Indonesia
Faktor yang Membuat Gerindra Melejit di Pemilu 2019
Peneliti Bidang Perkembangan Politik Nasional LIPI memberikan catatan terkait melejitnya perolehan suara Gerindra.
Ilustrasi Kaos Partai Gerindra (Foto: Tagar/Ridwan Anshori)

Jakarta - Peneliti Bidang Perkembangan Politik Nasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Aisah Putri Budiarti, memberikan catatan khusus terkait melejitnya perolehan suara partai Gerindra diurutan kedua pada Pemilu 2019.

Aisah mengatakan, efek ekor jas coattail effect harusnya bisa mengatrol raihan suara partai pengusung capres Prabowo-Subianto. Faktanya, pemilu serentak tidak membawa dampak kenaikan suara signifikan bagi partai asal capres atau cawapres.

"Kalo dari perbandingan Pileg 2019 dan 2014, justru saya lihat baik Gerindra maupun PDIP justru tidak mengalami perubahan yang signifikan meski ada kenaikan. PDIP hanya naik 0.38% dan Gerindra hanya naik 0.76%," kata Aisah kepada Tagar, Selasa 21 Mei 2019.

Jika lihat prediksi banyak pakar, akan ada coattail effect untuk PDIP dan Gerindra. Dengan hanya kenaikan kurang dari 1%, artinya pemilu serentak tidak membawa dampak kenaikan suara berarti bagi partai asal capres/cawapres.

Lebih lanjut, perempuan yang akrab dipanggil Puput itu juga menyoroti perolehan suara tiga partai besar yang mengalami penurunan secara drastis. Yakni Hanura, Golkar dan Demokrat.

Dia menyebut, sekecil apapun penurunan perolehan suara bakal berdampak bagi pembagian kursi di parlemen. Oleh karenanya, Aisah menyarankan ketiga partai politik tersebut untuk segera berbenah diri.

"Yang paling signifikan perubahannya dari semua partai adalah Hanura. Partai ini turun sekitar 3.72%, bahkan gagal lolos Parliamentary Threshold. Artinya, partai harus melakukan evaluasi dan jika mau tetap eksis maka harus berani melakukan perubahan ke depan," papar Aisah.

Selain Hanura, dua partai lain yang juga harus berbenah adalah Golkar dan Demokrat, karena kehilangan suara lebih dr 2%. Golkar mengalami penurunan cukup besar, sekitar 2.44%. Partai yang mengalami penurunan diurutan kedua setelah Hanura.

"Angkanya sesungguhnya tidak terlalu besar, tetapi cukup signifikan untuk menentukan masuk parlemen atau tidak (dalam kasus Hanura) dan menentukan jumlah kursi di DPR (kasus Golkar dan Demokrat). Meski terkait jumlah kursi DPR, tentu ada faktor lain yang (juga) berpengaruh," tutup Aisah.

Hasil rekapitulasi nasional pemilihan umum 2019 telah diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), pada Selasa 21 Mei 2019 dini hari. Selain hasil untuk pilpres, Ketua KPU Arief Budiman juga membacakan hasil pemilihan anggota DPR, anggota DPRD, dan anggota DPD, serta langsung mengetok palu tanda penetapan hasil rekapitulasi.

Perolehan hasil Pileg DPR RI secara nasional menunjukkan peringkat teratas ditempati PDI Perjuangan, terbawah Partai Garuda. Dengan perolehan suara lengkap sebagai berikut.

  1. PDIP: 27.053.961 (19,33 persen)
  2. Gerindra: 17.594.839 (12,57 persen)
  3. Golkar: 17.229.789 (12,31 persen)
  4. PKB: 13.570.097 (9,69 persen)
  5. Nasdem: 12.661.792 (9,05 persen)
  6. PKS: 11.493.663 (8,21 persen)
  7. Demokrat: 10.876.507 (7,77 persen)
  8. PAN: 9.572.623 (6,84 persen)
  9. PPP: 6.323.147 (4,52 persen)
  10. Perindo: 3.738.320 (2,67 persen)
  11. Berkarya: 2.929.495 (2,09 persen)
  12. PSI: 2.650.361 (1,89 persen)
  13. Hanura: 2.161.507 (1,54 persen)
  14. PBB: 1.099.848 (0,79 persen)
  15. PKPI: 312.775 (0,22 persen)
  16. Garuda: 702.536 (0,05 persen)

Jumlah pemilih dalam Pileg DPR RI berjumlah 199.979.320 pemilih, sementara jumlah suara sah Pileg DPR RI secara nasional 139.971.260 suara. []

Baca juga:

Berita terkait
0
Di Pamekasan, Sembako Penerima BPNT Ditahan
Penerima program Bantuan Pangan Non Tunai tidak bisa membawa sembako meski transaksi sudah terjadi dan salso di ATM sudah Rp 0.