UNTUK INDONESIA
Dumpi Eja, Kue Sakral Suku Kajang Bulukumba
Adonan yang sedang diolah beberapa perempuan itu kue tradisional Dumpi Eja dari Suku Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Sakral sarat makna.
Dumpi Eja, kue tradisonal Suku Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah)

Bulukumba - Di atas kompor menyala itu terdapat wajan berisikan minyak panas. Tepat di samping alat untuk memasak itu, beberapa perempuan duduk, membuat adonan dalam baskom hitam. Adonan itu perpaduan tepung beras yang telah dihaluskan dan gula aren. 

Adonan itu merupakan bahan untuk membuat Dumpi Eja, kue tradisonal Suku Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Dumpi eja ini memiliki tekstur yang lembut dan kenyal. Kue tradisional ini juga memiliki rasa yang manis berasal dari gula aren. Dumpi eja begitu nikmat jika dicoba dalam keadaan masih hangat atau baru diangkat dari wajan.

Meski terbuat dari tepung beras, setelah matang rasa tepung berasnya dikalahkan dominasi gula aren. Belum lagi jika dalam sekali gigitan juga ikut biji wijen, rasanya jauh lebih nikmat.

Dumpi Eja ini menjadi salah satu kue yang wajib ada dalam tradisi pernikahan Suku Kajang.

Pembuatan Dumpi Eja biasa dilakukan secara beramai-ramai dan dalam kegiatan tertentu, misalnya untuk kegiatan pernikahan atau acara-acara tradisional khas Suku Kajang. Karena biasa disajikan untuk kegiatan tradisional, makanya Dumpi Eja ini menjadi salah satu makanan yang disakralkan, karena di setiap acara Suku Kajang yang besar pasti akan ditemui hidangan ini.

“Masyarakat di Suku Kajang memang memiliki tradisi jika ada keluarga yang akan melangsungkan hajatan. Sepekan sebelum hari pesta sudah berdatangan semua untuk membantu membuat makanan yang akan dihidangkan kepada tamu, salah satunya adalah dengan berkumpul membuat Dumpi Eja ini,” kata Abdul Rasyid, seorang penduduk Suku Kajang kepada Tagar pada awal Desember 2019.

Kenapa dibuat secara beramai- ramai, kata Rasyid, karena selain meringankan pekerjaan tuan rumah, juga sebagai ajang untuk saling memperpanjang silaturahmi. Apalagi keluarga datang dari luar daerah dan jarang bertemu.

“Karena sejatinya membuat secara beramai-ramai juga membuat pekerjaan yang banyak akan terasa lebih ringan dan selesainya pun tidak terasa oleh waktu,” tuturnya.

Dumpi EjaProses pembuatan kue tradisiona, Dumpi Eja yang menjadi salah satu kue yang wajib ada dalam tradisi pernikahan Suku Kajang. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah)

Proses Membuat Dumpi Eja

Untuk membuat adonan Dumpi Eja juga bahannya tidak begitu rumit, mudah ditemui. Yang paling penting disiapkan adalah beras ketan yang sudah dihaluskan, gula aren untuk mengubah putih beras ketan menjadi merah, kemudian berikan wijen sebagai pelengkap.

Cara membuatnya, pertama beras ketan direndam sekitar 5 hingga 10 jam kemudian ditiriskan. Setelah itu beras tersebut digiling hingga menjadi tepung halus. Tepung kemudian dicampurkan gula merah yang telah disisir halus lalu diaduk merata menggunakan tangan. Tambahkan air secara bertahap ke dalam adonan agar membentuk bulatan yang kenyal.

Adonan yang tampak menyatu kemudian didiamkan dalam baskom hingga seluruh adonan benar-benar menyatu tanpa serat. Selanjutnya tambahkan segelas wijen dalam adonan yang telah menyatu tersebut dan diamkan sekitar 12 jam, kemudian digoreng.

Jumlah Besar di Pesta Pernikahan

Saat mengunjungi pesta pernikahan di lingkungan Suku Kajang, akan sangat mudah menjumpai Dumpi Eja ini. Tidak hanya dijadikan seserahan dalam prosesi pernikahan , juga sebagai hidangan untuk menyambut tamu atau keluarga yang datang.

Habbasia 48 tahun, seorang warga Suku Kajang mengatakan warga Suku Kajang mau membuat pesta atau acara-acara tradisional maka, Dumpi Eja ini wajib ada.

“Dumpi Eja ini menjadi salah satu kue yang wajib ada dalam tradisi pernikahan Suku Kajang. Dumpi Eja bermakna manis, jadi mempersatukan perasaan yang manis dan mengikat rasa kasih sayang bagi kedua calon mempelai,” ujarnya.

Ia menambahkan, Dumpi Eja dalam tradisi pesta pernikahan di Suku Kajang tidak dibuat dalam jumlah yang sedikit. Untuk membuatnya minimal disiapkan 10 kilogram adonan. Kalau cuma dibuat sedikit biasanya ada tamu yang tidak kebagian.

“Jadi warga Suku Kajang kalau mau menikah itu, selain perlengkapan lainnya Dumpi Eja ini menjadi wajib, sebab kue ini akan menjadi pelengkap dalam seserahan yang kita sebut sebagai baku’ puli. Seserahan dari mempelai laki-laki ke mempelai perempuan,” tambahnya.

Dumpi EjaDumpi eja ini memiliki tekstur yang lembut dan kenyal. Kue tradisional ini juga memiliki rasa yang manis. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah)

Karena dibuat dalam jumlah yang cukup banyak, Dumpi Eja ini juga menjadi buah tangan, dibawa pulang oleh tamu dan keluarga yang datangnya dari daerah-daerah jauh.

Rasa manis yang berasal dari Dumpi Eja ini pengganti gula pasir pada kopi hitam.

“Itu tadi alasannya kenapa dibuat dalam jumlah yang banyak, karena bisa menjadi oleh-oleh bagi keluarga yang datangnya dari jauh. Apalagi tidak setiap saat kita memiliki kesempatan untuk membuat Dumpi Eja ini,” ujar Habbasia.

Ia menambahkan, Dumpi Eja bagi kalangan Suku Kajang yang merantau, menjadi sesuatu yang selalu dirindukan. Mereka biasanya membawa atau diberikan dalam jumlah yang banyak agar bisa dinikmati berkali-kali saat berada di tanah rantau.

“Biasa tuan rumah itu kasih Dumpi Eja ke keluarga satu tempat besar. Tujuannya agar kalau mereka rindu kampung halaman di tanah rantauannya bisa kembali menikmati Dumpi Eja ini,” jelasnya.

Sebenarnya, Dumpi Eja ini lanjut Habbasiah mirip dengan kue cucur yang juga ada di daerah lain. Tapi dari segi rasa dan kekenyalannya Dumpi Eja memiliki cita rasa tersendiri yang berbeda dari kue cucur.

Lebih Nikmat dengan Kopi Hitam

Salah seorang masyarakat Suku Kajang, Mustamin, mengatakan menikmati Dumpi Eja bisa langsung atau tanpa minuman yang khusus. Akan tetapi jika menikmatinya dengan secangkir kopi panas hitam tanpa gula rasanya akan jauh lebih nikmat.

Dumpi EjaPembuatan Dumpi Eja biasa dilakukan secara beramai-ramai dan dalam kegiatan tertentu, misalnya untuk kegiatan pernikahan atau acara-acara tradisional khas Suku Kajang. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah)

“Rasa manis yang berasal dari Dumpi Eja ini bisa menjadi pengganti gula pasir pada kopi hitam. Karena rasa yang begitu manis menjadi penyeimbang dari rasa pahit yang muncul dari kopi,” ujar Tamin, warga Suku Kajang yang kini berdomisili di Makassar.

Tamin menambahkan, Dumpi Eja yang biasa dibawa pulang sebagai oleh-oleh jika ingin kembali dinikmati bisa dengan cara dipanaskan agar teksturnya tetap kenyal dan lebih lembut di lidah.

Menurut Tamin, Dumpi Eja ini sangat cocok menjadi obat rindu bagi kita-kita ini yang sudah jarang pulang ke kampung halaman. Nah dengan adanya Dumpi Eja yang bisa disimpan lama bisa menjadi pengingat masa kecil atau saat berada di kampung halaman

“Biasanya semakin lama disimpan apalagi dalam lemari pendingin teksturnya akan berubah menjadi keras dan lebih padat. Untuk membuatnya lebih lembut dengan cara dikukus sekitar 15 sampai 20 menit,” tuturnya. []

Baca cerita lain: 

Berita terkait
Kedai Saleh, Tempat Ngopi dan Membaca di Bantaeng
Ida, membuka kedai berkonsep outdoor dan taman baca di Bantaeng, Sulawesi Selatan. Tempat yang tepat untuk melepas penat usai bekerja.
Pempek dan Empat Kelezatan Makanan Khas Palembang
Sensasi kelezatan makanan khas Palembang membuat para pecinta kuliner merasa ketagihan.
Kue Tete dan Empat Makanan Unik Khas Indonesia
Makanan yang ada di Indonesia memiliki banyak keunikan, baik dari penampilan hingga penamaannya.
0
Puncak Perayaan Hari Jadi Bantaeng ke-765 Meriah
Puncak perayaan hari jadi Kabupaten Bantaeng Sul-Sel yang ke-765 tahun berlangsung meriah.