UNTUK INDONESIA
Denny Siregar: Ketika Jokowi Tegur KPK
Jokowi pasti ketawa melihat paniknya para pimpinan KPK dengan reaksi berlebihan. Tapi dia Jawa, cara menegurnya sopan. Tulisan opini Denny Siregar.
Presiden Jokowi. (Foto: Antara/Wahyu Putro A)

Baru pada periode ini, KPK ribut gak keruan.

Sesudah menolak Capim KPK yang dipilih oleh DPR, revisi UU KPK juga sedang meluncur untuk membenahi internal KPK. KPK yang selama ini menjadi tempat aman dan nyaman bagi oknum-oknum di dalam, mendadak panas.

Reaksi merekapun lucu. Saut Situmorang Wakil Ketua KPK, mendadak jadi Michael Jackson yang melakukan tarian moonwalk. Sudah mundur, eh masuk lagi. Plin plan mungkin karena takut gak gajian.

Begitu juga pimpinan KPK lain seperti Agus Rahardjo, yang sampai konpers bahwa mereka menyerahkan mandat kepada Presiden. Eh, tiba-tiba konpers lagi bahwa mereka tidak jadi mundur.

Jokowi pasti ketawa ngakak melihat paniknya para pimpinan KPK dengan reaksi berlebihan. Tapi sebagai seorang Presiden, apalagi dia kental dengan budaya Jawa, cara menegurnya pun sopan.

Menurut Jokowi, KPK tidak mengenal pengembalian mandat. "Gak ada itu. Yang ada mengundurkan diri, meninggal dunia atau terkena tindak pidana korupsi."

Jokowi pasti ketawa ngakak melihat paniknya para pimpinan KPK dengan reaksi berlebihan.

KPKKetua KPK Agus Rahardjo (ketiga kanan) didampingi para Wakil Ketua KPK Saut Situmorang (ketiga kiri) dan Laode M Syarif (kedua kanan) serta Juru Bicara KPK Febri Diansyah (kanan) memberikan keterangan pers di kantor KPK, Jakarta, Jumat (13/9/2019). KPK menyerahkan mandat pengelolaan lembaga antirasuah ini ke Presiden Joko Widodo sebagai respons atas polemik revisi UU KPK. (Foto: Antara/Sigid Kurniawan)

Dan dengan nada sedikit, tapi nyelekit, Jokowi menyindir Agus Rahardjo dan kawan-kawan yang bertindak seperti anak TK.

"KPK itu lembaga negara, institusi negara. Jadi bijaklah dalam bernegara," sindir Jokowi.

Seharusnya dengan sindiran ini, para Ketua KPK yang sibuk demo, maju mundur dengan gaya moonwalk, terus sibuk tarik ulur mandat, kupingnya memerah. Karena sebagai sebuah lembaga yang mendapat kepercayaan penuh dari masyarakat untuk memberantas korupsi, mereka ternyata tidak bisa berlaku rasional dan bijak.

Malah bertingkah seperti anak-anak.

Kalau KPK begini terus, mereka bisa diawasi oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia.

Karena KPAI pasti akan melihat bahwa jiwa kekanak-kanakan para Ketua KPK dieksploitasi oleh negara. "Masih kanak-kanak kok sudah dieksploitasi untuk memberantas korupsi," begitu mungkin narasi mereka.

Jadi mungkin lebih baik, KPAI dan KPK saling mengawasi ajalah. Yang satu mengawasi eksploitasi jiwa anak-anak dalam tubuh KPK, satunya lagi mengawasi kemungkinan korupsi di dalam KPAI.

Klop, kan? Biar ribut sendiri, jadi negara ini gak pusing lagi.

Kalau kelak sudah pada damai, biar jari kelingkingnya bisa pada cantelan, terus seperti Teletubbies, "berpelukaaaannnn."

Indonesia pun senang, bisa seruput kopi dengan tenang.

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca juga:

Berita terkait
Jokowi: KPK Lembaga Terkuat Pemberantasan Korupsi
Jokowi menanggapi polemik revisi undang-undang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), ia tak pernah meragukan kekuatan KPK.
SP3 Bikin KPK Hati-hati Tangani Korupsi Aktor Besar
Wacana KPK menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) disebut tidak perlu.
Revisi UU KPK Bukan Sangkakala Menuju Kiamat
Mengapa perubahan tata kelola KPK harus dianggap seperti bunyi terompet sangkakala menuju kiamat. Lebay ah. Tulisan opini Putut Trihusodo
0
Alasan Menolak Kehadiran Ustaz Abdul Somad
Tentu orang ingin tahu kenapa Ustaz Abdul Somad ditolak kehadirannya di beberapa tempat. Ini penjelasan Majelis Ulama Indonesia.