisik maupun psikis.

Dia juga meminta agar mereka juga waspada terhadap apa pun, baik yang kasat mata maupun tidak. "Oleh karena itu jangan sampai pikiran kosong. Jangan lupa makan dan berdoa," ucapnya.

Sementara itu terpisah, Humas UGM Yogyakarta Iva Ariani mengatakan, gedung PKKH memang betul sering digunakan tempat kegiatan baik mahasiswa UGM maupun dipakai untuk umum. "PKKH itu kan biasa dipakai umum siapa saja bisa menggunakannya," kata Iva. []

Baca Juga:

Berita terkait
Horor Jumat di Dairi, 4 Siswa Kembali Kesurupan
Informasi dihimpun di sekitar lokasi sekolah yang beralamat di Jalan 45 Sidikalang itu, Jumat 6 September 2019, kesurupan kembali terjadi.
Cerita Mistis Kesurupan Massal di Dairi: Tinggal Bayiku
Kesurupan massal yang menimpa siswa SMK dan SMP Swasta Arina Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, menyisakan cerita mistis.
Penyebab dan Cara Mencegah Kesurupan
Kesurupan sering kali dialami masyarakat Indonesia. Belum lama ini terjadi selama dua hari berturut-turut di SMK dan SMP di Sumut.
0
Pemerintah Aceh Diminta Hentikan Pembangunan Jalan
Pemerintah Aceh diminta untuk segera menghentikan pembangunan ruas jalan yang berada di kawasan hutan lindung Aceh.