UNTUK INDONESIA
Empat Resep Ekonomi Tangkal Dampak Virus Corona
Pemerintah mengambil langkah cepat guna mereduksi ekses buruk penyebaran virus corona jenis COVID-19 pada sektor ekonomi.
Dua pengunjung salah pusat perbelanjaan di Depok mengenakan masker. Depok menjadi kota pertama di Indonesia yang terpapar virus corona. (Foto: Tagar/Gemilang Isromi Nuari)

Jakarta - Pemerintah mengambil langkah cepat guna mereduksi ekses buruk penyebaran virus corona jenis COVID-19 pada sektor ekonomi. Tagar mencatat, setidaknya empat langkah strategis telah ditempuh oleh negara guna mempertahankan momentum pertumbuhan.

Beberapa diantaranya telah dijalankan. Sebagian lain masih dalam pematangan rencana serta menunggu momentum yang tepat. Berikut adalah empat resep ekonomi Pemerintahan Presiden Joko Widodo dalam menghalau badai COVID-19.

1. Stimulus Fiskal

Kementerian Keuangan di bawah komando Sri Mulyani berinisiasi menjadi pihak terdepan dalam menjaga stabilitas ekonomi di Tanah Air. Tercatat, insentif senilai Rp 10,3 triliun telah dipersiapkan oleh mantan Direktur Pelaksana IMF itu guna mempertahankan momentum pertumbuhan.

Stimulus fiskal ini disalurkan pada beberapa sektor. Pertama adalah sektor perumahan sebesar Rp 1,5 triliun. Kemudian Program Keluarga Harapan Rp 4,5 triliun, insentif wisatawan mancanegara Rp 298 miliar, pengurangan tarif jasa pelayanan pesawat Rp 265,6 miliar. Selanjutnya, relokasi dana khusus Rp 147 miliar, diskon avtur Rp 265,5 miliar, serta hibah hotel dan restoran senilai Rp 3,3 triliun.

2. Pelonggaran Moneter

Bank Indonesia selaku otoritas moneter di Tanah Air membuat beberapa keputusan penting dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

Lembaga indepen pimpinan Pery Warjiyo ini melakukan intervensi pasar guna mencegah pelemahan nilai tukar rupiah berlanjut. Selain itu, upaya ini diambil lantaran investor global terindikasi mulai menarik dananya dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia.

Kedua adalah penurunan rasio giro wajib minimum atau GWM pada bank umum dari 8 persen menjadi 4 persen dari total dana pihak ketiga (DPK) untuk valuta asing. Kebijakan ini diharapkan memberikan ruang likuiditas valas sebesar 3,2 miliar dolar AS atau setara Rp 45,5 triliun. Treatment serupa juga dilakukan bank sentral untuk GWM rupiah dengan pemangkasan 50 basis poin.

Ketiga, penurunan suku bunga acuan dari sebelumnya 5 persen menjadi 4,75 persen. Kemudian, Bank Indonesia juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dalam negeri dari sebelumnya 5,4 persen menjad 5,1 persen.

3. Omnibus Law

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menjadi lembaga utama pendorong pembaharuan aturan perundang-undang tersebut. Beberapa belaid yang kemudian disesuaikan antara lain terkait persoalan tenaga kerja, reformasi perpajakan, serta peningkatan peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

4. Pelonggaran Aturan Perbankan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru-baru ini memberikan kepastian pelonggaran aturan terkait penghitungan kolektabilatas perbankan menjadi hanya satu pilar. Sebelumnya, otoritas menetapkan tiga pilar ketentuan yang mesti dipenuhi oleh pelaku usaha.

Adapun, tiga pilar tersebut adalah peningkatan sektor jasa keuangan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, stabilisasi sistem keuangan yang terjaga, serta kemandirian finansial masyarakat dalam pembangunan.[]

Baca Juga:

Berita terkait
Dua Skenario Hadapi Krisis Corona Berdampak Ekonomi
Wabah virus corona membuat Indonesia menghadapi tekanan ekonomi karena ekspor dan impor terutama tujuan Tiongkok menurun.
Pemerintah Gagap Tangkal Corona pada Sektor Ekonomi
Pemerintah dinilai gagap menghadapi dampak negatif virus corona atau COVID-19 terhadap sektor ekonomi yang menyerang Indonesia secara resmi.
Faisal Basri: Dampak Corona Bagi Ekonomi Indonesia
Indonesia memiliki hubungan dagang paling erat dengan China. Tujuan ekspor terbesar Indonesia adalah China. Ulasan Faisal Basri.
0
Empat Resep Ekonomi Tangkal Dampak Virus Corona
Pemerintah mengambil langkah cepat guna mereduksi ekses buruk penyebaran virus corona jenis COVID-19 pada sektor ekonomi.