UNTUK INDONESIA
Detik-detik BJ Habibie Perintahkan Tutup Indorayon
Sekretaris YPPDT Jansen H Sinamo, menceritakan kembali rencana penutupan pabrik Indorayon di Sumatera Utara, oleh BJ Habibie.
BJ Habibie mengucapkan sumpah saat menjadi Presiden ke-3 RI menggantikan Soeharto di Istana Merdeka, Jakarta (21/5/1998). (Foto: Antara/Ali Anwar)

Medan - Suatu hari di akhir Desember 1998, BJ Habibie yang waktu itu masih menjabat presiden, menerima serombongan tamu di Istana Negara. Rombongan merupakan sejumlah akademisi dari Yayasan Perhimpunan Pecinta Danau Toba (YPPDT) yang dipimpin dua profesor.

Sekretaris YPPDT Jansen H Sinamo, menceritakan kembali perihal pertemuan berkesan itu. Sebelum pembicaraan masuk ke masalah pokok, BJ Habibie disebut Jansen sempat melontarkan pertanyaan ringan.

"Kenapa orang Batak itu pintar-pintar?." kata Jansen, menirukan pertanyaan Presiden Habibie saat itu dengan mimik dan suara khasnya yang meninggi.

Rombongan itu, cerita Jansen, memang dipimpin dua orang pintar, yaitu Prof Dr Midian Sirait dan Prof Dr K Tunggul Sirait, kakak adik yang menjabat guru besar di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada bidang farmasi dan elektro. Keduanya bergelar doktor dari Jerman dan masing-masing beristerikan perempuan Jerman pula.

"Itu karena anak-anak Batak banyak makan ikan yang melimpah di Danau Toba beserta 200-an sungai kecil yang bermuara ke danau itu," jawab Prof Midian saat itu kepada Habibie.

Midian bahkan sempat membalas pujian dengan menyebut Parepare, kampung halaman Habibie, sebagai daerah yang banyak ikannya, sehingga banyak juga orang pintar yang terlahir dari sana.

BJ Habibie tersentuh dan tidak bisa menyembunyikan rasa bangga akan kampungnya. Ia pun bercerita tentang masa kecilnya di Parepare. Ceritanya tentang ikan, sungai dan laut.

Kenapa orang Batak itu pintar-pintar?

Waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa pertemuan telah berlangsung selama dua jam. Selama berbincang, sebagian besar topik justru berisi cerita ketiga alumni Jerman itu, tentang kampung dan memori mereka saat kuliah dulu di negeri orang.

"Kami, 13 orang anggota rombongan lain yang bukan alumni Jerman, merasa bahagia bisa ikut tertawa-tawa tergelak bersama tiga doktor Jerman itu, saat cerita mereka berklimaks lucu atau dramatis. Kapan lagi bisa ngakak bersama Presiden, ya kan?" kata Jansen, mengisahkan.

Baca juga: Presiden ke-3 RI, BJ Habibie Meninggal Dunia

Maksud Kedatangan

Setelah ketiga orang doktor itu masing-masing bercerita panjang lebar mengenai masa kecil dan masa-masa menempuh pendidikan di Jerman, pembicaraan mulai beralih ke hal serius yang memang menjadi maksud kedatangan rombongan ke Istana.

Prof Midian mengalihkan fokus pembicaraan tentang maksud kedatangan mereka, di 15 menit terakhir pertemuan.

Dalam pemaparannya, Prof Midian melaporkan bahwa kualitas lingkungan Danau Toba telah merosot jauh akibat operasi pabrik pulp dan rayon dekat Porsea, sebelah Tenggara danau.

Tentang hutan yang makin habis, udara yang mulai tercemar, sungai-sungai, ikan-ikan disebut Midian bakal habis. Anak-anak Batak yang pintar, dikhawatirkan bakal jauh berkurang atau justru malah habis.

"Mohon Bapak Presiden menutup saja itu pabrik, terlalu banyak mudaratnya bagi masyarakat dan lingkungan Danau Toba," kata Prof Midian kemudian.

BJ Habibie tidak banyak menjawab. Kalimatnya singkat dan jelas.

"Saya mau tutup itu Indorayon," kata dia.

Ia kemudian meminta syarat, yakni laporan lengkap akan situasi di Danau Toba, terutama laporan mengenai dampak perusahaan itu bagi lingkungan di sana.

"Kalau laporannya sudah jadi, kita ketemu lagi di sini. Silakan datang," kata Habibie.

Laporan IndorayonLaporan kondisi lingkungan Danau Toba yang dikirim ke BJ Habibie. (Foto: dok YPPDT)

Ada harapan di benak anggota rombongan saat menerima jawaban itu. Namun, masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, yaitu membuat laporan. Saat itu, sebagai Sekjen Yayasan, Jansen Sinamo mendapat tugas menyusun laporan yang diminta.

"Seminggu lagi sudah Natal, lalu Tahun Baru. Semua pengen libur. Kawan-kawan Pengurus Yayasan membujuk saya agar bersedia berkorban fokus menulis laporan kepada Presiden itu. Ya, tidak libur saya jadinya," kata Jansen.

Bendahara YPPDT saat itu, Drs Inget Sembiring yang juga menjabat sebagai Presdir PT Astra Graphia, kemudian menulis cek pribadi senilai Rp 25 juta untuk Jansen.

"Bapak pasti perlu biaya membuat laporan itu," kata dia dengan suara membujuk.

Menulis laporan itu, kata Jansen, rasanya seperti menyusun sebuah disertasi akademis. Perjuangan masyarakat Danau Toba mengenyahkan sumber polusi yang telah memakan korban itu, kini berada di tangannya.

Baca juga: Nama BJ Habibie di Lagu Iwan Fals dan Joshua Suherman

Ia mesti membuat laporan berdasarkan data yang tidak sedikit. Satu keranjang besar dokumen yang berkaitan dengan air, hutan, limbah padat,cair, dan gas, dokumen tentang kesehatan, pertanian, infrastruktur dan sosial. Semua dokumen itu harus diolah menjadi laporan padat yag komprehensif.

Beruntungnya, Jansen dibantu Prof Dr Firman Manurung, yang merupakan ahli teknik kimia. Ahli Ekonomi Infrastruktur, Dr Djamester Simarmata, Ahli Kehutanan Dr Togu Manurung, Ahli Pertanian, Prof Dr Bungaran Saragih, Ahli Kesehatan Dr Hot Asi Tambunan, dan beberapa rekan-rekan lain.

Perintah Tutup Indorayon

Akhir Januari 1999, laporan berjudul "Dampak Operasi PT Inti Indorayon Utama terhadap Lingkungan Danau Toba" itu pun tersusun dan dikirim ke Presiden melalui tangan Sintong Panjaitan, yang waktu itu bertugas sebagai "pengawal khusus" Presiden Habibie.

Akhir Februari, rombongan kembali diundang ke Istana untuk mendengar keputusan Presiden atas laporan itu.

"Dalam pertemuan singkat pagi itu, Pak Habibie bilang bahwa PT Indorayon ditutup per hari ini. Dia tugaskan Prof Midian dan Pak Sintong Panjaitan mengumumkannya kepada wartawan yang sudah menunggu di luar," kata Jansen.

BJ Habibie juga menugaskan YPPDT bersama tujuh kementerian untuk merancang Otorita Danau Toba yang nantinya akan dibuat menjadi Keputusan Presiden (Keppres).

"Saya mau teken itu segera. Pak Midian dan Pak Tunggul, Danau Toba akan seperti yang kalian cita-citakan," kata BJ Habibie, waktu itu.

Selama hampir 10 bulan, rapat demi rapat dijalani YPPDT bersama tujuh kementerian yang ditunjuk Habibie. Namun, ketika rancangan Keppres sudah jadi dan tinggal teken, BJ Habibie harus turun dari jabarannya sebagai Presiden RI.

Baca juga: BJ Habibie Sosok Inspirasi Berbagai Generasi

"Dia lengser karena pertanggungjawabannya tidak diterima oleh MPR, 573 hari saja dia berkuasa, Gus Dur yang jadi presiden kemudian," kata Jansen, seolah mengenang.

"Konsep Keppres diambil oleh Pemprov Sumut (pemerintah Provinsi Sumatera Utara), diadaptasi menjadi Badan Pengelola Ekosistem Danau Toba," ujarnya.

Di hari wafatnya Habibie, cerita itu kian lekat dalam ingatan Jansen Sinamo, yang dikenal sebagai guru etos itu.

"Hari ini Pak Habibie berpulang. Terima kasih Bapak. Besar jasamu bagi Republik. Selamat jalan. Rest in peace," katanya. []

Berita terkait
Surat Ainun untuk Habibie
BJ Habibie seorang yang sangat memperhatikan detail, karena ia tahu kesalahan sekecil apa pun bisa membuat pesawat terbang jatuh.
Empat Tokoh Dunia Miliki IQ Tinggi Seperti BJ Habibie
Mantan Presiden ke-3 RI BJ Habibie termasuk dari sekian banyak manusia yang memiliki IQ yang tinggi.
Sumbangsih BJ Habibie untuk Dunia Penerbangan
BJ Habibie merupakan penemu teori keretakan pesawat yang diterapkan untuk mencegah pesawat hancur saat terbang.
0
Kabut Asap Batalkan 5 Penerbangan ke Bandara Silangit
Kabut asap kembali membatalkan sejumlah penerbangan ke Bandara Internasional Sisingamangaraja XII Silangit.