UNTUK INDONESIA
Denny Siregar: Partai Nyonya Besar Merasa Masih Jadi Pemenang
Dalam waktu 3x24 jam, kami minta Denny Siregar untuk menghapus twitnya, atau kami akan membawa ini ke ranah hukum. Partai Nyonya Besar.
Ilustrasi - Cabai. (Foto: Pixabay/DerWeg)

"Dalam waktu 3x24 jam, kami minta Denny Siregar untuk menghapus twitnya, atau kami akan membawa ini ke ranah hukum." Begitu pernyataan juru bicara sebuah partai yang dulu besar, di depan wartawan dengan gagahnya.

Hari itu hampir semua petinggi partai "keluar kandang" dan langsung menyerang, karena nyonya besar ngamuk sampai mau ngulek cabe karena merasa anaknya disentil.

Sehari sebelum konpers, saya dengar grup WAG beranggotakan para petinggi partai itu ribut. Pro kontra terjadi, apakah mereka harus melaporkan atau tidak.

Sebenarnya ada beberapa yang mencegah, tapi suara mereka tenggelam di tengah gemuruh petinggi lain yang ingin mencari muka ke atasan. Mereka berlomba-lomba menyerang lewat Twitter menyuarakan dukungan kepada nyonya besar.

Kegiatan "cari muka" inilah yang jadi blunder terbesar partai itu, karena pada akhirnya mereka tercatat dalam sejarah bagaimana sebuah partai harus melawan satu orang warga biasa, yang bahkan tidak punya kekuatan, kekuasaan, dan kekayaan untuk melawan mereka.

Batas waktu 3x24 jam berakhir hari ini. Kita lihat saja, apakah mereka tetap jadi peragu seperti biasanya dan hanya gagah di konferensi pers, atau mencoba melawan dengan sisa-sisa tenaga yang ada.

Twitter Annisa PohanTwitter @AnnisaPohan

Bayangkan, mereka berada pada posisi maju kena mundur kena. Kalau menang, malu. Kalah, lebih malu. Jadinya stuck di tengah, tidak tahu apa yang diperbuat.

Satu orang mantan petinggi, mencoba membuat tulisan panjang untuk menjelaskan posisi partai mereka. Tapi yang baca cuma puluhan orang, itupun mungkin kader-kader mereka saja. Sudah kadung kehilangan muka, seranganpun membabi buta.

Akhirnya saya paham, kenapa si partai itu pengaruhnya terus turun setiap pemilu. Dulu berjaya di angka 20 persen, turun 10 persen, sekarang di 7 persen, hampir gagal masuk Senayan.

Ternyata karena petinggi-petinggi mereka tidak taktis, sibuk pencitraan, terlalu gemuk dan lamban, arogan, merasa masih jadi pemenang. Padahal dunia berubah, mereka tidak mampu beradaptasi dengannya.

Di tengah kompetisi ketat ini, kemungkinan besar 2 kali Pemilu lagi, partai ini tinggal sejarah. Itu karena sejak dulu langkah mereka adalah langkah peragu, mau ke kanan mikir, ke kiri tambah mikir.

Akhirnya berdiri di tengah-tengah tanpa kawan. Maksud hati mau main dua kaki, apa daya tak ada yang mau dipijak lagi.

Batas waktu 3x24 jam berakhir hari ini. Kita lihat saja, apakah mereka tetap jadi peragu seperti biasanya dan hanya gagah di konferensi pers, atau mencoba melawan dengan sisa-sisa tenaga yang ada.

Kita tunggu saja, sambil seruput kopi. Ah, nikmat sekali.

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca juga:

Berita terkait
Kisah Cinta AHY-Annisa Pohan Hingga Lahir Almira
Almira artinya putri yang mulia, Tunggadewi itu tokoh wanita abad ke 14, Ratu Majapahit yang setia dan berani. Annisa Pohan, istri Agus Yudhoyono.
Putri AHY dan Annisa Pohan Dibully, KPAI: Politis!
Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti mengimbau netizan berhenti membully Almira putri Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Annisa Pohan.
Denny Siregar: Annisa Pohan Gak Usah Main Twitter Deh
Annisa Pohan jangan main Twitter deh kalau masih baper. Percayalah, kamu enggak akan kuat. Biar itu urusan keluarga Jokowi saja. Denny Siregar.
0
Denny Siregar: Partai Nyonya Besar Merasa Masih Jadi Pemenang
Dalam waktu 3x24 jam, kami minta Denny Siregar untuk menghapus twitnya, atau kami akan membawa ini ke ranah hukum. Partai Nyonya Besar.